
"Kak. Lebih baik sekarang kita kembali ke kelas, Sepertinya jam istirahat sudah habis" seru Jingga Langit yang masih terlihat menikmati roti bakar yang sengaja Jingga bawa tadi dari rumah.
"Iya, Sayang. Sebentar, Ini tanggang rotinya tinggal sepotong lagi. Kamu beneran gak mau?"
Jingga menggeleng sambil mengangkat kedua sudut bibirnya"Iya, Kak. Itu Jingga memang sengaja bawa untuk kakak. Tadi pagi kan kakak gak sarapan, Hanya minum kopi doang"
"Makasih ya, Sayang"
"Sama-sama kak"
Di Dalam kelas
"Si paketu kemana ya, Kok belum balik itu anak" ujar Doni pada teman-temannya.
"Elah, Lho kayak gak ngerti paketu kita. Palingan juga lagi berduaan sama bidadari" timpal Faro.
"Eh Lan, Bagaimana? Apa lho sudah ngelakuin apa yang gue bilang waktu itu" ucap Faro pada Lana.
Pria yang bernama Lana menggeleng, Pasalnya memang sampai detik ini pria itu masih belum ada keberanian untuk mengungkapkan perasannya terhadap wanita yang sudah berhasil mengambil hatinya sejak satu tahun yang lalu.
Ya, Lana, Atau lebih tepatnya Agis Maulana sudah menyimpan rasa terhadap Olivia saat pertama kali masuk sekolah di sini.
Bayangan Lana kembali pada kejadian satu tahun yang lalu. Tepatnya saat mereka sedang masa orientasi siswa baru.
Flashback satu tahun yang lalu
Pagi sekali, Aku sudah siap untuk masuk sekolah di SMA NUSA BANGSA. Salah satu sekolah yang cukup terkenal di kotaku, Tanah kelahiranku tercinta, Di mana lagi kalau bukan Jakarta.
Aku berangkat dengan menggunakan motor kesayanganku. Motor yang di belikan ayah saat ulang tahunku satu tahun yang lalu, tepat di saat usiaku menginjak 15 tahun.
__ADS_1
Tanpa terasa ternyata aku sudah duduk di bangku SMA, Padahal rasanya baru kemarin lulus sekolah dasar. Saat aku sedang melewati sebuah jalan yang cukup sepi, Tanpa sengaja aku melihat sosok wanita cantik sedang memperhatikan motornya, Sepertinya motornya mati.
Melihat seragam yang dia gunakan membuatku menepikan motorku, Aku berjalan mendekat padanya.
"Hai, Motor lho kenapa?" tanyaku pada wanita itu.
"Nggak tau juga, Ini tiba-tiba saja motor gue mati. Mana udah jam segini lagi. Bisa-bisa nanti telat ke sekolah" ucapnya yang terlihat cukup bingung.
"Apa kamu sekolah di SMA NUSA BANGSA?" tanyaku
Wanita itu mengangguk."Iya, Gue sekolah di sana. Lho juga sekolah di sana ya?, Atribut kita sama" jawabnya.
"Iya, Kenalin, Nama gue Maulana. Bisa lho panggil Lana" ucapku sambil mengulurkan tanganku.
"Nama gue, Olivia, Panggil apa aja senyaman lho"
"Olivia, Nama yang cantik, Secantik orangnya" ucapku sambil tersenyum.
Dia sosok wanita pertama yang langsung mampu memikat ku pada pandangan pertama. Bola matanya yang kecoklatan, Rambutnya sebahu. Bibir ranumnya serta hidungnya yang mancung langsung terlukis dalam benakku. Ah, Aku jatuh cinta. Ya, Aku rasa aku sudah jatuh cinta pada sosok Olivia.
"Lho mau gak berangkat bareng gue?" tawarku sambil menatapnya.
"Lalu bagaimana dengan motor gue?Ya kali mau gue tinggal di sini. Gue masih sayang sama motor ini" jawabnya.
Mendengar itu membuatku mengulum bibir. Astaga, Ini cewek unik banget. Perasaan aku belum mengatakan mau di taruh di mana itu motor. Yang benar saja motornya mau di tinggal di tempat sepi begini, Yang ada nanti hanya tinggal jejaknya saja.
"Ya kali neng motornya mau di tinggal di mari. Di bawa ke bengkel atuh" ucapku
"Kiran aa nyuruh buat ninggalin motor ini di sini"
__ADS_1
Aiss, Olive memanggilku dengan sebutan aa. Terdengar lebih akrab dan lebih nyaman juga. Panggilan itu membuatku mengulum bibir, Ada rasa bahagia dari dalam hati ini. Astaga, Aku benar-benar jatuh cinta padanya.
Setelah itu, Aku membantu olive buat membawa motornya ke bengkel. Saat sudah memastikan motor itu di sana. Olive naik ke atas motorku. Jantungku berdetak cepat saat melihat wajah Olive dari pantulan kaca spion. Ini adalah pertama kalinya aku naik motor bersama dengan seorang wanita.
Selama ini aku memang tidak pernah bertegur sama dengan wanita manapun. Sikapku yang dingin membuat mereka enggan untuk mendekatiku, Hingga sampai detik ini statusku masih saja jones, Jomblo ngenes. Kasian amat yak.
Tanpa terasa hari hari sudah berlalu. Masa orientasi siswa sudah selesai. Dan kami sudah bisa sekolah layaknya siswa baru pada umumnya. Di sekolah ini, Ternyata aku bertemu dengan bestie-bestie bengek ku. Siapa lagi kalau bukan, Rey, Doni, Faro sama paketu kita, Si Langit yang paling the best. Padahal sebelumnya kami tidak ada janjian untuk sekolah di satu atap yang sama. Hanya saja takdir selalu mempertemukan kita.
Tanpa aku sadari, Satu tahun sudah berlalu. Perasaan ku terhadap Olivia masih sama, Bahkan semakin hari semakin besar. Hanya saja masih tidak ada keberanian untuk ku mengatakan perasaan ku yang sebenarnya.
"Woy, Gue nanya kenapa lho malah diem bae monyet"
Suara itu seketika menyadarkan ku dari lamunan kejadian satu tahun yang lalu. Bestie bengek ini memang terkadang sangat menyebalkan.
"Eh, Nanya apa lho barusan?" tanyaku karna sudah lupa akan pertanyaan Faro. Akhir-akhir ini otakku rasanya hanya di penuhi oleh Olive. Olive, Olive dan Olive. Semuanya hanya tentang Olive.
"Yaelah. Lho udah ngomong belom sama si ono?" tanya Faro sambil melirik pada Olive yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Wanita itu memang selalu sibuk dengan ponselnya, Entah apa yang menarik perhatiannya di sana. Tapi yang pasti, Olive selalu memperhatikan cogan yang tersimpan rapat di galeri ponselnya.
Aku menggeleng"Belum, Rasanya belum ada keberanian untuk gue mengatakan yang sebenarnya"jawab ku.
"Hadehh. Siap-siap saja lho nanti hanya bisa menjadi saksi saat Olive sudah menjadi milik pria lain. Kalau sampai hal itu terjadi, Ingat, Jangan nanges"
Aku terdiam, Tak lagi bisa menjawab perkataan Faro. Jika dipikir-pikir apa yang di katakan Faro memang ada benarnya. Bagaimana jika nanti ada cowok lain yang lebih dulu mengungkapkan perasaan cinta pada Olive. Bener-bener nanges deh kayaknya.
"Ajari gue bagaimana cara mengungkapkan perasan dengan cara yang romantis" ucapku pada Faro.
"Kalau soal itu, Lho tanya aja tuh sama si Om Jelangkung. Dia yang paling ahli kalau sudah menyangkut wanita. Gue mah apah atuh. Suka sama cewek aja gue belum pernah"
__ADS_1
"Dih, Gak bisa di andelin lho. Sok sokan nyuruh gue buat segera cari pacar, Ternyata lho sendiri jomblo"
"Lah, Emang pernah gue ngaku punya pacar. Lho juga tau kali kalau gue jodi, Alias Jomblo abadi"