
"Fix, Kalian memang di takdirkan berjodoh" ucap Doni sambil mengulum bibirnya menahan tawa saat melihat raut wajah Rey dan juga Sisil yang sedang menahan rasa kesal.
"Ya allah mimpi apa semalam, Kenapa hari ini harus sial begini" ucap Rey sambil mengacak rambutnya karna terlalu kesal.
Semua anggota geng the boys yang mendengar itu semakin mengulum bibir. Pasalnya ini pertama kalinya mereka melihat seorang Rey alvaro si tukang bacot terlihat frustasi.
Langit, Jingga dan juga yang lain mendekat pada Rey dan juga Sisil. Selain tempat mereka lebih dekat dengan gedung, Langit ingin mengajak mereka untuk menonton bersama.
"Sudah...sudah. Rey, Lho kesini pasti juga karna mau nonton kan?"tanya Langit sambil menatap Rey.
"Iyalah paketu, Masa iya gue mau nyawah"
"Ya kali aja lho mau ke sawah tapi nyasar ke sini kan" ujar Langit sambil mengulum bibir. Ini pertama kalinya Langit melihat raut wajah Rey yang begitu menyedihkan.
"Awalnya sih iya. Gue mau bawa si mak Lampir cabutin rumput di sawah. Sekalian kan belajar bertani sebelum menikah" ucap Rey tanpa menunjukkan senyum sedikitpun.
Semua teman-temannya yang mendengar itu seketika langsung tertawa. Di saat seperti ini si Rey masih bisa-bisanya ngelawak.
Mendengar perkataan Rey membuat Langit menoleh kepada Sisil."Jangan lupa mulai minggu depan lho nginem di rumah gue" ucap Langit dan langsung berlalu dari hadapan mereka sambil terus menggandeng tangan Jingga serta di ikuti oleh anggotanya yang lain.
Sisil mengambil nafas panjang, Kenapa akhir-akhir ini hidupnya begitu menyedihkan. "Astaga, Ada apa dengan hidupku. Kenapa rasanya kesialan selalu saja datang. Huaaa, Daddy, Mommy. Bantu Sisil" ucap Sisil salam batinnya dan masih saja diam terpaku di tempatnya.
"Woy mak Lampir, Lho tetep mau di sini apa mau masuk. Gue tinggal juga lho"
Suara Rey berhasil menyadarkan Sisil yang sudah terlihat kusut"Sesekali bisa kan lho ngomong baik-baik sama gue. Jadi laki kok gak ada lembut-lembutnya. Mimpi apa sih gue harus di jodohkan dengan pria ngeselin kek lho jelangkung" ucap Sisil di sela langkahnya.
"Eh eh eh, Mak Lampir. Gue juga bisa lembut tapi sama orang yang tepat, Bukan sama lho juga kali. Sama my baby hany khanza pastinya"
"Eleh, Asal lho tau ya om Jelangkung, Si khanza tak sebaik yang lho pikir" gumam Sisil di sela langkahnya.
__ADS_1
"Maksud lho? Lho mau bilang kalo lho lebih baik dari pada Khanza, Begitu?"
"Gue gak ngomong begitu. Hanya saja sebagai calon istri yang baik, Gue hanya mau mengingatkan sama lho, Kalau Khanza tidak sebaik penilaian lho" ucap Sisil sambil mempercepat langkahnya.
"Tapi yang pasti, My baby Khanza jauh lebih baik dari pada lho"
"Ya ya ya, Paling the best memang. Tapi jangan nanges kalau nanti lho tau bagaimana Khanza yang sebenarnya"
Di saat Rey mau menjawab perkataan Sisil, Tanpa sengaja mereka melihat sosok Khanza sedang bersama dengan seorang om-om dan keluar dari sebuah mini market yang ada di samping gedung bioskop.
Sejenak Rey terdiam dengan pandangan masih terus fokus pada Khanza yang sedang bergelayut manja pada om-om itu.
"Khanza, Bareng sama siapa dia. Bukan kah selama ini dia pernah mengatakan jika sang ayah sudah meninggal. Lalu om itu siapa?" batin Rey sambil terus memperhatikan Khanza yang sudah masuk ke dalam mobil itu.
"Semoga setelah itu lho sadar, Rey. Jika Khanza tak sebaik yang lho kira" batin Sisil sambil menatap Rey yang temenya sedikit bingung.
"Ayo masuk, Sudah ketinggalan sama yang lain" ujar Sisil sambil menarik tangan Rey. Pria itu hanya menurut tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Bayangan Khanza saat bergelayut manja pada om tadi masih melintas jelas.
"Siapa om itu?" batin Rey di sela langkahnya.
DI DALAM BIOSKOP
"Sayang, Kamu mau duduk di sebelah mana?" tanya Langit lembut pada Jingga.
"Aku di mana saja asal bersama kakak"
"Ya sudah, Kita duduk di sana saja ya" ucap Langit sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di deretan nomor dua dari depan.
"Boleh kak. Biar lebih seru nontonnya ya"
__ADS_1
Sedangkan Lana sejak tadi hanya diam. Pria itu terus saja teringat akan perkataan Faro kemarin. "Apa yang di katakan Faro ada benarnya juga. Kalau gue hanya memendam perasaan ini, Sampai kapan pun Olive gak akan pernah tau. Yang ada gue gak bakal pernah punya kesempatan buat mendapatkan dia"ucap Lana sambil duduk tanpa menoleh siapa sosok wanita yang ada di sebelahnya.
10 Menit kemudian, Film itu pun sudah mulai di setel. Untuk permulaan tidak terlalu seram dan mencekam ruangan itu.
"Sayang, Pakai dulu kacamatanya" ucap Langit sambil memberikan satu kacamata 3D buat Jingga.
"Gak usah lah kak. Aku gak nyaman kalau nonton masih harus pakai kacamata kayak gini. Rasanya gelap" balas Jingga yang memang jarang mau jika di suruh menggunakan kaca mata 3D setiap pergi menonton.
"Sayang, Kebiasaan deh. Aku gak mau tau, Untuk kali ini harus pakek ya, Ini film horor bukan drama romantis" ucap Langit sambil memasangkan kacamata itu pada Jingga. Mau tidak mau Jingga hanya bisa menurut, Dari pada membuat Langit marah, Lebih baik cari aman.
Saat Video itu sudah ada di putaran pertengahan, mereka berteriak saat di layar itu sedang menunjukkan sebuah penganiayaan. Atau lebih tepatnya mutilasi.
"Astaga, Ini film horor apa film psikopat sih" ucap Rey sambil menatap layar itu.
"Eh om jelangkung, Memangnya lho belum baca sinopsis film ini. Kan sudah ada jika film ini menceritakan tentang awal mula si Fika gentayangan dan mejadi sosok yang selalu menangis di tempat itu. Ya karna ini, Tubuhnya di mutilasi lalu di tinggal begitu saja sama pria ini" terang Sisil pada Rey.
"Pantas saja tadi di permulaan ada suara orang minta tolong sambil menangis yak. Jadi ini sebabnya"
"Iya, Lho harus nonton sampek akhir. Di cerita ini nanti endingnya cukup memuaskan"
"Memuaskan bagaiman? Tapi apa yang menjadi motif pria itu melakukan mutilasi pada wanita ini"
"Kebanyakan nanya lho. Nonton aja kan bisa"
"Dasar wanita menyebalkan lho memang mak Lampir"
"Memang pantas mereka memberikan lho julukan tukang bacot, Kayak beo ternyata" ucap Sisil santai sambil menikmati popcorn yang sudah mereka beli tadi.
"Bener-bener ini mak Lampir ya"
__ADS_1