Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Menua Bersama


__ADS_3

"Semoga aja dia gak tadi toxic dalam hubungan aku dan juga Jingga" ucap Langit dalam batinnya sambil menatap tak suka pada Devano.


Devano berjalan melewati Langit dengan tidak menghiraukan tatapan tajam yang sejak tadi Langit berikan untuknya. .


"Jadi ini yang namanya Langit. Saudara sepupu yang sama sekali tidak aku ketahui" ucap Devano dalam batinnya sambil menatap punggung Langit.


Selama jam pelajaran berlangsung, Langit sama sekali tak bisa fokus dengan mata pelajaran hari ini, Padahal saat ini sedang ada ulangan mata pelajaran matematika.


Jingga menatap Langit yang sedang terlihat tidak fokus, Wanita itu mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan singkat pada Langit, Beruntung karna guru mata pelajaran matematika sedang keluar setelah membagikan soal ulangan.


Dttt,,,,Dtttttt,,,,,, Dttttttt


My Queen


[ Kak, Fokus dulu ya, Kita sedang ulangan. Jangan sampai kak Langit harus remidi hanya karna gak fokus, Bisa sia-sia apa yang sudah kita pelajari semalam ]


Setelah membaca pesan dari Jingga, Langit memejamkan kedua matanya sejenak. Mencoba menepis apa yang sudah membuatnya tidak fokus kali ini.


"Benar apa kata Jingga. Aku harus fokus sama ulangan dulu. Karna tidak mungkin aku harus mengikuti remidi hanya karna aku tidak fokus, Apa kata dunia" ucap Langit dalam batinnya.


Di sekolah ini, Langit memang salah satu siswa paling pintar dalam berbagai bidang. Selain tampan, Langit juga selalu mejadi andalan para guru saat sedang ada olimpiade bersama dengan sekolah lain. Tak jarang Langit yang selalu menjadi menduduki juara pertama. Di ibaratkan Langit adalah pria sempurna dengan berbagai nilai plus.


Kaya? Pasti, Tampan? gak usah di tanya. Sosok pria sempurna yang menjadi incaran banyak wanita.


1 jam kemudian, Guru matematika sudah memberikan kertas ulangan yang sudah di koreksi.


"Yang nilainya di bawah 70 kita remidi minggu depan" ucap pak Jonatan sebelum keluar dari kelas itu.


"Gimana kalian berdua. Remidi gak?" tanya Sisil sambil menoleh pada kedua temannya.


"Pastinya Sil. Secara kan otak kita pas-pasan"


"Bener banget. gue juga harus remidi. Tapi untung juga pak Jonatan masih memberikan remidi untuk menambah nilai kita" timpal Sisil


"Alhamdulilah, Gak nyangka nilaiku 90" ucap Jingga sambil menatap kertas ulangan yang ada di tangannya.


"Enak kamu gak usah remidi Ji, Aku harus remidi. Punyaku cuma 69" titah olive pada Jingga.


"Gak papa. Siapa tau saja nanti remidi dapetnya 80"


"Gak bakalan sih itu. Soalnya aku paling gak suka mata pelajaran matematika"


"Kenapa memangnya?"


"Ribet aja Ji. Aku paling suka pelajaran Fisika, Selain suka pelajarannya, Gurunya juga tamvan"


"Ya ampun Olive, Pak guru juga mau kamu embat"

__ADS_1


"Kalau bisa kenapa tidak. Yekaan"


Jingga tak lagi menjawab, Wanita itu hanya terkekeh pelan. Ternyata masih ada murid yang mengincar gurunya sendiri. Bahkan di kehidupan rel juga ada, Yekan readers. Jangan bilang kamu salah satunya. Mengidolakan guru sendirišŸ˜‚Jama SMA aku juga gitu soalnya🤣


"Yaelah, Ini kenapa tiap ulangan gue mesti dapetnya 60. Kapan pintarnya ini otak ya" cerocos Rey sambil menatap kertas ulangannya.


"Otak lho itu harus di restart ulang sih Rey. Penyimpanan penuh karna kebanyakan nonton video solawatan" timpal Doni seperti biasa


"Apa hubungannya bengek"


"Ya adalah. Otak lho terlalu kotor, Matanya pelajaran itu tidak bisa tersimpan seperti semestinya"


"Dih, Kayak otak lho bersih aja Don. Orang gue nonton video begituan juga karna lho sad"


"Lah kok gue"


"Kan emang iya, Lupa kau yang kita nonton berjamaah di markas"


Mendengar perkataan Rey membuat Doni menutup mulut Rey dengan kedua tangannya.


"Weh, Minggir gak tuh tangan. Tangan lho bau bener Don" ucapnya sambil berusaha melepaskan tangan Doni.


"Anjay lho. Tangan gue wangi juga"


"Wangi dari mananya"


Faro yang sejak tadi menyaksikan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Doni dan Rey ini memang selalu ada-ada saja kelakuannya.


"Apaan sih Far, Yang berisik juga kita kenapa lho yang sewot. Ya gak Don"


"Iya nih Faro, Kalo kagak suka denger suara kita, Mending tutup itu telinga"


"Serah kalian pada lah, Semoga aja nanti dapet hukuman dari guru karna mengganggu ketenangan kelas"


"Sejak kapan ada begituan. Hahhaha, Ada-ada aja lho" timpal Rey sambil terus tertawa.


Rey dan Doni masih saja terus bercanda, Tanpa mereka sadari, Ternyata guru mata pelajaran selanjutnya sudah datang sejak tadi, Namun mereka berdua tidak merasakan itu.


Ibu Zainab memperhatikan Rey dan Doni yang masih sibuk dengan pembicaraannya sendiri, Mereka sampai tak penggubris bu Zainab sama sekali.


"Rey, Doni" panggil bu Zainab lagi.


Namun masih saja mereka sibuk dengan pembicaraannya sendiri"Apaan sih woy, Ganggu a" perkataan Rey terpotong saat menoleh ke arah meja guru.


"Astaga, Bu Zainab Don. Mampus kita" ucapnya pelan.


Doni yang mendengar perkataan Rey ikut menoleh ke depan"Alamak, Kenapa kita tidak menyadari kedatangan bu Zainab"

__ADS_1


"Sukurin, Siap-siap menerima hukuman dari bu Zainab, Sejak tadi sudah gue ingetin juga" timpal Faro terkekeh.


"Rey, Doni. Kalian ikut ibu, Sudah penampilan gak rapi, Bikin rusuh lagi"


"Ikut kemana buk?"


"Dangdutan di lapangan"


"Kirain mau di beliin jajan di kantin bu"


Semua teman-temannya yang pendengar perkataan Rey terkekeh, Di saat seperti ini masih saja ngelawak.


Rey dan Doni mengekor di belakang bu Zainab dengan langkah yang begitu berat, Memang sudah tidak jarang mereka berdua di hukum karna berbagai alasan.


"Help me, Faro"


"Sukuriiiinnn"


Rey mengangkat sebelah sudut bibirnya saat mendengar perkataan Faro yang menurutnya sangat menyebalkan.


Jingga memperhatikan Langit yang terdiam tanpa menunjukkan ekspresi apapun dari wajahnya. Entah apa yang saat ini sedang mengganggu pikirannya.


"Sebenarnya apa yang saat ini sedang kak Langit pikirkan. Kenapa sejak tadi aku perhatikan seperti hanya raganya yang ada di tempat ini" ucap Jingga dan kembali mengambil ponselnya, Mengirim pesan singkat pada suaminya.


[ Kamu kenapa, Kak? Aku perhatikan sejak tadi kamu seperti sedang banyak pikiran. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, Kak,? ] Send


Dttttt,,,,,Dtttttt,,,,Dtttttt


Surgaku


[ Tidak ada, Sayang. Hanya saja saat ini aku sedang merasa takut yang berlebihan ]


Membaca itu membuat Jingga mengejutkan kecil keningnya.


[ Takut berlebihan? Memangnya apa yang kakak takutkan? ] Send


Dttttt,,,,,Dttttt,,,,Dttttt


Surgaku


[ Aku takut akan kata kehilangan sayang, Aku sangat takut dengan kata itu ]


[ Takut kehilangan siapa, Kak? ] Send


Dtttttt,,,,Dttttt,,Dtttt


Surgaku

__ADS_1


[ Siapa lagi kalau bukan takut kehilangan kamu, Sayang. Cukup sekali aku kehilangan. Jangan sampai aku merasakan hal itu lagi. Aku benar-benar takut akan rasa itu ]


[ Tidak perlu takut, Kak. Karna aku akan selalu di sini,. Bersama kamu dan menemani kamu. Kita akan menua bersama ] Send


__ADS_2