Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Sebenarnya aku anak siapa?


__ADS_3

"Bagaimana jika rasa takut ayah menjadi kenyataan, Jingga. Ayah tidak tau apa yang bisa ayah lakukan tanpa ada kamu di kehidupan ayah" ucap Alexander dalam batinnya.


Rasa takut itu benar-benar menghantui pikiran Alexander. Hingga tanpa sadar air mata itu kembali meluruh begitu saja.


Pagi sekali aku terbangun, Kedua netraku menatap sosok yang begitu berarti dalam hidupku. Siapa lagi kalau bukan ayah. Sosok laki-laki yang menjadi cinta pertamaku. Aku sangat sangat mencintainya.


Ayah adalah hidup dan mati ku. Sejak kecil, Hanya ayah yang selalu ada di sampingku. Biarpun banyak yang mengatakan jika ayah sosok dingin dan juga jahat, Tapi tidak denganku. Tangan kekarnya selalu mampu mengusap air mata yang dulu sering mengalir dari kedua mataku. Dia lah sosok pertama yang selalu menjadi sumber kekuatan terbesar ku.


Pagi ini aku lihat ada yang berbeda dari ayah, Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Ayah menangis. Melihat itu membuatku menatap wajahnya yang semakin menua.


"Ayah kenapa nangis?"tanyaku sambil terus menatap ayah yang sudah mengusap kedua matanya yang terlihat basah.


"Ayah tidak apa-apa sayang. Hanya saja ayah sedang merasa takut. Ayah takut terjadi apa-apa sama kamu" ucapnya sambil mengusap lembut kepalaku. Sangat terlihat jelas jika ayah sangat menyayangiku.


Aku tatap kedua matanya, Sepertinya saat ini ayah sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Entah apa yang sebenarnya ayah sembunyikan, Aku tidak tau itu.


"Jingga baik-baik saja, Yah. Jingga gak papa kok. Ayah jangan sedih lagi ya" balasku sambil mengusap bekas air mata ayah.


Tiba-tiba saja ayah memelukku, Erat, Sangat erat. Bahkan pelukan itu terasa berbeda, Ada apa sebenarnya.


"Jangan pernah pergi dari kehidupan ayah, Sayang. Apapun yang terjadi, Jingga harus selamanya bersama dengan ayah. Karna Jingga harta terbesar yang ayah miliki, Jingga adalah hidup dan mati ayah, Jingga segalanya" ucapnya sambil memeluk erat tubuhku.


Aku membalas pelukannya, Pelukan yang selalu terasa hangat dan selalu mampu membuat damai hati ini.


"Ayah bicara apa? Jingga memang anak ayah, Selamanya akan selalu menjadi anak ayah. Ayah juga hidup dan mati Jingga, Ayah segalanya. Ayah sumber kekuatan yang Jingga miliki" ucapku sambil mengusap punggung ayah.

__ADS_1


Entah apa ada yang salah dengan perkataan ku, Tapi yang pasti, Ayah semakin mengeratkan pelukannya dan tangisnya semakin pecah.


Hal itu membuat aku semakin merasa penasaran, Apa yang sebenarnya membuat ayah seperti itu. Apa ada hal yang terjadi selama aku tak sadarkan diri. Hal itu tiba-tiba saja muncul dalam benakku.


Akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan ayah menangis sambil terus memeluk erat tubuhku."Ayah keluar sebentar ya, Sayang. Ayah mau beli sesuatu buat kamu" ucap ayah sambil mencium lembut pucuk kepalaku.


Aku hanya mengangguk, Entah apa yang sebenarnya mau ayah beli, Tapi melihat tingkah ayah seperti itu membuatku merasa penasaran, Apa yang sebenarnya sedang ayah sembunyikan.


Saat ayah sedang keluar dari ruangan ku, Tanpa sengaja aku melihat sebuah map berwarna coklat. Karna penasaran, Akhirnya aku mengambil dan membuka map itu. Ternyata isinya adalah data seseorang yang sudah mendonorkan darahnya untuk ku. Di sana tertera nama Darwin mahendra, Bukan Alexander.


"Darwin mahendra, Kenapa bukan ayah yang mendonorkan darahnya untukku" ucapku sambil terus memperhatikan map coklat itu.


"Oh iya. Aku kan belum tau apa golongan darah ayah. Seharusnya golongan darah ayah sama dengan ku, Karna kan ayah pernah bilang kalau golongan darah bunda itu O. Sedangkan aku AB+, Itu artinya golongan darahku sama kayak ayah" ucapku lagi.


Di saat aku masih sibuk dengan map itu, Tiba-tiba saja ada suster yang datang dan membawakan sarapan untukku. "Di makan ya mbk, Biar cepat sehat dan pulang" ucapnya ramah sambil tersenyum padaku.


"Sus. Apa saya boleh bertanya sesuatu?" ucapku dan membuat suster itu menghentikan langkah kakinya. Aku liat tanda pengenalnya dia bernama Wulan.


"Iya mbk Jingga, Mau tanya apa?" ucapnya pelan


"Ini kemaren yang mendonorkan darah untukku kenapa bukan ayah ya, Kenapa orang lain. Memangnya ayah gak bisa donorkan darahnya ya" tanyaku


"Oh itu. Iya mbk, Pak Alexander memang tidak bisa mendonorkan darahnya karna golongan darah beliau tidak cocok dengan mbk"


Deg!

__ADS_1


Perkataan suster Wulan membuat ku mengerutkan kecil keningku"Ah, Jangan bercanda deh sus. Mana mungkin golongan darah ku berbeda dengan ayah" balas ku sambil terkekeh.


"Iya mbk, Karna golongan darah pak Alex A, Sedangkan mbk Jingga AB+" terangnya.


Lelucon apa ini, Apa aku sedang bermimpi? Tidak mungkin jika golongan darahku berbeda dengan ayah. Jika golongan darah mama O, Itu kan seharusnya aku memiliki golongan darah yang sama dengan ayah. Tapi kenapa suster Wulan mengatakan jika golongan darahku dengan ayah berbeda.


"Masa sih sus" ucap


"Iya mbk, Golongan darah pak Alex A, Sedangkan mbk Jingga AB+. Makanya kemaren mereka sempat panik saat tidak menemukan golongan darah yang sama dengan mbk Jingga, Beruntung ada pak Darwin yang memiliki darah sesuai dengan darah mbk Jingga" terangnya.


"Begitu ya sus, Makasih ya sus infonya" balasku sambil tersenyum kecut. Perkataan suster Wulan membuatku teringat akan perkataan ayah serta sikap ayah yang berbeda pagi ini.


"Jika aku sedang bermimpi, Tolong segera bangunkan aku dari mimpi konyol ini" ucapku sambil mencubit kedua pipiku yang terasa sakit. Itu artinya ini bukan mimpi, Tapi kenyataan.


"Sebentar, Jika golongan darahku berbeda dengan ayah dan bunda, Apa itu artinya aku bukan anak kandung mereka" ucapku


Entah kenapa hal itu tiba-tiba saja melintas dalam benakku. Bagaimana bisa aku tidak memiliki golongan darah yang sama dari salah satu orang tuaku.


Di saat aku masih sibuk dengan pikiranku, Tiba-tiba saja aku mendengar suara langkah kaki yang sedang berjalan ke arahku. Itu pasti ayah.


Aku memperhatikan ayah yang baru saja masuk ke ruangan rawat inap ku, Kedua matanya masih terlihat sayu. Apa ini ada hubungannya dengan golongan darah itu.


"Ini sayang, Ayah belikan kamu kebab sama roti panggang. Kamu makan ya sayang, Ayah terluka jika melihat kamu seperti ini" ucapnya sambil mengeluarkan kebab dan juga roti panggang dari paperbag yang dia bawa.


Dua makanan itu memang selalu menjadi makanan kesukaan ku. Sejak kecil, Saat aku sedang sakit ayah akan selalu membelikan aku makanan itu. Namun untuk kali ini selera makan ku seketika hilang saat teringat akan golongan darahku yang berbeda dengan ayah dan juga bunda.

__ADS_1


"Sebenarnya aku anak siapa yah?" tanyaku yang langsung to the poin.


Mendengar pertanyaan ku, Paperbag tadi jatuh dari tangan ayah. Aku bisa melihat jelas jika ayah sangat terkejut dengan pertanyaan yang baru saja aku lontarkan.


__ADS_2