
Mendengar perkataan Jingga membuat Alexander mengambil nafas panjang, Pria paruh baya itu menatap wajah Jingga sambil mengeratkan pelukannya. Rasa takut itu benar-benar menghantui pikiran Alexander.
"Bagaimana ini, Apa yang harus aku katakan pada Jingga. Apa iya aku harus mengatakan jika kemungkinan besar ayah kandungnya adalah Darwin, Orang yang sudah membuatnya terluka dan harus ada di tempat ini" ucap Alexander dalam batinnya.
"Ayah, Kenapa ayah diam saja" ucap Jingga lagi.
"Kemungkinan besar. Kamu tertukar saat kejadian kebakaran 17 tahun yang lalu, Sayang. Jadi ayah tidak tau kamu tertukar dengan siapa" ucap Alexander yang masih tidak rela jika Jingga tau jika ayah kandungnya adalah Darwin.
Mendengar perkataan Alexander, Jingga mengangkat wajahnya. Wanita menatap wajah ayahnya yang terlihat sangat sendu.
"Jadi ayah tidak tau siapa orang tua kandung Jingga, Ayah?" tanya Jingga lagi
Alexander menggeleng pelan"Tidak, Sayang. Dan ayah minta, Kamu jangan pernah ingin tau siapa orang tua kandung kamu, Karna hanya ayah yang akan menjadi orang tua kamu. Hanya ayah, Dan tidak ada yang lain lagi. Kamu milik ayah, Selamanya milik ayah" ucap Alexander sambil kembali memeluk Jingga sangat erat.
Tak pernah menyangka jika sosok anak yang selama ini dia besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang adalah anak dari orang lain.
"Ayah. Jingga sayang sama ayah"
"Ayah juga sayang sama Jingga, Jingga segalanya buat ayah. Jingga adalah harta terbesar yang ayah miliki saat ini. Jangan pernah pergi dari hidup ayah ya, Sayang. Karna ayah gak tau bagaimana hidup ayah tanpa kamu" gumam Alexander yang terdengar sangat lirih sambil membelai lembut kepala Jingga.
Si Rooftop Sekolah
Setelah keluar dari dalam kelas, Langit dan Lana memang pergi ke Rooftop dan membicarakan perihal sosok penghianat yang sudah dengan berani melakukan itu paca deng the boys.
"Bagaimana, Apa kita kasih pelajaran sama si Toni" ucap Lana sambil menatap Langit.
"Hem. Kita kasih dia pelajaran nanti di markas. Kita kumpulkan semua anak-anak siang ini"
"Oke. Jangan lupa lho broadcast sama mereka. Sekarang aja"
Langit tak lagi menjawab. Pria itu langsung mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan broadcast pada semua anggota geng the boys.
"Jangan siang ini, Gue masih harus ke rumah sakit buat jenguk Jingga. Malam ini saja jam 20:00 malem"
"Baiklah. Bagaimana keadaannya Jingga?"
"Dia sudah sadar. Keadaannya alhamdulilah juga sudah baik-baik saja" terang Langit sambil memainkan ponselnya.
"Apa lho gak mau membalaskan apa yang sudah di lakukan oleh om Darwin terhadap Jingga. Ini sudah termasuk kriminal. Masih Untung Jingga selamat. Kalau tidak bagaimana"
__ADS_1
"Lho benar juga. Gue harus memberikan om Darwin hukuman yang akan membuatnya Jera"
Tanpa terasa hari sudah berlalu. Malam ini Langit sudah siap untuk pergi ke markas geng the boys buat memberikan pelajaran atas apa yang sudah Toni lakukan. Bukan hanya soal mengkhianati geng itu. Tapi juga perihal Video Jingga yang sudah beredar di sekolah SMA NUSA BANGSA.
Setelah keluar dari rumah sakit. Langit melesatkan cepat motornya. Membawa motor itu menuju di mana letak markasnya. Tangan Langit mengepal kuat saat teringat akan Video Jingga yang sudah dia buat Viral tempo hari.
Di Markas
"Ada apa ya!. Kok tumben bener paketu meminta kita buat kumpul seperti ini"tanya salah satu anak di sana.
"Entahlah. Gue juga gak tau sih. Mungkin ada hal penting yang mau dia katakan sama kita"
"Iya kali ya. Soalnya kan gak pernah juga ngajak kita kumpul dadakan yak"
"Kita tunggu sajalah. Gak usah banyak bacot juga" ucap salah satunya.
Tak berselang lama, Ada sebuah mesin motor yang berhenti tepat di depan markas itu, Mereka semua bisa menebak siapa yang datang.
"Itu pasti si paketu" ucap Rey sambil bangun dari duduknya.
Sedangkan Langit, Setelah memarkirkan motornya, Pria itu berjalan pelan masuk ke dalam markas dengan wajah dingin serta datar seperti biasa.
"Sudah kayaknya. Tapi wait"
Rey mengerutkan keningnya saat tak mendapati sosok Toni di antara mereka. Anak itu ternyata tidak hadir malam ini.
"Kenapa?" tanya Langit pada Rey.
"Si Toni kemana? Ini kok gak kelihatan batang hidungnya"
"Lah iya, Kenapa gue baru sadar jika si Toni tidak ada di sini. Lho berdua tau gak kemana si Toni" tanya Rey pada Ferdi dan Arif.
Mereka berdua menggeleng pelan"Tidak tau, Bang. Sejak pulang sekolah, Si Toni tidak ada kabarnya. Anak itu sama sekali tidak mengirim pesan atau apapun" terangnya.
"Apa jangan-jangan si Toni tau kalau malam ini kita bakal memberikan pelajaran padanya"
Di saat mereka sedang membicarakan tentang Toni, Tiba-tiba saja ada seorang kurir yang datang dan membawa sebuah paket yang membuat mereka seketika tercengang.
Tok....Tok....Tok....
__ADS_1
"Permisi selamat malam. Saya mau mengantar paket atas nama Langit Alvarelza" ucap kurir itu sambil memberikan sebuah kotak yang tertuju untuk Langit.
"Dari siapa?" tanya Langit sambil menatap kurir itu.
"Mohon maaf, Mas. Saya tidak tau siapa pengirimnya. Permisi"
Setelah kepergian kurir itu, Langit duduk sambil menatap kotak yang ada di tangannya. Karna merasa sangat penasaran, Akhirnya Langit membuka dan melihat apa isi dari kotak itu.
" Jaket dan Ponsel. Ada yang tau ini milik siapa?"
Mendengar perkataan Langit membuat semua anggota geng the boys merapat sambil memperhatikan jaket dan juga ponsel yang ada di tangan Langit.
"Ini kan punya Toni" ucap salah satu dari mereka.
"Lho yakin ini barang-barang milik Toni?" tanya Rey pelan.
"Yakin, Bang. Ini jaket yang sering Toni gunakan"
Langit tak menjawab perkataan anak itu, Langit hanya menyalakan ponsel milik Toni dan melihat apa isi dari ponselnya. Kedua mata Langit memicing serta kedua tangannya mengepal kuat.
"Kurang ajar! Apa-apaan ini"
Perkataan Langit tentu saja membuat semua anggota geng the boys merasa penasaran. Apa sebenarnya yang Langit lihat dari isi ponsel Toni.
"Ada apa. Ngit?" Tanya Lana sambil menatap Langit.
"Kita sudah salah paham terhadap Toni. Kalian lihat video ini" titahnya sambil memberikan ponsel itu.
Di dalam ponsel itu. Ada sebuah rekaman video yang berdurasi kurang lebih 10 menit. Sebuah kebenaran yang menunjukkan jika Toni bukan penghianat yang sebenarnya.
Maafkan gue jika kehadiran gue di geng the boys membuat kalian tidak nyaman, Tapi satu hal yang harus kalian tau, Gue melakukan apa yang Yuna perintahkan itu hanya karna gue ingin melindungi Jingga, Melindungi dia dari rencana yang sudah di siapkan oleh
Belum sempat Toni menyelesaikan perkataannya, Pria itu menutup kedua matanya.
Tak lama kemudian, Ada sebuah pesan broadcast yang masuk pada ponsel Ferdi dan Arif.
Dtttt.....Dtttttt....Dttttt....
[ Inalillahi, Telah berpulang sahabat kita yang bernama Antoni pada jam 19:00 wib ]
__ADS_1
Membaca pesan itu, Ferdi dan Aril saling lirik"Toni meninggal" ucap mereka secara bersamaan.