
"Bener-bener ini mak Lampir ya. Ngeselin amat jadi wanita. Ya ampun, Bagaimana bisa gue mau di jodohkan dengan wanita menyebalkan sepertinya" gumam Rey sambil mengangkat kedua susut bibirnya.
"Dih, Lho pikir lho sendiri gak ngeselin. Nanti kalau sudah pulang jangan lupa ngaca di rumah. Introspeksi diri" balas Sisil yang tidak mau ngalah.
"Sayangnya gue tidak punya kaca. Jadi bagaimana caranya gue mau introspeksi diri mak Lampir🙄"
Tanpa mereka sadari, Saat ini Rey dan Sisil sudah menjadi pusat perhatian para penonton yang lain. Pasalnya mereka berdebat bukan dengan suara kalem, Tapi dengan suara yang hampir mengalahkan volume film itu.
"Woy. Kalau kalian mau berdebat jangan di sini. Keluar saja! Astaga, Bagaimana bisa nonton dengan nyaman kalau ada toxic begini" ucap salah satu penonton yang merasa terganggu dengan kelakuan Rey dan Sisil.
"Tau nih. Mau nonton aja gak bisa fokus. Emang kalian pikir ini bioskop punya nenek moyang lho, Yang seenaknya saja bikin keributan di sini" balas satunya.
"Kalau kalian tidak suka, Ya tinggal tutup kuping kan bisa. Lagian ini bioskop juga bukan punya nenek moyang lho kan? Kita sama-sama bayar. Jadi kedudukan kita di sini sama. Sama-sama pengunjung" balas Sisil yang merasa tidak terima.
"Dasar tidak waras, Sudah tau salah bukan nya minta maaf malah nyolot"
"Gue minta maaf sama lho? Ogah"
"Wah bener-benar ini cewek ya! Heh mas, Itu ceweknya diajarin biar gak jadi toxic. Mengganggu ketenangan saja. Lebih baik kalian keluar saja deh dari sini"
"Benar apa kata mereka, Lebih baik kita keluar saja yuk mak Lampir, Film nya gak seru juga" ucap Rey sambil menarik tangan Sisil.
"Gak mau! Gue masih mau nonton kelanjutan film nya. Kalau lho may keluar ya lho keluar saja sendiri. Gue masih mau di sini" ucap Sisil yang terlihat kesal.
"Huuuuu, Dasar wanita gak waras" ucap mereka lagi pada Sisil.
Sisil mengambil nafas panjang"Astaga, Itu mulut memangnya tidak pernah di sekolahin ya. Gue tabok juga lho nanti. Menyebalkan banget" balas Sisil sambil berjalan pada mereka yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempatnya.
Setelah sampai di tempat orang itu, Sisil menarik rambutnya sambil menatap tajam sosok yang tadi sudah mengatakannya orang tidak waras.
"Woy, Apa-apaan lho?" ucapnya sambil menahan tangan Sisil yang sudah menjambak rambutnya.
__ADS_1
"Lho tadi bilang gue wanita tidak waras bukan. Akan gue tunjukkan bagaimana wanita tidak waras ini kalau sudah mengamuk"
Gadis itu membulatkan kedua matanya. "Astaga, Kenapa kau diam saja. Bantu gue lepaskan tangan wanita gila ini" ujarnya pada temannya.
Tak berselang lama, Petugas keamanan bioskop itu masuk dan menghentikan aksi Sisil yang sudah menarik rambut orang yang mengatainya wanita tidak waras.
"Stop stop. Ngapain kamu bikin keributan di sini?" tanya salah satu satpam itu sambil menarik tangan Sisil.
"Dia yang sudah mulai duluan. Apa saya salah jika saya membela harga diri saya"
"Keluar kamu dari sini. Ada-ada saja buat keributan"
Kedua petugas keamanan itu membawa Sisil dan menyeretnya keluar dari bioskop. Rey yang melihat itu tentu saja merasa kasihan, Karna mau bagaimana pun hal itu terjadi karna berawal darinya.
"Lepaskan saya. Saya masih bisa keluar sendiri. Tidak perlu di seret seperti ini juga"
"Makanya jangan suka buat keributan" balas salah satu petugas itu setelah sampai di luar.
Sisil menghentakkan kaka nya sambil mengepal kan kuat kedua tangannya. Kedua matanya terasa sangat panas. Ingin rasanya Sisil menangis saat itu juga. Kenapa hari ini rasanya kesialan selalu datang menghampirinya.
****
Di Rumah sakit MANDALA
"Astaga, Tuan Pratama kejang-kejang" ujar Seorang suster yang sedang melakukan pemeriksaan rutin terhadap Pratama.
Suster Hera berjalan setengah berlari keluar dari ruangan Pratama. "Tolong panggil kan dokter Dika, Keadaan tuan Pratama memburuk" ucap suster Hera pada bodyguard yang sedang menjaga Pratama.
"Astaga Tuan. Saya harus menghubungi tuan muda"
Suster Hera mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Langit. Karna Langit memang selalu mewanti-wanti jika ada sesuatu yang terjadi pada papanya harus segera menghubunginya.
__ADS_1
"Aduuh kenapa nomor tuan muda malah tidak bisa di hubungi" ucapnya panik
Tak berselang lama, Ada suara langkah kaki yang masuk pada ruangan itu. Awalnya suster Hera mengira jika itu adalah Langit. Namun ternyata dia salah, Karna yang datang kali ini adalah Samudra.
"Ada apa dengan papa, Sus?" tanya Samudra setelah tiba di sana.
"Keadaan tuan Pratama memburuk. Saya sudah menghubungi dokter untuk mengontrol keadaannya lebih lanjut. Saya sudah mencoba menghubungi tuan Langit, Namun nomor ponselnya tidak bisa di hubungi" terang suster Hera pada Samudra.
"Sus, Tolong siapkan alat Ventilator. Sepertinya tuan Pratama membutuhkan alat itu" ucap Dokter Dika pada suster Hera.
"Baik, Dokter"
Samudra menatap raut wajah papanya. Tangannya mengepal kuat saat teringat akan apa yang sudah Jingga katakan kemarin saat sedang di sekolah.
"Papa, Maafkan Sam yang selama ini tidak pernah menjadi anak yang baik. Maafkan Sam yang selalu mengecewakan papa. Sekarang Samudra baru paham apa maksud perkataan papa waktu itu" ucap Samudra sambil menatap wajah Pratama yang masih setia menutup kedua matanya.
Maafkan papa yang mungkin sudah membuatmu merasa sangat kecewa, Sam. Maafkan papa yang sudah memberikan contoh tidak baik buat kalian. Tapi asal kamu tau, Papa sama sekali tidak ada niatan buat mengkhianati mama, Hanya saja ada sebab dan akibat yang membuat papa menikahi mama Ayuning. Maafkan papa.
Tiba-tiba perkataan Pratama terngiang begitu saja, "Sebenarnya apa yang membuat papa menikah lagi? Apa yang menjadi alasan papa melakukan hal itu" ucap Samudra sambil terus menatap Pratama yang saat ini sedang di tangani oleh dokter Dika.
"Kamu nau tau apa alasan Pratama menikah lagi?"
Suara itu membuat Samudra menoleh ke arah sumber suara"Om Alex. Memangnya om Alex tau sesuatu?" tanya Samudra pada Alexander, Ayahnya Jingga.
Alexander mengangguk"Saya tidak tau pasti, Sam. Tapi yang saya tangkap dari penjelasan istri kedua papa kamu adalah. Pernikahan mereka terjadi bermula hanya karna pratama tidak mau menghancurkan nama baik Ayuning. Intinya, Papa kamu selalu ingin memuliakan wanita" terangnya sambil menepuk pelan punggung Samudra.
****
"Lho kenapa Gib?" tanya salah satu temannya pada ketua geng mereka yang bernama Gibran.
Pria yang bernama Gibran masih diam tak menjawab sepatah katapun. Pria itu menatap layar ponselnya yang menunjukkan foto dirinya bersama dengan Jingga yang di ambil kurang lebih 2 tahun yang lalu.
__ADS_1
"Gue merindukan lho, Jingga. Gue sangat merindukan saat-saat di mana kita sering menghabiskan waktu bersama. Ternyata aku baru sadar jika lho sangat berpengaruh dalam hidup gue" ucap Gibran yang terdengar sangat lirih.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, SAMA VOTE NYA NGGEH. BIAR KAKAK AUTHOR MAKIN SEMANGAT UPDATENYA. BANYAKIN SAJEN SEPERTI MAWAR ATAU KUPI♥️😂