
"Bangsat lho" umpat Rey sambil menatap tajam Doni yang sudah menertawakannya.
"Tapi ya, Rey. Kalau di perhatiin si mak Lampir cocok juga sama lho, Nanti gue kirim foto ini ke lho ya" bisiknya tepat di telinga kanan Rey.
"Kagak usah, Buat apaan juga"
"Ya kalo aja mau lho pandang sebelum tidur. Hahhah"
"Bengek lho emang Don"
Faro dan Lana tentu saja merasa penasaran dengan apa yang Rey dan Doni bicarakan sehingga membuat Doni terus mengulum bibir.
"Apa sih yang kalian bicarakan, Apa yang Viral Don?"
"Ada deh. Kalau mau tau tanya sama Rey, Hahah"
"Hapus gak!"
"Gak mau" jawab Doni sambil berlari dan di kejar oleh Rey, Seperti anak Sd yang sedang bermain kejar-kejaran.
"Don, Ngeselin banget lho, Hapus gak!"
"Gak mauu om jelangkung, Hahhhah"
Di saat Doni dan Rey sedang kejar-kejaran di koridor sekolah, Tiba-tiba saja Rey menabrak tubuh seorang gadis dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
Namun dengan cepat Rey menarik tangannya dan membuatnya terjatuh dalam dekapannya. Sisil menatap kedua bola mata Rey tanpa berkedip. Begitu juga sebaliknya.
"Ciee mak Lampir sama om Jelangkung, Hahhaah"
Mendengar itu membuat Rey melepaskan Sisil dan membuat Wanita itu terjatuh ke lantai.
"Awwww, Kurang ajar ya lho jelangkung. Kenapa lepasin gue!"
"Upss sorry. Sengaja"
Setelah mengatakan hal itu. Rey langsung berlalu dari hadapan Sisil dan meninggalkan nya yang masih terduduk di atas lantai karna ulah dari Rey.
"Jelangkung ngeseliiiinn, Awas ya lho, Gue sumpain semoga hari ini lho mendapat kesialan berkali-kali" teriak Sisil yang tentu saja bisa terdengar oleh Rey.
"Gue gak denger"
__ADS_1
Rey dan Doni memutuskan untuk masuk ke kelas dengan Lana dan juga Faro yang mengekor di arah kejauhan. Bisa di bilang Bestie Rey adalah Doni. Dan bestie Faro adalah Lana. Sedangkan bestie Langit adalah Damian, Kakak kelas mereka yang menjabat sebagai wakil ketua geng motor the boys.
"Kak, Bagaimana kalau kita terlambat" ucap Jingga sambil memperhatikan Langit yang sedang mencoba menghubungi ajudannya.
"Sebentar ya, Sayang. Aku coba telpon om Ferdi"
"Iya, Kak"
Langit mencoba menghubungi ajudannya yang bernama Ferdi, Tak butuh waktu lama, Orang itu langsung menjawab panggilan Langit.
📲:Halo tuan muda, Ada yang bisa saya bantu?
📲:Tolong bawakan motor saya ke jalan merpati, Saya terjebak macet di sini
📲:Baik, Tuan muda. Saya akan segera kesana
Setelah mendengar itu, Langit langsung memutuskan sambungan telponnya, Menoleh pada Jingga yang sudah terlihat gelisah. Pasalnya hari ini mereka sedang ada ulangan di jam pertama.
"Jangan panik, Sayang. Sebentar lagi om Ferdi akan datang membawa motor, Aku akan pastikan kita tidak terlambat masuk kelas" ucap Langit sambil menggenggam tangan Jingga.
"Tapi, Kak. Ini sudah jam 06:45, Sisa waktu kita hanya 15 menit lagi. Bagaimana ini kak"
"Percaya sama aku, Aku tidak akan membiarkan kita terlambat, Sayang. Kamu tenang saja ya, Sebentar lagi om Ferdi datang, Lebih baik sekarang kita keluar dari mobil, Kita tunggu om Ferdi di halte depan sana"
"Iya, Kak"
5 Menit kemudian, Langit sudah bisa melihat kedatangan ajudannya yang bernama Fandi sudah tiba di sana. Langit melambaikan tangannya agar pria itu bisa melihat keberadaannya.
"Itu om Fandi sudah datang, Sayang" ucap Langit sambil tersenyum hangat pada Jingga"Iya, Kak. Cepat juga om Fandi sampek sini ya" jawab Jingga sambil mengekor di belakang Langit dengan tangan yang masih bertautan.
"Maaf kalau saya kelamaan tuan muda"
"Tidak, Om. Anda sampai lebih cepat dari waktu yang saya perkirakan. Kalau begitu saya minta tolong bawakan mobil saya ke mansion ya, Kuncinya masih di sana"
"Siap tuan muda. Hati-hati di jalan" gumamnya sambil menundukkan kepalanya.
Langit tak memberi jawaban, Pria itu hanya mengangguk dan langsung memakaikan salah satu helm pada Jingga.
"Pegangan ya, Sayang. Aku akan ngebut biar kita tepat waktu ke sekolah dan tidak terlambat mengikuti ujian"
"Iya, Kak. Ngebut aja kak, Aku sudah biasa kok" ucap Jingga tanpa sadar.
__ADS_1
Langit yang awalnya sudah menghidupkan motornya akhirnya mematikan mesin motor itu kembali, Karna merasa penasaran dengan apa yang sudah di katakan oleh Jingga.
Sedangkan Jingga yang baru saja menyadari perkataannya langsung menjadi panik seketika, Pasalnya Langit tidak pernah tau jika selama ini Jingga adalah ratu jalanan.
"Sudah biasa? Maksud kamu sudah biasa ngebut, Sayang?" tanya Langit sambil menoleh pada Jingga.
"Astaga, Apa yang harus aku katakan. Kenapa aku bisa keceplosan segala sih" Jingga bermonolog dalam batinnya sambil memikirkan jawaban yang sangat tepat untuk menjawab pertanyaan Langit.
Belum sempat Jingga menjawab, Pengendara lain membunyikan klakson dan membuat Langit menyalakan motornya kembali serta langsung melajukan motor itu.
"Untung saja" ucap Jingga yang merasa lega karna tak perlu menjawab pertanyaan Langit.
Langit melesatkan motornya dengan kecepatan tinggi, Bahkan pria itu tak segan-segan menyalip beberapa kendaraan yang berusaha menghalangi jalannya. Beruntung Langit adalah raja jalanan, Sehingga tak sulit buatnya untuk menerobos jalanan yang cukup padat pagi ini.
7 Menit kemudian, Motor itu sudah tiba di sekolah nusa bangsa. Seperti apa yang sudah dia katakan pada Jingga, Jika mereka tidak akan telat dan akan tetap mengikuti ulangan pagi ini.
"Akhirnya sampai juga"
"Iya, Kak. Alhamdulilah kita tidak telat, Sepertinya juga belum masuk"
"Maaf ya sayang, Tadi aku bawa motornya cepet sampel membuat kamu spot jantung"
Jingga mengangkat kedua sudut bibirnya"Tak masalah, Kak. Yang terpenting kita tiba tepat waktu serta dengan selamat tentunya"
Di Dalam Kelas
"Eh, Si paketu kemana ya? Kok tumben jam segini belum datang itu anak"
"Iya, Si my bidadari juga belum ada tuh" ucap Rey sambil menoleh pada tempat duduk Jingga yang masih kosong, Hanya ada Olivia di sana.
"Woy, Rey. Mulai sekarang bidadari lho sudah bukan Jingga, Tapi" Perkataan Doni terputus saat Rey dengan cepat menginjak kakinya dan membuat pria itu sedikit kesakitan.
"Heh, Apaan lho pakek injek kaki gue bang sad" ucap Doni pada Rey dengan raut wajah yang terlihat menahan sakit"Makanya jangan cari masalah"
"Cari masalah apa pula, Kan emang bener bidadari lho udah ganti jadi si mak"
Lagi-lagi perkataan Doni terputus karna Rey dengan gerakan cepat kembali menginjak kakinya.
"Jangan sampai kasih tau mereka soal foto itu" bisik Rey yanga hanya bisa terdengar oleh Doni.
"Dasar bestie laknat lho"
__ADS_1
"Emang gue pikirin"