
"Lho gak papa kan Lex?, Gue denger dari anak-anak katanya tadi Jingga sempat melintir tangan lho lagi ya?" Tanya Veros yang baru saja kembali dari toilet dan tidak tau sama sekali apa yang baru saja terjadi pada Lexan.
"Hmm. Wanita itu sudah benar-benar membuatku merasa sangat malu. Awas saja dia, Gue akan memberikan pelajaran atas apa yang sudah dia lakukan pada gue hari ini dan malam itu" ucap Lexan sambil mengepalkan salah satu tangannya.
"Bagaimana ceritanya sih Lex? Kenapa bisa kejadian malam itu terulang kembali" tanya Veros yang merasa sangat penasaran dengan kejadian beberapa saat yang lalu.
"Tanya mulu lho, Gak ada kerjaan mending pijitin ini tangan gue yang menjadi korban wanita sialan itu" pungkasnya kesal.
"Iya iya, Sini gue bantu pijitin itu tangan. Tapi gue gak bisa mijit loh ya" sergahnya sambil mengambil tangan Lexan.
"Aaaaa, Lho mau bantu gue buat ngilangin rasa sakit apa mau bunuh gue" ujar Lexan sambil menahan sakit di tangannya.
"Lah, Kan tadi gue sudah bilang kalau gue gak bisa mijit"
"Gak berguna memang. Minggir tangan lho" ucap Lexan kesal"Dasar ketua bangsad lho, Udah gue bantu juga" balas Veros sambil memgangkat sebelah sudut bibirnya
Di Rooftop
"Ada apa lho minta kami semua berkumpul bang?"Tanya Lana yang merasa penasaran karna tiba-tiba saja Damian mengirim pesan broadcast pada mereka semua.
"Iya, Bang. Ada apa? Tumben lho meminta kita untuk berkumpul"
Damian tak langsung menjawab. Pria itu mengambil nafas sejenak sambil duduk di samping Rey. "Ada hal penting yang harus gue katakan pada kalian semua. Ini soal Jingga" ucapnya sambil melirik satu persatu dari mereka.
Revan mengerutkan keningnya"Apa maksud lho? Tentang Jingga? Memangnya ada apa dengan Jingga?" tanya Revan sambil menatap Damian.
"Gue belum selesai bicara elah" balas Damian "Ayo buru bicara, Gue penasaran ini" lanjut Revan.
"Jadi begini, Tadi Langit sempat telfon gue, Dia bilang saat ini sedang sibuk soal urusan Perusahaan. Tapi ada satu hal yang dia katakan, Lebih tepatnya dia minta tolong sama kita" terang Damian.
"Apa memangnya bang?" tanya Faro
"Kita di minta untuk terus mengawasi Jingga, Lebih tepatnya kita di minta untuk menjaga Jingga, Karna kata Langit, Saat ini Jingga sedang dalam bahaya" ucap Damian dengan raut wajah serius.
"Jingga dalam bahaya? Maksudnya bagaimana?" tanya Revan yang memang ngeleg seperti biasa.
"Yaelah bang Re, Masak begitu saja tidak paham. Kau itu kebanyakan mikir perempuan" celoteh Rey sambil menatap Revan.
"Anjai lho. Gue memang benar-benar tidak paham bedebah, Makanya gue nanya" balas Revan sambil menoleh pada Rey yang sudah terkekeh.
"Kita di minta Langit untuk menjaga Jingga, Karna dia mendapat kabar dari orang suruhannya bahwa geng mortal enemy sedang memiliki satu rencana jahat, Langit minta untuk kita selalu memastikan keadaan Jingga baik-baik saja selama dia tidak ada" terang Damian lagi.
__ADS_1
"Mortal enemy lagi, Memang biang masalah itu gang tak berguna ya" ucap Doni.
"Ya sudah, Kalau begitu lebih baik selama Langit tidak ada, Biar gue yang antar jemput Jingga" timpal Revan.
"Nah nah nah, Jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan lho bang. Mau gerak cepat rupanya" gumam Rey.
"Banyak bacot lho" sahut Revan sambil menatap Rey.
"Sensi amat lu ama gue bang"
******
"Selamat siang pak Alexander" ucap seorang pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam ruangan Alexander.
"Silahkan duduk" Balasnya
"Bagaimana, Apa kamu sudah menemukan titik terang siapa yang sudah membutuh Sela, Istri dari Darwin Mahendra?" tanya Alexander pada orang itu.
"Sudah, Tuan. Tuan akan merasa sangat kaget jika saya menyebutkan nama siapa yang sudah menghabisi Sela. Tapi yang pasti bukan Pratama" balas orang itu.
"Lalu siapa. Sudah aku duga jika Pratama tidak akan melakukan hal itu. Siapa pelaku aslinya?"
"Erlangga Wijaya. Salah satu pebisnis dunia hitam yang tak lain adalah partner dari Darwin sendiri" terangnya.
"Astaga, Jadi pelakunya Erlangga?" ujar Alexander sambil menatap detektif suruhannya.
"Yup. Saran saya, Lebih baik anda berhati-hati dengan orang yang bernama Erlangga wijaya. Dia orang yang sangat licik dan bisa menjadi duri di dalam daging"
"Saya memang tidak salah meminta anda buat menyelidiki kasus ini, Soalnya saya memang tidak yakin jika Pratama dalam dari kematian Sela. Oh ya, Apa kamu tau apa yang menjadi penyebab Erlangga melakukan hal itu?" tanya Alexander lagi.
"Kalau soal itu masih saya selidiki tuan, Soalnya apa yang saya dapatkan masih terlalu samar, Nanti kalau sudah pasti, Saya akan segera memberikan informasi itu terhadap anda" terang Sandi, Detektif yang di bayar Alexander untuk menyelidiki kebenaran tentang kematian Sela.
"Baiklah, Saya tunggu kabar baiknya. Masih sangat penasaran apa yang sebenarnya menjadi faktor utama Erlangga membunuh Sela, Itu pasti ada salah satu alasan kuat. Atau mungkin Sela mengetahui sesuatu tentang Erlangga?" tebak Alexander.
"Sepertinya begitu, Tuan. Tapi tentang hal apa saya masih mau memastikan. Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan. Masih ada hal yang harus saya urus"
"Baiklah, Hati-hati dijalan"
"Siap tuan, Permisi"
Setelah kepergian Sandi, Alexander melihat ponselnya yang sejak tadi berdering, Ada sebuah pesan masuk yang ternyata dari Revan.
__ADS_1
Revan
[ Ayah, Jangan lupa belikan motor yang Revan mau ya, Revan tidak mau hal yang kemarin terulang lagi, Bikin malu Revan saja ]
Setelah membaca pesan itu, Alexander menggelengkan kepalanya, Karna memang terkadang Revan bersikap seperti anak kecil saat sedang menginginkan sesuatu.
"Ck! Dasar anak ini. Sepertinya sesekali Revan harus aku tinggal, Biarkan dia belajar mengolah perusahaan. Jika seperti ini terus, Kapan dewasanya" ucapnya.
*****
Tanpa terasa hari sudah berlalu, Sesuai dengan yang sudah di sepakati, Selama Langit belum kembali, Jingga akan tinggal di Mansion bersama dengan ayah dan juga abangnya, Revan.
"Selamat malah, Adekku yang paling cantik" ucap Revan yang baru saja turun dari kamarnya. Berjalan mendekat pada Jingga dan juga ayahnya dengan kedua sudut bibir yang terangkat sempurna.
"Dih, Kenapa kau terlihat sangat bahagia, Bang. Memangnya ada hal apa yang membuatmu sampai seperti itu?" tanya Jingga sambil menatap Revan yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kepo" balas Revan seperti biasa.
"Nggak kepo sih, Bang. Hanya saja Jingga itu suka curiga kalau liat abang senyum-senyum seperti itu. Mencurigakan sekali, Iya gak yah?"
"Biasa itu abang kamu, Lagi bahagia karna sudah bisa mendapatkan wanita yang selama ini dia incar" balas Alexander sambil menikmati secangkir kopi hitam di tangannya.
"Wow, Jadi abang sudah punya pacar lagi? Siapa bang? Kenalin sama Jingga dong"
"Ada deh. Tapi yang pasti dia akan menjadi wanita terakhir dalam hidup abang"
"Yakin banget dia mau selamanya sama bang Revan"
"Iyalah.Secara abang ganteng, Maco. Cool, kaya pula. Abang mu ini sosok yang sangat sempurna" jawab Revan sambil terus tersenyum bahagia.
"Idih, Kerja aja belom udah mikir nikah, Iya memang paling sempurna sejagat raya" balas Jingga sambil terkekeh.
"Kenapa kau seperti itu? Tidak suka jika abangmu sudah punya pacar"
"Kalo Jingga sih suka-suka saja Bang. Jangan lupa pejeh ya bang"
"Pejeh apaan?"
"Pajak jadian. Nanti abang harus temanin Jingga keliling mall"
"Memang ada pajak jadian seperti itu ya?"
__ADS_1
"Ya, Ada tidak ada, Harus ada sih"
"Dasar tidak jelas"