Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Apa yang terjadi?


__ADS_3

Langit melangkahkan kakinya mengekor di belakang om Iwan. Kali ini pria itu menggunakan sebuah setelah jas berwarna coksu, Hal itu semakin membuat Langit terlihat lebih dewasa dari pada umurnya. Bahkan semua klien yabg pernah meeting bersama dengan Langit tidak ada yang menyangka jika Langit masih siswa SMA sekal 11.


Saat melihat orang-orang yang ada di ruangan meeting, Rasa takut mulai terbesit dalam benak Langit"Astaga, Sepertinya orang-orang ini bukan lah orang yang sembarangan. Bagaimana bisa aku bersaing dengan mereka" ucap Langit dalam baktinya sambil berusaha bersikap biasa saja. Seolah-olah Langit tidak merasakan apa-apa saat ini. Padahal sebenarnya Langit takut akan kata gagal.


"Rileks Langit, Jangan pernah takut sebelum berperang. Kamu pasti bisa. Huffff"


Lagi-lagi Langit hanya bisa bermonolog dalam batinnya sambil menunjukkan ekspresi dinginnya seperti biasa.


"Jadi ini tuan muda Pratama, Sepertinya dia lebih hebat dari pada papanya" batin salah satu dari mereka sambil menatap Langit.


"Sepertinya anak Pertama ini tidak bisa di remeh kah. Biarpun dia sangat muda, Sepertinya wawasan tentang bisnis sudah cukup luas. Dia bukan orang sembarangan" batin satunya.


Tanpa mereka sadari, Sebenarnya Langit ingin berlari menjauh dari ruangan ini. Rasa gelisah,takut, Semua menjadi satu dan bergejolak dalam benak Langit. Dag Dig Dug itu pasti"Ya allah, Bantu aku menghilangkan rasa takut ini. Aku pasti bisa. Harus!" batin Langit sambil menunjukkan ekspresi biasa saja.


"Selamat siang semuanya" ucap pak Saka, Pemilik tender kali ini.


"Siang" balas mereka bersamaan.


"Baik, Kita mulai meeting nya ya. Untuk permulaan, Silahkan perwakilan dari PRATAMA GROUP.


Deg!


Perkataan pak Saka membuatku merasa cukup terkejut. Bagaimana bisa di antara klien kenapa harus aku yang menjadi permulaan. Rasanya semakin grogi saat mereka semua melihat ke arahku. Aku berusaha untuk tetap bersikap biasa saja saat jantungku berdetak cepat. Kali ini berdetak cepat bukan karna Jingga, Tapi karna rasa takut yang menyelimuti hatiku.


Aku mengambil nafas sejenak sebelum memulai persentasi yang sudah aku persiapkan sejak kemarin. Bagaimanapun caranya, Semoga aku bisa menang dalam tender ini.

__ADS_1


Aku pun memulai persentasi itu dengan perasaan tak menentu. Ada rasa insecure karna harus bersaing dengan para pebisnis handal seperti mereka. Entah kenapa, Kali ini rasanya otakku bisa mengingat semua yang sudah aku pelajari. Melakukan persentasi dengan sangat baik, Itulah tujuanku.


Mereka semua menatapku yang masih setia melakukan presentasi tepat seperti yang sudah aku planning sejak pagi tadi. Mereka menatapku karna apa, Aku tidak paham. Tapi yang pasti, Tatapan mereka membuat aku seketika minder. Namun saat bayangan Jingga melintas begitu saja membuat aku kembali semangat.


"Ingat Langit, Semua ini demi masa depan mu bersama dengan Jingga"batin ku sambil berusaha menghilangkan rasa minder itu. Bukan kah saat ini kedudukan ku dengan mereka sama, Sama-sama berusaha memenangkan tender yang cukup besar.


Proyek pembangunan sebuah hotel di salah satu pantai yang cukup terkenal di asia. Jika sampai aku bisa memenangkan tender ini, Papa pasti akan sangat bangga. Aku harus yakin, Jika semua ini bisa aku lalui.


30 Menit kemudian. Aku pun menyudahi presentasi itu, Karna selain cukup lelah berdiri, Rasanya stok kata yang aku punya sudah habis.


Aku mengakhiri persentasi itu sambil tersenyum agar pak Saka selaku pemilik proyek berkesan dengan apa yang baru aku sampaikan.


Merek semua memberikan tepuk tangan untukku, Ini baru pertama kalinya aku meeting bersama para kalangan pebisnis besar. "Hebat" bisik om Iwan tepat di telinga kiriku.


2 jam kemudian, Meeting pun sudah selesai. Ternyata pengumuman pemenang tender tidak langsung di sampaikan saat ini juga, Lebih tepatnya malam nanti di kirim via email.


"Kamu hebat, Langit. Om tidak menyangka kamu bisa melakukan persentasi sebagus tadi" puji om Iwan saat kita sudah tiba di parkiran.


"Nggak juga lah om, Langit tidak sehebat itu. Langit masih belajar memberikan yang terbaik buat perusahaannya papa" jawabku sambil tersenyum pada om Iwan. Sosok yang selama ini selalu mendampingiku.


Om Iwan sangat baik, Entah apa yang menjadi alasannya, Tapi yang jelas, Om Iwan mengatakan jika dia sangat berhutang budi pada papa. Ahh aku tidak paham, Karna sebelum papa koma seperti sekarang, Aku belum pernah mengenal om Iwan. Beliau datang tepat saat papa sudah terbaring lemah di rumah sakit.


Setelah dari meeting, Aku dan om Iwan misah. Kita pulang dengan menggunakan mobil masing-masing. Entah kemana om Iwan akan pergi, Tapi yang pasti dia mengatakan ada urusan yang sangat penting. Aku hanya mengiyakan perkataannya, Karna tidak mau terlalu kepo terhadap urusan orang lain. Yang ada di pikiranku saat ini hanyalah Jingga, Aku benar-benar merindukan sosok Bidadari Ku.


Aku liat jam di tanganku, Ternyata saat ini sudah jam 13:30. Itu artinya sudah waktunya jam pulang sekolah. Aku melesatkan mobilku dengan sangat cepat, Berharap bisa datang tepat waktu ke sekolah dan pulang bersama dengan wanitaku.

__ADS_1


Namun saat aku sudah tiba di sekolah NUSA BANGSA tanpa sengaja aku mendengar jika seorang murid baru sudah membuat Jingga menangis dan pergi begitu saja dari sekolah. Aku tau bagaimana Jingga, Dia tidak akan seperti itu jika tidak melukai perasaannya.


"Kasian ya si Jingga. Pasti dia sakit hati banget sampai langsung pergi begitu saja" ucap salah satu siswa di sana.


"Iya pasti lah, Secara kan ini tentang nama baik" balas satunya.


Mendengar itu membuat langkahku terhenti, Tidak paham dengan apa yang baru saja aku dengar"Ada apa ini.dan Jinggaku kenapa?" ucapku. Hingga satu tempat berhasil aku ingat.


"Makam bunda" ucapku dan langsung membawa mobilku kembali menjauh dari sekolah itu.


Sudah seperti biasa, Saat sedang ada di jakarta, Jingga akan pergi ke makam bunda saat hatinya sedang tidak baik-baik saja"


Aku semakin mempercepat laju mobilku saat melihat hujan yang turun secara tiba-tiba tanpa menunjukkan satu tanda apapun.


"Apa yang terjadi, Sayang" ucapku sambil terus melajukan cepat mobil itu.


45 menit kemudian, Aku sudah tiba di tempat pemakaman bunda yang ada di salah satu tempat pemakanan umum. Aku turun dan berjalan setengah berlari. Dari kejauhan, Aku bisa melihat keberadaan Jingga di sana. Menangis sambil memeluk nisan milik bunda.


"Maafkan Jingga, Bunda. Maafkan Jingga yang sudah membuat nama bunda harus terbawa-bawa. Maafkan Jingga yang mungkin membuat bunda kecewa" ucapnya sambil terus menangis.


Aku semakin tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, Tapi yang pasti, Hatiku terasa teriris saat melihat wanita yang begitu aku cintai menangis karna hal yang tidak aku ketahui.


Aku mendekat dan langsung membawanya dalam dekapanku. Membelai lembut pucuk kepalanya, Mencoba memberikan ketenangan atas perasaan yang mungkin saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Saat aku memeluknya, Jingga menoleh ke arahku. Ku tatap kedua matanya yang terlihat sayu. Air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya bersamaan dengan tetesan hujan yang sudah membasahi tubuh Jingga.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi?" tanyaku lembut sambil menatap kedua matanya.


__ADS_2