
"Jangan bilang kalau lho adalah anak tante Mariana" ucap Sisil sambil menunjuk pada Rey
"Jangan bilang juga kalau lho anaknya temen mama"
Mariana dan juga mama nya Sisil yang mendengar itu tentu saja merasa cukup bahagia. Ternyata anak-anaknnya sudah saling mengenal.
"Jadi kalian berdua sudah saling mengena?" tanya Mariana mamanya Rey.
"Wah bagus dong kalau kalian memang saling mengenal. Itu artinya tinggal menentukan hari dan tanggal pertunangan saja" timpal mommy nya Sisil.
Sisil dan Rey yang mendengar itu tentu saja merasa tidak suka. Apa-apaan ini. Bagaimana bisa kedua orang tuanya malah berteman dan berniat menjodohkan mereka.
"Hahhah, Jangan bercanda deh, Ma, Tante. Saya mau di jodohkan dengan mak Lampir. Ogaaaaahhh" ucap Rey sambil menatap kepada mama dan juga mommy nya Sisil.
"Eh Jelangkung, Lho pikir gue mau di jodohkan sama cowok jadi-jadian seperti lho. Amit-amit" balas Sisil pada Rey.
"Dih, Mak Lampir. Kagak usah sok kecantikan, Siapa juga yang mau sama wanita kayak lho. Ogah banget gue"
"Dasar Jelangkung jadi-jadian! Kenapa juga harus lho yang jadi anaknya tante Mariana. Kenapa bukan yang lain aja sih"
Mariana dan juga Mommy nya Sisil hanya bisa saling lirik, Ternyata anak-anak mereka sudah saling mengenal.
"Sudah sudah. Rey. Kamu duduk sekarang"
"Iya, Ma" balas Rey lesu sambil melirik tak suka pada Sisil.
"Sisil, Kamu juga duduk"
"Iya, Mommy" gumam Sisil dan langsung duduk di samping mommy nya. Berhadapan dengan Rey pastinya.
"Astaga, Mimpi apa gue semalem. Kenapa harus dengar kabar seperti ini" ucap Rey dalam batinnya.
"Mama gak mau tau ya, Tey. Mau tak mau, Suka tidak suka. Kalian tetap akan di jodohkan. Mama sama tante Lola sudah merencanakan hal ini dari jauh-jauh hari. Kalian tidak punya pilihan selain menurut"
"Tapi, Ma" ucap Rey sambil menatap mamanya.
"Tidak ada tapi-tapi. Ini bukan sebuah penawaran, Tapi perintah!"
"Oh iya, Mama sudah menyiapkan tiket nonton buat kalian berdua. Kebetulan hari ini ada film horor yang baru saja launching. Setelah ini kalian bisa langsung berangkat ke bioskop"
"Kenapa harus seperti itu sih, Ma?" sergah Rey.
__ADS_1
"Kamu itu dari tadi kebanyak tapi ya, Rey. Nurut sama mama kan bisa. Mau mama ambil semua fasilitas yang saat ini kami dapatkan.
Mendengar itu membuat Rey pasrah. Bagaimana bisa Rey hidup tanpa fasilitas dari mamanya.
"Terserah mama saja lah"ucap Rey pasrah dengan keadaan.
*******
Di tempat lain
"Sayang, Kita mau keman" tanya Langit sambil menggenggam tangan Jingga.
"Kayaknya nonton boleh kak. Sudah lama juga aku tidak nonton"
"Boleh sayang. Mau nonton apa?"
"Horor kayaknya seru kak"
"Baiklah, Kita nonton horor seperti yang kamu mau sayang"
Mobil Langit melaju menuju bioskop yang saat ini sedang ada sebuah film horor yang baru saja launching.
"Kak, Biar lebih seru bagaimana kalau kita undang para anak-anak the boys kak" usul Jingga yang langsung di iyakan oleh Langit.
Langit menepikan mobilnya, Mengirimkan pesan broadcast pada teman-temannya.
*******
Satu jam kemudian, Mobil Langit sudah tiba di depan salah satu bioskop di sana. Ternyata para teman-temannya sudah pada sampai. Langit memicingkan kedua matanya saat tak melihat keberadaan Rey disana.
"Dimana Rey, Tumben anak itu tidak ikut" ucap Langit pada mereka semua.
"Entahlah, Ngit. Dari pagi Rey memang tidak ada nampak batang hidungnya. Di telfon juga tidak ada jawaban" sahut Doni sambil menatap Langit.
"Kemana ya itu anak"
Semua teman-teman Langit sudah tau tentang hubungan Langit dan juga Jingga. Kemarin Damian sudah mengatakan hal yang sebenarnya pada mereka.
Tak bersarang lama, Ada suara mesin motor yang cukup familiar buat mereka. Mereka mengerutkan keningnya saat melihat kedatangan Rey bersama dengan Sisil.
Rey sendiri cukup terkejut melihat teman-temannya di sana. Karna memang sejak tadi Rey tidak menghidupi dering ponselnya, Sehingga dia tidak tau saat Doni menghubunginya serta Langit mengirimkan pesan broadcast.
__ADS_1
"Alamak, Kenapa harus ada mereka semua di sini. Ini kebetulan apa bagaiman" ucap Rey dalam batinnya yang belum melepaskan helmnya.
"Aik, Ini gue tidak salah liat kan. Om Jelangkung sama mak Lampir? Gue gak salah liat kan?" ucap Doni pada teman-temannya.
"Nggak sih Don. Itu memang si Rey bareng sama si mak Lampir. Ada angin apa mereka jalan berdua" balas Faro sambil menatap Sisil sama Rey.
"Duh Rey, Itu kenapa pakek ada teman-teman mu di sini" gumam Sisil pelan dan hanya bisa di dengar oleh Rey.
"Mana aku tau. Bisa-bisa ini nanti mereka mengira yang tidak-tidak. Bagaimana ini"
"Kita putar balik saja" usul Sisil.
"Ya nggak bisa lah mak Lampir. Orang suruhan mama ada di sekitar kita. Bisa benar-benar di tarik semua fasilitas ku"
"Hilih, Penikmat harta orang tua kau" ejek Sisil sambil terkekeh.
"Dih, Kau pun sama"
Akhirnya mau tidak mau Rey dan Sisil membuka helm nya dan turun dari motor itu. Mencoba pura-pura tidak melihat keberadaan teman-temannya yang memang jaraknya cukup jauh.
Namun, Selama ada Doni,Mereka tidak akan baik-baik saja. Harus siap-siap mendapatkan godaan dari pria itu. Melihat Doni berjalan ke arahnya, Membuat perasan Rey seketika menjadi tidak enak.
"Cie cie mak Lampir sama om Jelangkung jalan bareng. Sepertinya memang sudah tumbuh bibit cintah ni ya" Goda Rey sambil mengulum bibirnya. Menahan tawa saat melihat ekspresi Rey yang sudah memerah.
"Nah kan, Apa dugaan gue" ucap Rey pelan.
"Udah jadian nih? Bagi pejeh dong om jelangkung, Mak Lampir. Masa iya ada berita bahagia gak di kasih tau sama para bestie bestie sih"
"Udah Don. Kasin om Jelangkung mukanya merah. Hahahha" timpal Faro.
"Kalian itu benar-benar ya. Memang gue sama Sisil sudah jadian, Bahkan kami berdua akan segera tunangan" ucap Rey yang sudah merasa sangat kesal.
"Rey, Kenapa kamu bilang sama mereka!" teriak Sisil sambil menginjak kaki Rey.
"Awawww, Sakit mak Lampir. Gila lho ya pakai injak kaki gue segala lagi"
"Lagian kenapa lho harus bilang sama mereka tentang rencana pertunangan. Orang gue gak mau juga tunangan dama lho"
"Heh mak Lampir, Lho kira gue mau tunangan sama lho! Jangankan tunangan, Jalan bareng lho aja gue ogah! Kalau bukan karna mama, Mana mau gue jalan bareng mak Lampir"
"Bener-bener ngeselin lho ya Rey!"
__ADS_1
Semua anggota geng the boys yang melihat perdebatan Teu dan Sisil hanay bisa terkekeh. Terkadang mereka merasa terhibur dengan kelakuan mereka berdua.
"Fix, Kalian memang sudah di takdirkan berjodoh"