Jingga untuk Langit

Jingga untuk Langit
Partner Bodoh


__ADS_3

"Ternyata benar apa kata Dilan, Rindu itu berat" ucap Jingga sambil membuang nafas pelan.


Setelah itu. Jingga meletakkan ponselnya lalu mandi dengan sangat cepat, Karna takut ketinggalan sholat subuh yang belum dia lakukan.


"Rasanya sangat tidak nyaman sholat sendiri tanpa ada kak Langit yang menjadi imamku" ucap Jingga sambil menggunakan mukenanya.


1 Jam kemudian. Jingga sudah siap dengan menggunakan seragam sekolah. Wanita itu turun dari dalam kamarnya menyusuri setiap anak-anak tangga di sana. Di meja makan ternyata sudah ada ayah serta abangnya yang sudah menunggu untuk sarapan bersama pagi ini.


"Morning ayah sama abang" ucap Jingga sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Morning too adiknya abang yang paling cantik sedunia" jawab Revan sambil terkekeh.


"Morning juga Princes nya ayah, Bagaimana hari ini sayang?" balas Alexander sambil menatap Jingga yang saat ini sudah duduk di samping Revan.


"Alhamdulilah hari ini Jingga tidak terlalu semangat ayah" ujar Jingga yang terlihat lesu.


Mendengar itu membuat Alexander mengerutkan keningnya. Baru kali ini dia mendengar anak bungsunya mengatakan hal itu.


"Tidak semangat? Kenapa memangnya sayang? Apa yang sudah membuat putri tercinta ayah tidak semangat hari ini?" tanya nya sambil menikmati susu putih di sana.


"Huuff. Entahlah, Ayah. Rasanya hari ini ada yang kurang" balas Jingga lagi.


"Eleh, Itu pasti karna tidak ada si Langit yah. Makanya dia tidak semangat seperti biasanya" timpal Revan sambil mengoleskan selai coklat pada rotinya.


"Iyalah, Kak Langit kaj sumber semangatnya Jingga"


"Idih, Masih bocil juga"


"Setidaknya Jingga sama kak Langit adalah pasangan halal, Abang sendiri kenapa terlihat seperti sedang sangat bahagia begitu?


"Ada deh, Kebiasaan kepo sama urusan orang dewasa" balas Revan sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Dewasa dari mananya, Orang seperti anak kecil begitu"


"Dasar adek durhaka"


Alexander yang melihat itu mengambil nafas panjang. Kebiasaan yang beberapa hari ini tidak dia lihat akhirnya pagi ini kembali dia rasakan. Melihat kedua anaknya yang bertingkah seperti anak kecil, Berdebat hanya karna hal yang sangat sepele.


"Mau sampai kapan kalian berdebat? Apa tidak mau makan? Astaga, Badan doang pada gede, Kelakuan kayak anak kecil" ucap Alexander dan langsung berhasil menghentikan Jingga dan juga Revan.


"Biar ada seru-serunya dikit ayah" gumam Revan sambil menikmati roti dengan selai coklat.


"Terserah kalian saja lah. Jingga mau berangkat sama ayah apa ikut abang?" tanya Alexander pada Jingga.


"Sama ayah saja. Jingga gak mau berangkat bareng abang, Abang itu di sekolah terkenal playboy yah, Nanti yang ada mereka mengira Jingga yang sudah menjadi korban gosting nya bang Revan" balas Jingga sambil mengulum bibir dan melirik pada Revan.


"Idih korban gosting katanya. Siapa juga yang mau ngajak situ berangkat bareng, Abang kan mau berangkat sama kesayangan pagi ini"


"Tuh kan yah, Abang lebih mengutamakan pacarnya dari pada adeknya"


"Sudah sudah, Ayo cepat habiskan makanannya, Kita langsung berangkat sayang. Ini kan hari sabtu, Biasanya jalanan akan macet, Nanti yang ada kamu telat lagi"

__ADS_1


*****


Seseorang dengan jas hitam sambil menikmati sebatang rokot di tangannya. Orang itu tersenyum puas saat mengingat apa yang sudah dia lakukan.


"Dasar bodoh! Mau mau saja aku bodohi, Ngakunya ketua gangster, Tapi otaknya sangat sempit" ucap orang itu sambil menyesap rokok di tangan kanannya.


"Darwin darwin, Ada untungnya juga saya menjadi partner orang sepertimu. Orang yang bisa dengan mudah saya bodohi, Bagaimana bisa dia lebih percaya saya dari pada saudaranya sendiri. Bahkan dia sudah menyebabkan saudara sepupunya meninggal. Dia tidak tau saja jika dalang dari insiden dua tahun yang lalu adalah ulahku, Ulah partner kepercayaannya. Dasar bodoh!" ucap Erlangga sambil tersenyum licik.


Di saat seperti ini, Ingatan Erlangga kembali pada kejadian malam di mana dirinya sudah menyebabkan Sela kehilangan nyawanya. Hanya karna Sela mengetahui satu rahasia yang membuat Erlangga mau tidak mau harus melenyapkan wanita itu.


"Bagus, Kita harus buat Darwin dan Pratama saling salah paham. Karna dengan begitu, Kita bisa dengan mudah untuk menguasai perusahaan mereka berdua" ucap Erlangga malam itu.


"Siap, Tuan. Saya akan pastikan jika mereka berdua akan saling salah paham satu sama lain. Sehingga tuan Erlangga bisa dengan mudahnya membodohi si Darwin serta bisa dengan mudah mengambil alih segala aset yang dia miliki" jawab satunya.


"Itu harus, Karna mau bagaimanapun, untuk saat ini memang itu adalah jalan pintas untuk membuat perusahaan saya tidak jatuh bangkrut" balas Erlangga lagi.


"Tuan tenang saja, Saya sudah mentransfer 80% uang perusahaan Darwin group pada rekening tuan. Namun saya sudah mengubah data kas keluar menjadi nama Pratama. Coba tuan periksa sekarang" ucap satunya lagi.


"Good, Uangnya sudah masuk. Kita tinggal menunggu mereka terbelah seperti yang kita harapkan"


"Benar, Tuan. Saya juga sangat menunggu saat itu. Karna saya ingin melihat kehancuran Darwin Mahendra seperti dia yang sudah menghancurkan harga adik saya"


Mendengar itu membuat Erlangga mengejutkan keningnya, Karna sebenarnya Erlangga juga tidak tau jika selama ini ada dendam yang terselip di balik kerja samanya dengan Rendi, Manager sekaligus orang kepercayaan Darwin di kantor.


"Apa maksud mu?" tanya Erlangga sambil menatap Rendi.


"Saya mau bekerja sama dengan anda karna saya ada dendam tersendiri yang harus saya balaskan. Karna Darwin, Saya harus kehilangan kakak satu-satunya yang saya miliki karna ulah Darwin" ucapnya sambil mengepalkan kuat kedua tangannya.


"Kakak saya meninggal setelah melahirkan anak Darwin, Darah daging yang tak pernah Darwin akui. Karna Darwin juga, Kakak saya harus menderita selama berbulan-bulan"


"Apa! Jadi maksud kamu Darwin memiliki anak dari selingkuhannya?"


"Ya, Hingga detik ini, Saya masih belum bisa menerima kejadian satu tahun yang lalu"


"Kalau boleh tau siapa nama kakakmu?" tanya Erlangga yang terlihat penasaran.


"Diana herlina, Sekertaris yang sudah menjadi korban kebejatan Darwin *mahendra"


Tanpa mereka sadari, Sejak tadi ternyata ada seorang wanita yang mendengar semuanya. Wanita itu tak sengaja menabrak vas bunga saat mau pergi dari saat tatkala merasa hatinya teriris saat mendengar fakta perselingkuhan suaminya dengan sekretarisnya.


"Ternyata kamu sudah mengkhianati pernikahan kita mas, Apa kurangnya aku" ucap Sela dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca dan berlalu dari sana.


Brug


Tanpa sengaja tubuh Sela menyenggol vas bunga yang ada di ruangan itu. Erlangga dan Rendi yang mendengar itu langsung keluar dari ruangannya.


"Suara apa itu?" ucap Erlangga pada Rendi.


"Entah tuan, Jangan-jangan sejak tadi ada yang mendengar pembicaraan kita berdua" balas Rendi dan langsung bergegas keluar dari ruangan itu. Menemukan Sela yang masih terdiam di tempat dengan kedua mata yang sudah basah.


"Bu Sela" ucap Rendi sambil berjalan mendekat pada Sela.

__ADS_1


Sela menoleh pada Rendi dan langsung berlari keluar dari sana, Malam itu Darwin memang sedang ada meeting penting yang membuatnya harus meninggalkan Erlangga bersama dengan Rendi di ruangannya sendiri.


Sela yang baru tiba di sana tak sengaja mendengar semua pembicaraan antara Erlangga dan juga Rendi. Kebetulan malam itu Darwin juga ada janji temu dengan Pratama di sana.


"Bu Sela berhenti!" teriak Rendi lagi.


"Saya harus pergi. Ada hak yang harus saya bicarakan sama suami saya"


"Jangan bilang bu Sela mendengar semua pembicaraan antara saya dengan tuan Erlangga" tebak Rendi.


"Memang, Saya sudah mendengar semua yang kamu bicarakan. Dan saya akan mengatakan semuanya terhadap mas Darwin" balas Sela sambil menuruni anak-anak tangga. Karna memang kebetulan hari ini lift perusahaan Darwin group sedang mengalami kemacetan, Sehingga mau tidak kau Sela harus melewati tangga darurat untuk ke ruangan meeting yang ada di lantai 10.


"Jangan harap kamu bisa mengatakan semuanya pada si bodoh" ucap Erlangga yang baru saja tiba di sana.


"Kenapa tidak. Selagi masih ada waktu" balas Sela sambil berjalan cepat.


"Itu artinya kau sudah bosan hidup" balas Erlangga sambil mengeluarkan pisau yang selalu dia bawa di dalam saku jasnya.


Erlangga menusuk perut Sela tanpa belas kasihan hanya karna tidak mau Sela mengatakan apa yang sudah dia dengar pada suaminya.


Rendi membulatkan kedua matanya saat melihat apa yang baru saja Erlangga lakukan pada Sela. Orang itu menelan ludahnya kasar sambil menatap Sela yang sudah di penuhi darah.


"Kenapa anda malah melukainya? Bukan kah dia tidak salah apa-apa" ucapnya sambil menatap Erlangga.


"Memang, Tapi dia bisa membahayakan kita. Dia bisa menggagalkan semua yang sudah kita tata dengan sangat rapih. Siapapun yang sudah berani ingin menggagalkan rencana kita, Maka dia sudah siap untuk kehilangan nyawanya!"


Rendi yang mendengar itu merasa cukup ngeri. Ternyata dia sudah bekerja sama dengan seorang psikopat seperti Erlangga.


"Astaga, Ternyata dia bukan hanya sekedar mavia, Tapi juga seorang psikopat gila" batin Rendi dan memilih untuk pergi dari sana.


"Saya permisi dulu, Tuan. Masih ada hal yang harus saya selesaikan" ucap Rendi dan langsung berlalu dari tangga itu.


"Anda sudah menantang saya. Jangan salahkan saya karna sudah melakukan hal yang tak seharusnya saya lakukan!" ucap Erlangga pada Sela sebelum pergi dari sana*.


Dttt,,,,,, Dttttt,,,Dtttttt


Suara dering ponsel berhasil menyadarkan Erlangga dari kejadian 2 tahun yang lalu. Pria itu menatap layar ponselnya yang ternyata di sana tertera nama kontak yang dia tulis Si Bodoh.


"Ck! Ada apa si bodoh ini menghubungiku pagi-pagi seperti ini" ucapnya sambil menggeser tombol hijau di sana.


📲:Halo selamat pagi partner ku. Ada apa pagi-pagi sudah menelfon?


📲:Pagi ini bisa kan kita bertemu di cafe pelangi untuk membicarakan perihal planning B kita yang sempat tertunda.


📲:Tentu, Kenapa tidak. Sherlock saja


📲:Baiklah, Saya akan segera mengirim lokasinya.


Setelah itu sambungan telpon pun terputus, Erlangga tersenyum licik sambil menatap panggilan keluar di sana.


"Dasar panther bodoh" ucapnya

__ADS_1


__ADS_2