
Selesai sudah acara yang tak kuinginkan, rasanya tubuh pegal-pegal akibat duduk saja gak ada rebahannya.
"Kalian langsung ke apartemen aja, kami mau pulang ke rumah," kata Mama Dwi saat kami sudah berada di halaman gedung.
"Kenapa kami gak pulang ke rumah masing-masing aja Ma?" tanyaku menatap ke arah Mama Dwi.
Plak ...!
Satu pukulan mengenai lenganku dan disebabkan oleh Mama tercinta, "Kamu, ini! Kalian 'kan udah nikah, masa beda tempat tinggal! Udah, kamu nurut aja kata mertua kamu," jelas Mama dengan aku yang menggerutu sambil mengelus lengan.
"Nih, Malik. Kalian hati-hati, ya, untuk baju kalian sudah diisi dengan yang baru beberapa di lemari apartemennya," kata Mama Dwi menyerahkan kunci hotel ke Pak Malik dan langsung diterima oleh Pak Malik.
"Yauda, kalau gitu kami pulang dulu, ya," ucap Pak Malik yang akhirnya membuka suara.
Aku dan dia pun akhirnya menyalim tangan kedua orang tua kami secara gantian dan masuk ke dalam mobil Pak Malik.
Mobilku masih ada di rumah Mama pastinya, karena aku ke sini ikut bersama dengan Papa satu mobil.
Di dalam mobil menuju apartemen, hanya ada keheningan. Aku melirik ke arah Pak Malik sesekali dengan wajahnya yang tetap fokus ke arah jalanan.
"Apakah matamu tak sakit melirik ke arahku terus?" tanya Pak Malik tiba-tiba yang membuat aku langsung menatap ke arahnya.
"Siapa juga yang ngelirik Bapak? Pede banget!" ketusku dan kembali memalingkan pandangan.
Setelahnya, hanya ada keheningan hingga kami berada di depan pintu kamar apartemen. Aku menatap lorong-lorong apartemen yang begitu banyak pintunya di bagian kami.
Ceklek ...!
Pintu terbuka, aku masuk ke dalam kamar dengan pakain yang sudah gamis biasa karena gaun pengantin langsung kuserahkan ke orangnya yang kebetulan di gedung ada toiletnya.
"Pak, kok kamarnya cuma satu?" tanyaku mengerutkan dahi sedangkan Pak Malik tengah menutup pintu apartemen kembali.
Dia mendekat ke arahku dan menatap ruangan yang kubuka, "Masa, sih, cuma satu?" tanyanya dengan wajah tak percaya.
"Coba liat aja!" suruhku bersedekap dada.
Aku mengedarkan pandangan dan berjalan-jalan menatap ruangan ini, cukup luas jika hanya untuk berdua.
Dapurnya pun cukup minimalis dan beruntungnya peralatan masak komplit di sini, kubuka kulkas dan sudah ada bahan masakan.
__ADS_1
Sepertinya, Mama Dwi memang sudah menyiapkan semua ini. Kuambil apel yang ada di kulkas dan berjalan ke arah sofa.
Pak Malik terlihat tengah berbicara dengan seseorang, paling ngadu sama Mama Dwi karena kamarnya yang cuma satu.
Padahal aku sendiri tak sama sekali masalah, eh, maksud aku hal seperti itu tak akan terjadi 'kan? Meskipun aku tahu bahwa yang namanya laki-laki tetap saja akan tergoda dengan wanitanya.
Tapi, Pak Malik berbeda. Seolah rasa cintanya begitu kuat dengan Clarisa itu dan tak akan pernah pudar meskipun ada aku.
Diusapnya wajah dengan kasar dan duduk di depanku yang tengah mengunyah apel, "Mama sengaja pesan satu kamar di apartemen ini dan kita tidak diberi izin buat pindah," ucapannya dengan wajah gusar.
"Terus?" tanyaku menaikkan satu alis sembari menelan apel yang sudah kukunyah.
Dia menautkan alis menatapku, "Terus? Kenapa kau santai sekali cuma berkata seperti itu?"
"Jadi, saya harus gimana Pak? Harus teriak-teriak, lompat gedung ini? Kan, gak mungkin! Lagian, cuma sampai setahun juga!" ketusku tak mau mengambil pusing lagi hal seperti ini.
"Baiklah, kita akan tidur di kamar secara gantian. Seminggu saya dan semingu kamu," potongnya dengan cepat memberi saran sesat.
Aku melotot dan menggelengkan kepala cepat, "Kenapa?" tanyanya dengan polos.
"Enak aja! Saya jauh dari orang tua bukannya seneng malah sengsara, kalo Bapak mau! Bapak aja yang tidur di sofa! Saya, mah ogah!" ketusku dan berlalu meninggalkan dia.
Mengambil baju ganti dan segera masuk ke kamar mandi karena waktu sudah semakin larut malam.
Kulirik jam sudah jam 7 malam, kuedarkan pandangan tak terlihat Pak Malik berada di ruangan ini.
Keluar untuk men-cek keberadaan dosen tersebut, rupanya dia tengah asyik dengan benda pipihnya.
"Bapak gak shalat? Ini udah jam berapa, Pak?" celetukku yang berdiri di sampingnya. Ia melirik ke arahku sebentar.
"Lah 'kan kamar mandi kamu pakai," jawabnya santai.
"Astagfirullah, Pak! Kan ada kamar mandi di dapur, masa Bapak harus nungguin saya, sih! Udah, sekarang cepat shalat Pak. Keburu habis waktunya, ya, Allah!" keluhku di beberapa jam setelah sah menjadi istrinya.
Dia melihat ke arahku, "Kenapa kau jadi ikut campur urusanku? Bukankah kita sudah sepakat?" tanyanya mengingatkan aku kembali.
"Iya, saya gak ikut campur urusan Bapak sama makhluk, kok. Saya cuma ikut campur urusan Bapak sama Allah! Udah, cepetan Pak!" Kutarik lengannya agar berdiri dari sofa yang melalaikan itu.
"Saya bisa sendiri!" ucapnya dingin dan membuat aku melepaskan tanganku di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"O-oh, oke!" jawabku singkat dan mengalihkan pandangan.
Dia masuk ke kamar karena lemari memang hanya ada di kamar, aku segera masuk ke dapur untuk membuat makanan.
Nasi goreng campur sosis dan juga kerupuk sebagai teman makannya, cukup simple untukku sendirian.
Ya, aku hanya memasak satu porsi tak lebih. Bukankah memang tak boleh ikut campur? Dan Pak Malik juga sudah bilang bahwa tak ingin aku memasak untuknya.
"Handphone-mu bunyi!" ujar Pak Malik di depanku. Aku yang tengah mengunyah makanan langsung menatap ke arahnya.
"Iya, Pak," ucapku dan langsung berlari ke dalam kamar mengambil handphone.
"Ya, ampun. Dia hanya buat satu doang?" Malik menatap nasi goreng yang ada di atas meja makan yang baru beberapa sendok terusak.
Aku kembali berjalan ke dapur dengan sesekali bersenandung, "Lah, Bapak kok masih ada di sini?" tanyaku yang menatap Pak Malik berada di depanku.
"Apakah tak boleh?" tanyanya menaikkan satu alis.
"Oh, gak papa kok. Silahkan aja," jawabku singkat dan kembali menyambung aktivitas-ku yang sempat terjeda.
"Pak!" panggilku saat dia menatap kulkas.
"Ya, ada apa?"
"Saya boleh, gak ke cafe?"
"Malam ini?"
"Iya, soalnya Aulia nanya saya. Dia heran kenapa saya gak datang hari ini."
"Mungkin, Mama atau mata-matanya tengah berada di sekitar gedung. Ada baiknya jangan pergi dulu buat malam ini."
Aku bergeming dan mengangguk-anggukkan kepala, benar juga kata Pak Malik. Tak mungkin kalau Mama Dwi akan membiarkan kami tanpa adanya pengawasan.
"Bapak mau?" tawarku padanya yang sepertinya agak kelaparan.
"Tidak, saya bisa pesan online!" Dia bangkit dan pergi menjauh dari hadapanku.
"Ck! Padahal, kalo mau minta buatkan juga gak masalah, kok!" ketusku yang tak di dengar olehnya.
__ADS_1