
Kulihat wajah Pak Malik yang tampak gelagap karena pertanyaanku barusan, aku hanya tersenyum menatapnya.
"Ingat! Ini kawasan kampus, gak sembarang orang bisa datang!" katanya setelah selesai mendatarkan kembali wajahnya.
"Lah, peraturan dari mana itu Pak? Boleh, kok, kalau ada kepentingan," ucapku menaikkan alis tak mau kalah darinya.
"Dan kepentingan dia apa ke sini?"
"Mau ketemu saya, dia kira saya sakit atau kenapa-kenapa karena kemarin gak datang ke cafe."
"Jadi, dia tiap hari datang ke cafe?"
"Gak juga, baru aja kok. Dia baru pindah ke sini soalnya."
"Wah ... kau sudah sangat tau soal dia rupanya, ya?"
"Lah, apa urusan Bapak? Ingat, gak boleh ikut campur soal kehidupan masing-masing! Jadi, Bapak gak berhak buat ikut campur urusan saya dengan Kak Abil!" tegasku berbalik badan dan berjalan ke luar.
"Oh, jadi namanya Abil? Dan kau memanggilnya dengan sebutan 'Kakak?' dia lebih pantes dipanggil 'om'"
"Bener juga kata, Bapak!" kataku membalikkan badan yang tadinya sudah ingin keluar, "Om Sayang. Uhhh ... zaman sekarang anak mudanya juga panggil pacarnya atau orang spesial dengan sebutan 'om' saya panggil dia 'om' aja deh. Makasih sarannya, Pak!" Aku segera keluar sebelum dapat amukan darinya.
Melihat dia cemburu memang menyenangkan, tapi tetap saja tak semenyenangkan itu. Aku kesel dibuat oleh pikiran-pikiran anehnya.
"Dia dari mana tau sih kalo Kak Abil tadi ke sini? Apa pas Kak Abil pergi dia datang, ya? Huh, aku harus hati-hati deh. Atau ... lebih baik jaga jarak sama Kak Abil," gumamku berjalan dengan langkah tegap ke arah taman.
Sesampainya di taman, aku melihat Aulia yang sedang senyum-senyum tak jelas dengan benda pipih di telinga.
"Ehem!" dehemku agar keberadaanku ini diketahui.
"Eh, udah datang lu?" tanyanya menjauhkan handphone dari telinga dan segera mematikannya.
Aku mengangguk dan menatap ke depan dengan lesu, "Lu kenapa?" tanya Aulia menatap wajahku.
"Menurut lu, Kak Abil itu ada perasaan atau enggak, sih sama gue? Gue takut deh kalo dia suka sama gue," ungkapku dan tanpa sadar menatap ke arah tangan yang ada gelang pemberian dari Kak Abil.
"Kok takut? Emangnya kenapa? Lu 'kan jomlo," ucap Aulia menautkan alis. Kulirik ke arahnya sekilas lalu menatap ke arah gelang kembali.
"Ya, gue sama Kak Abil itu gak cocok. Lagian, gue udah suka sama seseorang dan bukan Kak Abil orangnya," kilahku berdiri dari bangku dengan perasaan gusar.
Helaan napas keluar dari bibir Aulia, dia juga berdiri dan memegang pundakku, "Ya, Kak Abil memang kayaknya suka sama lu," jelas Aulia dan langsung kutatap.
__ADS_1
"Kemarin, dia bahkan sangat khawatir sama lu. Tadi pagi, dia datang dari jam 7 ke kampus cuma demi nyariin lu. Lagian, kenapa sih? Lu gak ngasih kesempatan buat dia?"
Aku menutup mata sebentar, merasa ada yang terluka di dalam tubuhku, "Gue gak bisa!" tegasku menatap ke arah depan.
"Kenapa?" tanya Aulia menautkan alisnya.
"Gue gak cinta sama dia! Lu gak bisa paksa gue buat nerima dia agar gue cinta sama dia, cinta gak semudah itu buat dipaksa-paksa!"
Aku berlalu, sebelum air mataku terlihat oleh Aulia. Berjalan menuju toilet kampus dengan mengusap ujung mata dengan jempol.
Brak ...!
Kututup pintu toilet dengan kasar, ada yang terluka di dalam tubuh ini. Membohongi diri sendiri lagi dan lagi.
Apa hanya itu yang bisa dilakukan menjadi orang dewasa? Kehidupan yang penuh dengan kebohongan.
"Hiks ... hiks ... kenapa, sih? Kenapa Mama dan Papa membuat aku masuk ke dalam kehidupan yang tak kuinginkan seperti ini? Aku salah apa, sih!" teriakku dengan air mata yang sudah membanjiri wajah.
Tubuhku merosot ke lantai, memeluk lutut dan membenamkan wajah ini, "Aku benci kehidupanku!" lirihku dengan sesenggukan.
Kubuka ponsel dan langsung ke aplikasi hijau khusus untuk antar dan jemput penumpang, terpaksa aku harus bolos dua kelas.
Biarlah kutenangkan terlebih dahulu diri ini, setelah dapat mobil yang akan membawaku pulang nantinya.
Kucuci wajah yang sembab ini agar tak terlihat jelas habis menangis, menguatkan diri kembali dan membuka pintu.
Kuedarkan pandangan lebih dulu, tak mau jika harus ketahuan dengan Aulia apalagi Pak Malik nantinya.
Berlari dengan kencang dan sesekali mengumpet di tubuh para pejalan di koridor, "Huh, akhirnya bisa keluar juga! Mana lagi ini gojeknya!" gerutuki sambil melihat ke belakang. Takut jika tiba-tiba ada Pak Malik melihat.
Tak lama aku berdiri di gerbang kampus, mobil pun datang dengan segera aku masuk, "Pak, cepetan jalan!" titahku dengan suara agak ketakutan.
"Kenapa ketakutan gitu, Dek? Emangnya kelasnya belum kelar, ya?" tanya Pak supir saat aku sudah menegakkan tubuh karena tadi menunduk agar tak terlihat.
"Belum, Pak ada dua kelas lagi. Tapi, saya emang malas mau pulang aja. Lagi gak sehat juga," kataku sedikit berbohong. Tak apa, bukan?
"Oh, baik. Ini mau sesuai lokasi 'kan?"
"Iya, Pak."
Aku tak pulang ke apartemen karena memang tak memiliki kartunya dan kuputuskan untuk kembali ke rumah Mama sekalian mengambil mobil milikku yang ada di rumah.
__ADS_1
"Nih, Pak. Makasih, ya," ujarku sembari memberikan ongkos.
"Sama-sama, Dek."
Kuayunkan kaki menuju ke rumah yang hanya ada mobilku, pasti Papa sudah pergi bekerja kembali.
Tok ...!
Tok ...!
"Assalamualaikum!" salamku sambil melihat-lihat taman sekitar. Baru satu hari tak di rumah, aku sudah sangat merindukan rumah ini.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam sambil membuka pintu.
"Lah, kamu ngapain di sini? Gak kuliah?" tanya Mama dengan raut wajah heran, terlihat Mama tengah mencari seseorang di belakangku. Aku pun akhirnya ikut melihat ke belakang.
"Mama nyari siapa?"
"Malik mana?"
"Di kampus."
"Lah, kamu ke sini sama siapa?" tanya Mama dengan nada naik satu oktaf.
Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal, "Abibah gak enak badan Ma, jadi pulang deh. Kartu apartemen dibawa sama Pak Malik. Jadi, Abibah singgah ke sini aja. Gak enak tadi minta kartunya di kampus," ucapku dengan cengengesan.
Mama malah menatapku lekat seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan, "Kamu gak bohong 'kan?"
"Enggak, Ma!" jawabku cepat sambil menggelengkan kepala.
"Yaudah, masuk!"
"Ma, Abibah sekalian mau bawa mobil, ya. Biar gampang nanti buat pergi-pulang dari kampus," jelasku sambil menutup pintu.
"Emangnya, mobil Malik sempit? Sampe mobil kamu harus dibawa juga?"
"Kan, Abibah sama Pak Malik beda jadwal kelasnya Ma. Masa, Abibah harus nunggu Pak Malik dulu baru pergi ke kampus, sih? Bisa-bisa, telat nanti Abibah!" terangku dengan mengerutkan dahi.
Mama berhenti dan menatap ke arahku, "Stop panggil dia Bapak, panggil apa kek. Mas, Abang, Sayang atau apa aja? Kesannya kayak dia itu tua banget!" ketus Mama dan berjalan kembali menuju dapur.
Aku pun kembali melangkah mengikuti dengan menatap lantai, "Emang dia udah tua, kok," gumamku.
__ADS_1