Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Awasi Dia


__ADS_3

Abibah dan Malik kini tengah berada di ruang tamu minimalis mereka, Malik berbaring di paha Abibah.


"Pak, saya mau ngomong sesuatu," kata Abibah terdengar serius membuat Malik menatap ke arah Abibah.


"Apa?"


"Bapak masih punya hubungan sama mantan Bapak?"


"Enggak, emang kenapa?"


"Dia tadi siang nemui saya Pak, tapi dia gak tau wajah saya. Yang dia tau cuma nama doang dan tadi pas kebetulan saya sama Aulia, dia ngaku jadi saya. Tapi, saya takut kalau nanti malah Aulia yang dia apa-apakan," ungkap Abibah yang merasa cemas.


Malik tampak berpikir, "Dia ngapain datang balik lagi ke sini?"


"Ya, mau ngambil Bapaklah. Mau ngapain lagi?"


"Emangnya saya apaan, diambil segala?"


Abibah hanya menaikkan bahunya acuh, "Kamu tenang aja, saya gak akan kembali sama dia. Sampai kapan pun, saya akan tetap memilih dan akan selalu berada di samping kamu. Gak perlu khawatir, nanti saya akan suruh mata-mata agar menjaga kamu dan Aulia," terang Malik dan membuat Abibah merasa sedikit lega.


"Gaya banget, nyewa mata-mata. Duit dari mana Pak?" ejek Abibah tersenyum.


"Ya, duit dari Mamalah," ujar Malik tersenyum dan membuat Abibah seketika tertawa.


Mereka kembali melanjutkan melihat film yang sedang tayang di televisi, dengan kentang goreng yang dibuat oleh Abibah sendiri.


***


"Si*l! Ternyata bocah-bocah tadi mencoba membohongi aku? Ternyata Abibah adalah cewek yang pake kerudung tadi? Bukan yang mulutnya kayak orang yang tidak berpendidikan?" tanya Celsea dengan orang suruhanya yang berada di sebrang.


"Iya, Nyonya."


"Baiklah kalau gitu, kalian bisa istirahat untuk malam ini!"


"Baik Nyonya, terima kasih."


"Lihat saja kalian, kalian berani menipu diriku. Aku tak akan segan-segan buat kalian menyesal karena telah mempermainkan aku!" pikir Celsea menatap tajam ke arah depan.


***


Abibah masih merasa kesulitan untuk memejamkan mata, ia merasa takut jika Celsea melakukan sesuatu pada dirinya, Aulia atau bahkan Malik.

__ADS_1


Melihat tingkah Celsea, seperti menggambarkan bahwa wanita itu memiliki ambisi yang berlebihan di dalam memilki seseorang.


Dirinya hanya takut, terjadi sesuatu yang tak diinginkan suatu saat nanti. Entah itu harus melepaskan Malik atau bahkan menerima nasib.


"Sayang, kamu kenapa hmm?" tanya Malik yang terjaga dan menatap ke arah Abibah. Tangan laki-laki tersebut terulur untuk mengusap surai hitam milik istrinya.


"Gak papa Pak, cuma masih kepikiran aja."


"Soal Celsea? Kamu gak usah takut, bagaimana mungkin saya mau berpaling dari kamu. Tidak di peluk oleh kamu aja saya gak bisa tidur."


Mendengar ucapan Malik barusan, membuat Abibah rersipu malu. Ia mencoba menutupi hal itu dengan mendatarkan wajahnya.


"Saya lagi serius, lho, Pak!"


"Saya juga sama, Sayang."


"Dih, dasar!" ketus Abibah mengalihkan pandangan.


Malik kembali mendekap tubuh wanita tersebut dan dibawa ke dalam pelukannya, "Tak perlu takut, apa yang sudah menjadi milikmu tak akan pernah menjadi milik orang lain. Jika kau sudah melakukan hal terbaik menurutmu, dia akan bertahan. Namun, jika kamu sudah melakukan hal terbaik tapi dia tetap pergi. Artinya, yang salah itu dirinya bukan dirimu. Jadi, tak perlu merasa takut," jelas Malik dengan mata terpejam ke telinga Abibah.


Abibah tersenyum merasa sedikit tenang dan lega, setidaknya ia bisa percaya akan hal bahwa Malik tak akan pergi dari sisinya.


Atau ... jika laki-laki itu pergi, mungkin mereka memang tak berjodoh karena Abibah sudah melakukan hal yang terbaik menurut dirinya.


Ia berjalan ke luar kamar dengan mengambil handphone miliknya, diketik satu nomor yang sudah lama tak dia hubungi.


"Wah ... sepertinya akan ada misi dengan gaji fantastis, nih," celetuk orang di sebrang tanpa salam lebih dulu apalagi basa-basi.


"Di otakmu apa hanya ada uang, uang dan uang?" tanya Malik dengan geram.


"Enggak, sih, ada cinta pertama gue juga. Celsea."


"Kenapa dia bisa kembali?"


"Ha? Siapa yang kembali?"


"Cinta pertama lu itu, kenapa bisa kembali ke sini?"


"Kapan dia balik? Kok gue gak tau?"


"Gue mau, lu selidiki motif dia balik ke sini dan awasi gerak-geriknya jangan sampai mencelakai istri gue."

__ADS_1


"Cie ... yang sekarang sudah bucin dan mencampakkan Celsea."


"Dia yang mencampakkan gue, lu gak usah sok nyalahin gue akan semua yang terjadi. Karena, ini semua salah dia!" tekan Malik yang tak terima dengan ucapan Iqbal--teman dirinya.


"Iya-iya, selow kali. Gitu aja, ngegas. Oke, ntar gue cari tau alasan dia balik apaan. Karena, setau gue emang dia udah nikah sih sama cowok yang mapan waktu itu."


"Yaudah, gue tunggu infonya secepat mungkin!"


"Dih, mana bisa begitu woy! Gue juga punya kerjaan!"


"Tidak menerima penolakan!"


Tut ...!


Panggilan diakhiri sepihak oleh Malik begitu saja, dia menatap gedung-gedung dari balik pintu kaca.


'Bagaimana pun juga, dia pasti akan menemui aku. Dan semoga di saat itu, Abibah tak salah menilai atau aku harus segera memberi tau padanya bahwa untuk tak percaya sama siapapun termasuk orang lain juga wanita itu,' batin Malik yang mulai was-was.


Entah sejak kapan, tapi yang pasti sudah ada perasaan cinta yang tumbuh di dalam hati Malik untuk Abibah.


Mungkin, semenjak wanita tersebut harus mengatur waktu untuk menyiapkan makanan Malik dan dirinya juga kuliah.


Rasanya, seperti diperhatikan oleh seseorang yang menganggap kita spesial padahal kita tahu dia teramat sibuk.


Malik kembali ke kamar, dirinya takut jika Abibah terjaga dan mendapati bahwa dirinya tak ada. Kembali ke tempat semua.


Memandangi wajah wanita yang tengah tertidur pulas tersebut dengan senyuman, tangan Malik terulur mengusap pipi tembam yang meskipun ada bekas jerawat tapi tak terlalu banyak itu.


'Aku banyak belajar dari pernikahan kita yang awalnya paksaan ini, bahwa cinta akan tumbuh pada akhirnya lambat atau pun cepat jika diantara kita tak ada yang mencintai orang lain.


Aku mungkin bukan laki-laki yang romantis, bahkan mungkin terkesan cuek dan dingin padamu. Tapi, aku juga butuh waktu untuk menerima semua ini yang terkesan mendadak dan tiba-tiba. Maaf, kalau egois atau mementingkan diri sendiri dulu. Sekarang ... aku akan menjadi sebenar-benarnya suami untukmu dan untuk keluarga kita,' batin Malik mengecup singkap kening Abibah.


Tanpa ia sadari, bulir bening jatuh ke pipi Abibah dan membuat wanita tersebut terusik. Abibah mengerjap dan mengusap pipinya yang basah.


"Bapak kenapa?" tanya Abibah panik dan langsung duduk menatap Malik yang tengah mengusap ujung matanya.


"Ha, saya tidak papa," kata Malik dengan suara serak.


"Kenapa nangis? Saya pukul atau tendang Bapak, ya?"


Malik tersenyum dan menatap hangat ke arah Abibah, sebuah gelengan diberikan laki-laki tersebut.

__ADS_1


Kedua tangan Malik memegang bahu Abibah, "Kamu gak ada salah, saya menangis karena kesalahan saya dulu ke kamu. Saya minta maaf, ya, karena belum bisa menjadi suami yang kamu impi dan dambakan."


Abibah langsung memeluk Malik begitu saja mendengar penuturan laki-laki barusan, ucapan yang begitu manis di dengarnya untuk pertama kali.


__ADS_2