Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Dipercepat


__ADS_3

"Cowok mah nyebelin, ya, Mas. Semaunya aja buat pihak cewek ketar-ketir," gerutuku kesal.


"Ya, untuk apa juga lama-lama 'kan? Ibadah itu gak boleh kelamaan, harus disegerakan," kata Mas Malik fokus ke arah jalanan.


"Iya, sih, tapi kesian juga Aulia harus ketar-ketir ngurus pernikahan selama seminggu gitu."


Aku sedang mengeluarkan kekesalan sekaligus pendapat, pihak Erwin memberi waktu selama seminggu setelah lamaran.


Resepsi akan dibuat di rumah Aulia, Aulia pun terkejut kala mendapat penolakan dari pihak Erwin ketika ia mengajukan waktu sebulan.


Erwin malah berkata bahwa seminggu saja cukup, mau tak mau Aulia menyanggupi. Mulai besok jadinya cafe akan diurus olehku kembali.


"Gimana sama cafe?" tanya Mas Malik melirik ke arahku.


"Ya, besok terpaksa saya yang jaga Mas. Sekalian nyari karyawan juga nanti, gak mungkin lepasin sepupunya sendiri di sana 'kan?"


"Saya akan bantu mencari karyawati juga, agar kamu gak perlu lama-lama kerja di sana." Aku mengangguk dan tersenyum.


"Terima kasih Mas."


Mas Malik tersenyum dan mengusap kepalaku lembut, aku merasa beruntung di perlakukan dengan begitu manisnya.


Andai waktu bisa lebih lama berputar, aku tak ingin cepat-cepat berakhir menjadi peran istri Mas Malik.


Kami sampai di depan rumah, aku keluar untuk membukakan gerbang. Mobil masuk dan kukuci kembali.


Saat akan masuk ke dalam rumah, suara handphone Mas Malik berbunyi. Dia mengambil dan melihat nama yang tertera.


"Halo, iya, ada apa Pa?"


"..."


"Baik, besok Malik akan ke kantor polisi. Ya, kita ketemu di sana aja Pa."


Panggilan diakhiri, aku tak tahu mereka tengah membahas apaan di telepon tadi.


"Besok, Mas sama Papa disuruh ke kantor polisi untuk ngurus masalah Celsea," jelas Mas Malik dan berjalan untuk membuka pintu.


"Kasian, ya, dia Mas," kataku yang merasa prihatin dengan keadaan Celsea.


"Ya, dia yang salah juga 'kan?"


"Tapi, kalo orang tuanya gak pisah. Dia gak akan kayak gini jadinya."

__ADS_1


"Sudahlah, dia bukan anak kecil lagi yang tak tau apa konsekuensi dari kesalahan yang diperbuat olehnya."


Aku diam dan menunduk berjalan ke kamar, merasa kesian dengan nasib Celsea yang harus berada di balik jeruji besi.


Setelah bersih-bersih dan memakai pakaian tidur, handphone-ku terdengar berdering membuat aku mengambil setelah melihat nama yang tertera.


"Assalamualaikum, ada apa Ma?" tanyaku setelah memencet tombol hijau.


"Waalaikumsalam, Sayang. Apa Mama ganggu?"


"Enggak, Ma. Ada apa?" tanyaku sambil melihat Mas Malik yang masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas air putih dan meletakkannya di nakas.


"Mmm ... Sayang, gimana kalau sebulan lagi kita adain resepsi pernikahannya?" tanya Mama dengan ragu.


"Haha, boleh Ma. Yaudah, kita adain sebulan lagi, ya."


"Ye ... alhamdulillah. Mama udah takut kalau kamu akan nolak buat sebulan lagi diadainnya resepsi."


"Gaklah, Ma. Abibah ikut yang terbaik menurut Mama aja."


"Yaudah kalau gitu, selamat tidur, ya."


"Iya, Ma. Mama juga, ya."


"Kenapa?" tanya Mas Malik menatapku.


"Kata Mama sebulan lagi baru diadain resepsinya."


Mas Malik hanya ber'oh' ria, aku menatap apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu.


"Eh! Mau ngapain?" tanyaku dengan sedikit ngegas saat melihat dirinya hendak membuka kancing kemeja yang dikenakan.


"Buka baju," jawab Mas Malik polos menatapku.


"Ck! Di kamar mandi, kali! Ngapain malah di sini Mas!" tegurku yang tak habis pikir dengan apa yang ingin ia lakukan.


"Ya, emang kenapa? Kamu 'kan istri saya. Udah liat segalanya, ntuh udah ada dede bayi bahkan di perut kamu," jelas Mas Malik menunjuk ke arah perutku dengan tersenyum.


"Dih, tetap aja! Di kamar mandi sana, enak aja di sini!" Aku bangkit dan mendorong tubuhnya agar masuk ke dalam kamar mandi.


"Haha, Ayang kamu mau liat yang mana? Atas ... atau ... bawah?" tanya Mas Malik menaik-turunkan alisnya.


"Ujung kaki!" ketusku dan segera menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


Aku mengusap perut, baru sadar bahwa tak memberi tahu Aulia tentang kehamilanku tadi. Biarlah nanti ini akan menjadi hadiah pas dia resepsi saja.


"Ayang ... udah tidur?" tanya Mas Malik sambil menusuk-nusuk pipiku. Aku pura-pura tidur dan ingin tahu apa yang dia lakukan.


Tangannya mengusap kepalaku, "Kamu tau Sayang? Aku beruntung bisa mendapatkan istri sepertimu, maaf kalau di awal aku begitu terlihat sangat tidak baik atau bahkan terkesan kasar padamu.


Namun, jujur bahwa aku tak berniat buruk padamu. Aku tetap marah dan cemburu melihatmu dekat dengan laki-laki lain." Suara Mas Malik terdengar setengah berbisik. Aku sedikit kesulitan untuk mendengar apa saja yang ia ucapkan.


Suaranya yang pelan seperti tengah menyanyikan aku, niat untuk tidur pura-pura pun akhirnya gagal di tengah jalan. Aku tertidur dengan pulas dan tak tahu apa lagi yang dia ucapkan setelah itu.


***


"Sayang ... bangun, sudah shubuh," kata Mas Malik pelan dengan mengusap rambutku. Aku mengerjapkan mata dan melihat sekitar.


"Ih ... masih jam 2 juga!" ketusku dengan suara khas orang bangun tidur.


Laki-laki tersebut hanya terkekeh, "Shalat tahajud, yuk! Mas rindu shalat bareng kamu dan imamin kamu," jelasnya yang entah kenapa malah membuat aku sedih.


Dia yang sudah duduk segera kupeluk, "Mas, jangan ngomong kayak gitu," lirihku dengan sedikit terisak.


"Lah, kamu kenapa? Kok malah nangis?" tanya Mas Malik dengan suara khawatir.


"Jangan bilang gitu, kayak apaan aja! Abibah gak suka Mas ngomong kayak gitu!" ketusku memukul pahanya sebal.


"Haha, iya-iya. Maafin Mas, ya. Yaudah kalau gitu, yuk!" ajaknya dengan senyum yang meneduhkan.


Aku mendongak dan mengangguk tanda setuju dengan ajakannya, ternyata benar banget, ya, bahwa nikah itu 10%-nya saja yang enak karena 90%-nya lagi enak banget. Maa Syaa Allah.


Aku mengadahkan tangan, melafadzkan doa-doa yang kuinginkan. Tanpa sadar, air mata mengalir.


Merasa Allah begitu baik dan adil pada hidupku, Allah mengambil orang tuaku lalu menggantikan dengan sosok suami yang bukan hanya bisa menjadi suami. Tapi juga; ayah, teman, abang dan teman kerja.


Kucium tangan Mas Malik dengan takzim, ia mengecup pucuk kepalaku. Ia mengusap perut yang masih datar ini lalu tersenyum.


"Sayang, baik-baik di perut Mama, ya," kata Mas Malik seolah tengah berbicara dengan calon bayi kami.


"Eh, bukan Mama. Tapi, Umma. Abibah mau dipanggil Umma bukan Mama," ungkapku yang merasa salah.


"Ternyata salah Sayang, maaf Abi salah nyebut. Ternyata, Umma bukan Mama," ujar Mas Malik dengan tersenyum.


Aku terkekeh dan menggelengkan kepala, mengusap kepala Mas Malik yang sebagian kepala tertutup peci.


Tidak ada pernikahan yang mulus, aku percaya hal itu. Namun, jika saling menguatkan, mengerti dan tak egois.

__ADS_1


Pasti semua akan baik-baik saja dan mampu di atasi secara bersama-sama.


__ADS_2