Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Dia Datang


__ADS_3

Selepas Shubuh, aku dan Mas Malik sudah berada di jalan. Kami akan menuju gedung yang akan dilakukan resepsi pernikahan.


Meskipun pernikahan kami sudah lumayan lama terjadi, tapi tak apalah jika memang bisanya hari ini resepsi tersebut terjadi.


Di dalam ruangan khusus, sudah ada 3 orang yang menemani. Aku disuruh untuk makan lebih dulu agar ada tenaganya nanti.


"Emangnya, bajunya berat Mbak? Perasaan waktu di coba kemarin, enggak deh," kataku keheranan kenapa disuruh makan.


"Bukan karena baju Mbak, takutnya pas salam-salaman nanti sama tamu gak sempat atau gak bisa makan. Kesian bayi Mbak," jelas perias tersebut yang sudah mulai sibuk dengan berbagai alat make-up.


"Lah, kok Mbak tau saya hamil?" tanyaku sambil memakan sarapan berupa bubur.


"Mertua Mbak yang ngasih tau," ungkapnya dan hanya kuanggukkan saja.


"Lama gak Mbak make-upnya?' tanyaku di saat baru setengah jam mereka sibuk dengan wajah serta kerudung.


"Mmm ... tergantung Mbak, bisa dua jam atau satu jam setengah. Mbak sambil main hp aja biar gak bosen," saran perias.


Benar juga, daripada aku bosen dan terus bertanya pada mereka yang membuat akan semakin lama selesai riasan.


Lebih baik aku sibuk dengan handphone-ku dan juga sosial media yang sekarang sangat jarang aku buka.


Setelah menunggu hampir satu jam setengah, akhirnya riasan dan gaun pengantinku pun telah jadi.


Aku bangkit dengan kaki yang menggunakan sendal jepit saja, karena takut jika menggunakan hels malah jatuh.


Kamar dibuka dan menampilkan Mas Malik dengan jas hitam yang dikenakannya, "Ribet banget, ya, pake beginian. Gerah saya," keluh Mas Malik.


"Ck! Cuma jas, lah saya Mas? Liat ini," kataku yang tak ingin ketinggalan berkeluh-kesah juga.


Tanpa kami hiraukan bahwa di ruangan masih ada perias, mereka tertawa mendengar keluhan dari kami.


"Mbak sama suaminya aneh banget, ya. Orang mah seneng pake baju pengantin, lah ini malah ngeluh dua-duanya," ujar salah satu perias dan hanya kubalas dengan cengengesan.


Acara di mulai jam 11 siang sampai jam 5 sore saja, karena ini hanya sekadar resepsi bukan akadnya.

__ADS_1


Aku dan Mas Malik duduk di bangku tamu undangan sambil makan hidangan yang sudah disiapkan.


"Mama mana, ya, Mas?" tanyaku clingak-clinguk tak melihat sosok mertuaku dari tadi sambil memasukkan kerupuk ke dalam mulut.


"Kamu itu, jangan kerupuk yang di makan. Itu, dagingnya biar si dede kuat dan pinter!" tegur Mas Malik menatap apa yang kumakan.


"Lah, ini juga tadi udah makan daging, kok. Kerupuk cuma segini doang gak akan ngaruh ke mana-mana Mas! Jadi, gak usah lebay!" ketusku yang merasa dia sangat berlebihan.


"Abibah ...!" pekik seseorang yang tak asing suaranya di telingaku. Kulihat ke arah suara, ia sudah berlari kecil ke arahku meninggalkan suaminya di belakang.


Beruntung, belum ada tamu undangan kecuali para WO dan tukang foto yang sudah sibuk mengurus acara.


"Jangan teriak! Malu dikit dong!" tegurku menatap tajam ke arah wanita itu.


"Dih! Udahlah, ayo kita pulang aja Sayang," kata Aulia ngambek sambil menarik tangan suaminya kembali.


Aku hanya tertawa melihat sikap wanita itu, "Woy! Tahan kek, masa kagak ditahan ini!" teriak Aulia saat dia melangkah agak jauh dari meja kami.


"Da ... hati-hati, ya," ujarku sambil melambaikan tangan ke arahnya. Ia mendengus kesal dan menghetakkan kaki kembali berjalan ke arahku.


"Lu, ya, keterlaluan banget! Bukannya ditahan temennya malah dibiarin aja," omel Aulia dan mengambil kursi dekat denganku.


"Lu udah pulang dari Yogyakarta?"


"Udah dong."


"Sekarang ngapain?"


"Jadi istri ajalah, capek gue kerja," katanya menyandarkan punggung ke kursi.


"Sambil nunggu anak?" celetukku seketika membuat para suami menatap ke arah kami.


"Bukan, anak-anak. Lebih dari satu soalnya," papar Aulia sambil mengedipkan mata ke arah Erwin.


"Dih, lebay banget sih lu! Gak perlu di sini juga ngegoda suami mah!" protesku yang merasa malu padahal bukan aku yang tengah melakukannya.

__ADS_1


"Biarin dong ... namanya juga pengantin baru!"


"Kalian kok malah di sini? Itu, duduk di ataslah!" tegur Mama yang tiba-tiba muncul membuat aku kaget.


Beruntung, makanan kami telah selesai dan bahkan sudah diambil piring kotornya oleh para pelayan yang disewa oleh Mama.


"Tau, nih, Tante. Aneh banget emang pengantin baru stok lama ini," timpal Aulia yang malah ikut-ikutan menyudutkan kami.


Aku menatap tajam ke arahnya dengan mulut yang komat-kamit seperti dukun saja, berjalan berdua dengan dibantu oleh Mas Malik ke atas singgasana beberapa jam saja.


Ternyata, tamu sudah mulai ramai berdatangan. MC pun membuka acara dan lagu mulai dimainkan.


Sesi foto-foto kedua pengantin akhirnya terjadi dengan berbagi gaya yang membuat aku sedikit kelelahan juga kesusahan akibat tubuh yang kaku seperti kenebo kering ini.


Tak lupa foto dengan Mama dan Papa juga, entah mengapa saat prosesi foto ini terjadi hatiku kembali sesak.


'Andai ... Mama dan Papa masih ada, kalian juga akan foto bareng kami di sini Ma. Di samping Abibah dan Mas Malik dengan begitu bahagianya,' batinku dengan cepat menghapus air mata.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Mama yang ternyata mengetahui air mataku yang turun.


"Hehe, enggak Ma. Cuma keinget sama almarhum Papa dan almarhumah Mama aja," lirihku dengan kembali menghapus air mata yang entah kenapa malah semakin deras turun.


Mama langsung memelukku dan mengusap punggungku, "Kamu jangan sedih Sayang, mereka pasti bahagia di sana melihat kamu yang bahagia di sini," ungkap Mama dan kubalas dengan anggukan.


Selesai acara foto keluarga, aku dan Mas Malik duduk kembali. Kami sesekali bercerita hal-hal random dan tertawa.


Hingga akhirnya, ada seorang laki-laki yang datang menghampiri untuk mengucapkan selamat kepada kami.


Aku tertegun saat melihat siapa yang ada di depanku saat ini, bangkit dengan menatap pria yang sudah menampilkan senyum manisnya.


Senyum yang dulu bahkan membuat aku begitu candu dan bisa tersenyum juga, aku segera menundukkan pandangan.


Kulihat tangannya terulur ke Mas Malik, "Selamat, ya, Bro. Jaga dia baik-baik sebisa lu menjaga dia, lindungi dia dan jangan buat dia kecewa," tegas Kak Abil terdengar begitu lantang di telingaku.


Kudongakkan kepala menatap ke arah mereka, "Tak perlu takut soal itu, dia istriku. Bahkan, nyawaku akan kutaruhkan demi dirinya," terang Mas Malik tak kalah lantang tapi wajahnya menampilkan tidak suka dengan laki-laki di depan ini.

__ADS_1


Kak Abil mengangguk dan melepaskan tautan tangan tadi, ia menatap ke arahku dengan senyuman yang tak luntur.


Kubalas kembali senyuman tersebut sebagai seseorang yang pernah kenal satu dengan lain. Ia turun dari pelaminan dan pergi tak lupa menyapa Aulia dan suaminya terlebih dahulu.


__ADS_2