Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Jangan Dihapus!


__ADS_3

"Abibah, gimana? Masih mual atau sakit perutnya?" tanya Mama padaku saat kami sedang makan malam bersama.


"Ma, yang mual itu Malik. Bukan Abibah," potong Mas Malik sambil mengerucutkan bibir.


Ia tak makan karena lagi tak berselera dengan makanan yang ada, Mama sudah bertanya tadi dia ingin apa agar dibeli.


Namun, dia mengaku masih belum ingin apa-apa. Jadilah, dirinya sendiri yang tak makan malam ini.


Aku hanya terkekeh mendengar ucapan suamiku itu, "Abibah udah gak mual, kok, Ma. Lagian, betul yang Mas Malik bilang. Dia yang mual, kok," jawabku seadanya.


"Eh, Mama dan Papa ada rencana untuk membuat resepsi kalian. Mau, ya?" tanya Mama meminta pendapat.


"Resepsi buat apa Ma?"


"Kan, kemarin pas kalian nikah gak ada rekan kerja Papa. Jadi, sekarang diundang agar pada tau semuanya," ungkap Mama menjelaskan maksud dibuat resepsi pernikahan kami.


"Konsultasi ke dokter dulu Ma, Abibah bisa atau tidak. Soalnya 'kan juga kandungan Abibah masih baru, takut aja kalau kecapean nanti malah kenapa-kenapa," imbuh Mas Malik dengan tangan mengambil buah-buahan yang ada di meja.


"Hmm ... oke, kalau dokter ngasih izin. Kalian mau?" tanya Mama menatap ke arahku juga Mas Malik secara bergantian.


Aku tersenyum dan mengangguk tanda setuju, tak enak juga jika menolak. Karena, pasti ini semua demi kebaikan kami.


Tak enak juga jika dikira orang aku mengaku-ngaku sebagai istri Mas Malik hanya karena orang tersebut tak tahu tentang pernikahan kami.


"Oh, iya, Papa denger Celsea balik ke sini lagi, ya?" tanya Papa membuka suara dengan mulut mengunyah makanan.


"Papa tau dari mana?" tanya Mas Malik sedangkan aku hanya fokus ke makanan.


"Temen Papa yang kasih tau, karena dia dan Celsea ada kerja sama. Dia nanya, kenapa kamu dan dia gak jadi nikah dan rumah yang kamu beli malah dijual kembali."


"Iya, dia datang dan udah ketemu sama Malik juga waktu itu."


"Abibah? Kamu sudah ketemu sama dia?" tanya Mama dengan memegang bahuku.


Aku mengangguk, "Sudah Ma."


"Dia bilang apa?"


"Gak ada, sih. Biasalah, cewek kalo gagal move on 'kan aneh. Rada sinting," jawabku kesal karena memang itulah kenyataannya.


"Tapi, kamu gak suka sama dia lagi 'kan Malik?" tanya Mama menatap tajam ke arah Mas Malik.


"Ya, enggaklah Ma. Ngapain juga suka lagi sama dia, orang yang aku sukai 'kan ada di depan aku ini," goda Mas Malik yang berada di depanku hanya terhalang oleh meja makan saja.

__ADS_1


"Mas ... aku mual nih denger gombalan kamu," katamu seraya menutup mulut. Hal tersebut membuat Mama dan Papa tertawa sedangkan Mas Malik menekuk wajahnya kesal.


"Sekarang, kalian tinggal di mana?"


"Kita udah beli rumah Pa, rumah keinginan Abibah," kata Mas Malik menatap ke arahku dengan senyuman.


Aku pun tersenyum mendengar hal tersebut.


"Syukur kalau gitu, kalau ada apa-apa. Kalian jangan sungkan minta tolong sama Mama dan Papa, kalian tenang aja. Kami akan bantu jika kami bisa dan mampu."


"Terima kasih Pa," serempak aku dan Mas Malik berucap kepada laki-laki yang sudah kuanggap sebagai Papa kandungku sendiri setelah kepergian Papa akibat kecelakaan waktu itu.


Sesampainya di dalam kamar, suara dering handphone milikku memenuhi ruangan. Malam ini kami tidur di sini dulu karena Mama bilang rumah ini terlalu sepi jika hanya ada mereka berdua.


"Siapa Sayang?" tanya Mas Malik mendekat ke arahku.


"Aulia Mas," jawabku dan mengangkat telepon sambil duduk. Mas Malik dengan sengaja menempelkan telinganya di handphone agar bisa mendengarkan pembicaraan kami.


"Hais, awas Mas!" ketusku yang merasa risih.


"Udah, fokus aja telponan," suruhnya yang seolah tak merasa bersalah.


Aku hanya mendengus kesal, entah mengapa sikapnya yang terlalu kepo ini tak kusukai. Serem saja jika nanti anakku juga akan begitu akibatnya.


Kulespekerkan saja handphone agar jika tiba-tiba wanita itu berteriak kembali kupingku tak budeg akibatnya.


"Lu bisa santai aja gak sih! Teriak-teriak segala kayak apaan!" kesalku dengan sedikit menaikkan suara.


"Hehe, maaf Abibah. Gue lagi seneng banget ini, ya, Allah," ucapnya yang sepertinya memang sangat bahagia sampai menyebut Sang Pencipta.


"Emangnya ada apaan?" tanyaku menautkan alis sambil menatap wajah Mas Malik yang sepertinya juga penasaran.


"Erwin mau lamar gue! Aaaa ...!" pekik Aulia kembali dari sebrang. Beruntung kali ini telingaku dan Mas Malik tak jadi korban dari suaranya itu.


"Erwin siapa?" tanyaku yang belum tahu soal hubungan dia dengan laki-laki baru.


"Itu, yang laki-laki lu usir waktu itu," kata Aulia mengingatkan. Aku terdiam sebentar mencoba mengingat laki-laki yang mana dimaksud Aulia.


"Oh ... yang gak bisa baca itu?" celetukku saat mengingat seorang pria menyelonong masuk tanpa membaca pamplet cafe.


"Dih, bukan gak bisa baca dia! Tapi karena buru-buru waktu itu!" bela Aulia yang tak terima calonnya kukatai.


"Udah yakin emang? Udah tau dia gimana orangnya?" tanyaku menyelidiki.

__ADS_1


"Udah, dong! Bahkan, gue udah pernah datang ke rumahnya waktu itu," terang Aulia dengan kekehan dari sebrang.


"Wah ... sudah sejauh itu ternyata hubungan lu sama dia."


"Iya, dong. Sengaja rahasia-in, biar jadi kek lu dan Pak Malik. Hubungan yang terlalu diumbar juga gak baik 'kan?"


"Hmm ... iya, sih, jadi rencana kapan nikahnya?"


"Kemungkinan lusa keluarga dia akan datang ngelamar, gue mau sebulan setelah lamaran langsung nikah."


"Beuh ... dah ngebet nikah lu?"


"Iya, dah bosen gue kerja tempat lu!" jelas Aulia tertawa di sebrang. Aku memajukan bibir kesal mendengar ucapannya.


"Dasar, lu! Yaudah, semoga jadi sampai hari H-ya."


"Eh, lusa lu datang dong, ya. Gue bingung mau ngajak siapa 'kan cuma lu sahabat plus keluarga gue."


"Jam berapa acaranya?" tanyaku menatap ke arah Mas Malik yang masih setia menyimak pembicaraan kami.


"Habis isya."


"Yaudah, ntar gue usahain. Tutup aja besok cafe, ya," perintahku padanya.


"Oke. Yaudah, maaf mengganggu. Terima kasih Abibah. Muach." Aku bergedik ngeri mendengar kecupan darinya.


Belum sempat kuomeli panggilan sudah dimatikannya lebih dulu dengan kekehan yang terdengar.


"Muach," kata Mas Malik sambil mengecup pipi kanan.


"Dih, apaan sih!" kesalku menghapus bekas kecupannya. Melihat hal tersebut, wajah Mas Malik tampak kesal dengan apa yang kubuat.


"Kenapa dihapus?" tanya Mas Malik marah.


"Biarin, apaan cium segala!"


Cup cup cup


Wajah ini habis dihujaninya dengan air jigongnya tersebut, bahkan nyamuk saja bisa-bisa mati mencium bau di pipiku hahaha.


Tanganku di pegang olehnya, "Jangan dihapus!" tekan Pak Malik mengerucutkan bibir dengan wajah menggemaskan.


Ingin rasanya aku me mu ti la sinya melihat wajahnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2