
"Kau tadi malam tidur di mana?" tanya Pak Malik membuka keheningan di dalam mobil menuju kampus.
"Sofa," jawabku singkat dan melirik ke arah dia sebentar.
"Kenapa tidak bangunin saya?"
"Gak papa."
"Kenapa juga Aulia pulangnya begitu lama!"
"Mana ada lama, orang tengah sembilan doang, kok."
Setelahnya, kami tak ada lagi berbicara apa-apa, "Turunin sampe sini aja Pak!" pintaku saat mobil sudah mulai deket dengan kawasan kampus.
"Kenapa tidak sampai masuk?"
"Nanti, semua orang tau. Saya gak mau ketauan kalo udah nikah sama Bapak!"
"Hmm ... baiklah!" pasrah Pak Malik, "oh, iya, nanti kau pulang sendiri bisa 'kan? Ini handphone, kalau terjadi apa-apa cepat hubungi saya!" Aku menatap ke arah Pak Malik terlebih dahulu dan mengambil handphone yang ada di tangannya.
"Baik, Pak!" Segera turun dan berjalan ke arah gerbang kampus, mobil Pak Malik berjalan di sampingku dan masuk ke kampus lebih dulu.
Saat akan masuk ke dalam kampus, kebetulan Aulia baru turun dari gojeknya, "Lu kenapa? Kok kayak gak semangat gitu?" tanya Aulia menatap wajahku.
'Gimana mau semangat? Orang kedinginan tidur di sofa! Si Malik juga kagak ada ngerasa bersalahnya, gitu? Dasar, suami luqnut!' batinku mencibir suami yang tak seperti tokoh di drama seberang.
"Ngantuk gue!" jawabku cepat.
"Mangkanya, gak perlu di paksakan banget seminggu harus selesai."
"Ck! Tinggal beberapa bulan lagi woy! Kita akan lulus, lu emang gak mau lulus bareng?"
"Ya, mau sih. Gue juga lagi ngerjain, kok. Dibantuin sama Irpan," ujar Aulia dengan senyam-senyum tak jelas.
Aku hanya menggelengkan kepala dan mengalihkan pandangan dengan malas ke arah lain.
"Eh, lu udah liat pengumuman di grup, gak?"
Aku menggelengkan kepala, gimana mau bisa liat pengumuman. Sedangkan handphone baru saja diberi oleh Pak Malik padaku.
"Kelas terakhir gak ada, dosennya berhalangan hadir. Jadi, kita cepat pulang!" terang Aulia bahagia.
Oh, ternyata ini alasan Pak Malik memberi aku handphone. Karena kami akan pulang lebih dulu, bukan karena kerjaannya yang banyak.
__ADS_1
"Aku, rencananya setelah kelas mau main sama Irpan. Mau ke time zoon, gitu. Lu mau ikut?"
"Gak."
"Lah, kenapa? Irpan yang bayar, kok."
"Males."
"Ck! Yaudah kalo gitu."
***
Aku berdiri di gerbang, Aulia juga tengah menunggu Irpan datang. Entah akan naik apa aku pulang.
Dari tadi, tak ada yang mengambil pesananku. Sangat menyebalkan! Sebuah sepeda motor berhenti di depan kami.
Aku melirik dengan malas ke arah pemilik roda dua tersebut, "Sok cakep!" gumamku mengalihkan pandangan saat melihat Irpan dengan kacamata juga helm tanpa kaca tersebut.
Tiba-tiba, pikiranku melayang ke animasi kembar botak tersebut. Teringat monyet yang menggunakan helm tersebut.
"Dih, lu ketawa kenapa?" tanya Aulia yang memergoki aku menahan tawa.
"Ha? Gak papa," jawabku dengan menggelengkan kepala.
"Lu yakin gak mau ikut sama kami?"
Kulihat ke arah jalanan setelah kepergian pasangan itu, "Huh, harus jalan deh ini sampe ke jalan raya," ucapku sedikit mengeluh.
Sebelum meninggalkan area kampus, kulihat ke arah belakang sebentar. Ya, mana tahu Pak Malik datang dengan gagah berniat mengantarkan istri cantiknya ini.
Masa, dia gak takut kalau istrinya ini kenapa-kenapa di jalan, sih? Sungguh sangat keterlaluan sekali.
Tapi, hasilnya tak sesuai yang kuinginkan. Tak ada tanda-tanda manusia dengan tubuh seperti raksasa itu.
"Baiklah, Princess sepertinya memang ditakdirkan untuk berjalan kali ini," gumamku mencoba tersenyum agar berdamai dengan takdirku yang malang.
Di sepanjang jalan, kutendang batu-batu kecil dengan pelan, "Mending kalo tau gini, aku ambil aja mobil di rumah!"
"Mama sih sama Papa, dia kira bisa ngandelin menantu mereka itu? Gak, dong! Menantu apaan kayak, gitu? Bini dibiarin jalan sendirian, kalo aku diculik gimana?"
"Argg ... malesin banget, sih! Pokonya besok aku harus minta mobil itu balik, enak aja mereka!"
Aku tak berhenti mengoceh di sepanjang trotoar, tak jauh lagi akan ada halte bis yang sudah ada beberapa orang menunggu di situ.
__ADS_1
Ternyata, berjalan sambil mengumpat mampu membuat tubuh tak terlalu letih berjalan. Namun, mungkin efeknya orang yang melihat akan mengatai atau berpikir bahwa aku gi la.
Tiba-tiba, ada pengendara motor yang berhenti di depanku. Dua orang yang tak kukenali dengan pakaian seperti preman.
Aku segera berjalan agar sampai di halte dengan cepat, tubuhku tiba-tiba seolah ada yang merangkul dari samping membuatku terkejut.
"Ada apa, ya, Bang?" tanya Pak Malik menatap salah satu preman yang sudah turun dari motor dan hendak mendekatiku tadi.
"Eh, hehehe. Gak papa, kok gak papa," dustanya dan langsung naik ke kuda besinya itu dengan cepat.
Aku menghela napas, beruntung Pak Malik tiba-tiba datang ke sini. Kulihat ke arah belakang sudah ada mobilnya.
"Kau tak apa?" tanya Pak Malik menatapku.
"Gak papa, Pak."
"Kenapa tidak pakai gojek saja?"
"Gak ada yang nerima pesanan saya, mangkanya gak naik gojek tadi. Angkot juga jam segini mana ada lewat dari kampus, mangkanya mau ke halte nunggu bis," paparku menunjuk ke arah halte menggunakan dagu.
Rangkulan tadi di lepas oleh Pak Malik, matanya sedikit menyipit karena memang agak panas, "Yaudah, masuk! Biar saya antar pulang," titah Pak Malik.
"Lah, Bapak 'kan lagi sibuk kerja. Gak usah, saya bisa sendirian, kok."
"Dengan kejadian tadi kau pikir apakah aku bisa tenang melepasknmu sendirian untuk pulang?" tegasnya yang seperti ada rasa khawatir terhadapku.
Bukannya takut, aku malah tersenyum dengan mengulum bibir ini menatap ke arahnya, "Apa yang lucu? Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
"Bapak khawatir, ya, sama saya?" tanyaku menggoda Pak Malik dengan menaik-turunkan alisku.
"Gak usah kepedean! Kau tinggal denganku, jika sesuatu terjadi padamu. Pasti aku yang akan disalahkan oleh keluargamu dan juga keluargaku!" jelas Pak Malik dan berlalu meninggalkan aku ke arah mobil.
"Heleh, kukira cuma badannya yang gede. Ternyata, gengsinya juga!" gumamku yang akhirnya ikut juga menuju ke arah mobil Pak Malik.
Kami tak langsung pulang, mobil berhenti ke arah salah satu pusat perbelanjaan, "Lain kali, kalau kau ingin pulang dan ingin pergi ke mana saja. Maka, kabari saya! Apa kau paham?"
"Buat apa ngabari Bapak?"
"Agar aku tau kau ke mana dan sama siapa!"
"Tadi, kok Bapak bisa datang ke trotoar? Bapak ngikutin saya, ya?" selidikku dengan menyipitkan mata dan menunjuk ke arahnya.
"Bukan, saya tadi mau ngikutin janda montok! Hanya melihat anak kelinci yang mau dimakan serigala, jadi saya kasian dan memilih membantu dia," terang Pak Malik dan langsung pergi meninggalkan aku sendiri di dalam mobil.
__ADS_1
Amarah seketika muncul, kalau di film-film mungkin tanduk warna pink muncul dan asap sudah keluar dari kedua kupingku karena mendengar ucapan tak senonoh dari mulut Pak Malik tadi.
"Malik!" teriakku mengeluarkan emosi. Ingin sekali rasanya kucabik-cabik wajahnya kalau dia ada di depanku saat ini, meskipun tak tahu apakah aku berani atau tidak.