Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Menguji Merk Shampo


__ADS_3

"Terima kasih, terima kasih kamu masih mau datang ke sini," kata Celsea dengan mata yang seolah berbinar mendapati Malik di depannya.


"Gak usah basa-basi, langsung ke intinya aja. Lu mau ngomong apa?" ketus Malik menatap datar ke arah Celsea yang berada di hadapannya.


Suara isakan yang semula tak ada kini terdengar, bahkan Celsea seolah-olah tengah menahan cairan di hidungnya itu agar tak keluar.


Padahal, sebelumnya ia terlihat biasa saja. Tak ada tanda-tanda akan ada acara tangis-tangisan segala.


"Malik, maafin aku karena udah pergi ninggalin kamu begitu aja."


"Langsung ke intinya, gue gak ada waktu buat bahas masa lalu segala!" tegas Malik mengulang kalimatnya tadi.


"Malik ... kamu kenapa berubah sekarang? Kenapa jadi kasar sama aku?" tanya Celsea dengan mata berbinar seolah menahan bulir bening.


"Itu karena gue belum tau sifat asli lu, seharusnya gue tau dari dulu bahwa orang yang gue cintai dengan tulus tak sebaik yang gue kira! Mau lu jelasin sepanjang dan sedatail apa pun tentang kesalahan yang dulu, gue udah gak mau tau lagi. Dan mau sekarang lu udah nyesel atau bahkan bercerai dengan suami lu itu gue juga gak peduli! Gue udah bahagia dengan kehidupan gue sekarang, jadi jangan pernah ganggu dan masuk kembali ke kehidupan gue!


Karena bagaimana pun, lu gak akan pernah keterima lagi di dalam kehidupan gue yang sudah di isi penuh dengan wanita lain!" jelas Malik yang membuat Celsea kaget tak percaya bahwa laki-laki lembut yang dulu ia kenal bisa berucap sedemikian tegasnya pada dirinya.


Berulang kali mata Celsea mengerjap tak percaya akan hal ini, "Malik, ini bukan kamu 'kan? Ini bukan kamu yang dulu 'kan? Malik yang dulu di mana?" tanya Celsea berniat ingin memegang wajah Malik.


"Jangan pernah berniat menyentuh gue! Karena, gue bukan mahram lu yang bisa lu sentuh semau lu aja!"


Celsea menggelengkan kepala menatap kembali tak percaya, "Aku kira setelah aku pergi demi kebaikan kamu, kamu akan menjadi semakin cinta sama aku. Tapi, ternyata? Aku salah besar akan hal itu," lirih Celsea menunduk.


"Liat, Bestie! Suami lu lagi direbutin sama dua cewek," ujar Aulia menyenggol tanganku yang tengah asyik scroll aplikasi biru.


Aku langsung mengalihkan pandangan dan menatap ke arah yang sedang dilihat Aulia dengan tersenyum merekah.


"Beuh ... iya! Ini lebih seru dibanding novel yang berjudul udah kek ikan terbang panjangnya, ini namanya apa, ya? Suamiku terciduk oleh pacar dan istrinya tengah selingkuh?" tanyaku menumpu kaki yang sebelahnya dan mengambil kentang goreng memasukkan ke dalam mulut.

__ADS_1


Di sana, terlihat ada Mis Vilo yang membelakangi meja suamiku juga mantannya, aku sedikit menyipitkan mata untuk memastikan hal tersebut.


"Bukan, deh. Mmm ... apa, ya? Kulihat suamiku tengah bernostalgi, kayaknya oke deh!" celetuk Aulia dengan senyuman yang tak menghilang.


Meskipun tak terdengar mereka tengah berbicara apa, terlihat raut wajah Celsea yang tampak sedih dengan jelas dari sini.


Apakah dia baru saja ditolak untuk balikan oleh suamiku? Atau ... dia tengah berbuat drama yang menarik simpati, axis, tree, atau telkomsel dari suamiku, eh!


"Yaudah, mau itu demi kebaikanku, keluargaku atau karirku itu terserahmu. Aku harus pergi, masih ada urusan lainnya!" potong Malik dan berdiri dari mejanya.


Saat dirinya ingin berdiri, Celsea malah ikut berdiri dan menahan tangan Malik, "Tunggu, aku belum selesai bicara," mohon Celsea yang membuat Malik berhenti.


Vilo yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka saja seketika bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke arah mereka.


Tampak keterkejutan di wajah Celsea sedangkan Malik mengusap wajahnya kasar karena tahu bahwa akan ada masalah lainnya.


"Susah, ya, kalau punya suami ganteng," timpalku dengan mengibas-ngibaskan tangan ke wajah.


"Iya, nih, sampe berapa orang ngerebutin. Kira-kira siapa yang akan menang, ya?"


"Ya, guelah! Kan, gua yang dinikahi sama Pak Malik. Bukan mereka berdua," ketusku menatap kembali ke arah mereka.


"Lu gak ada malu-malunya, ya? Orang udah gak mau sama lu juga, ngapain masih berharap dia mau balik sih?" tanya Vilo dengan sedikit menaikkan nada suaranya ke arah Celsea.


Celsea melepaskan tangannya di lengan Malik dan menatap ke arah Vilo yang datang tak diundang.


"Lu ngapain di sini? Gak ada yang ngajak lu juga, ngapain muncul kayak jangkung?" tanya Celsea dengan sinis ke arah Vilo.


"Heh! Yang pantas dapat gelar itu elu seharusnya, lu gak ngaca? Atau gak punya kaca? Pergi tanpa pamit dengan cowok yang mapan, dan pulang-pulang pengen balik sama Malik? Lu kira Malik apaan? Tong sampah? Tempat nampung barang bekas kayak lu?" geram Vilo sambil menunjuk ke arah Celsea.

__ADS_1


Merasa dirinya di hina-hina, Celsea tak tinggal diam. Dia maju menghadapi Vilo, sedangkan Malik memilih untuk menjauh daripada harus menjadi korban.


Ia sedikit mencari jarak aman, kedua wanita itu sekarang malah tengah saling jambak-jambakan rambut dengan saling berdebat tanpa jeda.


Orang-orang melihat ke arah kedua wanita tersebut sedangkan ada suara gelak tawa yang membuat pandangan Malik beralih.


Ditatap dengan tajam kedua orang yang tengah tertawa terbahak-bahak karena menyaksikan perkelahian antara Vilo dan Celsea barusan.


Malik langsung berjalan mendekat ke arah orang yang masih asyik tertawa sambil menutup mata dan memegang perutnya.


"Ehem!" dehem Malik dengan tangan di pinggang menghadap wanita di depannya.


Mereka langsung terdiam mendengar suara bariton yang memang tak terlalu asing di telinga mereka.


Menegapkan badan dan mendongak menatap ke arah suara, seketika hanya mampu menampilkan cengengesan dan menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Pulang!" perintah suamiku saat memergoki kami sedang berada di restoran yang sama dengan dirinya.


Bukannya seharusnya aku yang marah, kenapa dia pula yang terlihat marah denganku.


"Bayar dulu, Pak. Ini, kami tadi makan di sini. Bukan cuma numpang terkenal," cercaku menahan tawa melirik ke arah Aulia juga.


Wajah Aulia juga terlihat sama, merah padam akibat menahan tawa. Bagimana pun tak enak jika ketahuan Pak Malik bahwa kami tertawa karena melihat apa yang sekarang tengah berlangsung.


"Tunggu sebentar!" Suamiku berlalu pergi ke kasir sepertinya, karena pelayan tengah sibuk untuk memisahkan kedua wanita yang masih beradu kekuatan shampo mereka.


"Nanti, lu tanya shampo Mis Vilo Aulia! Biar pas lu berantem atau labrak palakor gak rontok tuh rambut, liat rambut Celsea tuh udah tinggal dikit noh," paparku menutup mulut menahan tawa.


Aulia tampak kaget dengan ucapanku, "Enak aja! Suami gue ntar gak akan ada selingkuhan, sebelum dia berpikir begitu udah gue kasih ultimatum duluan. Berani selingkuh, artinya udah siap buat mati muda!" murka Aulia dan mengepal tangannya menatap tajam ke arah depan seolah sedang menatap bahwa suaminya melakukan hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2