
Sekarang, kami sudah berada di dalam taksi menuju apartemen kembali. Setelah selesai membayar makanan kami.
Pak Malik memberhentikan taksi dan menyuruh taksi mengantarkan kami langsung ke apartemen tanpa memberi izin singgah ke mana pun.
Dia juga kembali ke kampus, sedangkan Mis Vilo juga Celsea ditahan di restoran karena telah membuat malu di dalamnya.
Apalagi, restoran tersebut lumayan terkenal dan banyak dikunjungi oleh orang-orang. Ada saja perkelahian bisa menurunkan retensi dari restoran tersebut.
Malik langsung memilih untuk masuk ke kelas selanjutnya, terlebih dahulu ia masuk ke ruangan pemilik kampus.
Tok tok tok
"Masuk!" perintah dari dalam membuat Malik masuk ke dalam dengan hati yang sudah dimantabkan.
"Selamat siang, Pak," sapa Malik tersenyum dan duduk di bangku depan pemilik kampus.
"Siang Pak Malik, ada apa?" tanya pemilik kampus menatap wajah Malik.
"Jadi, begini Pak. Saya ingin mengajukan surat mengundurkan diri, besok saya akan mulai memasukkan surat pengunduran diri saya dan kebetulan saya juga sudah lebih dua tahun mengajar di sini," jelas Malik dengan tangan ditautkan di atas meja menatap pemilik kampus.
"Kenapa tiba-tiba? Apa ada masalah, atau ada sesuatu yang terjadi membuat Pak Malik merasa tidak nyaman?" tanya pemilik kampus yang merasa aneh. Tentu dirinya menahan Malik untuk pergi begitu saja, bagaimana pun ia masih membutuhkan tenaga dari Malik untuk kampus miliknya.
"Oh, tidak Pak. Hanya saja, saya ingin fokus meneruskan perusahaan Papa saya. Berhubung beliau lagi sering ke luar negri, jadi saya yang ditunjuk untuk meneruskan perusahaan itu. Bagaimana pun juga, nantinya akan saya yang akan disuruh melanjutkan perusahaan mengingat cuma saya anak dari orang tua saya Pak," ungkap Malik memberikan alasannya.
Seorang atasan atau bos melarang kalian untuk berhenti bukan karena dia menyayangi dirimu, tapi, karena susah mencari orang seperti dirimu.
Yang mungkin tak akan bisa atau bahkan tak akan ada lagi ia dapati di pekerja yang barunya nanti.
Pemilik kampus menampilkan wajah pasrah, bagaimana pun ia tak bisa menahan Malik jika keputusannya sudah mau begitu.
"Baiklah, saya akan menyetujui pemberhentian kamu," ujar pemilik kampus membuat senyum Malik merekah.
Ia segera menjabat tangan pemilik kampus, "Terima kasih Pak!" Malik tersenyum dan mengangguk.
Setelah selesai bercerita tentang berbagai hal, Malik kembali keluar dari ruangan dan menuju kelasnya.
Hari ini mungkin adalah hari terakhir ia akan mengajar, besok dirinya akan kembali lagi untuk mengemasi barang-barang di ruangan miliknya.
***
__ADS_1
"Lu bosen, gak, sih gini mulu? Buset, dah! Gak kebayang kalo gue yang jadi lu," pikir Aulia menatapku yang tengah sibuk di dapur.
"Lu bosen? Butuh hiburan, lompat aja tuh balkon!"
"Eh, ada kolam berenang 'kan? Berenang, yuk!" ajak Aulia dengan tersenyum. Aku yang masih sibuk di dapur memotong makanan untuk dimasak nanti sore.
"Males, ah! Lu aja sendiri," timpalku tak menatap ke arahnya.
"Males atau karena lu gak tau berenang?" ejek Aulia yang membuat aku menatap tajam ke arahnya.
Memang, aku tak tahu berenang. Setiap kali ingin ikut les belajar berenang, Mama selalu melarang karena alasan takut dan takut.
Mau tak mau, hingga sebesar sekarang aku jadinya tak tahu berenang. Mau bagaimana lagi? Memang almarhuma Mama setakut itu tentang diriku.
Aku mendengus kesal tak mampu mengelak karena Aulia memang tahu akan hal itu, dia juga dulu selalu mengajak aku untuk main di kolam berenang.
Tapi, tetap saja berkali-kali pula Mama melarang agar Aulia tak mengajak aku lagi.
"Lu nemenin aja, gue yang mandi. Gue gak enak, takut juga kalo sendirian," ujar Aulia kembali.
"Yaudah, iya, emangnya lu bawa pakaian?" tanyaku menatap ke arahnya.
Aku kembali menyelesaikan bahan masakan, mungkin selesai dari menemani Aulia berenang baru akan masak.
Masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju ganti, karena di kolam berenang nanti juga ada wc untuk ganti.
Kubawa handphone dan tak lupa mengunci apartemen kembali.
[Pak, saya ke kolam berenang. Kalau udah pulang langsung ke sini aja, ya, buat ambil kunci,] pesan kukirim sambil berjalan ke kolam berenang.
Takut jika nanti Pak Malik mencari apalagi sampai berpikiran yang tidak-tidak aku pergi entah ke mana saja.
Di kolam berenang, lumayan ramai orang yang berenang. Aku sedikit menunduk karena banyak laki-laki dengan telanjang dada di sini.
"Aulia! Kita gak usah jadi, ya, lu mandi sendiri deh. Banyak banget laki-laki," bisikku menarik tangannya.
"Dih, ini yang mantep! Pas capek bisa liat yang seger-seger," ujar Aulia yang aku tahu pasti tengah tersenyum menatap pemandangan yang jarang dia lihat.
Sedangkan aku? Pak Malik 'kan sama saja kayak mereka dadanya, kotak-kotak juga. Meskipun sekarang udah gak lagi, sih, eh!
__ADS_1
Aulia dengan cepat masuk ke dalam kolam berenang, sedangkan aku memilih duduk di bangku yang ada di pinggiran.
Beberapa orang menatap ke arahku, bahkan sesekali menunjuk ke diri ini. Kenapa? Apa yang salah denganku.
Kuambil handphone, cara yang paling tepat saat ini adalah sok sibuk dan fokus pada handphone milikku.
Kulirik ke arah Aulia yang masih asyik berenang ke sana-sini, kuletakkan baju yang akan dipinjamnya.
"Dih, aku risih banget diliatin gini. Apa aku bilang aja ke Aulia, ya, aku ke apartemen aja," gerutuku mulai risih dengan tatapan orang-orang.
Berjalan dengan sedikit menaikkan gamis karena takut basah akibat orang-orang yang ada di kolam berenang.
Aku berjalan ke pinggir dengan menggenggam handphone, "Aulia!" panggilku dan membuat dia yang tengah berada di tengah kolam menatap ke arahku.
"Apa?" tanyanya mendekat ke pinggiran kolam.
"Gue masuk aja, ya, baju lu di situ gue buat. Gue risih, diliatin orang-orang," kataku sedikit jongkok dan berbisik.
"Yah ... jangan dong, nanti siapa temen gue?" tanya Aulia mengerucutkan bibirnya.
"Di sini 'kan rame, lu berenang aja sendiri. Lagian, kalo gue ada juga gak bisa berenang sama-sama," ujarku melirik ke kanan-kiri.
"Yaudah, deh. Gue naik aja, tolongin dong!" pinta Aulia mengulurkan tangannya.
Aku menatap dengan curiga, takut jika malah tanganku nanti ditarik olehnya. Bangkit dari setengah jongkok tadi.
"Gak mau, naik dari situ aja noh," tunjukku pada tangga kolam berenang yang memang agak jauh dari tempat Aulia sekarang.
"Jauh, di sini ajalah! Males gue kalo ke sana, cepetan tolongin!" cetus Aulia dengan tangan yang tetap mengulur minta disambut.
Kubuang napas kasar dan mendengus kesal, "Awas, ya, kalo lu macem-macem!" paparku memberi peringatan.
"Iya-iya," potongnya dengan tersenyum karena aku ingin membantu dirinya.
Saat tubuhku kembali jongkok dan menyambut tangan Aulia, tiba-tiba tanganku ditarik dengan kencang olehnya.
"Aaa ... Aulia!"
Byur ...!
__ADS_1