Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Cepat Isi


__ADS_3

"Jadi, Pak Yanto sudah tau kalo Bapak nikah?" tanyaku dalam mobil. Kami sekarang menuju bandara.


Mengantar mertuaku untuk pergi ke luar negri karena ada urusan, Pak Yanto kabarnya jatuh dari motor sepulang dari mengajar kemarin.


Padahal, jarak kampus dan rumahnya sangat jauh. Kenapa dia tak membeli mobil saja? Gajinya pasti cukup apalagi katanya anaknya juga ada yang sudah menjadi dosen tadi.


"Iya."


"Anak Pak Yanto cantik, Pak?" Wajahnya akhirnya menatap ke arahku.


"Kenapa emangnya?"


"Kenapa Bapak gak mau sama anaknya? Kan, enak dapat mertua yang baik banget kayak Pak Yanto. Mana tadi dia rasa kecewa lagi nadanya pas mengucapkan selamat buat kita."


"Saya memang tidak suka dengan anak Pak Yanto, mau secantik apa pun kalau saya tidak suka. Apa mau dibuat?"


Aku terdiam, benar juga, "Eh, tapi cinta 'kan bisa tumbuh dengan seiring waktu!" celetukku merasa ada yang menganjal.


"Termasuk dengan hubungan kita ini? Apakah kau sudah mulai suka denganku?"


Kuangkat bibir ini ilfil mendengar kalimat Pak Malik tadi, "Kita beda konteks. Gak akan pernah ada cinta-cintaan!" ketusku dan mengalihkan pandangan.


Sekitar lima belas menit, kami akhirnya sampai di bandara pukul tiga sore lebih dikit. Ya, wajar waktunya anak sekolah pada pulang. Jadi, ya, pastinya akan macet.


"Kalian dari mana aja, sih? Ditelpon pada gak ada yang ngangkat! Kalian gak sayang sama Mama lagi, ya?" omel Mama saat kami sudah berada di hadapannya.


"Bukan kayak gitu, Ma. Tadi, Malik dan Abibah harus bertemu dengan Pak Yanto lebih dulu. Dia lagi terkena musibah," jelas Pak Malik dengan wajah kayak biasanya.


"Halah, alasan aja! Besok juga bisa dilihat, gak harus hari ini banget!" gerutu Mama yang tetap mengomel tak terima dengan alasan Pak Malik.


Pak Malik hanya membuang napas kasar dan aku hanya menampilkan senyum lima jari saja karena bingung harus apa.


Di sini juga ada Mamaku, Papa di mana? Pastinya sibuk dengan kertas-kertas yang ada di meja kerjanya itu.


Mama Dwi mendekat ke arahku membuat aku sedikit bingung harus ngapain dan apa yang akan dilakukannya.


"Cepat isi ini dengan Baby, ya, semoga Mama dan Papa pulang ke sini lagi sudah ada kabar gembira!" ujar Mama mengusap perut rataku.

__ADS_1


Aku langsung membulatkan mata dan menatap cepat ke arah Pak Malik, sungguh aneh rasanya diperlakukan seperti ini.


Mama tersenyum menatap ke arahku dan melepaskan tangannya dari perutku, aku hanya tersenyum kikuk membalas senyuman Mama.


"Aamiin!" seru Mamaku semangat yang berdiri tak jauh dari kami.


"Uhuk!" Aku tersedak air liurku sendiri karena ucapan Mama yang tiba-tiba ikut menimpal ucapan Mama mertuaku tadi.


****


Di dalam mobil menuju apartemen, aku mulai merasa bosen. Menurunkan sedikit kaca mobil agar udara masuk ke dalam ruangan ini.


"Udara sore tidak baik, banyak polusi!" timpal seseorang yang berada di sampingku. Aku langsung menutupnya kembali dan menatap ke arah samping dengan kepala yang miring.


Mobil sampai di depan apartemen, Malik melepaskan sabuk pengaman, "Ehem! Udah sampe," kata Malik menatap ke arah Abibah.


Tak ada sahutan, Malik melihat ke arah Abibah dengan sedikit membungkuk, "Lah, malah tidur dong," ujar Malik menggelengkan kepala.


Dia mengambil kresek yang berisi buah tadi, sengaja membuka pintu samping agar mudah nantinya membawa Abibah.


"Sepertinya setelah ini, aku harus menyuruh kau untuk olahraga agar tubuhmu tak terlalu berat jika kuangkat!" gerutu Malik yang merasa sedikit kelelahan.


Malik menetralkan degub jantungnya yang sedikit ngos-ngosan dan menatap arloji yang tertempel di dinding.


Mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar, suara air sedikit mengusik tidur Abibah.


Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan memindai sekeliling, "Udah di dalam kamar aja." Aku sedikit menggeliat dan merenggangkan tubuh tapi masih berada di kasur.


Suara pintu kamar mandi ingin terbuka membuatku dengan buru-buru kembali menutup mata.


Terlihat Pak Malik keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya di pinggangnya saja, dengan cepat langsung kututup rapat-rapat nih mata.


Astaghfirullah, aku melihat aurora Pak Malik barusan. Dosa-dosa, kayaknya aku harus salat Taubat setelah ini.


Eh, tapi nih mata malah gak sopan. Kulihat kembali ke arah Pak Malik dengan mata yang sedikit mengintip.


Dia sedang memakai baju kaos warna army dan celana panjang joger warna abu, beuh ... damagenya bukan maen, siapa dulu? Suami gue, gitu!

__ADS_1


Kepalanya ingin berputar melihat ke arahku, dengan cepat kembali kututup mataku pura-pura tidur balik.


Suara langkah kakinya mendekat ke arah ranjang, debar jantungku tak karuan dan rasanya tenggorokan seketika kering.


Ada tangan yang menyentuh tanganku yang tertutup dengan gamis, "Abibah, bangun! Sudah sore, mandi sana," suruhnya sambil menggoyang-goyangkan tanganku.


Oke, waktunya acting dimulai. Aku menguap dan mengucek-ngucek mata menatap ke arahnya yang berada di atasku.


"Eh, Bapak kok ada di sini?" tanyaku menatap ke arahnya. Air dari rambut yang basah miliknya menetes ke wajahku, "ih! Keringkan rambut Bapak itu, basah nih wajah saya!" Aku mengerucutkan bibir dan mengusap wajah.


"Maaf, cepetan kamu bangun!" titah Pak Malik dan sedikit menjauhkan kembali wajahnya dari aku.


Saat aku ingin bangkit, tiba-tiba tanganku rasanya licin dan tak mampu bertumpu pada sprei. Alhasil, aku refleks berpegangan pada tangan Pak Malik.


"Aaa ... Pak!" teriakku saat keseimbangan kami tak sama.


Bruk ...!


Aku mengerjap-ngerjapkan mata berkali-kali, posisi yang sangat tidak kuinginkan sebelumnya. Ada desiran dalam tubuhku yang tiba-tiba tak jelas rasanya.


Pak Malik berada di atas tubuhku meskipun tubuhnya tak semuanya menindih tubuh mungil ini, eh! Kok malah pengen semua tubuhnya, sih!


"Pak, Bapak berat!" pekikku dan mendorong tubuh Pak Malik.


Dia akhirnya menjauh dan sedikit salah tingkah, "Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan!" tegasnya dan langsung berlalu dari kamar.


Aku yang sudah duduk menatap ke arah punggung yang menghilang, "Dih, siapa juga yang ngambil kesempatan!" gerutuku dan turun dari ranjang.


Setelah merasa segar dengan baju piyama juga kerudung sport instan, padahal aku tak lagi ingin olahraga. Tapi, tak apalah.


"Lah, kok Bapak gak juga ngeringin rambut, sih? Ntar masuk angin, lho!" tegurku saat melihat Pak Malik masih dengan rambut basahnya tapi sudah sibuk dengan laptop miliknya.


"Biarin aja, nanti juga akan kering sendiri," kata Pak Malik tanpa mengalihkan pandangan.


Aku mengambil colokan sambung yang sampai ke meja, kembali ke kamar dan mengambil hairdrayer.


"Tinggal bilang, 'Sayang, kamu keringkan dong rambut aku' gitu aja kok susah, sih, Pak?" celetukku dan mulai mengeringkan rambut Pak Malik.

__ADS_1


Sedangkan pemilik rambut hanya diam saja dengan apa yang kulakukan, jarinya tampak memberhentikan aktivitasnya tadi.


__ADS_2