Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Soto Bukan Sop


__ADS_3

Pagi ini, Abibah menampilkan wajah marahnya. Dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambut di depan kaca.


Sedangkan tersangka, malah senyam-senyum bahkan sesekali bersiul bahagia.


"Males banget nikah, dah! Mandi harus pagi-pagi banget jadinya! Padahal pas gadis, bisa jam 6 pagi baru habis itu pergi ke kampus," gerutu Abibah dengan bibir yang dimajukan.


"Sayang, kamu mau makan apa? Biar aku masakin?" tanya Malik menatap Abibah yang masih sibuk dengan alat pengering.


"Siying, kimi mii mikin ipi?" ejek Abibah mengulang kalimat Malik, "giliran maunya udah diturutin aja, sok manis banget!"


"Hahaha, tidak dong Sayang. Saya 'kan emang selalu manis memperlakukan kamu."


"Pak, plis deh! Gak usah kayak gitu, geli saya dengernya!" geram Abibah yang mulai emosi mendengar ucapan Malik.


"Eh, kok, kamu jadi beda Sayang? Apa ini horman karena lagi mengandung?"


Mendengar ucapan Malik barusan membuat Abibah semakin kesal, ia meletakkan pengering rambut di meja rias dan berdiri.


"Ini, nih! Yang udah mau melahirkan!" ejek Abibah memukul perut Malik yang memang sudah lumayan membuncit.


Semenjak menikah dengan Abibah, ia memang jadi jarang olahraga ditambah lagi masakan Abibah yang membuat dirinya bahkan bisa nambah nasi lagi.


Malik menatap perutnya yang berada di balik baju, "Ini namanya penghinaan, aku kayaknya harus mulai olahraga lagi deh. Udah hilang nilai plus gantengku karena perut buncit ini."


Abibah sudah bergelud dengan sayur-sayuran di dapur, ia menghidupkan air juga untuk menyiapkan teh dan susu untuknya.


"Sayang, mulai hari ini kayaknya aku akan balik gym deh," ucap Malik dengan suara sendu.


"Bagus, nanti tanya aja sama pelatihnya makanan yang harus dimakan apa aja," kata Abibah tanpa berbalik.


"Kamu mau ikut juga?"


Abibah melirik ke arah Malik sekilas baru menatap ke arah masakannya kembali, "Buat apa? Orang saya udah langsing dan masih muda, gini. Yang harus banyak olahraga itu Bapak, ingat udah gak muda lagi," peringat Abibah dengan suara kekehan.


"Apa kamu tengah mengejekku, Sayang?" tanya Malik dengan suara sedikit marah.


"Bukan, saya hanya berkata jujur Pak. Kejujuran emang menyakitkan, tapi itulah kenyataannya."


"Dih, apa-apaan itu!" kesal Malik mengalihkan pandangannya menatap ke sekitar apartemen.

__ADS_1


"Kayaknya ada yang kurang, ya," sambung Malik dengan Abibah yang sudah menata sarapan pagi ini.


Ia ikut menatap sekitar apartemen mencari yang kurang tersebut, "Apa?" tanya Abibah menautkan alis bingung.


"Suara anak-anak kecil yang tertawa dan menangis," ungkap Malik tersenyum ke arah Abibah.


Mendengar ucapan Malik, Abibah menyunggingkan senyuman menatap ke arah laki-laki itu.


"Anak-anak?"


"Ya, 5 atau 6 gitu?" tanya Malik meminta persetujuan.


"Yaudah, saya kasih aja Bapak ke mantan Bapak itu kalo mau sebanyak itu!" Abibah menjauh dari meja makan kembali ke kamar entah ingin mengambil apa.


"Sayang ... kalau 3 dan 4, gimana?!" pekik Malik tersenyum dari meja makan. Tak ada sahutan dari kamar.


"Yaudah, dua deh dua!"


"Anak! Bukan anak-anak!" ketus Abibah kembali keluar dari kamar dengan memegang jedai miliknya.


"Ya, anak-anak dong Sayang," pinta Malik dengan wajah memelas.


Bahu Malik merosot ke bawah, ia mendengus kesal mendengar penolakan dari istrinya tersebut.


"Padahal, aku bisa menafkahi mereka nanti bahkan sampai sarjana," gerutu Malik menghadap makanan.


"Bukan masalah menafkahi, tapi masalah bisa atau tidak kita sama-sama memberi perhatian juga cinta dan sayang ke anak tersebut. Banyak orang tua yang berpikiran sekedar pendidikan dan uang jajan saja sudah cukup, tanpa mereka sadari perhatian juga sangat dibutuhkan oleh anak mereka," jelas Abibah meletakkan teh di depan Malik dan susu di depannya. Ia duduk di sebrang Malik yang hanya terhalang oleh meja makan.


"Iya, deh, iya," pasrah Malik yang tak tahu bagaimana lagi caranya membujuk Abibah, "tapi, jangan satu juga, ya."


Abibah menaikkan bahunya acuh dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya, "Liat rezekinya aja berapa yang Allah beri, kalo emang dikasih satu, ya, satu aja."


"Yes!" seru Malik seolah diberi celah untuk memiliki anak-anak oleh Abibah.


Mereka menyantap sarapan pagi ini dengan sesekali tertawa juga saling kesal tentu saja yang banyak kesal adalah Abibah.


"Kapan Papa dan Mama akan pulang, Pak?" tanya Abibah menemani Malik yang sedang memakai sepatunya.


"Mungkin bulan depan," ujar Malik dengan mengikat tali sepatu.

__ADS_1


Abibah hanya mengangguk dan ber'oh' ria, "Pak, saya ajak Aulia ke sini gak papa, ya," ucap Abibah meminta izin terlebih dahulu.


"Gak papa, lebih baik kamu sekarang juga ditemeni daripada sendirian. Saya takut kalau kamu kenapa-kenapa," kata Malik yang sudah selesai memasang sepatunya.


Lagi-lagi Abibah mengangguk, diambilnya punggung tangan Malik dan mengecup dengan takzim.


Malik pun tak lupa mengecup kening dan juga pipi Abibah, laki-laki tersebut sudah tak terlihat lagi di dalam apartemen.


Aulia sudah dihubungi Abibah tadi, mungkin wanita itu sudah berada di dekat apartemennya. Sejujurnya, ada perasaan takut setelah berjumpa dengan Celsea kemarin.


Namun, ia tak ingin tunjukkan kepada Malik karena bagaimana pun laki-laki tersebut sudah berusaha untuk membuat yakin Abibah.


Suara ketukan membuat Abibah bangkit dari tempat duduk saat tengah asyik menonton animasi.


Ceklek


Pintu dibuka saat tahu siapa yang berada di luar apartemen, "Good morning epribadeh! Apakah kau sudah sangat merindukan aku?" tanya Aulia yang langsung memeluk dan mencium pipi Abibah membuat sang empu keheranan.


"Dih, lu kenapa dah? Kesambet apaan?" tanya Abibah menempelkan punggung tangannya di kening Aulia.


"Gue gak disuruh masuk dulu, nih?" tanya Aulia dengan nada datar menunjuk ke arah kakinya.


"Yaudah, masuk!" ajak Abibah dan sedikit bergeser di ambang pintu apartemen.


Dirinya kembali mengunci pintu dan melihat Aulia yang tak berada di ruang tamu, wanita tersebut sudah masuk ke dalam dapur untuk melihat tentunya.


"Widih, emang gak salah gue punya sahabat kayak lu. Udah; cakep, baik, pinter, cantik, jago masak pula. Tepat banget dah Pak Malik milih lu," puji Aulia dengan tangan yang mengambil lauk pauk ke piring.


"Makannya duduk dan tangan kanan lu! Kayak apaan aja berdiri segala makan!" suruh Abibah yang sudah duduk di meja makan untuk menemani Aulia sarapan.


Wanita tersebut langsung duduk di bangku yang kosong, dengan kaki yang dinaikkan satu ke atas Aulia mulai melahap masakan Abibah.


"Enak banget sop ayamnya."


"Sop-sop pale lu! Soto itu!"


"Eh, udah ganti nama? Kapan peresmiannya?"


Abibah hanya mendengus kesal mendapat jawaban seperti itu dari Aulia, ada saja jawaban mengelak darinya ketika salah mengucapkan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2