Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Batas Sampai Empat


__ADS_3

Pagi ini, Abibah sudah disibukkan dengan tugasnya sebagai seorang istri. Ia baru saja mencoba untuk membuat spageti.


"Wih ... wangi banget," puji Malik yang datang ke dapur.


"Bapak ngapain? Belum juga sikatan itu," kata Abibah menatap suaminya dengan piring yang di tata di meja makan.


"Ya, kamu yang sikatin dong. Ini, pasangin dasinya juga sekalian."


"Pak, gosah sok manja deh! Nyebelin banget, sih!" ketus Abibah yang sebal.


"Salah kamu sendiri, ngapain dulu goda saya mulu? Sekarang, saya udah tergoda kamu gak kuat 'kan?" papar Malik menaikkan satu alisnya.


Ia langsung duduk dan menyantap spageti buatan Abibah, wanita itu pun akhirnya ikut duduk di samping dengan tangan yang sibuk memasang dasi Malik.


"Enak banget, keren banget sih istriku," puji Malik menatap ke arah Abibah.


"Besok, buatin soto ayam, ya," pinta Malik.


"Kalo gak sibuk, saya buatin Pak. Kalo sibuk, ya, Bapak buat sendiri lah!"


"Yaudah, deh. Kamu buat pas gak sibuk aja."


"Pak, pulang jam berapa nanti?" tanya Abibah yang akhirnya ikut makan setelah selesai memasangkan dasi Malik.


"Jam 6 kayaknya, karena banyak kerjaan. Tau, sendiri 'kan kita habis dari Bandung."


"Jadi, bisa dong saya ke cafe?"


"Tapi, cafe 'kan gak buka sepagi ini."


"Saya ke rumah Aulia aja dulu Pak."


"Ada masalah?"


"Ha? Enggak, kok, Pak. Rindu aja sama dia," kata Abibah dengan cengengesan.


Tiba-tiba, tangannya di genggam oleh Malik dan membuat ia menatap ke arah tangan lalu beralih menatap wajah laki-laki tersebut.


"Kalau ada masalah, bilang sama saya. Saya ini suami kamu, bukan hanya sebagai kepala keluarga tapi saya juga sebagai teman atau bahkan tempat curhat kamu. Jadi, cerita aja kalo lagi ada sesuatu yang buat kamu sedih dan gak enak."


Abibah tertegun mendengar kalimat dari Malik barusan, ia tersenyum dan mengangguk paham dengan apa yang dikatakan laki-laki itu.

__ADS_1


"Yaudah, makan lagi," suruh Malik menunjuk ke arah piring Abibah.


Mereka akhirnya pergi terlebih dahulu ke rumah Aulia, Abibah sudah membawa bekal untuk Aulia. Di balik bekal tersebut ada drama, di mana Malik yang cemburu karena bekal dibuat Abibah hanya untuk Aulia saja sedangkan dirinya tidak.


"Enak banget jadi temen kamu, ya, dibuatin bekel. Sedangkan suami sendiri? Boro-boro dibuatin begitu!" sindir Malik dengan wajah datarnya.


"Hahaha, jadi Bapak cemburu, nih? Pengen juga? Tinggal bilang aja, 'sayang, saya mau dibuatin bekal juga dong' apa susahnya, sih, Pak? Saya pasti buat, kok."


"Ck! Siapa juga yang cemburu!" ketus Malik bersedekap dada.


"Hahaha, yaudah, saya buatin juga untuk suami tercinta saya ini," kata Abibah menggedipkan mata sebelahnya lalu berlari ke dapur meninggalkan Malik yang mematung melihat tingkah Abibah.


"Tuh, anak bener-bener nguji iman banget, sih!" gerutu Malik mengusap wajahnya kasar.


Mereka telah sampai di gang perumahan yang cukup sederhana, "Yang mana rumahnya?" tanya Malik clingak-clinguk karena ini pertama kali ia masuk ke gang ini.


"Maju lagi Pak," suruh Abibah sambil memencet handphone memanggil nomor seseorang.


"Kamu mau rumah kayak gini?" Abibah menatap ke arah Malik.


"Mau, emangnya kenapa Pak?"


"Mmm ... gak papa, tapi kalau buat acara susah dong nanti. Halamannya terlalu sempit."


"Ya, mana tau akan ada acara nikah saya yang kedua kali. Batasnya 'kan empat," jelas Malik tersenyum dengan alis yang dinaik-turunkan.


Tangan Abibah dikepal kuat dan ditunjukkan ke Malik, "Kalau sampai Bapak berani, kepalan tangan saya ini akan mendarat ke seluruh tubuh Bapak!" terang Abibah dengan tatapan tajam.


Bukannya takut, Malik malah tertawa mendengar ucapan Abibah tersebut. Setidaknya, mereka sudah sama-sama tahu bahwa saling mencintai meskipun masih enggan atau malu untuk mengungkapkan.


"Ini rumahnya?" tanya Malik menatap rumah berwarna kuning tanpa pagar tapi dipenuhi oleh bunga-bunga warna-warni.


"Iya, Pak. Yaudah, saya keluar dulu, ya, Pak. Itu dia, udah nongol," terang Abibah menunjuk ke arah ambang pintu yang sudah ada Aulia berdiri.


"Tunggu!" larang Malik yang membuat Abibah terhenti membuka pintu mobil. Menatap ke arah Malik dengan polos.


"Ada apa Pak?" tanya Abibah mengerjapkan mata bingung.


Cup


"Hati-hati, ya, Sayang," kata Malik setelah mengecup kening Abibah membuat wanita tersebut terkejut.

__ADS_1


Malik juga menyodorkan tangan kanannya dan ditatap oleh Abibah, "Salam, bukan di tatap!"


Abibah langsung tersadar dan mencium punggung suaminya dengan takzim, "Hati-hati, ya, Ayang. Assalamualaikum," salam Abibah dan dengan cepat keluar dari mobil.


Ia takut jika suara yang di dayu-dayukannya tadi membuat Malik kembali tergoda padanya, mobil tersebut akhirnya pergi dari halaman rumah Aulia.


"Lama banget turunnya, ngapain aja di dalam tadi?" tanya Aulia saat Abibah sudah berada di hadapannya.


"Biasalah! Mangkanya nikah, biar tau apa yang dilakukan pas di dalam mobil pasangan suami-istri," ejek Abibah tersenyum mengejek.


"Ck! Gak buat gue ngiri pokoknya!" cetus Aulia dan masuk ke dalam lebih dulu diikuti oleh Abibah dari belakang dengan kekehan.


"Gak ada orang?" tanya Abibah menatap seluruh ruangan yang sepi.


"Gak ada, cuma gue doang. Kemarin, mereka memutuskan untuk cerai dan adek gue dibawa sama Nyokap. Sedangkan gue, disuruh di sini aja," jelas Aulia dan duduk di sofa dengan menjatuhkan bobot tubuhnya.


"Tau dari mana? Bukannya kemarin cafe buka?" tanya Abibah dengan menautkan alis dan duduk di samping Aulia.


"Ya, gue sengaja buka buat lupa sama kisah hidup tolol gue ini. Kenapa, ya? Kisah hidup gue gak kayak, lu? Lebih baik sih orang tua gue mati aja dibanding harus pisah gini," papar Aulia dengan penuh kebencian.


Abibah menggelengkan kepalanya, ia mendekap Aulia. Dirinya tak tahu bahwa Aulia menyembunyikan luka sedalam ini pada dirinya.


Padahal, biasanya Aulia akan cerita segala hal pada Abibah. Entah karena dirinya yang sungkan akibat Abibah sekarang sudah menikah atau karena hal lain.


"Lu gak boleh kayak gitu, lu harus tetap bersyukur mereka masih ada. Lagian, mereka juga pisah pas lu udeh gede dan alhamdulillah setidaknya lu gak jadi bahan bully-an anak-anak sekolah seandainya mereka pisah pas lu masih sekolah," lirih Abibah melepas pelukan.


"Hmm ... begitulah, udah, ngapain nangis segala? Gak ada gunanya juga!" jelas Aulia yang diangguki oleh Abibah.


"Ada gue, lu masih ada gue. Cerita aja apa pun itu yang sedang lu hadapi dan rasakan, gue gak masalah, kok."


"Gue gak enak, sekarang lu udah nikah dan gak mungkin gue bisa leluasa cerita apalagi buat jumpa sama lu."


"Lu kenapa ngomong kayak gitu? Ini buktinya gue bisa ketemu sama lu 'kan? Gue bela-belain datang jauh-jauh demi ketemu sama lu, jadi jangan pernah berpikir untuk gak enak atau apa pun itu sama gue. Karena, bagaimana pun dan sampai kapan pun lu tetap keluarga gue!" ungkap Abibah membuat Aulia menghapus bulir bening dari wajahnya dengan cepat.


"Makasih, ya."


"Iya, sama-sama."


Abibah menatap tempat makan yang diletak di meja tadi, "Oh, iya, ini ada makanan. Lu sarapan dulu, sana. Habis ini, kita jalan-jalan. Kan, udah lama kita gak jalan," ajak Abibah dengan semangat.


"Asyik ... gile, gue akan ditraktir sama istri dosen, nih!"

__ADS_1


"Enak aja! Baru aja gajian kemarin, mangkanya gue ngajak sekarang. Biar bisa lu yang traktir!" kata Abibah dengan tertawa sedangkan Aulia mengerucutkan bibirnya.


"Apes dah gue apes!" rutuk Aulia dan akhirnya membuka bekal makanan yang diberi Abibah tadi.


__ADS_2