
Kuperhatikan Pak Malik yang tengah mengemasi baju-baju kami, aku tadinya ingin membantu. Tapi, dia melarang dan malah menyuruh aku untuk tetap duduk serta membawakan susu padaku.
"Jam berapa kita berangkatnya Pak?" tanyaku dengan menatap punggungnya.
"Jam 10," sahut Pak Malik dan membuat aku mengangguk.
Ini baru jam 6 pagi, aku menguap berkali-kali karena merasa masih sangat mengantuk. Koper sudah terisi dengan baju-baju kami.
"Saya bawa ke depan dulu, ya." Aku mengangguk dan Pak Malik keluar dari kamar ini. Handphone Pak Malik berada di nakas samping handphone-ku.
Aku tak pernah mengutak-atik handphone-nya, sedangkan handphone-ku bahkan sudah pernah di sita olehnya.
Kubuka handphone yang ternyata menggunakan kata sandi, "Dih, kata sandinya apaan?" tanyaku yang bingung sendiri.
Kupijit angka 1-4 dan terbuka, "Gak niat amat pasang kata sandi!" Aku langsung membuka dan memencet tulisan 'Google.'
Entah mengapa, aku selalu kepo dengan situs pencarian orang-orang. Bukannya kepo dengan foto atau aplikasi pesannya aku malah lebih kepo ke situ.
Mataku membulat, antara menahan tawa, marah, kesal dan malu melihat apa yang dicarinya. Sangat-sangat tidak bermutu.
Setelah selesai di situ, aku melihat banyaknya notif chat yang dia arsipkan dan yang timbul cuma chat dari aku juga keluarga sebagian yang mungkin dekat dengannya.
"Mis Vilo mana?" gumamku yang baru ingat dengan satu wanita itu. Tak ada chat mereka bahkan di arsipan.
"Gak ada, soalnya setiap dia chat selalu saya hapus dan nomornya gak saya save," timpal seseorang dari ambang pintu yang membuatku seketika menegang.
Aku hanya mampu menampilkan cengiran, Pak Malik mulai mendekat ke arahku dengan senyuman.
"Sudah selesai periksa handphone-nya?" tanya Pak Malik menaikkan satu alisnya.
"Dih, siapa yang periksa handphone Bapak? Pede banget!" ketusku mengalihkan pandangan.
"Oh, ya? Kalau gitu, kenapa handphone saya ada di kamu?" Aku menatap ke arah tangan yang masih menggenggam handphone-nya.
"Tadi, handphone-nya berdering jadi saya angkat!" Aku segera memberikan handphone Pak Malik dan berniat untuk pergi dari kamar.
Namun, tanganku di tahan oleh Pak Malik yang membuat aku bertabrakan dengan dada bidangnya itu.
__ADS_1
"Kau tak perlu takut, tak 'kan ada wanita lain selain dirimu. Bukankah aku sudah janji? Janji ... untuk akan selalu berada di sampingmu."
Aku mendongak mendengar ucapan manis dari Pak Malik tersebut, "Bisakah saya pegang ucapan Bapak tersebut? Untuk tak akan pernah meninggalkan saya?"
Kutatap nanar milik suamiku lekat, dia mengangguk tanda setuju dan tahu bahwa aku sudah sangat berharap pada dirinya.
Di dekapnya tubuh ini dan tanpa perlawanan, aku malah membalas pelukan dari Pak Malik, "Abibah ... i love you," bisik Pak Malik yang nyaris tak terdengar.
Seketika aku langsung membulatkan mata, merasa pipi yang sepertinya panas. Apa barusan Pak Malik mengungkapkan perasaannya padaku?
"Kenapa tak dijawab? Apa kau tak cinta denganku?" tanya Pak Malik yang ternyata menunggu jawaban dariku dengan melepaskan pelukan.
"Ciee ... Bapak nunggu jawaban dari saya, ya?" tanyaku dengan menggoda dirinya.
"Ck! Pede sekali dirimu!" ketus Pak Malik mengalihkan pandangan.
Aku langsung memeluk Pak Malik agar rasa keselnya hilang, "I love you too Pak Malik," kataku mendongak menatap Pak Malik.
Dia tersenyum dengan menatapku, tangannya terulur mengusap kepala yang tertutup dengan kerudung.
"Malik, Abibah. Mob--"
"Maaf, Malik Abibah. Mobil sudah siap, supir sudah menunggu di depan," sambungnya saat ucapannya tadi terjeda dan langsung pergi meninggalkan kamar.
"Bapak, sih! Seharusnya pintunya di kunci, malu 'kan jadinya!" gerutuku yang merasa sangat malu akibat hal yang baru saja terjadi.
"Udah, Pak penjaga udah nikah kok. Masa, dia gak tau hal begini."
"Hal begini apaan?" tanyaku dengan sedikit ngegas.
"Hahaha ... udah-udah, ayo kita keluar," ajak Pak Malik dengan merangkul bahuku.
"Gak usah sok romantis!" ketusku menurunkan tangannya, "dikira gak berat apa, ya?" Aku berjalan duluan dengan menghentak-hentakkan kaki.
Ternyata, selain cuek dan dingin. Pak Malik juga teramat mesum, sungguh dosen yang luar biasa. Aku jadi penasaran, gimana gaya pacaran dia dengan mantannya itu.
Soalnya, aku tak pernah pacaran. Otomatis, aku tak tahu apa saja yang dilakukan oleh orang-orang yang pacaran.
__ADS_1
Apa hanya sekadar; makan, keluar bareng, minum dan jalan-jalan saja. Atau malah, kalau Pak Malik dan Celsea mereka ikut kegiatan sosial?
'Tapi, kalo aku tanya nanti. Aku malah cemburu pulak, hadeuh ... gimana, ini? Aku kepo tapi gimana gaya pacaran mereka,' batinku yang bimbang.
"Kenapa hm?" tanya Pak Malik menatap wajahku.
"Apanya yang kenapa Pak?"
"Kau kenapa dari tadi hanya melamun?"
"Enggak, saya gak ngelamun," kataku mengalihkan pandangan melihat ke arah jalanan.
Persekian menit, kutatap kembali wajah Pak Malik yang ternyata masih melihat ke arahku. Dia menaikkan satu alisnya seolah tengah bertanya.
"Pak, Bapak dulu pas pacaran sama Mbak Celsea gimana, sih?" tanyaku mengunggakapkan isi pikiranku.
"Apanya yang gimana?" tanyanya dengan menautkan alis bingung.
"Ya, jalan-jalan apa pegang tangan atau makan sambil suap-suapan? Atau gimana?" tanyaku dengan nada naik satu oktaf. Lama-lama, emosi juga melawan Pak Malik yang seolah tak paham ini.
"Kayak orang umum pacaran aja, sih," jawabnya santai dengan membuang pandangan.
"Kayak orang umum pacaran itu gimana?" tanyaku yang tak paham.
"Yang seperti Abibah bilang tadilah, gandengan, suap-suapan, kadang juga ciuman. Kalo Bapak dulu, ya, pegangan pinggang kalo lagi naik motor. Nah, kalo orang yang punya mobil sih gak tau ngapain di dalam mobil. Maklum, orang susah Bapak mah," timpal Pak supir yang membuat aku mengepalkan tangan seketika.
Pandangan yang tadi teralih ke depan langsung menatap Pak Malik kembali, wajahnya terlihat panik karena ucapan Pak supir barusan.
"Iya, kayak gitu Pak?" tanyaku mencoba sabar dengan menampilkan senyuman pada Pak Malik.
"Ya, itu Bapak itu. Kalo saya mah enggak kayak gitu, paling cuma jalan doang. Habis itu pulang, dah," jelas Pak Malik yang sudah ketakutan.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, duduk dengan menjauh dari Pak Malik sedikit. Kan, aku malah sakit hati plus emosi jadinya saat tahu apa yang dia lakukan saat pacaran.
"Mangkanya, jangan nanya-nanya masa lalu kalo kamu malah sakit hati kayak gini," imbuh Pak Malik yang malah menyalahkan aku.
"Oh, jadi ini salah saya Pak? Saya yang salah, gitu? Oh, iya, yang bener cuma mantan Bapak doang, ya, 'kan! Sono, sama dia aja Bapak!" omelku menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
Akibat pertanyaanku dan jawaban dari Pak Malik juga supir, di sepanjang jalanan aku hanya diam dengan menatap ke luar.
Sedangkan Pak Malik membujukku sebisanya, tapi namanya cewek, ya, terkenal dengan ngambeknya. Jadi, tentu saja tak akan mudah bagi Pak Malik untuk membuat aku luluh.