Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Menolong


__ADS_3

Tubuhku masuk ke dalam kolam dengan tinggi yang begitu mengalahi aku, aku kira kolam berenang ini rendah.


Ternyata, tubuhku masih jauh tinggi dibanding kolam ini. Berulang kali aku timbul untuk mengambil napas.


"Aulia, tolong gue!"


Aulia gelagapan, ia langsung berenang untuk mengangkat tubuh Abibah. Dirinya kira bahwa Abibah akan sampai ke lantai kolam berenang.


"Abibah!" teriak suara bariton yang masih bisa kudengar. Namun, aku tak kuat lagi untuk ke atas menarik napas.


Alhasil, tubuh sudah berada di dalam air. Tak lama, tubuh Pak Malik memeluk tubuhku dan membawanya naik dari dalam air.


Aku hanya menutup mata dan mulut, sudah tak kuat lagi rasanya. Saat diangkat ke pinggiran kolam.


Aulia tampak pucat, mungkin dirinya takut dengan amukan Pak Malik. Sejujurnya, aku pun sama. Kuperas kerudung agar tak terlalu basah.


"Handphone, handphone gue masuk ke dalam jadinya 'kan!" kesalku menatap dengan marah ke arah Aulia yang masih berada di dalam kolam.


"Nih, pakai handuknya. Bajumu terlihat nanti, Aulia segera ganti bajumu dan datang ke apartemen kami!" tegas Pak Malik dengan mengulurkan handuk yang kuambil cepat.


Baju kerjanya basah akibat menolong aku, kutinggalkan Aulia di dalam kolam. Aku masih sebal padanya.


Di jalan menuju apartemen, aku komat-kamit tak jelas seolah tengah memarahi Aulia.


"Handphone rusak, nyawa hampir melayang! Apes banget, dah!" gerutuku memajukan bibir.


Pintu dibuka Pak Malik, aku segera berlari ke dapur karena di situ memang ada satu kamar mandi.


Tok tok tok.


"Iya, ada apa Pak?"


"Ini baju gantimu," ujar Pak Malik yang berada di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


Kebuka sedikit pintu agar tanganku bisa mengambil handuknya, "Makasih, Pak!" Kututup kembali dan melanjutkan aktivitas mandi.


Keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, kubuka pintu kamar begitu saja dan mendapati Pak Malik tengah mengeringkan rambutnya juga.


"Aulia udah datang?" tanya Pak Malik menatap ke arahku. Dia sama sekali tak ada senyum setelah kejadian tadi.


Aku menggelengkan kepala, "Belum ada Pak." Dia diam, aku bergeming di depan dirinya.


"Apa?" tanya Pak Malik dengan menaikkan satu alisnya menatapku.


"Saya bantuin keringkan, ya, Pak. Saya juga mau keringkan rambut soalnya," bujukku dengan cengengesan.


"Gak perlu!" ketus suamiku mengalihkan pandangan. Nah, kalau begini aku harus gimana. Bingung sendiri bagaimana cara membujuknya.


Karena, selama ini yang sering ngambek cuma aku sedangkan dia paling cuma diam dan itu adalah hal biasa.


Aku terdiam sambil menunggu dirinya, mengalihkan pandangan ke sekitar kamar yang sedikit basah akibat baju Pak Malik tadi.


Kembali ke dapur untuk membuat teh, mana tahu dengan cara seperti ini Pak Malik bisa luluh atau menungguku tak terlalu membosankan.


"Lah, kenapa gak duduk di sini aja lu? Sini!" ajakku pada Aulia sambil meletakkan teh ke meja.


Aulia mendongak dan menatap ke arah Pak Malik yang sudah menampilkan wajah datar ke arah televisi yang mati.


"Udah, gak papa sini aja!" suruhku tanpa bersuara padanya.


Aulia beranjak dan berjalan ke arah sofa single yang ada di sebelah kiri kami, ia meremas kukunya menampilkan wajah sok lugu.


"Ceritakan kronologi kenapa bisa terjadi hal tadi di kolam!" tegas Pak Malik menatap tajam ke arah Aulia yang membuat wanita tersebut kembali menunduk.


Kupukul paha Pak Malik dengan berani, "Biasa aja kali Pak, kayak lagi marahin mahasiswi aja deh," ketusku yang tak terlalu suka dengan sikapnya saat ini.


"Maaf, Pak. Itu tadi karena saya, saya yang narik tangan Abibah sampai akhirnya dia masuk ke dalam kolam berenang," lirih Aulia yang mengaku bersalah dan menatap ke arah Pak Malik.

__ADS_1


"Kau tau kalau dia tidak bisa berenang 'kan?" tanya Pak Malik tegas sudah seperti dosen dan mahasiswi-nya bahkan lebih dari itu.


Aulia mengangguk lemah dua kali, sepertinya dirinya benar-benar mengaku menyesal karena melakukan hal tadi.


"Kau tau bagaimana kehidupan di kota, bukan? Hanya sedikit manusia yang simpati untuk menolong, layaknya tadi. Tak ada yang mau membantu meskipun banyak orang di dalamnya, jangan jadikan nyawa dan ketakutan serta fisik seseorang sebagai bahan lelucon!


Karena, itu gak ada unsur lucunya sama sekali. Kalau saya tadi tidak ada, gimana? Apa yang akan terjadi, apa yang akan kamu katakan sama saya? Kamu hanya akan minta maaf saja 'kan dan mengaku menyesal serta tak sengaja.


Namun, apa kamu bisa mengembalikan seandainya atas lelucon kamu tersebut nyawa istri saya melayang? Siapa yang akan disalahkan? Bukan hanya kamu, tapi juga saya sebagai suaminya!"


Baru kali ini aku mendengar Pak Malik begitu tegas soal sesuatu hal, aku pun menunduk dalam karena merasa takut akan dirinya.


Dari sebrang, terdengar suara isakan. Apakah Aulia menangis? Kulirik ke arah dirinya dengan kepala yang masih menunduk.


Tiba-tiba, ia memelukku kuat, "Maafin gue Abibah, gue emang bodoh gak mikirin keselamatan lu. Kalo tadi Pak Malik gak ada, gue juga gak tau apa yang akan terjadi sama lu hiks ... hiks ... seharusnya sebagai teman gue ngelindungi lu. Bukannya malah hampir membuat lu celaka," lirih Aulia di dalam dekapanku.


Lah, aku kira dia terisak karena dimarahi oleh Pak Malik. Ternyata, dia membayangkan seandainya diriku tadi tidak tertolong.


Hais ... dasar aku, "Udah, gak papa. Gue gak marah, kok, tapi lain kali jangan kayak gini lagi. Mana handphone gue jadinya jatuh ke dalam kolam 'kan!" gerutuku yang masih kesal padanya.


Aulia melepaskan pelukan dan menatapku dengan wajah sendu, "Maafin gue, ya, gue udah bodoh banget. Lu mau pukul gue? Atau mau apain gue? Gak papa, kok, Abibah, gak papa," jelas Aulia memegang tanganku dan menepuk ke pipinya.


"Dih, apaan sih lu!" potongku melepaskan tangan dari genggaman dan wajahnya, "udah-udah, minum dulu tuh. Gak papa, kok."


"Masalah handphone, kau tak perlu khawatir. Saya akan membelikan handphone yang baru untuk istriku, kau tenang saja," ujar Pak Malik yang membuat Aulia mengangguk.


"Sekali lagi, saya minta maaf Pak," kata Aulia dan menatap ke arahku, "Abibah, gue bener-bener minta maaf."


Aku mengangguk dan tersenyum, "Iya, gak papa. Lu juga gak sengaja, gue paham." Kuusap bahunya agar lebih tenang, Pak Malik mengambil cangkir dan menyeruput teh yang sudah tak terlalu panas.


Kuambilkan gelas milik Aulia, "Terima kasih," katanya dengan tertunduk dan menyeruput tehnya pelan.


Aku mengangguk menatap dirinya lekat, ini kali pertama Aulia bertingkah seperti ini. Entah apa yang tadi ia pikirkan waktu menarik tanganku ke kolam.

__ADS_1


Namun, tak apa. Aku masih bisa memaafkan kesalahannya itu, bukankah manusia memang tempat salah dan khilaf?


__ADS_2