
Saat tengah sibuk dengan kertas-kertas, ya, aku mengikuti perjanjian dengan Pak Malik kemarin. Malam ini, aku mulai menyelesaikan skripsi, eh, lebih tepatnya mulai mengerjakan.
"Giliran nyelesaikan tugas aja, nguap-nguap kau!" ketus Pak Malik yang ternyata memperhatikan aku.
"Pak, saya ngerjakan di kamar aja, ya," ucapku sedikit memelas.
"Gak! Yang ada kau tidur nanti di kamar!"
Kubuang napas kasar, tak akan pernah menang memang jika melawan Pak Malik. Kulihat ke arah jam dinding.
Baru jam 7 malam lewat dikit saja, aku sudah mengantuk. Padahal, belum ada setengah jam ngerjain skripsi. Dasar emang godaan setan!
Tok tok tok
Suara pintu membuat aku dan Pak Malik menatap ke arah yang sama, "Siapa Pak?" tanyaku menatap ke arahnya.
"Gak tau," jawab Pak Malik acuh dengan menaikkan bahunya. Aku akhirnya memutuskan untuk membuka pintu dengan mengintip terlebih dahulu.
Mataku membulat seketika saat melihat siapa yang datang, "Kenapa?" tanya Pak Malik keheranan karena tubuhku tiba-tiba membalik menatap ke arahnya.
"Aulia Pak! Aulia ada di depan!" gelagapku yang baru ingat bahwa tadi sore aku yang menyuruh dia untuk datang.
"Ha? Kenapa bisa dia datang? Kau mengundang dia?" tanya Pak Malik berdiri dengan wajah sedikit marah.
"Ya, mana saya tau Pak! Saya kura dia gak akan datang, lagian Bapak kenapa sita hp saya sih! Jadinya, saya gak tau kalo dia serius mau ke sini!" omelku. Akhirnya kami pun berdebat kembali seperti biasanya akibat kejahilan diriku sendiri.
Pak Malik menutup laptopnya dan menatap tajam ke arahku, "Ini pertama dan terakhir kali dia datang ke sini, ya! Setelah ini, tidak ada teman-temanmu yang boleh datang ke sini!" tegas Pak Malik dengan menunjuk ke arahku.
Dia beranjak dari sofa menuju kamar dengan sedikit keras menutupnya, aku langsung tersenyum bahagia.
Seolah Aulia datang di waktu yang tepat, waktu di mana aku ingin bebas dari skripsi itu dan dari pengawasan Pak Malik.
Ceklek
Pintu kubuka dan tersenyum ke arah Aulia yang seketika tersenyum seolah lega, "Kenapa lu?" tanyaku saat tadi sempat mendapati wajahnya ketakutan.
"Gue kira handphone lu dibajak orang, aneh aja. Lu tiba-tiba ada di apartemen," kata Aulia sambil menatap lorong yang ada beberapa kamar lagi.
"Ya, biar mandiri gitu," ujarku bersandar di ambang pintu, "yuk, masuk!" Kubuka pintu sedikit lebar agar Aulia mudah masuk, kulirik ke arah pintu tak ada celah sama sekali.
Artinya, Pak Malik benar-benar langsung mengerjakan tugasnya dan tak peduli dengan tamu yang bisa jadi aku berbohong kalau ini bukan Aulia.
__ADS_1
"Beuh ... cantik banget, gila! Berapa puluh juta lu sewanya? Bego banget gak sih lu? Rumah gede cuma satu orang juga anaknya masa malah pindah ke sini!" cibir Aulia. Aku menelan saliva, takut jika Pak Malik mendengar ucapan Aulia yang mungkin terdengar kasar di telinganya.
Karena, selama ini jika ada Pak Malik di kampus. Aulia pasti akan begitu sangat sopan bahasanya.
"Widih ... udah mau ngerjain skripsi aje lu!" sambung Aulia dan duduk di sofa memegang kertas-kertas yang ada di meja.
Aku berjalan untuk duduk di sampingnya dengan kikuk, ada perasaan yang tidak enak jika nanti Aulia asal ngomong. Mana nada bicaranya keras sekali.
"Jadi, mana yang mau dibakar?" tanya Aulia menatap ke wajahku yang terlihat bingung.
"Gak ada, gue kira lu gak jadi ke sini. Kita makan mie aja, yuk!" ajakku dengan menampilkan gigi rataku ini.
"Dih, kalo makan mie mending gak usah jauh-jauh gue ke sini!" gerutu Aulia dan menyandarkan punggungnya di sofa.
"Kok gak ada televisinya, sih? Banyak yang kosong juga nih ruang," sambung Aulia menatap apartemen yang memang masih banyak ruang kosong di sini.
"Ya, namanya juga masih baru! Wajar kali," kataku dengan sinis.
"Yaudah, makan mie juga gak papa deh!" pasrah Aulia. Ya, daripada gak makan lebih baik dia mau saja dengan tawaranku tadi.
"Oke, yuk, kita ke dapur!" ajakku dan bangkit lebih dulu. Kalau di dapur aku dan dia agak sedikit tenang untuk berbicara, karena tak akan di dengar oleh Pak Malik karena jarak agak jauh.
Aku mengambil mie instan di dalam lemari, Aulia membuka kulkas yang isinya hanya tinggal buah-buahan tadi juga telur 2 butir.
"Nanti gue bungkusin, lu bawa pulang aja," kataku memotong cabe dan bawang-bawangan.
"Asyik! Mana buahan lagi mahal."
"Hm," dehemku dan fokus dengan aktivitas-ku ini, "ke mana lu tadi sama di Irpan?"
"Biasa, nemenin dia main futsal."
"Nemenin apa bayarin?"
"Enggak, nemenin. Lu tau, gak? Dia tadi aneh banget, lho!" papar Aulia bangkit dari bangku dan berada di sampingku.
"Aneh? Kenapa?" tanyaku melirik ke arah Aulia yang memegang apel yang sudah tinggal separuh.
"Ya, dia tadi tiba-tiba belanjain gue. Dia juga ngasih duit gue, pas gue tanya dia dapat uang dari mana. Dia bilang rahasia," jelas Aulia menatap lurus ke atas.
"Putus deh lu, putus aja sama tuh cowok!" saranku padanya.
__ADS_1
"Aelah! Lu mau gue cerita tentang masalah hubungan kami atau kebaikan dia, pasti nyuruh putus mulu! Lu sebenarnya temen gue apa kagak, sih?" tanya Aulia yang berjalan kembali ke bangku.
Aku yang tengah memegang pisau berjalan mendekat ke arahnya, "Karena lu temen gue, mangkanya gue suruh begitu! Itu juga demi kebaikan lu!" terangku menunjuk ke arahnya menggunakan pisau yang kupegang.
Dia mendorong tanganku agar pisau menjauh dari hadapannya, "Biasa aja kali! Serem gue lama-lama liat lu!" protes Aulia pada pisau yang kubuat di depan wajahnya itu.
Aku akhirnya fokus memasak mie yang sudah mulai lembek dengan telur yang sudah tercampur pada mie tadi.
"Jadi, seminggu tutup karena lu mau fokus menyelesaikan skripsi?" tanya Aulia yang menghadap meja makan yang masih kosong.
"Iya, gue harus cepat selesai." Aku mulai membawa mie yang sudah jadi ke meja makan dan mengambil dua piring, sendok dan gelas.
"Tapi, lu gak dikasih izin S2?"
"Ya, terus? Masa gue karena itu gak lulus-lulus? Gue juga bosen kali di kampus itu, muak gue!" keluhku dan ikut duduk di samping Aulia dengan tangan mengambil mie.
"Kenapa muak? Padahal ada Pak Malik yang ganteng, jadi bia cuci mata di kampus," ujar Aulia menopang dagunya.
"Uhuk!" Aku tersedak mie yang masih lumayan panas dan pedas ini karena tadi kutambahi dengan saos cabai.
Aulia dengan segera memberi air minum dan kuteguk hingga tenggorokan merasa lebih baik.
"Lu kenapa, sih? Segitu sukanya sama Pak Malik, ya? Sampe gue sebut namanya lu tersedak gitu?" goda Aulia dengan menoel-noel lenganku.
"Apaan, sih! Siapa juga yang suka sama dosen modelan kayak gitu!" tegasku dengan suara yang sedikit ditinggikan agar Pak Malik bisa denger.
"Eh, awas lho! Katanya, kalo seseorang terlalu membenci kita secara berlebihan. Suatu saat, seseorang itu malah akan mencintai kita secara luar biasa!"
"Ck! Kata siapa pulak itu? Biar aku demo tuh dia, sok-sokan sekali!" cibirku menatap dengan jengah ke arah Aulia.
Pukul setengah sembilan malam, akhirnya Aulia pulang dengan kresek dibawanya berisikan buah-buahan tadi.
Sangat tidak bermalu sekali, bukan? Seharusnya pas aku tawar dia menolak, tapi itu jika yang ditawari bukan Aulia orangnya.
Aku mengetuk kamar, "Pak, Malik! Aulia udah pulang, nih!" kataku menempelkan telinga di pintu.
Tak ada terdengar tanda-tanda kehidupan di dalam, eh! Akhirnya, kuputuskan untuk melihat sedang apa Pak Malik di dalam.
Ternyata, tubuhnya sudah tertutup dengan selimut. Kulihat di bawah ranjang sajadah belum dilipat.
Kulipat dan kembalikan pada tempatnya karena aku memang tengah palang merah, mendekat ke wajah teduh yang tengah tertidur pulas.
__ADS_1
"Gantengnya suamiku," kataku gemes melihat wajah tampannya itu. Tak lama, mataku membulat dan kupukul bibirku pelan.
"Dih, kenapa juga gue bilang nih orang ganteng? Gantengan juga Kak Abil!" gumamku dan menggelengkan kepala.