
Tak terasa, waktu mertuaku untuk kembali ke tanah air sudah tiba. Mereka belum tahu bahwa sekarang kami sudah tinggal di rumah yang dibuat Pak Malik atas namaku.
"Pak, lama lagi gak, ya, Mama sama Papa sampenya?" tanyaku sedikit gelisah. Kami tengah duduk di bangku sedangkan Pak Malik asyik makan ice cream sepagi ini.
"Enak Pak?" tanyaku yang lumayan ngiler melihat Pak Malik memakan ice cream tanpa menoleh ke arahku.
"Iya, enak," jawabnya yang melirik ke aku lalu menatap ice cream-nya kembali.
Aku mengerutkan kening merasa ada yang aneh, bukannya suamiku ini tak terlalu suka dengan ice cream?
Ini sudah sebulan lebih dari pertama kami melihat rumah waktu itu, Pak Malik juga bersikap aneh yang membuat aku kebingungan.
"Pak, apa gak sebaiknya kita ke rumah sakit aja?" tanyaku yang khawatir dengan sikap Pak Malik yang berubah.
Ice cream miliknya sudah habis, "Bersehin, dong," pinta Pak Malik memelas menatapku. Aku menyunggingkan senyum menatap dengan keanehan.
Mau tak mau aku menurut, kuambil bekas ica cream Pak Malik dan membuangnya ke tong sampah.
Mengelap tangan dan juga area mulut Pak Malik yang terkena ica cream menggunakan tisue basah.
"Huwek ...."
Pak Malik berlari ke arah toilet yang ada di bandara, aku segera ikut menyusulnya ke dalam toilet.
Tak ingin terjadi apa-apa dengan suamiku, dia masuk ke dalam toilet laki-laki sedangkan aku hanya bisa sampai depan pintu saja.
"Perasaan, aku tadi pagi gak masak aneh-aneh, deh. Pak Malik kenapa, ya?" gumamku dan menunggu pintu terbuka.
Saat pintu terbuka, nampak wajah pucat seseorang yang terlihat kembali lemas.
"Bapak kenapa?" tanyaku menatapnya yang bingung juga ada apa dengannya.
"Saya juga gak tau," lirih Pak Malik seolah tak bertenaga karena sudah mengeluarkan semua makanan yang dia makan pagi ini.
Aku membantu Pak Malik untuk duduk kembali di kursi tunggu, kuambil minyak kayu putih dan menyapunya ke tangan dan juga tengkuk Pak Malik.
__ADS_1
"Habis ini kita ke rumah sakit aja deh, Pak," kataku yang khawatir jika terjadi apa-apa dengan Pak Malik.
"Jangan panggil saya Bapak lagi bisa 'kan?" tanyanya dengan tubuh yang bersandar di kursi. Aku mengangguk memahami ucapannya.
"Baik, Mas," kataku pasrah.
"Mama sama Papa mana, sih? Lama banget, orang udah mual-mual di sini kelamaan nunggu mereka!" gerutu Pak Malik, eh, sudah berubah sekarang menjadi Mas Malik.
Aku hanya bisa terdiam dan menggelengkan kepala, bingung juga harus menjawab apa. Membiarkan dia sekarang adalah solusinya.
Tak lama, pesawat yang membawa mertuaku akhirnya mendarat dengan selamat. Aku berdiri tak sabar menunggu mereka.
Sedangkan suamiku tampak pucat sekarang wajahnya, ada rasa khawatir dan sudah sangat ingin mereka cepat-cepat sampai di sini.
Agar bisa segera kubawa Mas Malik ke rumah sakit untuk melihat kenapa dia sebenarnya, pasalnya setahuku dia selalu makan.
Tak mungkin rasanya jika dia masuk angin hingga muntah, Papa dan Mama tersenyum mendapati aku yang sudah berdiri menatap mereka.
Mama merentangkan tangan dan langsung mendekap tubuh ini, "Maaf, ya, lama. Soalnya tadi ada kendala," tutur Mama yang merasa tak enak karena kami menunggu lama.
"Kamu kenapa Malik?" tanya Mama setengah panik melihat anaknya yang sudah pucat.
"Ini Ma, tadi tiba-tiba Mas Malik muntah. Abibah juga gak tau dia kenapa, tapi yang pasti mungkin salah makan. Karena kalau akibat jarang makan itu gak mungkin, dia makan mulu, kok," jelasku yang tak mau juga dianggap sebagai menantu pemalas masak hingga membuat suami masuk angin.
"Yaudah kalau gitu, kita langsung ke rumah sakit aja, yuk!" potong Papa dan langsung kuangguki dan Mama.
Terlihat jelas raut wajah Mama yang begitu tampak khawatir terhadap anaknya, aku pun sebenarnya sama.
"Abibah aja yang bopong Malik, Pa," jelas Mas Malik saat Papa ingin membopong tubuh Malik ke dalam mobil.
Papa langsung menatap aku dan Mama secara bergantian, aku hanya menampilkan cengiran dan membopong tubuh Mas Malik.
***
Di dalam ruangan, hanya ada aku, Mas Malik dan dokter yang baru saja selesai memperiksa laki-laki yang sudah lumayan tak terlalu pucat lagi wajahnya.
__ADS_1
Karena di jalan tadi, dirinya meminta makanan yang diinginkan. Mau tak mau akhirnya Papa dan Mama menuruti apa keinginannya.
"Jadi, suami saya sakit apa Dok?" tanyaku menatap dokter laki-laki yang ada di depanku. Kami di suruh ke spesialis penyakit dalam oleh perawat untuk mengetahui penyakit suamiku.
"Ibu dan Bapak salah dokter sebenarnya," ujarnya tersenyum membuat aku mengerutkan kening dan menatap ke arah Pak Malik sebentar.
"Maksudnya Dok?" tanyaku tak paham dengan apa yang dia ucapkan.
"Suami Ibuk tidak sakit apa-apa," ucap dokter tersenyum.
Aku dan Mas Malik kaluar dari ruangan dokter yang salah tadi dengan wajah yang datar dan kaget.
"Kalian. Kalian kenapa?" tanya Mama memegang bahuku.
"Abibah hamil Ma!" teriak Mas Malik yang membuat Mama dan Papa seketika bersorak bahagia.
Mereka juga terkejut mendengar ucapan Mas Malik barusan, aku hanya tersenyum menatap ke arah mereka.
"Lah, kalo Abibah yang hamil. Kok malah kamu yang mual-mual sampe lemas gak jelas kayak gitu?" tanya Papa yang tak mengerti dengan hal ini.
"Iya, Pa. Tadi, dokter jelasin bahwa ini namanya kehamilan simpatik. Saat istri hamil, suami kemungkinan ikut mengalami gejala kehamilan seperti; mual, muntah, gangguan tidur hingga berat badan naik," ungkap Malik yang membuat Mama dan Papa mengangguk paham.
"Kata dokter udah masuk minggu keberapa?" tanya Mama menatap perutku yang tentu saja masih datar.
"Baru minggu ke 8, kok, Ma," jelasku tersenyum ke arah Mama.
Mama hanya mengangguk dengan senyuman yang tak luntur, "Yaudah kalau gitu, kita pindah ruangan. Biar kamu dikasih resep obat."
"Gak usah, Ma. Tadi dokter itu udah ngasih, kok. Tinggal ambil di apotik aja nanti," potong Mas Malik dan hanya kuangguki.
Entahlah, ada perasaan aneh yang muncul ketika tahu bahwa aku tengah mengandung. Apalagi, waktu pernikahanku sudah mendekati satu tahun.
Ya, mungkin ketika anak ini masih di dalam kandungan 1 tahun pernikahan pun akan tiba. Di mana, aku harus mencoba kembali bertanya apakah sudah ada cinta di rumah tangga kami ini?
Setelah mengambil obat, kami langsung menuju mobil dan pulang ke rumah Mama. Papa tadinya mengajak untuk makan terlebih dahulu.
__ADS_1
Namun, Mama melarang karena katanya aku perlu banyak istirahat dan Mas Malik juga tampak kelelahan.