Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Modelan Dedemit


__ADS_3

"Jadi, ada apa lu nyuruh gue datang ke sini? Gak mungkin dong lu mau minjem uang gue?" tanya Aulia dengan memakan cemilan. Kami sekarang tengah berada di ruang tamu.


Selepas ia makan juga mencuci piringnya, dia langsung meninggalkan aku di dapur begitu saja.


"Gue masih kepikiran sama si Celsea itu, pasti dia udah tau sekarang kalo kita kerjain kemarin."


"Tau dari mana?"


"Anak buah dia, maybe."


"Terus, kita harus gimana?"


"Berdoa sama Allah minta perlindungan," celetukku yang kesal dengan wanita yang ada di hadapanku sekarang.


Eh, mau ngapain dia? Beneran mengadahkan tangan dong, astaga. Ini, beneran setres kayaknya Aulia karena orang tuanya pisah.


"Udah, kelar?" tanyaku dengan tatapan tajam setelah dia menangkup tangannya tadi ke wajah.


"Udah, aman deh. Anak yang terdzolimi pasti akan kabul doanya," kata Aulia santai dan kembali memakan cemilan.


"Gue serius, ih, Aulia!" teriakku yang frustasi menghadapi tingkah nih orang. Padahal sudah sarapan, seharusnya normal dong.


Ini, malah tambah parah lagi. Emang lain deh efek ditinggal cowok gak modal itu, rada sengklek nih otaknya.


"Iya-iya, gue juga serius. Pak Malik udah tau soal ini?" tanya Aulia yang sekarang bernada serius sambil menutup cemilan tadi.


"Udah."


"Dia bilang apa?"


"Gue gak perlu takut."


"Nah, itu 'kan udah dapat jawaban. Lu gak perlu takut, artinya Pak Malik sudah melakukan atau membuat strategi untuk melindungi lu dari wanita itu."


"Ya, tetap aja gue gak tenang. Gimana pun dia bisa jadi datang ke kehidupan Pak Malik tiba-tiba dan ngambil Pak Malik!"


"Emangnya, Pak Malik gak ada ungkapan kalau dia cinta ama lu? Kalo gak ada, artinya lu harus waspada karena bisa jadi sih tuh cewek ngambil Pak Malik.

__ADS_1


Tapi, kalo ada. Gak perlu takut, lu pasti akan menang dari masa lalunya. Meskipun, kata orang-orang masa lalu akan tetap jadi pemenang. Tapi, kalo masa lalunya modelan kek dedemit gitu. Siapa yang demen buat menanginnya?"


Mendengar ucapan Aulia, aku seolah mendapatkan pencerahan. Benar juga yang dia katakan.


Aku mengangguk dan sedikit lega, setidaknya menyuruh dia datang ke sini tidak terlalu buruk. Buktinya, mampu sedikit menenangkan diriku.


***


"Pak Malik, boleh bantuin saya ngerjain sesuatu?" tanya Vilo masuk begitu saja ke dalam ruangan Malik.


Laki-laki tersebut langsung kaget, karena Vilo tak mengetuk pintu ruangannya lebih dulu, "Maaf, Mis. Saya juga banyak kerjaan, tolong keluar dari ruangan saya," usir Malik dengan menunjuk ke arah pintu dan berdiri.


"Ayolah, Pak Malik. Kenapa Bapak menghindari saya terus-terusan? Apa ... karena wanita kecil itu? Karena Bapak sudah menikah dengan dirinya jadi Bapak menjaga perasaannya?" tanya Vilo semakin mendekat ke arah Malik.


Dirinya sama sekali tak takut jika Malik seandainya melakukan sesuatu, bahkan hal itu yang dia inginkan.


Agar, ada alasan untuk bisa bersatu dengan Malik--laki-laki yang ia cintai dari bangku SMA dulu.


"Stop Vilo! Jangan membuat saya melakukan hal kasar terhadap wanita!" bentak Malik mendorong bahu Vilo.


Namun, jika wanitanya seperti ini? Apakah tak mengapa untuk melakukannya dengan kasar?


Ceklek


Pintu terbuka dengan Pak Yanto yang masuk ke dalam, "Ngapain Mis Vilo di dalam?" tanya Pak Yanto menatap mereka berdua.


Vilo tampak gelagapan sedangkan Malik bersyukur, setidaknya ada yang membantu dirinya untuk jauh dan tidak melakukan hal yang kasar terhadap wanita tersebut.


"Eh, ini Pak Yanto. Tadi saya mau ngasih berkas ke Pak Malik," gelagap Vilo menunjukkan dokumen yang ber-map biru ke arah Pak Yanto yang sudah berada di sampingnya.


"Sudah selesai? Saya juga ingin bicara sama Pak Malik," ujar Pak Yanto dingin dengan ekspresi datar.


"S-sudah, Pak. Kalau begitu saya permisi, mari!" pamit Vilo dengan cengengesan meninggalkan ruangan Malik.


Malik langsung terduduk di bangkunya dan membuang napas kasar, seolah baru saja bebas dari ujian yang begitu berat.


Ia memijit kepalanya yang terasa mendenyut, Pak Yanto masih berdiri dan menatap wajah laki-laki tersebut tampak stres.

__ADS_1


"Jika kau memang tidak nyaman, lebih baik berhenti dari sini. Bukannya ada perusahaan mertua dan ayahmu?" tanya Pak Yanto membuka pembicaraan.


Malik bergeming, ia menatap ke arah Pak Yanto yang sekarang memilih untuk duduk di sebrang dirinya.


"Kerjaan akan menjadi sangat melelahkan jika kau tak nyaman kerja di dalamnya, entah itu karena rekan kerja, bos atau bahkan upah yang tak sesuai. Kau bisa berhenti dan tak perlu khawatir, kau punya keluarga yang pasti akan memberimu pekerjaan."


"Wanita itu tak akan pernah menyerah mendapatkanmu sampai kapan pun, dia harus diberi pelajaran terlebih dahulu entah itu berupa azab dari Allah atau luka dari tangan kita sendiri. Tapi, ada baiknya tunggu saja azab dari Allah dan cara menunggunya kau tak perlu dekat dengannya lagi. Mintalah pekerjaan dari orang tuamu, mereka pasti akan memberi," sambung Pak Yanto memberi saran pada Malik.


Ia mengangguk, Pak Yanto membuang napas dan berdiri kembali, "Terima kasih Pak," ujar Malik sebelum Pak Yanto pergi meninggalkan ruangannya.


Sebenarnya Pak Yanto tak ada urusan dengan Malik, hanya saja disaat dirinya ingin ke kelas ia mendengar suara keras dari dalam ruangan Malik.


Saat dilihat, sudah ada Vilo di dalamnya membuat Pak Yanto paham dengan apa yang terjadi sehingga membuat Malik semarah itu.


Kepergian Pak Yanto dari ruangan Malik membuat dirinya langsung mempertimbangkan saran dari laki-laki yang sudah mulai senja tersebut.


Benar juga, Papa Malik pasti memiliki satu posisi yang bisa ia isi dibagian apa pun itu. Karena bagaimana pun, Malik pernah bekerja di perusahaan Papanya saat dirinya belum diterima di kampus ini.


Malik mengambil handphone, memencet satu nomor yang sekarang menjadi tempat di mana keluh-kesah ia curahkan.


"Assalamualaikum, Sayang. Kamu lagi apa?" tanya Malik membuka obrolan.


"Walaikumsalam, Mas. Ini, lagi nonton tv sama Aulia," jawabku yang kaget tiba-tiba di telpon oleh Pak Malik.


"Oh, udah makan?"


"Belumlah, baru jam berapa juga ini hahaha," cutusku mencairkan suasana. Kujauhkan sedikit handphone dari telinga agar suamiku tercinta(h) tak mendengar ucapanku.


"Dih, sana dikit lu! Punya suami sana, biar gak nguping!" usirku mendorong tubuh Aulia yang dia tempelkan padaku karena ingin tahu apa yang diucapkan Pak Malik.


"Gitu aja pelit!" gerutu Aulia dan mengambil kembali cemilan yang tadi sempat ia tutup. Aku menjulurkan lidah mengejek dirinya.


Menjauh dari Aulia karena merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi di kampus, "Ada apa Pak? Bapak kenapa?" tanyaku duduk di tepi ranjang dengan sedikit cemas.


"Lah, di mana Aulia?" tanya Pak Malik dari sebrang yang bingung panggilanku sudah berubah.


"Di depan, saya lagi di kamar. Bapak kenapa? Ada hal apa, kenapa telpon di jam segini?" tanyaku berurutan tanpa memberi dia kesempatan untuk menjawab lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2