
"Kalian di Bandungnya baik-baik, ya, Mama dan Papa akan balik lagi ke sini kok. Mungkin, 5-6 bulan lagi. Setelah itu, baru acara resepsi pernikahan kalian akan digelar," ungkap Mama yang membuatku menatap kaget.
"Ma-maksudnya Ma?" tanyaku dengan terbata-bata.
"Ya 'kan pernikahan kalian belum diketahui oleh semua orang, masih keluarga aja. Jadi, biar orang-orang di kampus tau bahwa dosen Malik ini udah ada istri yang begitu cantik!" goda Mama yang berhasil membuat aku malu di ramainya bandara saat ini.
Aku hanya diam dan tersenyum, "Gak kayak gitu juga kali, Ma!" kataku yang sudah mulai bangkit kembali seperti dahulu.
"Mama ini! Kerjaannya menggoda Abibah mulu, kasian dia itu," bela Papa yang dari tadi hanya menyimak ucapan Mama.
"Haha, yaudah-yaudah. Kalau gitu, Mama sama Papa masuk ke pesawat dulu, ya. Kalian hati-hati di jalan dan selamat liburan besok!" kata Mama dan langsung kupeluk tanda perpisahan secara bergantian.
Tangan melambai hingga tak terlihat lagi tubuh mertuaku itu, kami akhirnya berjalan kembali ke mobil dengan, ya, biasa saja tak bergandegan tangan.
"Kita mau tinggal di mana?" tanya Pak Malik memecah keheningan di dalam mobil.
"Ya, apartemenlah Pak! Emangnya, rumah kita udah siap?" tanyaku dengan bercanda dan diakhiri dengan kekehan.
Dia menatap ke arahku dengan dingin, apa aku salah bicara dan menyakiti dirinya? Karena, sudah beberapa bulan pernikahan ini berlalu kami memang masih tinggal di apartemen tersebut.
Pak Malik tak menjawab dan di dalam mobil terasa canggung, aku merasa salah dalam berucap, "Pak! Maafin saya, ya," ucapku dengan perasaan bersalah.
"Untuk?" tanyanya singkat. Ya, memang sejak tadi pagi setelah aku sudah menjadi orang yang lebih semangat lagi dia kembali ke setelan awal. Yaitu; dingin dan singkat dalam berbicara.
"Ya, atas ucapan saya tadi," kataku dan menatap wajahnya. Dia malah menaikkan alis mungkin bingung maksud diriku.
"Yang mana?" tanyanya dengan wajah menyebalkan!
"Dahlah, Pak! Skip-skip!" ketusku yang emosi dan bersedekap dada, mengalihkan pandangan menatap jalanan.
Aku menautkan alis saat merasa aneh dengan jalanan ini, "Kita mau ke mana Pak?" Pasalnya, ini bukan jalan ke rumah orang tua Pak Malik bukan juga orang tuaku apalagi apartemen.
Kami masuk ke kawasan perumahan elite yang cukup terkenal harga rumahnya lumayan mahal. Mobil berhenti di salah satu rumah yang elegan dengan tembok cat gold.
Pak Malik turun dari mobil dan langsung kuikuti agar aku tahu apa tujuan kami untuk ke sini, seorang laki-laki yang masih lumayan muda keluar dari dalam rumah tersebut.
__ADS_1
"Eh, Pak Malik! Kenapa gak ngabari dulu kalo mau datang?" tanya orang tersebut dengan ramah dan berjabatan tangan pada Pak Malik.
"Maaf, Pak. Tapi, gimana? Udah siap?"
"Udah, Pak. Ayo, masuk! Biar saya tunjukkan isi di dalamnya." Laki-laki tadi masuk lebih dulu meninggalkan kami berdua di depan rumah.
Pak Malik menatap wajahku yang masih bingung dengan maksud semua ini, "Ayo!" ajak Pak Malik ke dalam.
"Pak, tunggu deh! Kita mau ngapain ke sini? Gak sopan main masuk ke rumah orang aja," ucapku merasa tak enak.
Terdengar helaan napas keluar dari bibir Pak Malik, dia menatap ke arahku dan aku sedikit mendongak menatapnya.
"Bukannya tadi kau bertanya? Apa rumah kita sudah siap? Nah, jawaban seperti tadi yang kau dengar bahwa rumah ini sudah 'siap'!" jelas Pak Malik dengan menekan kalimat terakhir yang membuat aku membulatkan mata.
Aku tercengang mendengarnya dan berkali-kali mengerjapkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar dan kulihat saat ini.
"Ayo!" ajak Pak Malik lagi dan masuk ke dalam lebih dulu.
"Gile-gile, dari berapa tahun dah ini Pak Malik ngumpulin uang? Gak sia-sia nikah sama Om-om," gumamku masuk ke dalam rumah sambil menatap sekeliling.
Daripada rumah tersebut tidak terurus, lebih baik dihuni dengan orang-orang yang mulia seperti mereka-mereka nantinya.
Sedangkan kantor Papa, aku serahkan pada asisten yang sudah kukenal sejak lama bahwa beliau adalah orang baik.
Atau ... jika memang suatu saat perusahaan itu ada masalah maka akan langsung kujual dan memberikan uangnya ke sumbangan anak yatim atau panti asuhan.
"Gimana Pak Malik? Apa sesuai dengan yang Pak Malik inginkan?" tanya laki-laki yang belum memperkenalkan namanya itu.
Mereka mungkin sudah berkeliling, aku ditinggal sendirian dan tak diajak ke atas. Rumahnya memang tak terlalu luas, tapi ini lebih dari cukup dengan lantai satu dan pagar di depannya.
"Sudah sesuai dengan yang saya mau, kok, Pak. Terima kasih banyak, ya, buat kerja kerasnya."
"Sama-sama Pak Malik," kata pria tersebut dan menatap ke arahku, "ini Mbak Celsea-nya?"
Aku langsung tertegun, ternyata rumah ini adalah keinginan Celsea toh. Aku kira memang khusus untuk kami nantinya, aku mengangguk dan menatap ke arah lantai.
__ADS_1
"Oh, bukan. Ini Abibah, istri saya," jelas Pak Malik dengan suara yang sedikit aneh di telingaku. Apa dia takut bahwa kelinci ini akan berubah jadi harimau?
"Maaf-maaf, saya tidak tau," gelagap laki-laki tersebut yang merasa bersalah, "kalau begitu, saya permisi dulu, ya, Pak. Mari!"
Suara pintu kembali tertutup yang berarti laki-laki tersebut sudah pergi dari rumah ini dan meninggalkan kami berdua.
Tanpa kata, aku langsung beranjak dan bermaksud ingin keluar. Tapi, lenganku di cegat oleh Pak Malik lebih dulu.
"Mau ke mana?"
"Pergi!"
"Kita belum liat rumah ini."
"Kita? Lo aja kali, gue ogah!" ketusku dan menepis tangannya berlalu pergi ke depan.
"Kirain emang sengaja beli buat bersama, eh, ternyata ini buat Ayangnya yang tak sampai itu! Menyebalkan!" gerutuku dengan bersedekap dada dan bersandar di depan mobil sambil menatap rumah ini.
"Kalo gagal move on mah susah, ya, pasti gak bisa jauh-jauh dari tentang mantannya itu," gerutuku lagi dan lagi dengan mengoceh sendiri.
Tubuh laki-laki yang mengatai aku kelinci akhirnya keluar, aku langsung membuang pandangan ke arah lain.
"Kau kenapa?" tanyanya yang langsung membuat aku menatap tajam ke arahnya.
'Woy, Malik! Lu malah tanya kenapa? Buset, gak salah tuh mulut lu! Pen gue gampar aja rasanya tuh pipi lu biar sadar tuh apa salah lu!' batinku dengan bibir yang kumajukan.
"Jangan mengumpat di dalam hati, saya tidak bisa mendengarnya," ucapnya dengan suara yang tak merasa bersalah.
"Pulang!" ketusku dan beralih ke pintu bangku mobil.
"Baiklah," pasrahnya dan aku langsung masuk ke dalam mobil dengan menutupnya cukup kuat.
"Itu saya beli dari hasil nabung sejak masih di bangku SMA hingga sekarang, bahkan itu juga masih ada uang Papa dan Mama yang membantu meski tak banyak. Karena, barang yang diinginkan oleh Celsea dulu bukanlah barang yang murah. Katanya, biar sekali seumur hidup beli barang-barang," jelas Pak Malik tentang filosofi rumah itu.
"Gak ada yang nanya, gak usah cerita apalagi curhat! Saya gak tertarik dengan kisah percintaan Bapak!" tugasku dengan marah.
__ADS_1