Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Berhenti


__ADS_3

Jam 9 malam, aku memutuskan untuk masuk ke kamar karena sudah merasa ngantuk, "Bapak gak mau tidur bareng?" tanyaku yang sudah berada di ambang pintu.


"Sofa lebih nikmat daripada seranjang denganmu!" ketus Pak Malik yang berkata seenak jidatnya.


"Oke, awas aja kalo suatu saat Bapak pindah ke ranjang yang sama dengan saya! Saya mu ti la si, Bapak!" tekanku di kalimat tersebut.


Segera kututup pintu dengan sedikit keras, dasar menyebalkan! Awas saja jika suatu saat dia yang memohon-mohon agar kuberi izin tidur di ranjang yang sama denganku!


Mataku mengerjap dan terusik dari tidur akibat suara petir yang menggelegar dan lampu apartemen yang mati.


Mungkin, pihak PLN sengaja mematikan karena angin juga ikut menyertai. Mereka takut jika ada salah satu aliran listrik yang terkena ranting pohon nantinya.


Kuraba handphone di nakas, "Baru jam 1 pulak!" gerutuku yang hanya terlihat kepala saja. Jujur, aku sangat takut dengan petir.


Itu sebabnya aku tak suka jika terbangun gara-gara suara itu, bingung harus ngumpet dan berlindung dengan siapa.


"Mau keluar, aku juga gak berani. Yaudah, deh. Biarin aja Pak Malik di sofa," kataku mencoba menutup mata kembali.


Terang kembali terlihat dari balik tirai jendela kamar, segera kututup mata dan bersembunyi di balik selimut yang lumayan tebal ini.


"Aaa ... Pak Malik!" teriakku saat mendengar suara petir menggelegar. Aku sungguh ketakutan saat ini.


Suara langkah kaki terdengar, aku tak bisa melihat apa-apa saat ini akibat lampu yang ikut padam.


"Aaaa!" pekikku saat tangan berniat menyingkap selimut yang menutupi tubuh ini.


"Hey! Diamlah, kau kenapa?" tanya Pak Malik dengan suara yang lumayan kuat. Ia menghidupkan senter handphone miliknya itu dan mengarahkan ke platfon.


"Ada petir Pak," tuturku memeluk tubuh sendiri masih dengan berbaring.


"Tak apa, itu hanya suara petir. Tenanglah," bujuk Pak Malik dengan suara yang lebih lembut daripada tadi.


"Saya juga tau itu cuma petir Pak, tapi saya takut!" ketusku yang muak dengan ketidak pekaan makhluk ciptaan Allah ini.


"Ya, jadi? Mau kau gimana? Saya menemanimu di sini tidur, gitu?" tanyanya dengan wajah yang seperti biasa. Datar. Layaknya triplek!


"Gak usah! Udah, sana aja Bapak!" usirku dan membelakangi tubuhnya. Terlihat lagi-lagi kilap masuk ke dalam kamar.


Dengan cepat kututup mata dan telinga karena setelahnya di susul suara petir yang masih tembus ke pendengaranku.

__ADS_1


"Gak boleh ditutup telinganya," larang Pak Malik yang ternyata masih ada.


"Biarin!" ketusku mode jual mahal dan tak peduli dengan apa yang dia ucapkan.


"Huft ... geser, biar saya temani tidur untuk kali ini," suruh Pak Malik dengan helaan napas yang keluar dari bibirnya.


Terlihat sekali dia tak ikhlas dan niat untuk menemani aku, "Gak usah, saya bisa sendirian. Gak papa, kok. Santai aja!" potongku tanpa menoleh ke arahnya.


Kukira suara langkah kaki Pak Malik tadi adalah suara perginya ia dari kamar, ternyata dirinya memutari tempat tidur dan naik ke ranjang di sisi sebelah kananku.


Dia ikut berbaring dan aku langsung menatap ke atas, tak ingin rasanya melihat wajahnya yang menyebalkan itu.


"Saya lagi berbaik hati, kalau mau peluk saya buat berlindung dari petir silahkan."


Aku bergeming, pokonya aku akan jual mahal. Kesal rasanya punya suami seperti dia, apakah dulu pacarnya juga dia perlakukan seperti ini juga?


Tiba-tiba, tangan menggapai tanganku dan membawa aku ke dalam dekapannya, "Gak usah sok jual mahal!" sindir Pak Malik dengan satu tangannya di bahuku dan satu lagi di atas kepala ini.


Wait-wait, apa-apaan ini. Apakah dia kira aku gak akan melakukan hal yang aneh-aneh padanya? Eh, kebalik-kebalik!


Kudongakkan wajah dan menatap wajah tenang suamiku untuk yang kedua kalinya, ganteng banget woy! Beuh ... gak salah pilih deh gue.


"Enggak, besok cuti," sahutku tetap menatap dirinya.


"Baguslah, jadi 3 hari lagi skripsimu sudah harus selesai."


"Eh, gak gitu dong Pak. Besok saya mau main ke rumah Mama, rindu sama mereka!"


"Oh, baiklah!"


Aku akhirnya tidur dengan tangan yang kubuat di atas tubuhnya juga, ya, gimana dia yang ngajarin mau tak mau malam ini kami tidur di ranjang yang sama.


Suara alarm membangunkan di jam 5 subuh, kukucek mata dan melihat ke arah samping. Pak Malik masih pulas tertidur.


Kupandangi wajah laki-laki tersebut dalam diam, senyumku terangkat, 'Wanita yang mendapatkan hati Bapak pasti orang yang sangat beruntung, ya,' batinku membuat senyumku seketika menghilang.


Bangkit dan langsung ke kamar mandi, menyiapkan alat salat untuk Pak Malik. Aku mengguncang tubuh Pak Malik dengan sedikit keras.


"Bangun Pak Malik, saatnya salat Subuh!" perintahku saat menatap wajah Pak Malik.

__ADS_1


"Kau?" tanyanya dan duduk menatap ke arahku.


"Masih palang merah, Pak," ujarku dengan cengengesan.


Dia bangkit dan berniat ingin ke kamar mandi, "Bapak gak mau morning kiss?" tanyaku menggoda dirinya dan berhasil membuat laki-laki itu menatap ke arahku kembali.


"Jangan bertingkah seperti orang dewasa, Abibah!" tekan Pak Malik yang membuat aku malah tertawa.


Dia akhirnya masuk ke kamar mandi, aku menunggu dia di pinggir ranjang. Keluar dengan fresh dan langsung melakukan kewajiban Pak Malik sebagai seorang muslim.


Kuputuskan untuk ke dapur menyiapkan sarapan pagi, terlebih dahulu kubuka gorden untuk melihat keadaan ibu kota di shubuh hari.


Kupotong-potong apel menjadi beberapa bagian dan meletakkannya di atas piring. Setelah itu, menyambung masakan. Niatnya ingin memasak nasi goreng saja.


Kuoleskan selai ke roti, entah mengapa aku ingin rasanya memakan roti pagi ini. Pak Malik ke luar dari kamar, "Pak, mau apa? Teh, kopi, susu atau saya?" tanyaku kembali menggoda dirinya.


"Siapa sih yang mengajarimu mengucapkan kata-kata seperti itu?" tanyanya dan duduk di kursi.


"Kata seorang Ustadz, istri harus sering-sering mengucapkan kata-kata manja."


"Kata-kata manja, bukan kata-kata menjijikkan seperti itu!"


"Hahaha, menjijikkan apaan sih Pak?" tanyaku dan menoel dagunya sambil meletakkan sepiring nasi goreng di meja depannya.


"Abibah!" tekannya dengan geram ke arahku.


"Iya, saya Pak!" ucapku dengan semangat. Aku mengambil roti dan susu, membawa ke balkon tanpa melirik ke arah Pak Malik.


Aku duduk dan menatap hamparan bangunan-bangunan yang ada di depanku ini, memakan roti yang kuolesi dengan selai tadi.


"Kenapa? Apakah kata-kataku tadi menyakitimu?" tanya pemilik suara bariton yang berdiri di ambang balkon.


Aku mendongak dan menggelengkan kepala, mengalihkan pandangan menatap kembali gedung-gedung yang ada.


Bekas hujan tadi malam, membuat hawa dingin masuk ke tulang-tulang. Namun, aku menyukai keadaan tenang ini.


"Maafkan ucapanku tadi," lirih Pak Malik kembali bersuara.


Aku terdiam dan hanyut dalam pikiran, 'Udah aja kali, ya? Gak usah kayak gini lagi, aku kayak menjatuhkan harga diri banget, gak, sih? Menggoda Pak Malik yang bergelar sebagai dosenku sendiri. Huft ... Abibah, sadar! Mau gimana pun lu menggoda atau merayu Pak Malik gak akan buat dia akan jatuh cinta sama lu!' batinku yang miris melihat diriku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2