
Suara bel di depan pintu terus berbunyi, aku yang kini sudah berada di dalam kamar untuk rebahan memutuskan bangkit dan melihat siapa yang ada di depan.
"Pak Malik ke mana, sih? Budeg kali, ya, suara bell gak di denger?" gerutuku sembari melangkah menuju pintu.
Ketika akan berjalan membuka pintu, mataku terfokus dengan seseorang yang tengah tertidur di sofa.
Ternyata, Pak Malik tidur di sofa, "Ada apa, Pak?" tanyaku melihat gofood di depan pintu.
"Ini, Mbak pesanannya. Maaf lama, karena harus antri," kata gojek sembari menyerahkan box makanan.
"Oh, makasih Pak. Udah dibayar?" tanyaku sambil mengambil kantong kresek.
"Sudah, kok, Mbak. Kalau begitu, saya permisi." Aku mengangguk dan menutup kembali pintunya. Berjalan mendekat ke arah Pak Malik.
Berjongkok dan menatap wajah yang tengah terlelap di dalam tidurnya, "Pak," panggilku pelan agar dia tak kaget nantinya.
Tak ada sahutan atau respons, kuguncang tubuhnya dan membuat matanya mengerjap.
"Makanan Bapak udah datang," kataku menunjuk ke arah samping di mana kresek tadi kuletakkan.
"Oh, iya," jawabnya dingin dan langsung bangkit.
Aku pun ikut berdiri sembari memberikan kresek tadi yang sepertinya berisi dua box.
"Bapak mau saya temenin?" tanyaku mengerjapkan mata.
"Gak!" ketusnya dan berlalu meninggalkan aku dengan kresek yang sudah diambilnya.
Aku langsung melongos masuk ke dalam kamar dengan memajukan bibir, "Eh, iya, kata Mama Dwi 'kan Pak Malik gak bisa melakukan pekerjaan rumah!"
Memilih kembali bangkit sebelum dapur nantinya akan berantakan akibat ulahnya, aku sedikit berlari dan saat akan masuk ke dapur.
Pak Malik tengah duduk dan menatap kantong kresek tersebut, "Kenapa kau berlari malam-malam begini?"
"Emm ... enggak, Pak. Saya siapkan makanan Bapak, ya, saya gak akan minta, kok," tuturku dengan cepat mengambil piring, sendok juga gelas di tempatnya tanpa menunggu persetujuan dirinya.
__ADS_1
"Saya bisa sendiri," protesnya tapi kulirik tubuhnya masih tetap duduk.
Aku tersenyum tipis dan akhirnya mulai meletakkan makanan yang dia pesan ke piring yang kusediakan.
Benar saja, ada dua box makanan yang sama, "Kalau Bapak kurang, nanti tinggal letakkan aja di piring kembali makanan yang ini, ya," titahku yang seolah tengah berbicara dengan anak kecil.
Dia menatapku tanpa ekspresi, "Aku bukan anak kecil, tentu saja aku tau akan hal itu!"
"Iya, terserah Bapak deh! Selesai makan langsung shalat Isya dan istirahat Pak. Saya gak tau besok Bapak ada kelas atau tidak, yang pasti saya besok ada kelas dan ingin tidur lebih dulu. Pintu kamar gak saya kunci, kalo mau tidur di kasur tinggal tidur aja!" tegasku dan berlalu meninggalkan Pak Malik di dapur sendirian.
Memang, aku tak menginginkan pernikahan ini. Namun, bukan berarti aku langsung lalai dengan seseorang yang sekarang telah sah menjadi suamiku.
Meskipun, ya, Pak Malik sangat dingin. Mungkin, akibat dia yang masih belum bisa move-on dari masa lalunya.
Tapi, aku sudah berjanji pada Papa sebelum pernikahan terjadi bahwa akan tetap mengurusi Pak Malik meski tanpa cinta.
Anggap saja aku tengah membantu orang lain dengan alibi bahwa membantu sesama itu hukumnya wajib jika kita bisa.
Mangkanya, aku hanya berharap itu saja. Itulah sebab aku mau membantu Pak Malik seperti tadi atau dengan hal yang lain nantinya.
Selesai satu box, Malik kembali menyantap satu box lagi karena memang dari siang dia tidak makan sama sekali. Pagi pun hanya sarapan roti dan susu saja.
Kedua box telah habis, Malik memasukkan box kosong ke kresek kembali dan membuangnya ke keranjang sampah serta langsung mencuci piring, gelas juga sendok yang digunakannya tadi.
"Apakah dia kira aku tak bisa melakukan sesuatu? Ck, dasar!" gerutu Malik sambil mencuci piring di wastafel.
Berjalan kembali di sofa dan menjatuhkan tubuhnya, ia menatap ke arah samping sudah ada peci, sarung dan sajadah, "Sejak kapan dia menyiapkan ini? Bukannya tadi katanya mau tidur?" tanya Malik keheranan sambil menatap pintu yang tertutup meski tak dikunci oleh Abibah.
"Kenapa dengan dia? Kenapa malah berubah seperti ini? Apa dia benaran suka denganku, tapi bukannya aku sudah bilang sama dia untuk jangan ada perasaan?"
Malik bergeming, dia tak tahu apa yang sebenarnya tengah direncanakan oleh Abibah. Dilirik jam dinding sudah hampir jam 9 malam.
Bangkit untuk melakukan salat Isya dan kembali duduk di sofa untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada.
Hingga akhirnya tertidur di jam 12 malam sembari menonton animasi anime yang lumayan digemari oleh Malik.
__ADS_1
***
Sinar matahari mengusik ke kamar, aku mengerjapkan mata dan meraba ke samping kasur.
Tak ada orang, artinya Pak Malik tak tidur di dalam kamar. Kulihat jam yang ada di nakas, aku ada kelas pagi ini.
Mataku membuat kala melihat jam sudah ke angka tujuh, segera bangkit dan mandi tak lupa memakai gamis yang simple dengan kerudung senada.
Aku sedikit berlari kecil dan menatap tubuh yang meringkuk di sofa, biarlah. Itu maunya, aku sudah menyuruh dia untuk masuk ke kamar tapi tak mau.
Membuat sarapan pagi, aku tak tahu dia biasakan makan apa. Namun, kubuat dua nasi goreng dengan satunya kumasukkan ke box nasi.
Rencananya aku akan makan di kampus saja karena waktu semakin mepet, kuoles juga roti dengan selai tak lupa menuliskan pesan.
"Beres!" kataku bangga dengan diri sendiri. Setelah itu berlari karena taksi online yang kupesan sebelumnya sudah berada di depan gedung ini.
"Maaf, Pak saya lama," kataku tak enak dengan napas yang ngos-ngosan.
"Hehe, tidak papa Dek. Ke kampus 'kan?" tanya supir dengan menatap ke arahku. Aku langsung mengangguk dengan menetralkan kembali napas ini.
Huh, baru sehari jadi seorang istri. Sudah sangat repot 'kan, ini alasan aku enggan menikah sambil kuliah. Karena, akan repot di diriku sendiri nantinya.
Kumakan nasi goreng di dalam mobil, jam sudah menunjukkan pukul 8. Aku tak tahu, Pak Malik sudah bangun atau belum.
"Kenapa apartemen-nya jauh banget dari kampus, Dek?" tanya supir di tengah perjalanan.
"Gak tau Pak, ngikut kata mertua aja," ucapku sambil mengunyah nasi goreng buatanku tadi.
"Oh, udah nikah? Saya kira masih gadis," celetuk supir dengan tertawa renyah.
"Bukan gadis tapi masih perawan," gumamku dan menatap nasi goreng yang tinggal sedikit.
"Apa Dek?" tanya supir yang mungkin masih rada-rada dengar ucapanku meski tak jelas.
"Ha? Tidak ada apa-apa, Pak!" potongku cepat dengan cengengesan.
__ADS_1