Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Ngambek


__ADS_3

"Hari ini, Abibah dan Malik mau ke mana?" tanya Pak penjaga pada kami yang sedang sarapan.


"Enaknya ke mana, Pak?" tanyaku menatap ke arah Pak penjaga yang sudah kami ajak berkali-kali untuk makan bersama tadi malah tetap menolak.


"Mmm ... Abibah maunya ke mana?"


"Saya ngikut Bapak aja, deh."


"Oh, baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu."


Aku mengangguk dan menatap punggung yang menjauh, kualihkan pandangan menatap ke arah Pak Malik yang sudah menekuk wajahnya.


"Apa?"


"Gak!"


"Dih, gaje!"


Sore hari, akhirnya aku dan Pak Malik dibawa ke salah satu wisata yang lagi hits, 'Nimo Highland.' Hamparah kebun teh membuat aku takjub.


"Cuma teh doang, bagus di mananya?" celetuk Pak Malik dengan wajah datarnya itu.


Aku langsung menyenggol lengannya menggunakan siku, "Dih, Bapak apaan sih! Bisa gak menghargai orang lain, gitu!"


"Lah, apa? Saya cuma bertanya, ini biasa saja."


"Yaudah, coba Bapak buat kalo gitu!" sewotku dan berlalu meninggalkan dia kembali ke mobil.


Mood-ku seketika hancur akibatnya, padahal jarak tempuh vila ke sini sekitar satu jam. Namun, aku langsung ingin pulang akibat mulut si Malik itu.


"Pak, ayo pulang!" ajakku saat masuk ke mobil.


"Lah, udah selesai liatnya?"


"Udah!" ketusku dengan bersedekap dada.


Tak lama, pintu mobil di samping terbuka dan manusia yang nyebelin pun masuk ke dalamnya tanpa kulihat.


Mobil akhirnya berjalan kembali, entah ke mana tapi semoga beneran ke vila karena mood-ku sangat-sangat hancur dibuat oleh Pak Malik.


Dia seolah tak menghargai usaha pak penjaga yang menyuruh supir membawa kami ke sini.


Kututup pintu dengan agak keras dan langsung berlari masuk ke dalam kamar, tak kuhiraukan senyuman dari pak penjaga yang mungkin dirinya merasa bangga atau bahagia karena kami selesai dari tempat yang di rekomendasinya.


"Kau kenapa?" tanya seseorang dengan suara bariton masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Aku tak menjawab, menatap benda pipih sambil rebahan. Melihat-lihat film atau animasi yang bagus dan menarik.


"Kalau orang ngomong itu dijawab, Allah ngasih mulut agar bisa ngomong!" tegasnya dan langsung kulirik sekilas ke arahnya.


"Gak papa," jawabku singkat dan menatap kembali handphone.


"Setiap orang punya pendapat sendiri dan menurutku itu biasa saja."


"Oh!"


"Hmm," dehemnya sambil membuang napas kasar. Mungkin, dia lelah menghadapi sikapku ini.


Namun, ini juga akibat dirinya yang kalo ngomong gak disaring dulu. Dia pergi dari kamar, aku tak mau tahu sedang apa dia biarkanlah dia lihat istrinya itu. Lebih tepat dipanggil istri, sih, daripada laptop.


***


"Pa, apa menurut Papa mereka sudah saling cinta?"


"Entahlah, Ma. Melihat mereka, sepertinya belum ada cinta di pernikahan mereka berdua."


"Jadi, kita harus gimana? Sebentar lagi mereka juga akan setahun, bagaimana kalau Abibah menuruti ucapan orang tuanya waktu itu bahwa dia boleh gugat cerai jika setelah satu tahun tak ada cinta di rumah tangga mereka?"


"Kita doakan saja Ma."


"Tapi, kita juga gak bisa paksa Abibah untuk bisa bertahan di hubungan yang dia tidak inginkan, bukan?"


"Iya, sih," pasrah Dwi bersedekap dada dengan wajah yang cemas dan merasa takut.


"Kita berdoa saja, apa pun yang menjadi keputusan Abibah nantinya. Mau tak mau kita harus ikuti." Dwi hanya mampu mengangguk lemah.


Silki memang memberi tahu tentang perjanjian dirinya dengan Abibah dulu kepada Dwi. Entah Abibah masih ingat atau tidak.


Namun, mereka berharap bahwa Abibah sudah mulai mencintai Malik dan tak akan pernah menggugat perceraian itu.


***


"Tinggal beberapa bulan lagi, aku bisa memilih untuk bertahan atau pergi," lirihku dengan melihat ke arah kalender yang ada di handphone.


"Gimana, ya? Apa yang akan aku lakukan? Aku ingin bertahan, tapi sikap dan kelakuan Pak Malik seolah mengusir agar aku segera pergi."


"Aku juga malu jika harus cerai di usia muda, siapa yang ingin? Namun, memaksa bukanlah diriku. Aku lebih baik melepaskan jika hanya aku yang memiliki perasaan."


Tok tok tok


"Siapa?" tanyaku sedikit berteriak.

__ADS_1


"Abibah, ayo makan malam!"


"Dih, ngapain harus ngetuk segala? Apa ... aku tanya sama Pak Malik sekalian soal hal ini, ya? Biar aku tau selanjutnya harus apa," pikirku dan berjalan keluar dari kamar.


Dia tak menunggu diriku setelah memberi tahu untuk makan malam, di meja makan hanya ada suara dentingan sendok yang bersahut-sahutan.


"Jika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, maka sampaikan saja!" jelas Pak Malik dengan menatap nasinya lalu melirik aku yang terciduk tengah menatap dirinya.


Aku diam, tak menjawab apa pun. Kan, masih mode ngambek. Nanti saja, pas aku sudah merasa lebih baik baru akan bertanya soal rumah tangga yang tak jelas ini.


Mengenai pembantu, ternyata pembantu di rumah ini adalah seorang janda dengan anak dua orang. Dirinya berusia 30 tahun saat ini.


Katanya, dia cerai karena di dalam rumah tangga selalu ada pertengkaran tanpa ada kesudahan. Setiap kali dia mengalah pun akan terus dan terus bertengkar.


Masalah sepele pun nanti akan dibuat jadi masalah besar bagi suaminya, hingga membuat dia tak tahan dan memutuskan untuk berpisah.


Anak-anaknya ikut dengannya semua, rumahnya tak terlalu jauh dari vila itu sebabnya membuat dia bisa untuk pulang-pergi tanpa menginap.


"Mbak, besok bawa anak-anaknya, ya. Saya mau kenalan," ujarku saat Mbak tengah memberikan teh dan susu ke mejaku.


"Tapi, nanti mereka memberantaki dan rusuh Neng Abibah. Saya juga susah buat kerjanya nanti."


"Gak papa, saya ajak mereka nanti jalan-jalan. Gak papa 'kan?" tanyaku tersenyum dengan menaikkan alis sebelah.


"Aduh, Neng. Ngerepotin, lagian di rumah juga ada Ibu saya yang jagain mereka, kok."


"Ya ... sekali aja Mbak, boleh, ya?" pintaku dengan wajah memelas dan menangkupkan tangan di depan.


"Kasih aja Mbak, saya akan bantu dia jaga anak Mbak nanti. Gak papa," timpal Pak Malik yang dari tadi hanya menyimak obrolan kami.


"Yaudah, besok saya ajak mereka," katanya dan membuat aku tersenyum lebar.


"Makasih, Mbak!"


"Saya yang harusnya bilang makasih, soalnya mau direpotin sama anak-anak saya."


"Hahaha, gak papa Mbak. Gak ngerepotin, kok."


Mbak kembali ke dapur, sedangkan aku meminum setengah gelas susunya dan langsung beranjak berniat ingin ke kamar.


"Habiskan atau batal anak Mbak bermain denganmu?" Suara seseorang yang seperti ancaman terdengar di telingaku. Aku hanya melirik sekilas dan berlalu pergi begitu saja.


Aku adalah wanita yang mampu untuk ngambek ke seseorang dalam waktu yang lama kalo orang tersebut gak bujuk atau minta maaf.


Biarkan saja, biar Pak Malik tahu rasa. Dikira aku akan luluh gitu saja dengan dia yang tadi membantu aku dalam membujuk Mbak? Tidak akan!

__ADS_1


__ADS_2