Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Buronan


__ADS_3

"Pak, setelah saya cek. Tidak ada perusahaan atas nama itu, sepertinya kita sedang dijebak," kata asisten Papa Malik menghadap ke ruangan bosnya itu.


"Apa?" tanya laki-laki itu kaget. Ia langsung berdiri dan mengecek handphone, melihat ada pesan dari Malik.


"Ini juga udah berapa jam Malik gak balik juga, saya harus segera menyusul ke sana!" tegas Papa Malik dan keluar dari ruangannya tergesa.


Ia takut jika terjadi sesuatu dengan anaknya tersebut, "Kenapa bisa baru sadar bahwa dijebak diwaktu sudah mepet seperti ini! Kenapa tidak dari tadi sadar bahwa sedang dijebak, dasar payah karyawanku semuanya!" geram Papa Malik di dalam mobil.


Dirinya menjalankan roda empat dengan begitu cepat, memang perusahaan Papa Malik tak terlalu besar tak juga perusahaan terbesar di Indonesia.


Namun, setidaknya bisa mengurangi pengangguran di Indonesia meskipun tak banyak-banyak.


***


"Kita rekam aja atau gimana, ya, Sayang? Mmm ... rekam aja kali, ya, agar istri kamu itu tau bahwa kamu masih sayang sama aku. Bentar, aku mau rekam dan kirim foto tadi ke nomor istrimu," jelas Celsea duduk di pinggir ranjang.


Dia meminta pelayan hotel untuk memindahkan Malik ke ranjang karena dirinya tentu tak akan kuat untuk memindahkan laki-laki itu.


Jadi, terpaksa dirinya memerlukan bantuan dari laki-laki. Saat dirinya sedang sibuk mengetik pesan.


Malik mengerjapkan mata dan memegangi kepala yang dirasa pusing, ia menyipitkan mata dan melihat ke arah sekita sedang berada di mana dirinya.


Celsea sudah selesai mengirim pesan dan meletakkan handphone ke nakas, saat ia melihat ke arah ranjang, kaget yang ia terima.


Malik sudah bersandar untuk mengumpulkan kekuatan dan ingatan dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"K-kamu, sudah bangun Sayang?" gelagap Celsea menutup mulutnya.


"Kanapa aku ada di sini! Dan kenapa kau bisa-bisanya ada di sini! Apakah kau baru saja menjebakku?" tanya Malik dengan menaikkan nada suaranya satu oktaf.


"B-bukan, meeting memang akan mulai. Cu--"


"Apa yang mau kau bilang Celsea? Aku tak habis pikir betapa murahannya dirimu, kau ingin aku tanpa berpikir resiko buat dirimu sendiri!" hina Malik dan turun dari ranjang.


"Ya, aku memang wanita murahan. Aku tak memikirkan apa yang akan terjadi nantinya, karena saat ini aku hanya ingin dirimu. Hanya kamu Malik, aku mau jadi yang kedua atau bahkan simpananmu. Gak masalah, aku gak papa Malik.

__ADS_1


Tolong Malik, kembali padaku. Maaf karena waktu itu aku pergi begitu saja, tapi aku pergi bukan tanpa alasan. Ada alasan yang membuat aku terpaksa pergi jauh darimu Malik," jelas Celsea dengan sendu. Ia mendekat bahkan ingin memeluk tubuh Malik.


Dengan cepat Malik mendorong tubuh wanita tersebut menjauh darinya, "Jangan gila! Jika pun kau ingin gila, cari suami orang lain. Bukan aku!" tegas Malik dan mendapati ada handphone Celsea yang merekam.


Ia menautkan alis dengan tatapan marah, diambil handphone tersebut dengan kasar dan dihapus begitu saja.


Celsea yang baru menyadari bahwa hal tersebut diketahui Malik langsung panik, "Jangan hapus Malik, kembalikan handphone-ku!" ujarnya dengan berusaha mengambil handphone-nya dari tangan Malik.


Beruntung, laki-laki itu lebih tinggi dari Celsea. Ia jadi bisa menghapus meskipun merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Celsea.


"Kau mengirim foto menjijikkan ini pada istriku?" murka Malik menatap nyalang ke arah Celsea. Mendengar suara Malik seketika Celsea menjadi terdiam dari berontakannya tadi.


"Iya! Emangnya kenapa? Biar dia tau kalo kamu itu cuma milikku!" tegasnya yang juga tak mau kalah.


Malik mengepalkan tangan dan segera menghapus pesan yang sudah centang dua abu-abu.


Karena dikirim sudah lumayan lama, foto tersebut tak bisa lagi dihapus. Malik hanya mengeram, tak mungkin ia lampiaskan amarahnya ini pada seorang wanita.


Semua foto dan video dihapus Malik melalui file agar tak ada yang tertinggal lagi.


"Angkat tangan kalian!" titah polisi satu lagi. Setelah itu, mereka masuk dengan Papa Malik di dalamnya.


Satu polisi mendekat ke arah mereka dan memegang tangan Celsea, "Ada apa ini? Saya tidak melakukan kejahatan polisi!" teriak Celsea memberontak.


"Kau terkena pasal penjebakan dan bukankah di luar negri kau juga punya kasus pembunuhan? Bagaimana kau bisa kabur dan lolos dari bandara, ha?" tanya polisi tersebut tegas dan membuat nyali Celsea seketika menyiut.


"Apa kau meminum ini?" tanya polisi yang satunya menunjuk ke arah minuman.


"Iya, Pak," kata Malik mengangguk.


"Apa kau tak bisa mencium bahwa ada wangi aneh seperti ini?" tanya polisi dan mendapatkan gelengan dari Malik.


Polisi tersebut lantas bergeleng, "Banyak-banyak belajar soal mencium bebauan begini, kau bisa mati jika terlalu polos seperti ini!"


Malik bergeming merasa tersindir dengan apa yang diucapkan oleh polisi tersebut, Celsea akhirnya dibawa ke kantor polisi guna penyelidikan dan apakah benar dia pelaku pembunuhan tersebut karena wajahnya hampir mirip bahkan 100% mirip.

__ADS_1


Malik dan Papanya jalan bersama-sama di koridor hotel, rasa bersalah di hati Papanya pun timbul karena tak mencari tahu terlebih dahulu.


"Pa, Malik izin pulang, ya. Soalnya tadi Celsea ada ngirim foto saat kami berdua ke nomor Abibah. Malik takut kalau Abibah jadi salah paham," panik Malik yang baru tersadar soal foto yang sudah terkirim tersebut.


"Baik, pulanglah cepat. Jika dia tak percaya langsung hubungi Papa, biar Papa yang menjelaskan dengan Abibah," kata Papa Malik dengan wajah bersalah.


"Iya, Pa, terima kasih. Malik pergi dulu, ya. Assalamualaikum," pamit Malik dan berlari dari koridor hotel.


***


Aku baru pulang dari pasar setelah cukup lama berbelanja, padahal belanjaannya tak terlalu banyak.


Hanya saja, karena ulah pedagang yang mengajak cerita dan curhat. Aku terpaksa mendengarkan karena tak enak jika ditinggal begitu saja.


"Emangnya aku tempat pengaduan keluh-kesah kali, ya? Mana lama banget lagi ceritanya," gerutuku dan menutup pintu kembali.


Berjalan ke arah dapur dengan tangan mengibas wajah agar angin bisa terhembus ke wajah yang sudah penuh dengan keringat.


Kuletakkan kantong belanja, mencuci kaki dan tangan terlebih dahulu baru menyusun belanjaan. Kuambil handphone terlebih dahulu berniat untuk menghidupkan musik agar jangan terlalu sunyi rumah ini.


Namun, saat aku ingin menghidupkan musik. Pesan masuk dari nomor yang tak kukenali dan bahkan tak disimpan.


"Nomor siapa ini?" tanyaku dan membuka pesan apa yang dia kirim. Aku terdiam sesaat melihat nomor yang mengirim foto bersama dengan suamiku yang tengah tertidur.


Kubaca pesannya, tak lama panggilan dari Papa masuk dan segera kuangkat.


"Iya, ada apa Pa?"


"Kau sudah melihat pesan yang dikirim Celsea?"


"Udah, Pa. Ini baru saja," kataku santai sambil memilih duduk.


Papa akhirnya menjelaskan dengan rinci kejadian juga foto-foto sebagai bukti bahwa dirinya tak sedang membela anaknya dan menyalahkan wanita tersebut.


Sebenarnya, hatiku sudah merasa tercabik ketika melihat foto tadi. Namun, bukankah sebagai wanita yang terdidik kita tak boleh langsung gegabah dan harus berusaha tenang?

__ADS_1


Aku hanya mencoba melakukan hal tersebut, aku takut jika aku panik dan menangis tak karuan itu berdampak pada calon anakku.


__ADS_2