Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Disita


__ADS_3

Aku keluar dari persembunyian saat Mis Vilo sudah memutuskan pulang, kuusap dada tanda lega.


"Pak, balikin handphone saya!" pintaku dengan menadahkan sebelah tangan.


"Gak! Selesaikan dulu skripsi kamu, selama seminggu handphone kamu akan saya sita!" tegas Pak Malik seenak jidatnya.


"Oh, gak bisa gitu dong Pak. Itu 'kan handphone saya. Bapak jangan lupa sama perjanjian yang telah Bapak buat sendiri!" protesku dengan sedikit tersenyum mengingatkan kembali perjanjian yang dia buat sendiri waktu di mobil waktu itu.


"Persetan dengan perjanjian itu!" Pak Malik berlalu dari hadapanku menuju sofa, aku berdecih dan meletakkan tangan ke pinggang.


Menatap ke arah Pak Malik dengan tak percaya, "Ayolah, Pak! Saya harus apa kalo gak ada handphone? Di sini juga gak ada televisi!" terangku berjalan mendekat ke arah Pak Malik.


"Besok saya akan belikan!" Tanpa menoleh, dia berujar seenak jidatnya.


Aku menatap tajam wajahnya dari samping, ingin sekali kucabik-cabik wajah yang lumayan ganteng miliknya ini.


"Daripada kamu liatin saya, mending mulai kerjakan skripsi kamu!" tegur Pak Malik yang membuat aku kaget.


Dengan rasa kesal, aku kembali ke kamar. Bangkit dengan perasaan jengkel kepadanya, "Mending tidur, ogah banget siapin skripsi! Lagian, dia siapa yang bisa nyuruh-nyuruh gue?" gerutuku dan menutup pintu dengan keras. Sengaja!


Malik hanya menatap ke arah pintu yang sengaja di banting, ia memijit pangkal hidungnya menahan kekesalan menghadapi tingkah Abibah.


Dia melihat ke arah handphone yang ada di tangannya, "Nih orang juga apaan, sih? Gak bisa nelpon satu kali aja?" omel Malik melihat nama Abil yang tertera tadi memanggil Abibah.


"Ya, Allah. Bosen banget, astaga!" pekik Abibah berada di dalam kamar dengan berguling-guling di atas kasur.


"Eh, mending drakoran aja!" pikir Abibah segera bangkit dari tempat tidur dan sedikit membenarkan kerudungnya yang sudah berantakan.


Di buka pintu dengan pelan dan menatap ke arah Pak Malik yang sama sekali tak menatap ke arahnya.


"Pak!" panggilku yang sudah kembali berada di samping Pak Malik.


Ini kayaknya, kalo aku ngambek mau seribu tahun juga dia gak akan pernah peduli dan mau membujuk sih.


Jadi, ya, gak papa deh. Gak jual mahal sama dia, daripada gabut di kamar 'kan?


"Hmm," dehemnya. Buset, gini banget nikah sama orang yang gak cinta sama kita. Sungguh menyedihkan!


"Pak, saya mau minta handphone saya dong. Saya gak tau mau ngapain, saya belum ngantuk juga ini," mohonku dengan wajah dipasang dengan memelas.

__ADS_1


"Saya di rumah aja gak pernah disita-sita barang saya sama Mama dan Papa, tuh," sambungku sambil melihat ke arah meja yang masih kosong seperti hatiku dan hati Pak Malik.


"Terus?" tanya Pak Malik menatap ke arahku dan menghentikan aktivitasnya.


"Ya, jangan buat saya gak nyaman di sini dong!"


"Apa kau di rumah nyaman dengan segala kebebasan yang diberi oleh orang tuamu?"


"Nyamanlah! Damai gak ada peraturan yang dibuat!" tegasku dan tersenyum ke arahnya.


"Kau nyaman, tapi kesepian 'kan? Hingga membuat kau sampai pernah tidur di cafe selama satu bulan?"


Aku terdiam, kaget karena Pak Malik bisa tahu akan hal itu. Itu sudah lama terjadi, tapi entah bagaimana dia bisa tahu akan hal tersebut.


Aku menunduk, capek juga ternyata jika harus berdebat terus-menerus dengan Pak Malik. Mana, dia bawa-bawa masa lalu lagi.


"1 jam!" katanya membuat aku mendongak menatapnya.


"1 jam pakai laptop saya dan besok kamu sudah harus fokus mengerjakan skripsi! Saya gak mau tau, kamu harus lulus dengan teman-teman kamu yang lain!" tegas Pak Malik dan membuat bibirku maju beberapa inc.


"Kenapa? Gak mau?" sambung Pak Malik dengan cepat kugelengkan kepala. Sangat plin-plan, tadi baru dikasih izin sekarang malah gak dikasih!


Laptop sedikit kugeser ke depanku tapi tetap berada di meja, masuk ke satu aplikasi berwarna merah yang memiliki video-video.


"Astaga, bukannya soal kuliah malah drama korea yang kau liat!" cibir Pak Malik mengusap wajahnya kasar.


"Ya, gak papa dong Pak. Hari ini refreshing dulu, besok baru deh bergelut nih pikiran sama materi buat skripsi!" celetukku dengan cengiran.


Punggung kusandarkan ke sofa dan mengambil toples yang berisi makanan, kupeluk bantal kecil dan melirik sekilas ke arah Pak Malik.


Dia juga ternyata melihat apa yang ditayangkan di laptopnya itu, tapi tak terlalu seserius aku.


"Sweet banget pasti kalo punya pasangan kayak gitu, se-frekuensi!" tuturku senyum-senyum tak jelas sambil menyimak film.


"Aaa ...! Kapan punya suami kayak gitu, sih? Pengen banget!"


"Beuh ... cuma ada di drakor ygy."


"Mau dong jadi selingkuhan."

__ADS_1


"Hahahah."


"Bisa diam aja gak, sih?" geram Pak Malik karena aku mengoceh tak jelas dari tadi. Aku langsung menatap ke arahnya.


"Emangnya nonton horor Pak? Harus diam segala?"


"Orang-orang bisa biasa aja nonton, kau ribut sekali!"


"Orang-orang bisa diam kalo ada yang ribut nonton, Bapak kok protes sekali!" tegasku tak mau kalah darinya.


Kujereng mata ini dan kembali fokus ke laptop, setengah jam sudah berlalu. Entah bagaimana bisa, kantuk pun menyerang mataku ini.


Toples kuletakkan kembali ke meja dan menyapu-nyapu tangan agar tak ada tertinggal sisa bumbu cemilan itu.


Mataku semakin berat rasanya, padahal keinginan melihat episode terakhir sampai habis adalah keinginanku.


Setelahnya, gelap. Tak ada lagi terlihat apa pun. Malik melirik ke arah laptopnya yang video tersebut masih ada waktu beberapa puluh menit lagi.


Ia menopang kepala dan menatap ke arah lain dengan sabar, mau tak mau hanya itu yang bisa dilakukan.


Tak berselang lama, ada benda yang menimpa bahunya dan membuat Malik kaget bukan main, "Lah, Abibah!" panggil Malik menepuk pipi Abibah pelan.


Suara dengkuran halus keluar dari bibir Abibah yang sedikit terbuka, Malik menghela napas. Ia menghentikan video yang ada di laptopnya.


Menggendong Abibah masuk ke kamarnya, Malik melakukan itu setelah memanggil dan menepuk-nepuk pipi Abibah pelan tak mampu membuat wanita itu terjaga.


Setelah meletakkan Abibah di kasurnya, Malik menarik selimut menutupi tubuh Abibah sampai perut wanita itu saja.


Dipandangi Malik sebentar ke wajah tenang milik Abibah, "Kau keras kepala, tapi masih mau menurut dengan kataku juga," ucap Malik tanpa sadar menampilkan senyuman.


Dirinya tersadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan, "Malik-malik, lu kenapa kayak gini? Gak-ga!" Malik mengusap wajahnya dan segera pergi meninggalkan kamar Abibah untuk kembali bekerja.


Ada berbagai kerjaan yang harus dia selesaikan, mengkoreksi dan memberi nilai untuk mahasiswa/i yang ada.


"Halo, ada apa Ma?" tanya Malik ketika panggilan masuk dari Mamanya.


"Besok kalian jangan lupa, ya!"


"Iya, Ma."

__ADS_1


"Yaudah, istirahat kamu. Jangan begadang mulu sama Abibah," ejek Dwi dari sebrang dengan kekehan.


"Hmm," dehem Malik dengan malas dan mematikan panggilan lebih dulu.


__ADS_2