Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Ada Perasaan Sakit


__ADS_3

Pernikahan tanpa adanya cinta dari belah pihak, apakah semua itu keinginan? Tidak, bahkan mungkin tak ada yang mau berada di posisi itu.


Setiap orang terlebih lagi wanita pastinya menginginkan pasangan yang mencintai, menyayangi, memperjuangkan dan menghargai wanitanya.


Meskipun sederhana kehidupannya, wanita akan mampu bertahan dalam segala keadaan asalkan aspek tadi terpenuhi.


Entahlah, entah dari mana dorongan agar membuat Pak Malik mencintai aku muncul. Hanya saja, sebagai seorang wanita aku ingin memiliki rumah tangga layaknya orang-orang di luaran sana.


Namun, ya, bukankah tidak semua rumah tangga itu sama? Kuhela napas kasar menahan diri untuk tetap kuat menjalani rumah tangga ini sampai beberapa bulan lagi ke depannya.


"Ada apa?" tanya Pak Malik yang ternyata mendengar helaan napasku.


"Gak papa Pak," jawabku yang tetap fokus menatap ke depan dengan kertas skripsi di pangkuan.


Kami tengah berada di jalan raya menuju ke rumah orang tuaku, sebelumnya aku sudah mengabari mereka lebih dulu.


"Kau kenapa, sih? Dari tadi pagi udah murung, kau sakit?" tanya Pak Malik dengan menautkan alis menatapku.


Aku menggelengkan kepala, "Gak papa, Pak. Biasa aja saya perasaan, deh."


"Huft ... baiklah, kalau emang kau ada apa-apa. Cepat kasih tau saya, saya tidak bisa mengetahui apa yang ada di dalam hatimu. Jadi, berbicaralah jika kau tak menyukai sesuatu apa pun itu dari saya," jelas Pak Malik dengan panjang untuk pertama kali.


Aku tersenyum tipis dan mengangguk, setelahnya kembali membuang pandangan dari arahnya. Kami akhirnya sampai di rumah Mama, sudah ada Mama yang berdiri di teras dengan tersenyum ke arah kami.


"Mama!" pekikku dan berhambur ke pelukan Mama. Tanpa sadar, aku menitihkan air mata. Begitu rindu ternyata pada wanita yang telah melahirkan aku ke dunia ini.


"Kamu ini! Kayak anak kecil aja!" tegur Mama saat pelukan telah dilepas.


"Biarin dong Ma, emang Abibah masih kecil juga!" sewotku memajukan bibir ke depan. Pak Malik menghampiri kami dan menyalam tangan Mama.


"Nak Malik mau mengajar?"


"Iya, Ma."


"Yaudah, hati-hati, ya."


Pak Malik mengangguk pelan dan mengecup kembali punggung tangan Mama, saat dirinya akan membalikkan tubuh suara Mama menghentikan langkahnya.


"Ada apa Ma?" tanya Pak Malik menatap kembali ke arah Mama dan aku hanya menatap dengan menautkan alis, bingung.

__ADS_1


Mama menyenggol lenganku menggunakan sikunya, "Kok malah gak di salam sih tangan suamimu itu?" tegur Mama dengan suara yang ditekan.


"Ha?" tanyaku yang belum paham dengan konteks ucapan Mama.


Pak Malik malah lebih dulu paham, dia mengulurkan tangannya di depanku dan dengan cepat kukecup.


Dia juga mengecup pucuk kepalaku yang tertutup kerudung, eh-eh kok lancang sekali jadi suhami!


"Yaudah kalau gitu Ma, Malik pamit pergi ke kampus dulu, ya."


"Iya, hati-hati, ya, Sayang," kata Mama yang tersenyum bagaikan ibu kandung kepada Pak Malik.


"Hati-hati Mas Sayang, Cinta, lope-lope segudang!" pekikku dengan melambaikan tangan ke arah Pak Malik yang melirik sekilas ke arahku.


Nah, kumat lagi dah ini jiwa dan raga. Mama menatapku dengan horor, aku tetap dengan cengiran dan mulai masuk ke dalam meninggalkan Mama.


***


"Ma, Abibah boleh, ya, bawa mobilnya," bujukku menatap ke arah Mama yang sedang asyik melihat sinetron.


Makan siang kali ini, Mama hanya pesan online karena katanya malas masak sebab menantu kesayangannya itu tak bisa makan siang bersama dengan kami.


"Emangnya Malik ngasih izin?" tanya Mama melirik ke arahku dengan sinis. Serasa di anak tirikan aku, bener dah!


"Udah, kok, Ma. Karena, Mas Malik sibuk akhir-akhir ini. Jadi, dia gak bisa antar-jemput Abibah," kataku sedikit berbohong. Ya, sedikit lho.


Mama menatap tajam ke arahku, seolah mencari kebenaran dari wajah polos dan lugu ini, "Bener?" tanya Mama yang tak percaya.


"Iya, Ma. Bener, Mama gak percaya banget sih sama anak sendiri! Siapa sih sebenarnya anak Mama? Abibah atau Pak Malik, kenapa gak percayaan banget sama Abibah?" gerutuku meletakkan pena dengan kasar.


"Pak-puk-pak! Mas! Dia suami kamu!" omel Mama.


"Tapi, dia juga dosen Abibah Ma! Gak salah dong kalo Abibah panggil dia Bapak?" tanyaku tak mau kalah dari Mama.


Pasti bukan hanya aku saja yang merasakan hal ini, seolah menjadi anak tiri di keluarga. Padahal, mereka belum tahu saja gimana sikap menantu kesayangan mereka itu!


Kalau tahu, beuh ... mungkin mereka akan mencopot gelar menantu kesayangan tersebut dari Pak Malik.


Mama membuang wajah dan kembali fokus pada film-nya itu, "Liat aja nanti, Mama mau tanya sama suami kamu langsung. Mama gak yakin kalo dia beneran ngasih kamu izin!" terang Mama bersedekap dada.

__ADS_1


Aku langsung panik dan bingung, tentu saja Pak Malik akan berkata bahwa dia tak pernah memberi izin padaku.


Kuputar otak yang isinya cuma bahan skripsi ini, mencari cara agar Pak Malik mengizinkan aku untuk mengendarai mobil sendiri.


[Pak Malik, saya boleh, ya, bawa mobil sendiri setelah ini? Soalnya, akan banyak kebutuhan untuk skripsi yang akan saya cari di toko-toko buku!] pesanku terkirim ke nomor Pak Malik.


[Kenapa tidak saya antarkan saja?]


[Pak Malik nanti sibuk, saya butuh banget mobil Pak. Nanti saya ribet sendiri soalnya kalo harus diantar-jemput sama Bapak!]


[Baiklah kalau emang itu maumu, terserah saja. Itu hakmu.]


[Oke!]


Seharusnya aku bahagia karena diberi izin membawa mobil, tapi entah kenapa rasanya ada yang sedikit menyakitkan membaca balasan darinya.


Kuletakkan kembali handphone, membereskan kertas-kertas dan meninggalkan Mama. Kuayunkan kaki menuju kamar milikku.


Apakah aku punya hak untuk sedih? Seharusnya, tidak! Mengingat bahwa memang ini hanyalah pernikahan paksaan dari orang tuaku dan juga Pak Malik.


Kurebahkan tubuh ke kasur dan segera menutup mata yang seketika membuat bulir bening menetes di pipiku.


"Abibah, bangun! Udah jam 4, nih!" kata seseorang sambil menepuk pipiku pelan. Aku menggeliat dan mendapati Mama.


"Ha? Udah jam 4 Ma?" Mama mengangguk ke arahku.


"Papa udah pulang, dong?"


"Udah, itu di depan sama Malik sambil minum teh mereka."


"Mama kok gak bangunin Abibah dari tadi, sih? Abibah belum makan siang, nih! Laper banget jadinya, masuk angin dah ini!" ketusku dan bangkit dari tempat tidur.


"Lah, malah nyalahin Mama! Ya, salah kamu sendiri kenapa tidurnya udah kayak kebo aja!"


Aku melenggang ke dapur dengan menggaruk tangan yang gatal, wajah bantal ini di tatap oleh Papa dan Pak Malik tapi tak kuhiraukan.


"Makanlah, selesai makan kita langsung pulang. Tukang pasang televisinya sudah menunggu di apartemen," ucap pemilik suara bariton tersebut.


"Hm," dehemku singkat dan memasukkan nasi ke dalam mulut, "duluan aja, saya bisa naik mobil sendiri Pak." Aku menatap ke arahnya.

__ADS_1


Dia membungkukkan tubuh dan mendekat ke telingaku, "Di depan orang tua, bersikaplah seolah pernikahan kita harmonis. Jadi, biarkan aku mengikuti mobilmu nanti sampai pulang," bisiknya dan kudorong tubuhnya agar menjauh.


"Baiklah!"


__ADS_2