Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Anak Tiri


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit tadi, Pak Malik dan aku langsung makan dengan makanan yang sengaja kami beli.


Setelah itu, obat langsung diminum Pak Malik dengan 4 obat yang berbeda-beda, "Pak, saya mau belanja dulu dong."


"Hmm," dehemnya dengan mata yang tertutup.


"Ya, 'hmm' lepasin saya dong Pak! Gimana mau belanja kalau gini?" ketusku. Pasalnya, sepulang dari rumah sakit dan selesai makan tadi.


Aku dan Pak Malik langsung rebahan, padahal yang dianjurkan untuk istirahat hanya dia saja. Tapi, dia menyuruhku untuk menemaninya juga.


Pak Malik membuka mata dan menatap ke arahku dengan tangannya yang kujadikan bantal, "Kan bisa dari online aja, suruh gojek buat belanja. Apa susahnya, sih?"


Ingin sekali rasanya mengeluarkan kata-kata mutiara, tapi lebih baik kutahan saja karena dia seperti ini juga karena diriku.


"Yaudah, tidur deh balik Pak tidur," titahku menepuk-nepuk lengannya layaknya tengah mengasuh seorang bayi besar.


Tak lama setelah matanya terpejam, suara ketukan dan bell terdengar. Aku langsung menatap ke arah Pak Malik yang sepertinya sudah tidur lelap.


Dengan susah payah dan hati-hati, kulepaskan diri ini dari pelukannya, "Ish! Siapa, sih! Gak tau apa nidurkan tuh bayi besar susahnya minta ampun!" gerutuku sambil berjalan ke luar kamar dan merapikan kerudung.


Kuintip lebih dulu, "Mama!" pekikku saat membuka pintu melihat Mama dan Papaku main ke apartemen milik kami.


"Mana Malik? Kenapa dia bisa sakit?" tanya Mama dan masuk begitu saja tanpa menyapaku terlebih dahulu.


Bahkan, yang dia cari malah menantunya itu. Bukan diriku ini, Papa pun sama mereka masuk ke dalam kamar yang tadi agak sedikit terbuka kubuat.


Kututup pintu dengan tangan yang terkepal emosi, "Sabar-sabar. Orang sabar suaminya 5," ucapku dan tersenyum dengan begitu manis. Pabrik gula auto tutup!


"Abibah, cepat ambilkan mangkuk sama air minum!" titah Mama begitu aku masuk ke dalam kamar.


Aku langsung pergi saja, tak mungkin jika harus melawan. Bisa-bisa, aku di amuk oleh Mama dan Papa.


Kubawakan mangkuk dengan sendok dan gelas berisi air, "Ini Ma," ujarku dan berdiri di dekat pintu.


Sudah seperti aku yang tamu dan bukan siapa-siapa di dalam sini, Pak Malik sepertinya dibangunin oleh Mama tadi.


Terlihat matanya masih mengantuk, "Kamu gimana sih Abibah? Suami sendiri malah bisa sampe demam kayak, gini!"

__ADS_1


"Ya, salahkan Pak Maliknyalah Ma. Dia yang mandi hujan-hujanan, kok," belaku tak mau disalahkan.


"Pak-puk-pak-puk! Dia suami kamu!" omel Mama yang membuat Pak Malik ingin tertawa. Aku hanya cemberut dan bersedekap dada.


"Kamu juga, kenapa sebagai istri gak masak, ha? Suami sakit malah dikasih makan dari luar!" omel Mama lagi yang sudah pas seperti Ibu tiri.


Jika mertuaku ada di sini, pasti seru! Mertua membela aku dan Mama menyalahkan aku, tapi keadaan sedang tak berpihak pada diri ini.


"Abibah udah bilang sama Pak Malik, eh, Mas Malik izin buat ke pasar. Tapi, gak dikasih."


"Iyalah, masa suami lagi sakit mau kamu tinggalin!" Mama masih asyik dengan menyuapkan bubur ke mulut Pak Malik sedangkan Papa hanya menyimak saja.


"Salah terus, salah terus!" cibirku dengan pelan sambil menatap lantai.


"Apa kamu bilang?" tanya Mama dengan nada yang naik satu oktaf.


"Ma, ini gak salah Abibah. Yang salah saya sendiri, kok. Saya yang mandi hujan-hujanan dan saya juga yang mau beli makanan di luar. Kami sama-sama sibuk jadi gak sempat buat belanja mingguan," ungkap Pak Malik membuka suara dengan senyuman mengejek. Kenapa gak dari tadi ngomongnya, coba?


"Kamu kayaknya lalai sama tugas kamu, ya, lebih baik cafenya Papa tutup saja kalo emang membuat kamu gak bisa ngurus suami!" tegas Papa yang seketika membuat aku mendongak dan menatap tak percaya.


"Pa ...," lirihku dengan mata yang seketika berembun.


"Dih, mana panas lagi!" gerutuku dan membuat air mata tak jadi turun ke pipi, "nyebelin banget, sih! Kayak anak terbuang aja aku dibuat!"


Kutatap ke bawah apartemen, "Kalo lompat, mati gak, ya?" gumamku.


"Mau coba? Coba aja sana!" perintah suara yang tak ada lembut-lembutnya itu.


Aku menatap dengan malas ke arah Mama, "Udah, Mama sama Papa mau pulang. Di atas meja udah ada buat makan siang kalian nanti," ujar Mama yang kuangguki.


Aku segera mengecup punggung tangan Mama dan Papa secara bergantian, sebelum masuk ke kamar kuputuskan untuk menyusun makanan yang masih ada di rantang tadi.


"Pak, kenapa gak tidur?" tanyaku mendapati Pak Malik masih duduk dan bersandar.


"Perut saya kekenyangan banget, mau nolak gak enak sama Mama," keluh Pak Malik padaku membuat aku spontan tertawa.


"Rasain tuh!" ejekku padanya.

__ADS_1


"Mmm ... besok, kita jalan-jalan, yuk!" ajak Pak Malik dengan aku yang langsung mengerjapkan mata tak percaya.


"Bapak masih demam, ya?" tanyaku dan langsung meletakkan punggung tangan ke keningnya.


"Gak panas lagi pun," sambungku dan duduk kembali di pinggir ranjang.


"Kenapa?"


"Aneh, tiba-tiba Bapak ngajak saya jalan-jalan."


"Emangnya gak boleh ngajak istri sendiri jalan-jalan?" tanyanya dengan menaikkan satu alis.


Istri? Ha? Sepertinya ini bukan Pak Malik, apakah jiwanya tertukar dengan dedemit saat pulang waktu hujan-hujan itu.


"Gimana kalo nunggu wisuda aja Pak? Biar sekalian ke Bogor atau ke Bandung aja kita," saranku yang memang butuh liburan sejenak.


"Boleh juga, yaudah kalau gitu. Kita ke luar kota aja, nginep beberapa malam nanti."


"Oke!" ucapku menyetujui kata Pak Malik.


***


"Ma, ada baiknya kita gak usah lagi ikut campur dengan rumah tangga mereka. Abibah juga sudah diberi arahan sebelum menikah dan biarkan dia menjalankan arahan tersebut sendiri," kata Yusuf dalam mobil perjalanan mereka akan pulang.


"Ya, tapi Pa. Kalo gak diingetin lagi, dia akan lupa akan arahan kita. Lagian, gak ada salahnya, kok. Emangnya kita mau anak kita itu jadi istri yang acuh dan pembangkang sama suami sendiri?"


"Dia udah gede Ma, pasti tau mana yang benar dan yang salah. Gak perlu harus segalanya sesuai dengan keinginina kita, dong. Berikan mereka kebebasan untuk melakukan segala hal."


"Yang ada, Abibah beneran buat pernikahannya itu sampe setahun Pa. Papa masih ingat 'kan kenapa dia mau akhirnya menikah? Sebab diiming-imingi bahwa hanya akan menikah sampe setahun doang!"


"Papa juga ingat, tapi gak mungkin dia akan beneran melakukan hal seperti itu. Gak mungkin dia akan egois dan membiarkan kita malu karena status dirinya yang janda itu."


"Pa! Yang paling tau sifat dia itu aku, karena aku adalah ibunya yang melahirkan dia ke dunia!" tegas Silki yang mulai tersulut emosi.


"Kamu yakin tau segalanya tentang sifat dia? Seharusnya kalau kamu tau, dulu kamu gak paksa dia buat nikah sama Malik!"


"Lah, kamu kenapa bahas yang dulu-dulu sih Mas!" marah Silki menatap ke arah suaminya dengan kesal.

__ADS_1


"Aku cuma ngasih tau, kalo kamu sebagai ibu gak pantas kayak---"


"Mas, awas ...!" teriak Silki memotong ucapan Yusuf yang tengah menatap dirinya tadi sedangkan Silki melihat ke arah depan.


__ADS_2