Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Takut Tergoda


__ADS_3

Aku masih mode ngambek dan sebel pada Pak Malik, dari tadi aku hanya berada di belakang dirinya yang sedang mendorong troli kosong.


Bruk ...!


Badanku tabrakan dengan tubuhnya yang tiba-tiba berhenti di depanku, kuusap kening yang sudah seperti lapangan bola ini pelan.


"Dih, ada apa sih Pak? Sakit, tau!" ketusku dan beralih di depan dirinya.


"Jangan di belakang, nanti kau di culik aku tak tau. Jadi, di depanlah dan ambil bahan makanan untuk seminggu ke depan juga keperluan yang kau butuhkan!" titahnya dengan wajah seperti seorang boss, bukan suami!


"Bapak mau dimasakkan apa?" tanyaku dengan wajah malas melihat-lihat sayuran yang terpajang rapi dan higienis tentunya.


"Apa saja, terserah kau."


"Ck! Kayak cewek aja, ditanya jawabnya terserah!" gerutuku dan mulai berjalan di area tomat-tomatan.


Kubeli; kol, wortel, buncis, kangkung, bayam, tempe, ayam, ikan dan juga jagung. Tak lupa dengan bahan pendukung seperti cabai dan teman-temannya juga micin tentunya agar rasanya tambah enak.


Aku berjalan ke arah rak sabun-sabunan, ada rasa bahagia tersendiri. Ternyata, menyenangkan juga, ya, berbelanja seperti ini untuk kebutuhan keluarga.


Kuambil; shampo, sabun mandi, sabun cuci piring, pewangi juga sabun pel.


"Mau ke mana lagi?" tanya Pak Malik yang sepertinya sudah mulai letih.


"Bapak mau saya buatin salad buah? Buah masih ada beberapa di kulkas," tawarku dan mendapatkan anggukan dari dia.


Kami langsung ke rak selanjutnya, setelah selesai membeli serta membayar selama dua jam lamanya.


Kami masuk ke dalam mobil dengan aku yang memakan ice cream di dalam mobil, Pak Malik tak ingin saat kutawari tadi.


"Kenapa televisinya besar banget yang Bapak beli tadi?" tanyaku sambil menjilati ice cream rasa cokelat ini.


Ya, kami tadi membeli televisi juga hiasan rumah lainnya. Tentu saja, itu semua pilihanku tanpa ada ikut campur Pak Malik.


"Biar kau muat masuk di dalamnya!"


"Dih, mana bisa masuk ke dalamnya. Bapak kalo mau ngejokes mending belajar lagi, ya, wajah kek kenebo kering sok ngejokes. Yang ada bukannya orang ketawa malah pen nimpuk Bapak!" hinaku dan melihat ke arah samping jalan.


"Apakah yang kudengar tadi adalah hinaan?"

__ADS_1


"Eh!" timpalku dan tertawa saat ternyata Pak Malik menyadari dengan ucapanku tadi berupa hinaan untuknya.


Kami sampai di depan bangunan yang tinggi ini, "Udah, saya aja yang bawa. Kamu masuk ke dalam aja," potong Pak Malik saat aku berniat untuk membawa kantong belanjaan.


Aku mengangguk dan terdengar dering dari handphone-nya, tak ingin tahu itu panggilan dari siapa. Kuayunkan kakiku hingga berjalan lebih dulu ke apartemen.


Rumah kupel, dua hari sekali sedangkan menyapu dan mengelap kadang dilakukan oleh Pak Malik.


Tak terlalu susah ternyata menjadi orang istri, eh, jangan kasih tahu Mak-mak di kampung bisa-bisa aku diserang dengan kalimat, "Ya, namanya juga baru nikah. Itu biasa! Belum rasain; gas, beras, listrik, jajan anak habis secara bersamaan sih!"


Memilih ke dalam kamar lebih dulu, untuk membersihkan tubuh dan juga mencuci rambut karena gerah.


Setelahnya, kubiarkan rambut yang baru setengah kering ini terurai dan keluar dari kamar untuk melihat apa Pak Malik sudah datang atau belum.


Ceklek


Suara pintu kamar terbuka, Pak Malik langsung menatap dengan mata yang melotot ke arahku, "Kenapa kau tak pake kerudungmu!" omelnya dan langsung berdiri menghampiri aku.


"Emangnya kenapa? Kan, gak ada orang di sini Pak," ucapku menatap ke sekeliling yang hanya ada kami.


Eh, apakah dia tergoda denganku? Padahal, aku tetap pakai pakaian dengan tangan panjang juga celana panjang.


"Tukang televisinya akan datang!"


"Ck! Mereka bilang besok akan mengantarkan Pak, tukang yang pasangnya lagi cuti hari ini. Perasaan, pemilik tokonya tadi bicara sama Bapak deh!" ujarku dengan tersenyum dan melenggang ke dapur.


Helaan napas terdengar dari bibirnya, jangan-jangan benar yang kupikirkan tadi. Dia tergoda pada kelinci ini? Eh!


Masuk ke dapur dan menata segala yang dibeli tadi pada tempatnya, "Pak, mandi sono!" teriakku dari dapur.


"Hm," dehemnya yang terdengar dari ruang tamu.


"Cepetan Pak! Bentar lagi Ashar!"


"Iya!"


Kukupas semua buah ingin membuat salad, biar ada sensasi dinginnya nanti jadi lebih baik salad dulu yang kubuat agar sempat masukkan ke kulkas nantinya.


***

__ADS_1


"Pak, saya ambil mobil dari Mama dan Papa aja, ya," bujukku dengan cemberut ke arah Pak Malik yang lagi-lagi hanya sibuk ke laptopnya itu.


"Kenapa?" tanya Pak Malik ke arahku lalu tiba-tiba ia terkejut. Aku langsung tertawa dengan wajah kagetnya itu.


"Bapak kenapa, sih? Mudah banget kaget dengan saya yang gak pake kerudung!" kataku dengan terus tertawa.


Dia pergi masuk ke kamar, entah apa yang akan diambilnya dari kamar itu. Dipasangkan Pak Malik kerudung milikku yang sport instan kemarin.


Surai hitam milikku tak terlalu panjang, hanya sebahu jadi tertutuplah meskipun menggunakan kerudung pendek tersebut.


"Hahaha, kenapa di tutup sih Pak?" tanyaku memperbaiki kerudung yang kurasa miring kayak otak Pak Malik, eh!


"Ingat, kau masih anak-anak. Jangan berperilaku seperti orang dewasa!"


"Lah-lah, hahahha. Saya ngapain emangnya Pak? Emangnya saya berpakaian kayak Mis Vilo? Pake pakaian ketat minta ampun belum lagi healsnya itu!" jelasku menatap ke arah Pak Malik.


Dia diam saja dan menyendok salad ke mulutnya, fokus kembali ke laptop yang ternyata lebih menggoda daripada kelinci ini. Hahahaha.


Karena terus-menerus dipaksa, aku sekarang juga tengah fokus menyiapkan skripsi milikku. Aku sampai lupa dengan topik kami tadi.


Suara dering handphone milik Pak Malik menggema, dirinya beralih menatap handphone dengan aku pun yang melirik ke arah yang sama.


'Mama' nama yang tersemat dan ingin melakukan video call, dengan malas Pak Malik menekan tombol dan terjadilah video call tersebut.


"Hay, kalian. Lagi apa?" tanya mertuaku dari sebrang.


"Lagi nyiapin tugas, Ma," jawab Pak Malik sedangkan aku hanya tersenyum saja.


"Ada siapa di apartemen emangnya?"


"Ha? Maksudnya, Ma?"


"Ya, itu. Ngapain Abibah pake kerudung di dalam apartemen kalo cuma kalian berdua di dalam?" Pak Malik langsung melihat ke arahku sekilas sedangkan aku tersenyum sambil menutup mulutku.


"Emm ... itu, Ma. Tadi, ada harimau yang masuk ke sini mau makan kelinci. Jadi, pemiliknya datang ke sini deh. Karena takut kejadian yang serupa terjadi lagi, Abibah pakai aja akhirnya kerudungnya," jelasku menahan senyum.


Mama tampak bingung, sedangkan Pak Malik menampilkan wajah kesalnya. Pastinya dia paham dengan yang kumaksud tadi.


"Ha? Maksudnya gimana, sih? Mama gak paham," kata Mama sambil menggaruk kepalanya yang mungkin tiba-tiba gatal setelah mendengar ucapanku.

__ADS_1


"Udah, Ma. Gak usah dipahami, emang gak jelas si Abibah ini," timpal Pak Malik melirik sinis ke arahku.


__ADS_2