Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Salah Paham


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu, pernikahanku masih saja seperti biasanya. Aku dengan kesibukanku yang semakin padat dan Pak Malik juga sama.


Seminggu lagi, adalah waktu wisudaku dan Aulia. Kini, kami tengah sibuk dengan cafe yang dipenuhi oleh anak-anak muda karena malam minggu.


Aku dan Aulia hanya menatap meja-meja yang di isi dengan canda dan tawa tersebut.


"Kak Abil kok gak pernah keliatan lagi, ya?" tanya Aulia tiba-tiba dengan menatap ke arahku sambil menopang dagu.


Aku membalas dengan bahu yang diangkat, memang setelah kejadian itu. Dia benar-benar tak terlihat lagi bahkan tak pernah mengabariku.


'Lah, gimana dia mau ngabari? Orang aku blok!' batinku dengan menepuk jidat pelan yang baru ingat bahwa nomornya masih ku-blok.


Kuambil handphone di saku celemek dan masuk ke aplikasi hijau untuk melihat daftar nomor yang di blokir.


Benar saja, ada nomor Kak Abil di situ, 'Ngapain juga aku buka? Artinya, aku buat Kak Abil berharap lagi nanti! Kesian dia,' batinku yang merasa di lema.


Kumasukkan kembali handphone dan membatalkan jari untuk membuka blokir di nomor Kak Abil.


"Wih, baru juga dibahas. Eh, orangnya udah nongol aja tuh!" seru Aulia menyenggol lenganku menggunakan sikunya.


Aku langsung menaikkan dagu dan melihat ke arah depan, sudah ada laki-laki yang tersenyum hingga membuat lesung pipinya terlihat oleh mataku.


"Kak, dari mana aja, sih? Kok, udah lama gak keliatan?" tanya Aulia yang langsung kepo tentang Kak Abil.


Laki-laki tersebut tidak langsung menjawab, dia duduk lebih dulu di depan kami, "Biasa, satu, ya," pesan Kak Abil mengangkat jarinya.


Aku tersenyum dan mengangguk, segera membuatkan pesanan Kak Abil, "Itu ... habis dari luar kota, disuruh sama atasan," jawab Kak Abil menatap ke arah Aulia dengan aku yang melirik sekilas ke arah mereka.


Aulia mengangguk, "Kirain dah nikah dan gak ngundang-ngundang. Soalnya hilang begitu aja, kek di telan bumi!" sindir Aulia.


"Hahaha, gimana mau nikah? Calonnya aja belum ada," papar Kak Abil.


"Ya, Kakak terlalu pemilih kali. Masa, gak ada yang suka sama Kakak. Kan, Kakak; cakep, ganteng mana pinter pula!" puji Aulia dan aku meletakkan gelas di depan Kak Abil.


"Ada, sih, tapi dia kayaknya udah punya calon," jelas Kak Abil sambil menatap ke arahku. Membuat aku yang baru saja duduk merasa aneh.

__ADS_1


"Ehem!" dehem Aulia seolah sedang memberi kode padaku, "selama janur kuning belum melengkung, punya orang boleh di tikung-tikung kali Kak!" Suara Aulia sedikit keras, entah apa maksudnya.


"Hahaha, saya lebih memakai prinsip. Mau dia belum ada janur kuning, kalau sudah punya orang lain, ya, saya harus mundur dan mengalah," tegas Kak Abil sembari menyeruput kopinya.


"Karena, pasangannya itu juga pasti tengah berjuang untuk membuat janur kuning tersebut melengkung," sambung Kak Abil yang semakin membuat aku terpanah dengan posananya tersebut.


Mata Aulia berbinar, "Cara jadi idaman Kakak gimana, sih?" tanya Aulia senyam-senyum ke arah Kak Abil.


"Hahaha, bukannya kau sudah punya pacar?" tanya Kak Abil yang ternyata tahu akan hal tersebut.


"Udah putus, Kak. Dia selingkuh ternyata sama Tante-tante kaya raya," lirih Aulia menunduk dan aku hanya menggelengkan kepala mengingat dirinya yang mengadu waktu itu dengan air mata yang jika di tampung bisa buat mandi 10 orang.


Sebenarnya, ingin sekali tertawa. Bahkan, aku sudah tertawa waktu itu karena tak mampu menahannya.


Lucu saja, selama ini ternyata Irpan membiayayi Aulia dan membeli barang-barang untuk Aulia dari hasil simpenan Tante-tante.


Aku melihat ke arah depan, terlihat di sana ada Pak Malik. Ya, Pak Malik. Aku langsung duduk dengan tegap dan gelagap.


"Mm ... gue ke depan sebentar, ya, Aulia!" potongku saat dirinya sudah ingin curhat kepada Kak Abil, "bentar, ya, Kak."


Memang benar, itu dirinya, "Pak Malik!" panggilku saat tubuhnya sudah akan masuk ke mobil.


"Lanjutkanlah, saya lupa kalau pernikahan kita hanya sementara," ujarnya menatapku dan membuatku menautkan alis.


"Apa, sih, maksud Bapak?" tanyaku yang sedikit terpancing emosi.


"Emang benar 'kan? Aku pikir kau kenapa-kenapa sampai semalam ini belum pulang juga! Ternyata, sedang berbicara dengan laki-laki impianmu itu. Kau berharap aku akan seperti dia? Haha ... itu tak akan pernah mungkin terjadi, ada baiknya kau pergilah dengan dia dan aku akan segera mengurus surat perpisahan kita!" tegasnya dan langsung masuk ke dalam mobil.


Meninggalkan aku dengan diri yang tak paham dengan apa yang baru saja dia bahas, sejak kapan aku berharap bahwa dia harus seperti Kak Abil?


Memang benar, di awal-awal aku sangat mengharapkan hal tersebut. Hanya saja, aku kembali berpikir bahwa setiap orang pasti berbeda.


Tak mungkin aku bisa memaksakan Pak Malik seperti Kak Abil begitu pun sebaliknya, segera kuambil handphone dan melihat sudah jam berapa.


Kupukul kening dengan tangan sebelah di pinggang, sudah hampir jam 10 malam. Padahal, biasanya aku akan pulang jam tengah sembilan.

__ADS_1


"Pantasan aja dia marah, pasti ngira aku berbicara sama Kak Abil. Padahal, aku cuma nyimak ucapan mereka doang, kok, tadi," lirihku dengan bahu merosot.


Kuayunkan kaki dan masuk ke cafe setengah berlari, permasalahan ini harus segera selesai. Aku tak ingin berlarut-larut apalagi dia sampai salah paham.


"Lu mau ke mana?" tanya Aulia dengan aku yang buru-buru melepas celemek dan memakai tas ransel.


"Nih, tutup ya!" suruhku meletakkan kunci dan tanpa pamit pergi dari hadapan mereka. Masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kawasan cafe.


Di perjalanan menuju apartemen, kuhubungi nomor Pak Malik. Namun, sama sekali tak dijawab olehnya.


"Bapak di mana, sih?" gumamku mulai panik.


***


Di lain sisi, seorang pemuda tampak frustasi. Dirinya berada di tempat yang sudah lama tidak di datanginya lagi.


'Apakah dia berharap aku seperti laki-laki itu? Apakah dia tak bahagia denganku? Bukankah segala hal telah kuturuti? Bahkan, aku belajar untuk melakukan apa pun sendiri agar tidak merepotinya!'


Dia menjambak rambutnya dengan keras, 'Seharusnya, aku tak pernah menyetujui pernikahan tak jelas ini! Aku membenci mereka semua, aku benci dengan takdirku. Dia seolah seperti malaikat, menyuruhku untuk salat. Tapi kelakuannya sendiri? Seperti iblis dan setan saja!'


"Pak Malik? Sejak kapan Bapak ada di sini?" tanya seseorang yang baru datang tentunya dengan pakaian mininya.


Laki-laki yang disebut namanya itu hanya mendongak, dirinya menatap acuh ke arah wanita tersebut.


Tanpa meminta persetujuan, dirinya langsung duduk di samping laki-laki tersebut. Malik melirik sekilas dan langsung berdiri meninggalkan Vilo seperti biasanya.


Malik hanya meminum setengah botol saja, meskipun seperti itu. Efeknya mampu membuat dirinya mabuk sebab sudah lama tak minum-minuman ber-alkohol tersebut.


"Sial*an! Kenapa harus hujan, sih!" maki Malik menatap air hujan yang turun dengan derasnya membasahi bumi.


Dirinya berjalan dengan gontai ke arah mobil, bajunya langsung basah karena hal tersebut. Malik tak langsung ke apartemen, ia memberhentikan mobil di taman.


Menatap kosong ke arah taman di bawah guyuran air hujan, wajah yang sudah pucat dan menggigil akhirnya membuat Malik memutuskan pulang.


"Pak Malik ke mana, sih? Mana hujan lagi di luar," ucapku yang khawatir saat ternyata Pak Malik tak langsung pulang setelah dari cafe tadi.

__ADS_1


Kulirik arloji yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, rasa kantuk bahkan tak hadir karena otak yang terus berpikir dan khawatir.


__ADS_2