Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Lah?


__ADS_3

Malam hari, aku dan Pak Malik memilih untuk menonton televisi lebih dulu sebelum tidur. Aku berbaring dengan kepala yang berada di paha Pak Malik.


"Jadi, kalau Bapak berhenti mau kerja di mana?" tanyaku mendongak menatap wajahnya.


Pak Malik baru bercerita bahwa ia memilih mengundurkan diri dari kampus karena tidak kuat jika terus-terusan menghadapi Mis Vilo.


Ia takut nantinya malah akan menyakiti wanita tersebut atau melakukan hal yang kasar pada Mis Vilo.


Aku mengikuti apa saja keputusannya itu, bagaimana pun kalau dia berhenti dan tak mau kerja lagi.


Masih ada perusahaan Papaku yang butuh karyawan dan aku juga bisa kembali bekerja agar meringankan beban dirinya.


"Kerja di perusahaan Papa, saya udah tanya sama Papa dan katanya boleh saya untuk masuk ke situ. Karena kebetulan ada juga yang kosong jabatan di situ," jelas Pak Malik tetap fokus melihat film.


Aku hanya mengangguk dan ber'oh' ria saja, "Pak, saya ngapain dong selama Bapak kerja nanti, masa selamanya saya akan berdiam diri begini?" tanyaku dengan duduk dan menatap ke arahnya.


"Kamu mau apa? Buat usaha online? Silahkan, bisa pakai ekpedisi atau kurir. Saya tidak melarang."


"Capek kali Pak, jauh dari tempat kita ke bawah," keluhku membayangkannya.


"Besok sebelum ke kampus buat ngurus barang-barang, kita cek rumah yang kemarin kamu mau. Sudah saya DP dan semoga langsung dapat tukang yang cocok biar renovasinya bisa cepat."


"Lah, Bapak jadi beli rumah itu?" tanyaku tak percaya. Karena pasalnya, aku hanya bercanda saja.


Pak Malik mengangguk, "Ya, ampun Pak. Padahal saya cuma becanda doang juga," ujarku menatap ke televisi.


Pak Malik mengalihkan pandangannya jadi menatap ke arahku, "Berhetilah terlalu banyak bercanda dalam hidup, coba sesekali untuk serius. Karena, tak semua orang akan tau dan paham bahwa itu adalah candaan!"


Aku mengerjap-ngerjapkan mata, Pak Malik sepertinya masih rada kesal dengan kejadian tadi siang.


Lebih baik, mengangguk saat ini adalah solusinya. Pura-pura paham dan patuh dengan ucapannya barusan.


***


Jam 10 pagi ini, seperti ucapan Pak Malik barusan bahwa kami akan melihat rumah yang kumau dan sudah di DP-nya.


Aku membawa cemilan berupa buah-buahan, entah mengapa dari tadi pagi perutku tak enak bahkan Pak Malik lebih anehnya.

__ADS_1


Ia meminta dibuatkan susu padahal biasanya enggan untuk minum susu karena tak menyukai susu putih.


"Pak, jauh lagi gak?" tanyaku yang merasa seperti dari tadi hanya berada di sekitar sini-sini saja.


"Gak tau, ini Bapak yang ngirim mapsnya juga gak jelas!" gerutu Pak Malik yang terlihat kesal juga.


Aku hanya terkekeh melihat wajah cemberutnya, "Bapak mau?" tawarku ke dekat bibirnya buah apel yang sudah kupotong-potong sebesar mulutku.


"Gak, kamu aja. Kita makan ketoprak aja nanti."


"Emang, ketoprak ada jual pagi-pagi?" tanyaku menautkan alis bingung.


Tak lama, mobil berhenti membuat aku menatap ke arah sekitar, "Yang mana Pak?" tanyaku menatap Pak Malik.


"Itu, yang ada Bapak-bapaknya," tunjuk Pak Malik dan turun dari mobil lebih dulu.


Aku menutup bekal dan mengikuti Pak Malik dari belakang, kawasan rumahnya cukup damai sepertinya dan hijau.


Bahkan, banyak rumah-rumah yang rumahnya penuh dengan bunga-bunga, "Kalau udah begini, pasti harus tahan-tahanin telinga dari ghibahan Ibu-ibu," kataku menatap sekeliling.


"Di sini sebagian besar IRT, mereka tidak bekerja. Namun, ada juga yang dokter, PNS dan guru. Jadi, gak terlalu banyak gosip, deh," jelas pemilik rumah saat aku baru saja sampai ke arah mereka.


"Gimana, kamu mau?" tanya Pak Malik meminta pendapatku.


"Kita bisa liat dalamnya dulu, mari!" ajak pemilik rumah dan masuk lebih dulu ke dalam rumah satu lantai ini.


Rumah yang minimalis seperti ini memang sangat kusukai, selain tak terlalu letih nantinya membersihkan agar membuatku tak perlu naik dan turun tangga nantinya.


Di dalam rumah ternyata berisi tiga kamar dan satu kamar utama memiliki kamar mandi, sedangkan dua kamar lainnya harus ke dapur jika ingin buang air besar atau kecil.


Dapurnya pun sudah ada wastafel dan full keramik berwarna putih, lampu hias juga ada di ruang tamu serta aquarium yang katanya dijual juga.


Aku pikir, tak apa agar semakin membuat cantik suasana rumah ini dan tak terlalu terlihat kosong nantinya.


"Nah, ini bagian belakangnya bisa dibuat untuk jemur pakaian," jelas pemilik rumah setelah kami telah sampai di bagian terakhir melihat-lihat rumah.


Di ruang tamu tadi, belum ada sofa. Pemilik rumah hanya menjual rumah dengan lampu hias juga aquarium ikan saja.

__ADS_1


Selain itu, kita harus mengisi sendiri sesuai dengan yang kita inginkan.


"Saya suka model dan warna rumahnya, Pak. Paling nanti tinggal panggil pembersih rumah terlebih dahulu, mana tau takutnya ada binatang liar yang sempat bersarang di sini," ujarku yang tertarik dengan rumah ini.


"Ini, gak pernah terdengar suara-suara aneh 'kan Pak?" tanyaku menatap pemilik rumah. Karena yang kudengar, ini lumayan lama sudah ditinggal.


"Enggaklah Buk, orang saya kadangs sering hidupin murotal pas tinggal di sini, kok," jelas pemilik rumah yang buatku terkekeh.


"Jadi, kenapa gak laku Pak? Padahal 'kan rumahnya bagus," tanyaku yang kepo.


"Hehe, karena harganya kemahalan kata mereka. Padahal, itu emang udah harga pasaran di kawasan sini," jawab pemilik rumah dengan cengengesan.


Aku jadi mengerutkan dahi, kepo dengan berapa harga rumah ini. Akhirnya, aku keluar karena disuruh Pak Malik.


Mereka akan mengadakan transaksi yang tak dibolehkan aku tahu harga rumah ini, kulihat halaman depan. Sepertinya bisa kutanami dengan bunga-bunga kalau rajin.


Rumah sudah ada pagarnya berwarna hitam juga garasi mobil, minimalis tapi terlihat sangat mewah.


Di dalam juga ada satu ruangan yang kosong, mungkin akan kubuat jadi musala nantinya di situ. Setelah menunggu hampir setengah jam.


Akhirnya Pak Malik dan pemilik rumah keluar dengan wajahnya yang sumbringah, dia bersalaman dengan Pak Malik.


"Terima kasih, ya, semoga kalian betah-betah di sini!" kata pemilik rumah dengan senyuman. Dirinya mengulurkan tangan ke arahku mungkin berniat mengucapkan terima kasih juga atau apalah itu namanya.


Namun, dengan cepat kutangkup tangan di depan dada dan tersenyum ke arah laki-laki paru baya di depanku kini, "Terima kasih Pak," ujarku lembut.


"Yaudah, kalau gitu. Selamat menempati, ya," terangnya dan kami hanya mengangguk.


Saat dia mulai keluar dari kawasan rumah yang sekarang sudah jadi milik kami, mungkin tetangga di sekitar sini kebetulan lewat dan berhenti di depan rumah kami.


"Pak, mau ke mana? Ayo, bareng!" ajak bapak tersebut dengan menaiki sepeda motornya.


"Oh, gak usah. Saya mau ibadah ke gereja dulu, jalan kaki aja. Duluan, Pak!" tolaknya dan melambaikan tangan sambil berjalan duluan meninggalkan pengemudi sepeda motor tadi.


Aku yang mendengar ucapannya barusan langsung kaget dan menatap ke arah Pak Malik yang sepertinya kaget juga.


"Lah? Tadi katanya rumah ini sering dihidupkan murotal, murotal apaan?" tanyaku seketika menegang.

__ADS_1


"Udah, anggap aja kamu gak pernah dengar apa yang dia katakan," titah Pak Malik dan membuatku aku mengangguk patuh.


__ADS_2