
Aku sekarang tengah berada di halte, mana tahu ada angkot tersasar di daerah sini. Aulia sudah dulu pulang, dijemput oleh Irpan menggunakan motor milik laki-laki itu.
Mobil yang baru keluar dari gedung kampus berhenti di depanku, aku menautkan alis dan menatap ke arah depan.
"Masuk!" titah pengemudi dengan menurunkan kaca mobilnya. Aku milirik ke arah jalanan, tak ada tanda-tanda akan ada angkutan dengan terpaksa akhirnya aku pun ikut bersamanya.
Tak ada yang membuka suara, aku pun hanya diam saja di mobil tak ingin berkata apa-apa layaknya orang putus cinta.
Ini, sangat menyakitkan. Tak bisa bersatu dengan orang yang kau cintai dan mencintaimu.
"Apa kata sandi ponselmu?" tanya Pak Malik memecah keheningan di dalam mobil. Aku langsung mengerutkan dahi dan menatap ke arahnya.
"Emangnya kenapa?"
"Biar bisa blok nomor laki-laki itu, lagian kenapa save nomor orang asing, sih?"
"Dia gak asing Pak, saya kenal kok siapa dia."
"Kamu kenal siapa Ibu dan Ayah dia emangnya?"
"Saya temennya Pak, bukan Buk RT rumahnya!"
"Tidak ada pertemanan antara laki-laki dan wanita."
"Terus, Bapak? Itu namanya gak temen? Apa, dong? Pasangan?" tanyaku dengan ngegas.
Dia terdiam tak bisa menjawab kekesalanku, mentang-mentang aku masih muda. Aku mulu yang disalahkan, dasar!
Dia langsung mengeluarkan handphone-ku dari kemeja yang dia gunakan, "Hapus nomor laki-laki di dalamnya yang tidak penting!" titah Pak Malik melirik ke arahku sebentar baru menatap jalanan kembali.
"Ini, cuma seminggu di sita 'kan Pak? Artinya tinggal 6 hari lagi, ya," kataku mengambil handphone dari tangan Pak Malik.
"Hmm."
"Ingat, Pak. Laki-laki itu omongannya yang di pegang, awas aja bohong!"
"Pantasan aja cewek sering tersakiti, kok yang di pegang omongan. Omongan aja gak bisa di pegang, aneh! Emangnya dia barang?"
"Nyenyenye," ejekku dan mulai menghapus nomor teman kampus yang laki-laki juga Kak Abil tak lupa blok nomor dirinya.
[Datang nanti malam ke apartemen ××× jalan ×××, nomor ×× kits BBQ-an jam 7 malam, jangan telat!] Aku tersenyum tertahan setelah mengirim pesan tersebut yang centang dua abu-abu.
"Ada apa? Aku hanya menyuruh kau menghapus nomor, kenapa malah tersenyum?" celetuk Pak Malik yang ternyata mengetahui kegiatanku.
"Iya-iya, udah kok ini!" ketusku dan mengembalikan handphone milikku padanya.
"Apa kata sandinya?"
"Satu sampe empat."
__ADS_1
"Kau menggantinya?"
"Iya," kataku menatap ke arah Pak Malik.
"Emangnya tadi apa?"
"Kak Abil sayang Abibah!" jawabku berbohong dan tersenyum mengejek ke arahnya.
"Ck! Kau sangat alay sekali!" ejek Pak Malik dan kembali memasukkan handphone ke sakunya.
"Biarin! Namanya juga cintah, bisa buat setiap orang berubah termasuk jadi alay!" tegasku dengan senyum-senyum menatap atap mobil.
Dia hanya diam dan tak lagi menyahut ucapanku, setengah jam sudah perjalanan. Aku merasa bosan dan aneh, "Pak, ini kita ke mana sih?" gerutuku, "mana lama banget, gak ada juga yang bisa di makan di sini!"
Tiba-tiba, mobil langsung berhenti di depan toko buah. Aku terdiam, kutatap toko buah di sampingku dan melihat ke arah Pak Malik yang sudah turun.
"Dih, bukannya diajak gitu istrinya. Malah main tinggal aja!" gerutuku yang sebal melihat sikap dingin plus cuek Pak Malik.
Tak jauh dari tukang buah ada gerobak pedagang, aku langsung menghampiri mereka dengan sedikit berlari.
Kubaca satu per satu spanduk gerobak mereka yang ada, "Beuh ... bisa-bisa habis nih uang gue buat!" ucapku tersenyum bahagia.
"Pak, mau cimolnya 10rb aja, ya."
"Pak, mau batagornya 10rb, ya."
"Ciloknya juga boleh."
"Bolunya lembut, gak, Buk?" tanyaku menatap ke arah Ibu-ibu penjual bolu dan donat.
"Lembut, Dek."
"Yaudah, buatkan 20rb, ya, Buk," titahku setelah si Ibuk memberi tahu harga satu bolu yang dipotong-potong kecil dan donut satunya 4rb rupiah.
"Mang, es jasjusnya satu, ya."
"Oke!"
Aku duduk di depan penjual donut karena memang dia sendiri yang wanita, jadi aku tak terlalu segan.
Kutatap mereka tengah membuat pesananku, kutelan saliva karena merasa sudah tak sabar untuk mencicipi jajanan tersebut.
"Ini, Dek!" kata penjual batagor. Aku yang membelakangi penjual batagor langsung bangkit setelah mendengar ucapannya.
"Sebentar, ya ---" kata-kataku terhenti kala melihat Pak Malik yang sudah berada di samping penjual batagor.
"Berapa Pak?" tanya Pak Malik mengambil plastik pemberian penjual batagor tadi.
"10rb Pak."
__ADS_1
Pak Malik langsung mengeluarkan uangnya dan membayar, ia menatap ke arahku datar dan ke arah pedagang dengan senyum tipisnnya.
"Ini, Dek. Donutnya!" kata Ibu yang ada di sampingku. Terjadilah bayar membayar yang dilakukan oleh Pak Malik sedangkan aku hanya diam saja.
Di dalam mobil, aku asyik mengunyah makanan yang kubeli tadi, "Mau Pak?" tawarku menunjukkan batagor yang tengah kumakan.
"Tidak, kau makan saja. Nanti, kau harus puasa senin dan kamis agar tubuhmu sehat kembali."
"Emangnya, saya sakit Pak? Tubuh saya sehat ini."
"Dengan makanan pinggiran jalan yang tengah kau pangku, kau bisa bilang itu sehat?"
"Lagian, Bapak, sih. Masa, anak orang diajak jalan gak diajak jajan!"
"Tuh, saya belikan buah tadi. Kau saja yang tak sabaran!" ketus Pak Malik dan membuat aku menatap ke arah belakang.
Sudah ada parcel buah juga kresek hitam yang sepertinya di dalam kresek itu punyaku, "Buat siapa Pak parcelnya?"
"Buat Pak Yanto."
"Lah, Pak Yanto sakit?"
"Hmm."
Aku langsung mangut-mangut, "Eh, kenapa ngajak saya Pak? Nanti, kalo Pak Yanto tau, gimana?" tanyaku dengan nada panik.
Kami akhirnya sampai di rumah yang cukup sederhana, Pak Yanto memang dikenal sebagai dosen yang tak terlalu mau terlihat kaya di depan orang-orang.
"Turun!" titah Pak Malik sambil mengambil parcel yang ada di belakang.
Aku akhirnya mengekor, dengan memasukkan bungkus jajan yang sudah habis. Memasukkannya ke tong sampah yang ada di depan rumah Pak Yanto.
"Assalamualaikum, Pak Yanto!" teriak Pak Malik di depan pintu yang tertutup rapat.
"Orangnya pergi kayaknya Pak," celetukku dengan sedikit berjinjit melihat dari jendela.
"Jangan biasain mengintip rumah orang, gak baik!" tegur Pak Malik melihat ke arahku dari ekor matanya.
Aku akhirnya kembali dengan tegap berdiri di sampingnya, menatap taman-taman yang begitu indah.
Ceklek
"Waalaikumsalam, eh, ada Nak Malik. Masuk-masuk, suami saya lagi di kamar," titah seorang wanita yang mungkin berusia 40-an atau 50-an.
Pak Malik menangkup tangan di depan dadanya, "Terima kasih Buk, izin masuk, ya," ujar Pak Malik tersenyum begitu manis.
Beuh ... auto meleleh nih hati melihat sikap sopannya dia, andai dia begitu hangat dengan aku juga. Tapi, gak mungkin pastinya.
"Kok malah bengong? Ayo, masuk!" ajak istri Pak Yanto kepadaku yang membuat aku tersadar.
__ADS_1