Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Untung Suami


__ADS_3

Suara pintu apartemen terbuka, seseorang dengan keadaan yang begitu memprihatinkan terlihat masuk ke dalam setelah melepas sepatunya.


"Pak, Bapak kenapa?" tanyaku dan langsung menghampiri.


"Jangan urusi saya!" tekannya menatap tajam ke arahku dengan matanya yang merah.


Aku bergeming, menatap dirinya dan tanpa sadar mata sudah berembun. Apakah dia melakukan ini sebab diriku?


Dia langsung masuk ke dalam kamar, aku tak tahu apa yang dia lakukan. Segera ke dapur untuk merebus air dan membuatkan teh hangat.


Tok tok tok


"Pak, Bapak udah selesai ganti baju?" tanyaku dengan sedikit teriak karena suara hujan masih terdengar dari luar.


Tak ada sahutan, aku langsung membuka pintu tapi dirinya lebih dulu membukanya. Melewatiku begitu saja, seolah aku tak ada di hadapannya.


Aku menghela napas kasar, "Untung suami sendiri!" gumamku dan berjalan mengikutinya dari belakang.


Pak Malik langsung merebahkan tubuh dengan pakaian yang hanya kaos biasa, "Minum dulu, Pak!" suruhku tapi dia malah memejamkan mata seolah acuh.


Entah keberanian dari mana, kutempelkan punggung tangan ke keningnya sedangkan teh tadi kubiarkan saja di meja.


"Panas," lirihku merasa kesihan. Bangkit ke kamar untuk mengambil handuk kecil, selimut tebal dan kaos kaki milikku.


Kuletakkan di meja dan berlalu ke dapur, dia masih memeluk tubuhnya dengan selimut dan mata yang terpejam.


Saat kupasangkan kaos kaki dengan kesusahan, dirinya tak melawan atau pun menyingkirkan bantuan. Apakah dia benar-benar sudah tidur?


Setahuku, orang yang kedinginan akan sedikit kesusahan tidur sebelum dia merasa tubuhnya sudah lumayan menghangat.


Kupakaikan lagi selimut dan duduk di depannya yang tidur di sofa, kukompres keningnya dan menatap wajah pucat miliknya itu.


Tanganku sedikit menyingkap selimut dan memegang tangan Pak Malik, begitu dingin. Saat akan kutarik kembali, tanganku di genggam dengan erat oleh tangannya dan mata yang tadinya tertutup seketika terbuka.


"Mendekatlah Abibah!" titahnya dengan suara parau. Aku langsung mendekat dan membiarkan handuk kecil tadi di keningnya.

__ADS_1


Deg


Tubuhku di peluk oleh Pak Malik dengan begitu erat, membuat aku sedikit kesusahan untuk bernapas.


Mungkin, 10 menit lamanya kami berpelukan hingga akhirnya dia melepaskan pelukan tersebut lebih dulu.


"Kenapa Bapak peluk saya?" tanyaku yang berpikir bahwa dia akan marah-marah sebab melihatku tadi di cafe dengan Kak Abil.


"Rasa marah saya atas kelakuan kamu sudah menghilang ketika tubuhmu kupeluk tadi, terima kasih sudah mau saya repotkan," ujar Pak Malik membuat aku tertegun.


Aku menunduk dalam, "Maaf, Pak Malik. Tapi, sungguh. Saya tidak melakukan apa pun tadi sama Kak Abil, dia juga cerita cuma sama Aulia doang, kok. Saya nimbrung tipis-tipis aja, masa saya gak boleh ikut nimbrung sama pembicaraan mereka," jelasku yang malah terisak. Padahal tak niat untuk melakukan hal ini sebelumnya.


"Sudahlah, tak apa. Maafkan saya karena telah berkata kasar tadi denganmu, lain kali pulanglah sesuai jadwal dan janjimu kepada saya!" tegas Pak Malik membuat aku menatap ke arahnya dan mengangguk paham.


"Hahaha, jangan menangis kelinci kecil!" sambung Pak Malik dengan suara gigilan yang keluar dari bibirnya.


"Pak, minum teh dulu, ya. Saya suapkan aja," titahku dan dibalas anggukan oleh Pak Malik, "ya, lepaskan dulu tangan saya Pak. Gimana caranya mau suapin Bapak!"


"Sini tangan sebelah kirimu!" Aku memberikan tangan sebelah kiriku dan sebelah kanan yang di pegang eratnya tadi akhirnya dilepas dan sebelah kirilah gantinya.


Aku hanya tersenyum meskipun nyatanya ingin sekali memakan manusia ini hidup-hidup, sudah membuatku cemas sekarang malah sok manja. Apa dia tak sadar dengan umurnya itu?


"Kau tidurlah sana," perintah Pak Malik menatap ke arahku membuat aku seketika melihatnya.


"Bapak gak mau di kamar aja? Di sini dingin, lho."


"Boleh?" tanyanya meminta persetujuan dan seketika saja suara tawaku pecah akibat pertanyaan yang keluar dari bibirnya itu.


"Eh, tapi sofa lebih nikmat sih, ya 'kan Pak daripada seranjang sama saya. Waktu itu 'kan Bapak sudah seranjang sama saya. Gimana? Nikmatan mana, di kamar yang hangat atau di sofa yang keras ini? Mana sendirian pula!" ejekku mengingatkan kembali ucapan dirinya tempo hari saat kuajak tidur bersama.


Seketika wajahnya menjadi datar, mungkin jika tak lagi kedinginan dan pucat. Aku akan melihat tomat busuk di wajahnya akibat godaanku.


"Yasudah, saya di sini saja! Kamu ke kamar sana!" ucap Pak Malik merajuk dengan tetap menggenggam tanganku yang sebelah kiri tadi.


"Hahaha, yaudah, yuk Pak! Ke kamar, biar Bapak juga cepat sembuhnya," ajakku kembali dengan tersenyum.

__ADS_1


Pak Malik menatapku dan aku kuanggukkan kepala agar dia mau, dia bangkit dan segera kupeluk selimut dua lapis yang tebal tersebut.


"Abibah, dingin," keluh Pak Malik yang membuatku teriris.


"Maafin saya, Pak," kataku dengan mata menatap ke arah dirinya bersalah.


Dia tersenyum dan mengusap kepalaku yang tertutup kerudung, "Gak papa, bukan salah kamu."


Pak Malik merebahkan tubuhnya lebih dulu dan segera kututupi kembali menggunakan selimut tadi, kubuka kerudung dan meletakkannya di tempatnya.


Naik ke atas ranjang dan berada di samping Pak Malik, "Saya boleh peluk kamu?" tanyanya dengan mata yang terbuka.


Aku mengangguk dan seketika tubuhku sudah berada di pelukannya saja, tubuhnya masih terasa dingin, "Pak, kalo gak sembuh besok. Kita periksa ke dokter, ya," ucapku mendongak menatap wajahnya dengan mata yang tertutup.


"Iya," pasrah Pak Malik. Sebenarnya, aku ingin bertanya dia dari apa dan apa yang dia lakukan hingga sampai seperti ini.


Namun, biarlah aku fokus ke kesehatannya lebih dulu. Bukannya kalau dia sehat, lebih mudah diajak untuk berdebat? Eh!


***


Suara kendaraan yang mulai berlalu-lalang membuat aku terjaga, ya, di jam 5 Subuh tentunya sebagian orang sudah beraktivitas.


Kuraba kening Pak Malik, masih terasa panas. Ternyata, aktivitasku itu membuat dia terjaga, "Pak shalat dulu, yuk!" ajakku padanya.


"Bapak duduk aja nanti kalo emang gak kuat buat berdiri," sambungku dan memilih duduk.


Dia diam dan mengangguk, aku segera turun dan masuk ke dalam kamar mandi lebih dahulu. Pak Malik tetap memaksakan untuk salat dengan berdiri.


"Kita ke rumah sakitnya sekarang Pak?" tanyaku menatap Pak Malik yang tak bersemangat.


"Makan dulu, biar saya bisa jalan."


"Baik, Paduka Raja!"


Kubuka mukena dan roknya begitu saja, meninggalkan Pak Malik dengan suara kekehan terdengar dari bibirnya.

__ADS_1


Susu hangat dan hanya roti kemasan yang kuberikan pada Pak Malik, "Bahan-bahan dah pada habis Pak," ucapku dengan cengengesan.


"Gak papa, makan ini aja udah enak, kok," kata Pak Malik segera memakan dengan sedikit paksaan agar roti dan susu tersebut tertelan.


__ADS_2