
"Kayaknya, lu harus hati-hati deh sama tuh cewek. Lu harus gembok bahkan ikutin Pak Malik ke mana aja biar dia gak diambil sama tuh cewek!" tegas Aulia menatap ke arah Abibah.
Mereka kini berada di cafe, meski baru jam 1 siang tapi karena bingung akan ke mana lagi. Setelah salat Dzuhur tadi mereka memutuskan untuk ke cafe.
"Gembok, lu kira apaan! Udahlah, biarin aja. Kalo nanti dia emang ngajak perang baru deh gue jabanin."
"Emangnya lu berani?" tanya Aulia menaikkan satu alisnya. Pasalnya, Abibah memang terkenal sebagai wanita yang malas untuk ribut seperti itu.
"Beranilah, ngapain harus takut sama wanita kayak begitu."
"Bagus, jangan pernah takut sama siapa pun kecuali Allah. Ingat, kita cuma menghormati bukan menakuti."
"Baik, Bu guru!" kata Abibah dengan hormat.
Mereka tertawa dan memakanan-makanan siang yang dibeli Abibah melalui aplikasinya. Suara dering handphone mengalihkan pandangan Abibah.
"Siapa?" tanya Aulia menatap Abibah.
"Ayang suami guelah!" ejek Abibah dengan tersenyum. Ia memencet tombol hijau dan terjadilah telepon antara dia dan Malik.
"Assalamualaikum, ada apa Mas?" tanya Abibah yang sok mesra agar membuat Aulia iri.
"Waalaikumsalam, kamu lagi apa? Di mana?" tanya Malik di sebrang.
"Lagi di cafe, makan siang ini Mas. Kamu udah makan?"
"Ini lagi makan, kok. Oh, iya. Kayaknya saya gak sampe pukul 6 sore pulangnya, jam 4 juga udah selesai."
"Yaudah, Mas jemput pas udah siap salat Ashar aja, ya. Saya juga mau liat anggota baru, soalnya kemarin gak sempat."
"Oke."
Panggilan pun diputus oleh Abibah lebih dulu setelah berbicara dengan intens, Abibah berjalan kembali di samping Aulia.
"Bicara apa? Kok sampe jauh gitu?" tanya Aulia menyelidiki.
"Dih, kepo banget lu! Namanya suami istri, ya, harus ada privasi dong!"
"Nyenyenye," ejek Aulia.
__ADS_1
Mereka kembali sibuk dengan ponsel masing-masing, sesekali saling bercerita dan menguatkan.
"Permisi, saya mau pesan dong!" ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam cafe.
Sontak, Aulia dan Abibah menatap ke arah suara tersebut. Abibah langsung bangkit untuk melihat ke arah pamplet yang biasanya memang ada di depan cafe.
Untuk memberi tahu orang-orang apakah cafe buka atau sedang tutup, "Anda gak liat ini, ya, Om?" tanya Abibah menunjuk ke pamplet yang masih bertuliskan tutup.
Laki-laki tersebut langsung menampilkan tingkah kikuknya dengan cengiran, "Oh, masih tutup, ya? Maaf-maaf, saya gak fokus tadi Mbak," ujarnya menggaruk tengkuk menahan malu.
"Tunggu!" panggil Aulia saat laki-laki tersebut ingin pergi dari cafe.
"Sini, duduk aja Kak. Mau pesan apa?" tanya Aulia tersenyum ke arah laki-laki tersebut.
Dengan perasaan tak enak, laki-laki tersebut menatap ke arah Abibah seolah meminta persetujuan, "Yaudah, kalau dia mau mah gak papa," ketus Abibah dengan bersedekap dada.
Ia kembali berjalan ke arah Aulia, "Mau pesan apa Kak?" tanya Aulia kembali mengulang pertanyaan.
"Mm ... Americano aja satu, Mbak," ucap laki-laki tersebut dengan perasaan tidak enak.
"Santai aja Kak, gak papa kok. Kami juga yang salah, seharusnya gak buka penutup cafe," kata Aulia yang merasa tak seutuhnya salah laki-laki tersebut.
Abibah hanya menyimak pembicaraan mereka berdua dengan menopang dagunya, Aulia tampak dengan lihai dan cekatan membuat pesanan laki-laki tersebut.
"Nih, Kak. Terima kasih," ujar Aulia setelah laki-laki tersebut selesai membayar pesanan melalui debit.
"Sama-sama, lain kali saya boleh datang ke sini?" tanya orang tersebut meminta persetujuan.
"Haha, ya, bolehlah Kak. Kenapa enggak?" tanya Aulia menaikkan satu alisnya.
"Ya, saya kira habis ini akan di tolak."
"Haha, tidak. Boleh datang kapan aja, tapi ingat! Pas cafenya buka," sindir Aulia tersenyum.
"Haha, maaf sekali lagi soal itu Mbak." Aulia mengangguk dan tersenyum menatap laki-laki yang tak jauh beda dengan Abil.
Laki-laki tersebut pergi, Aulia mencuci kembali barang yang tadi ia gunakan untuk membuat pesanan laki-laki tersebut.
"Cie ... habis ketemu sama cogan bawaannya senyum-senyum sendiri, ya?" tanya Abibah menggoda Aulia.
__ADS_1
"Apaan? Gue cuma kesian sama dia, gue gak tertarik sama cowok lagi. Males sama dunia percintaan!"
"Masa, sehh? Nanti, juga ada saatnya di mana datang seseorang membuat lu berani buka hati dan melangkah lebih jauh ke arah yang serius. Dan mungkin itu dia," terang Abibah tersenyum.
"Heleh, paling kayak sebelum-sebelumnya. Mereka cuma tertarik sama lu dan gue dijadiin mak comblangnya," tutur Aulia yang sudah muak akan hal tersebut.
"Lah 'kan sekarang gue udah nikah. Jadi, lu bisa tinggal bilang sama mereka. Kasih tau, kalo yang masih gadis itu cuma lu," kata Abibah tersenyum menatap wajah fokus Aulia yang tengah menatap benda pipihnya.
Seketika wajah Aulia langsung menatap ke arah Abibah dengan tatapan serius, hal tersebut membuat Abibah menjadi kebingungan. Ia menautkan alisnya dan melihat ke arah belakang.
"Apaan, sih?" tanya Abibah yang merasa merinding dengan tatapan Aulia.
"Lu ngapain aja di Bandung kemarin? Lu udah gak perawan, ya? Lu dan Pak Malik udah saling cinta, dong? Atau ... lu lakuin itu sama cowok lain?" tanya Aulia beruntun dan pertanyaan terakhir mendapatkan pukulan dari Abibah.
"Enak banget tuh mulut ngatain gue ngelakuin itu sama cowok lain!" omel Abibah yang tak terima atas tuduhan Aulia.
"Ya 'kan mana tau, orang lu cerita bahwa pernikahan lu sama Pak Malik itu karena jodohan Tante Dwi. Bisa jadi 'kan lu lakuin hal itu sama cowok lain karena sama Pak Malik gak mungkin terjadi," terang Aulia mengusap lengannya yang dipukul oleh Abibah tadi.
"Gak kayak gitu juga gue, kali! Masa, mau banget nyerahin kehormatan sama cowok lain apalagi buat yang gak halal sama gue!" ketus Abibah dengan memajukan bibirnya kesal.
"Yaudah, maafin gue deh. Oh ... jadi hubungan kalian udah membaik, nih," pikir Aulia dengan senyum menggoda, "gimana rasanya Abibah?"
Mendengar pertanyaan dari Aulia, Abibah langsung menatap tajam ke arah Aulia dan berusaha untuk menutupi semu merah di wajahnya.
"Mangkanya nikah! Biar tau rasanya!"
"Hahaha, utututu. Yang gak pernah pacaran sekalinya dapat Ayang langsung versi halal, pasti rasanya ah ... mantap, nih!"
"Astaghfirullah, ngucap lu Aulia. Ya, Allah nih anak!" keluh Abibah menggelengkan kepala menatap Aulia yang ternyata semakin jauh tertinggal.
"Asalamualaikum," salam seseorang membuat pandangan mereka teralihkan menatap orang yang baru saja sampai.
Seorang wanita dengan pakaian yang sama dengan Abibah mendekat ke arah mereka dengan senyuman yang merekah.
"Ini ... Mbak Abibah, ya?" tanya orang tersebut menatap Abibah.
Abibah tidak langsung menjawab, ia menatap ke arah Aulia seolah minta jawaban atas apa yang ada di pikirannya.
"Ya, ini sepupu gue," ujar Aulia seolah tahu apa yang ada di dalam pikira Abibah.
__ADS_1