Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Menjaga Jarak


__ADS_3

"Abibah, lu liat deh ini! Nih orang kayaknya rada gak waras, ya? Masa, dia bilang bahwa anak adalah sumber dari penuaan. Jadi, Maknya pasti tua juga gara-gara dia dulu. Budu banget jadi orang!" caci Aulia sambil menatap handphone-nya.


Melihat tak ada sahutan, Aulia mengalihkan pandangan dan menatap ke arah Abibah menatap kosong ke arah meja dengan menopang dagunya.


"Woy!" pekik Aulia menyenggol bahuku yang membuat aku hampir jatuh kalau tidak menyeimbangkan nih tubuh.


"Ih, apaan sih?! Ngagetin aja, kalo tadi gue jatuh, gimana?" tanyaku dengan kesal menatap tajam ke arah wanita yang sedang tertawa cekikikan.


"Lagian, lu aneh banget! Siang-siang pake acara melamun segala, kesambet dedemit baru tau lu!" terang Aulia yang kembali menatap ke benda pipih miliknya itu.


Kuhela napas kasar, aku masih bingung dan memikirkan siapa sebenarnya yang mengangkatku ke kamar tadi malam.


Kata Pak Malik, aku berjalan sendiri. Dia mana mau buat ngangkat aku, berat! Hinanya tadi pagi saat kutanya.


Padahal, aku tak terlalu berat. Hanya 45kg dengan tinggi badan di bawah 160cm. Hayo ... pada ngiri, gak, nih? Bwahahaha.


"Dahlah, gue mau ke taman aja!" timpalku bangkit dari bangku kantin.


"Lah-lah, kenapa? Bentar lagi juga masuk kelas kita," pikir Aulia menatap ke arahku.


"Yaudah, kita tunggu di taman aja. Kesian, orang mau duduk gak ada tempat. Kita juga udah kelar makan siangnya," jelasku memakai tak ransel warna putih milikku ini.


"Oh, okey! Tunggu!" pekik Aulia yang tak kuhiraukan. Siapa suruh lambat sangat!


Saat berada di koridor, di depan jalan sudah terlihat Pak Malik yang berjalan beriringan dengan Mis Vilo.


Aku melirik ke arah Aulia yang sudah senyum-senyum menatap sejoli tersebut, "Widih, couple goals lewat nih!" sapa Aulia saat Pak Malik dan pasangannya itu sudah akan dekat ke arah kami.


"Kamu bisa aja Aulia," kata Mis Vilo dengan malu-malu.


"Kalau udah jadian, jangan lupa traktiran, ya, Mis," sambung Aulia lagi dan entah kenapa kami ber-empat malah berhenti di koridor ini.


"Abibah, ada cowok cakep noh nunggu di tempat Security!" potong mahasiswi yang menggunakan kacamata ke arahku.

__ADS_1


Aku sempat kaget dan mengerjapkan mata, "Aku?" tanyaku memastikan.


Wanita itu mengangguk dan pergi dari hadapan kami, "Wiss ... gue akan kenyang traktiran dong ini, sekarang Abibah sama Kak Abil pulak. Uhuy!" seru Aulia semangat dan kuhadiahi tatapan tajam.


"Maaf, permisi Pak dan Mis. Mari!" pamitku dengan sedikit membungkuk melewati mereka.


"Eh, tungguin gue!" teriak Aulia menatap punggung Abibah, "mari Pak, Mis!" Aulia berlari mengejar Abibah yang sudah lumayan jauh darinya.


Malik mengepal tangannya dan mengeraskan rahang, dia segera berjalan dengan tergesa-gesa ke ruangan meninggalkan Mis Vilo yang sengaja mengikutinya.


"Ini, Neng Abibah. Dari tadi ditungguin juga!" kata Pak Security saat aku baru sampai di posnya.


"Hehehe, ya, maaf Pak," ucapku sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal dan beralih menatap Kak Abil, "ada apa Kak?" Tak ingin rasanya basa-basi dan terlalu banyak omong kosong.


"Kamu pulang jam berapa? Kenapa handphone kamu mati gak bisa dihubungi?" tanya Kak Abil dengan menatap wajahku. Bisa dilihat dari raut wajahnya ada rasa cemas pada diriku.


"Oh, iya, handphone lu mana Abibah?" celetuk Aulia yang baru saja sampai dan sadar kalau aku tak menggunakan handphone dari tadi.


Mereka berdua tampak mengangguk, sepertinya mereka percaya dengan yang aku ucapkan tadi. Lumayanlah.


"Oh, iya, kamu pulang jam berapa?"


"Belum tau Kak."


"Boleh saya jemput?"


"Gak usah Kak, soalnya yang akan jemput saya Mama dan Papa. Ntar, mereka marah kalo tau saya deket sama cowok yang bukan mahramnya."


"Oh, baiklah kalau begitu."


"Mmm ... Kak, boleh kita bicara berdua?" tanyaku dengan hati-hati sambil melirik ke arah Aulia juga Pak Security yang memperhatikan kami dari tadi berbicara.


Kak Abil mengangguk, kami berjalan ke arah mobil Kak Abil yang berada di luar halaman kampus.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kak Abil yang sepertinya sudah tak sabar. Sedangkan aku masih bingung cara merangkai kata agar dirinya tak tersinggung atau sakit hati dengan ucapanku nanti.


"Hey, ada apa Abibah?" tanya Kak Abil sambil melambaikan tangannya di hadapanku, "kok malah bengong, sih? Hahaha."


"Hehe, Kak maaf banget. Tapi, tolong jangan terlalu hubungi dan temui Abibah, ya. Abibah gak mau terjadi fitnah di antara kita apalagi kita adalah dua manusia yang berlawanan jenis dan sudah dewasa. Abibah takut ntar ada yang berpikiran enggak-enggak soal kita, Abibah mohon bersikaplah selayaknya pengunjung cafe dan pemiliknya saja. Setelah keluar dari cafe, kita bukan siapa-siapa lagi," jelasku dengan meremas tangan dan mendongak untuk menatap ekspresi wajah Kak Abil.


Kalau waktu bisa diputar, aku pasti sangat ingin menjadi pendamping Kak Abil sangat-sangat. Namun, nasi sudah jadi bubur.


Aku harus menjalankan pernikahan rahasia dan yang tak kuinginkan ini, aku tetap harus setia pada pasangan yang tak kuinginkan tersebut bagaimana pun.


Ada raut kekecewaan dan kesedihan tertampil di wajah Kak Abil, "Maaf, ya, Kak. Permisi!" pamitku setelah cukup lama menunggu sahutan dari bibirnya atas ucapanku tadi.


Kutinggalkan dia dan masuk ke dalam kampus melewati Aulia yang sumbringah, apakah dia pikir kami habis membahas hubungan?


"Lah-lah, ada apa?" tanya Aulia dengan nada serius berada di sampingku.


"Gak papa," jawabku singkat dan melirik arloji sebentar, "udah waktunya kelas selanjutnya, nih!"


Dia sedikit berlari menyeimbangi lamgkahku, hari ini kami akan pulang jam 2 sore dan mengantar Mama Dwi sekitar jam 4 sore nantinya.


"Lu ngomong apa tadi sama Kak Abil?" tanya Aulia berbisik yang duduk di samping mejaku. Aku hanya menggelengkan kepala dan mencoret-coret buku layaknya seorang wanita yang frustasi karena putus cinta.


"Selamat siang semuanya!" Suara bariton yang tak asing masuk ke dalam kelas, aku melirik ke arah pintu dan benar saja tebakanku.


"Siang ini saya yang akan menggantikan dosen kalian, tapi saya tak akan menjelaskan apa-apa karena ini bukan mata kuliah saja. Beliau hanya menitipkan tugas saja karena katanya memang pertemuan kali ini pemberian tugas dan dikumpul minggu depan, ya!" tegas laki-laki tersebut di depan dengan menatap satu per satu mahasiswa/i yang ada di dalam kelas.


'Artinya, hari ini cepat pulang dong? Mana gak ada handphone, gimana caranya nyari taksi, coba? Angkot 'kan lewatnya mulai jam 2-an,' batinku menopang wajah ini dan menatap ke depan.


Terlihat laki-laki impian para wanita kampus sedang menuliskan amanah dari rekan kerjanya tersebut.


Kulirik Aulia yang berada di samping, senyuman merekah di bibirnya. Ya, itu selalu ia lakukan setiap kali laki-laki ini masuk untuk mengajar.


Kubuang napas kasar dan akhirnya ikut menulis juga apa yang ditulis oleh Pak Malik di papan tulis.

__ADS_1


__ADS_2