
"Kau kenapa? Apa masih marah karena hal tadi, aku minta maaf kalau ucapanku tadi membuat kau sakit hati atau tersinggung," jelas Pak Malik berdiri di samping ranjang dengan aku yang tengah duduk sambil bersandar.
Tak kugubris sama sekali, aku tetap asyik dengan gadjet ini lagi dan lagi meskipun aku merasa sangat bosen.
Dia duduk di sisi ranjang dan menatapku, jujur aku sedikit salting saat dilihat dan deg-degan parah karena hal ini.
Namun, sebisa mungkin harus bisa kubuat biasa-biasa saja. Tanpa kuduga, Pak Malik langsung memelukku begitu saja yang membuat aku kaget.
"Saya gak tau gimana cara agar membujukmu. Namun, saya minta maaf jika ucapan saya tadi menyinggung atau membuat kamu marah karena saya yang terkesan tak menghargai pilihan dari pak penjaga."
Kulepas dan kudorong tubuh Pak Malik, "Nah, Bapak tau apa salah Bapak! Seharusnya, kalo ngomong itu dipikir lebih dulu Pak! Percuma Allah ngasih otak kalo gak dibuat berpikir!" ketusku dengan marah ke arahnya.
"Ya, saya minta maaf." Aku hanya diam dan menatap ke arah lain, malas rasanya jika harus menatap wajahnya itu.
Pak Malik bangkit, "Yaudah, kamu istrahat, ya. Saya mau tidur di kamar samping," ucapnya sebelum keluar dari kamar.
Petir menggelegar bersambut dengan lampu yang padam, "Pak!" teriakku dan langsung memeluk Pak Malik yang tadi masih kulihat dia belum ke luar kamar.
"Tenang, itu hanya suara petir sepertinya akan hujan sebentar lagi. Langit soalnya tadi begitu terang," kata Pak Malik yang memelukku juga dengan erat.
Tak lama, suara hujan turun dengan begitu lebatnya bersahutan dengan jendela yang sepertinya terbuka.
Aku sudah memejamkan mata di dalam dekapan Pak Malik, "Aku harus menutup jendela, kau lepas dulu pelukannya. Aku tak bisa bergerak," keluh Pak Malik yang ingin beranjak.
"Saya ikut, Pak. Takut," kataku sambil menggelengkan kepala. Kudengar ada helaan napas kasar, perlahan kami mulai berjalan ke arah kaca.
Kulihat sebentar keadaan luar dari jendela, semuanya padam dan hujan masih dengan derasnya.
Lampu senter dihidupkan Pak Malik dan membuat aku seketika menjauh dari tubuhnya dengan kikuk.
"Pak, temenin tidur, ya," pintaku menunduk.
"Baiklah."
Aku langsung naik dan merapikan rambut yang sempat berantakan tadi, segera memeluk guling dan menutupi tubuh dengan selimut.
"Kenapa pake guling?"
__ADS_1
"Gak papa Pak, daripada saya peluk Bapak mending saya peluk guling aja."
"Yakin, gak mau peluk saya?"
"Dih, gak!"
Aku langsung memunggungi Pak Malik dan memeluk dengan erat guling milikku hingga mata ini terlelap dan masuk ke dalam mimpi.
Aku terjaga karena ingin buang air kecil, akibat dingin jadi lebih sering ingin ke kamar mandi. Kubuka mata dan melihat posisi saat ini.
"Ha? Yang bener aja, bukannya aku tadi meluk guling? Kenapa malah udah di peluk Pak Malik aja?" gumamku mendongak menatap Pak Malik yang tidur dengan tenang dan tangan yang memeluk tubuhku.
"Ini, gimana cara lepasinnya, sih? Mana susah banget. Kenceng banget meluknya," gerutuku yang mengangkat tubuhnya agar menjauh dari tubuhku.
Ternyata, aktivitas-ku mengganggu tidurnya. Pak Malik membuka mata dan menatap ke arahku, "Ada apa?" tanya Pak Malik yang membuatku kaget.
"Pak, saya mau ke kamar mandi. Lepasin, ih! Bapak mah modus banget!"
"Saya tau saya cantik banget, sih. Tapi, jangan ambil kesempatan di dalam kesempitan dong. Mana meluknya erat banget lagi ini, saya jadi susah napas," sambungku dan tersenyum menggoda Pak Malik.
Dia langsung melepas pelukan, "Kau mau saya temani?" tanya Pak Malik menaik-turunkan alisnya kembali menggodaku.
"Ayo, Bapak mau temani saya 'kan?" ajakku yang malah tak takut jika dia benaran mau ikut ke kamar mandi.
Dia bangkit dan membuat aku membulatkan mata, dengan cepat kudorong kembali tubuhnya agar tetap berbaring.
"Dih, saya sendiri bisa!" ketusku dan segera turun dari ranjang.
"Hahaha, tadi dikasih izin."
"Lambat, sih! Dikasih izinnya udah gak berlaku lagi!"
Aku langsung berlari masuk ke dalam kamar dengan degub jantung yang tak beraturan, "Buset, ngapa Pak Malik malah lebih bar-bar daripada gue dah? Dih, ngeri!" gerutuku menaikkan bahu.
Kubuka pintu kamar mandi dan langsung melirik jam dinding, baru jam 2 subuh.
"Lah, Bapak kenapa belum tidur lagi?" tanyaku saat melihat Pak Malik malah bangun dan menatap ke arahku.
__ADS_1
"Saya nunggu kamu," ucapnya yang membuatku bergedik ngeri.
"Dih, ngapain nungguin saya segala?" tanyaku berdiri di sisi ranjang.
"Sini, tidur lagi! Masih jam 2 subuh ini, masih ada waktu sampai jam 5," titahnya menepuk-nepuk bantal yang ada di sampingnya.
"Apaan, sih! Gak usah gaje deh, Pak! Mana lagi ini guling?" Aku mengedarkan pandangan mencari guling.
Ternyata, guling berada di bawah ranjang Pak Malik. Artinya, dia yang sengaja melepaskan guling tersebut dari pelukanku?
"Dih, Bapak mulai mesum, ya? Kenapa malah diambil guling saya?" tanyaku dengan tatapan sinis sambil memeluk guling kembali.
"Besok, kayaknya saya harus pasang CCTV di kamar ini. Agar kau tak asal menuduh!" protes Pak Malik yang tak terima dengan ucapanku tadi.
Aku naik kembali ke ranjang dan sedikit menjauhkan bantal dari Pak Malik, mencari jarak aman agar tak terjadi sesuatu yang diinginkan.
"Kau cantik sekali tanpa kerudung, aku takut khilaf jadi ada baiknya kau tahan aku dengan cara memelukku kembali seperti tadi," bisik Pak Malik tepat di telingaku dengan tubuhku yang memunggungi dia.
Ubun-ubun langsung berdiri mendengar kalimat dari bibirnya itu, langsung kulihat ke arah wajahnya yang tersenyum dengan arti yang berbeda dan alis sebelah dinaikkan.
"Pak, Bapak jangan macem-macem, ya. Saya laporkan nanti Bapak!" tegasku mengancam dirinya.
"Laporkan saja, aku tak takut. Palingan mereka nanti yang akan tertawa dengan laporanmu itu."
"Kenapa tertawa?"
"Apakah kau akan melaporkan saya dengan kasus suami memberi nafkah batin pada istrinya?" tanya Pak Malik yang membuat aku susah payah menelan saliva.
"Dih, saya 'kan gak mau! Gak usah dikasih!"
"Masa, kamu cuma mau nafkah lahir aja? Pas nikah 'kan disebutkan memberi nafkah lahir dan batin."
Memang benar, selama ini Pak Malik selalu memberi uang belanja, jajan dan lainnya untukku layaknya seorang istri dan suami.
Aku diam dan berpikir sejenak, tak mau lagi memperpanjang urusan dengan laki-laki di hadapanku saat ini.
"Sini!" titah Pak Malik menepuk-nepuk lengannya yang pastinya menjadi bantalku.
__ADS_1
Aku tetap diam dan menatap ke arahnya, dia malah mendekat, "Bilang kalo kau malu harus memeluk saya duluan," cibir Pak Malik dengan kekehan.
Aku mendengus kesal, terjebak dengan godaan yang kubuat sendiri dan malah aku yang kalah. Dasar! Lain kali, aku ogah untuk menggodanya kembali.