Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Tak Pantas Dibandingkan


__ADS_3

Setelah menelpon Abibah melepaskan segala gundah yang tak mampu ditahannya, Malik memilih untuk ke kantin agar mengisi perutnya.


Saat berjalan menuju ke kantin, Vilo mengikuti Malik membuat laki-laki itu seolah acuh tak acuh akan kehadiran dirinya.


"Pak Malik mau ke kantin, ya?" tanya Vilo sambil menatap bekal yang dibawa Malik.


Malik tak menjawab, ia sedikit menjaga jarak dan berjalan lurus menatap ke depan tanpa menoleh ke arah Vilo.


Berjalan mendekati tempat order, Malik memesan minuman dan mencari meja yang kosong. Dia mengedarkan pandangan melihat tempat yang mungkin bisa ia tempati.


"Kita ke situ aja, yuk, Pak!" ajak Vilo menarik tangan Malik.


Malik melirik tajam dan berjalan ke meja yang kosong, karena meja yang sudah ada orangnya pada penuh semua.


Ia tak bisa untuk ikut duduk bersama di situ, mau tak mau ia harus menuruti ucapan Vilo tadi.


Malik menyandarkan punggung, bersekap dada dan menatap tajam ke arah Vilo. Namun, tatapan Malik malah disalah artikan oleh wanita tersebut.


"Kenapa? Apa saya cantik hari ini Pak?" tanya Vilo dengan percaya diri sambil merapikan rambutnya.


"Ck!" decak Malik mengalihkan pandangan dan menatap kembali ke arah Vilo, "bahkan, kau tak ada bedanya seperti seorang pelacur sekarang di mataku! Bukannya sudah pernah aku katakan bahwa aku tak akan pernah mau denganmu? Tidakkah kau mengerti dengan ucapanku? Bahkan sekarang, kau ingin merayu aku ketika hatiku sudah terisi dengan wanita yang jauh lebih baik darimu? Coba berkaca, kau bahkan tak pantas dibandingkan dengannya!" Malik pergi setelah berucap seperti itu.


Ia mengambil kembali bekal makanan, urung untuk jadi makan siang di kantin. Beruntung, minuman tadi sudah dibayar lebih dulu.


Malik langsung keluar dari kantin dan berjalan kembali ke ruangan, niat ingin minum es seketika hilang akibat Vilo yang selalu saja mengikutinya.


Sedangkan Vilo yang mendapatkan perlakuan seperti tadi mengepal tangannya dan menatap dengan marah ke pintu masuk-keluar kantin.


"Kamu liat aja Malik, aku akan buat kamu berlutut di hadapanku!" tegas Vilo dengan menekan setiap katanya.


Padahal, seharusnya mundur lebih baik, bukan? Saat seseorang tak ingin lagi dengan kita, maka cara lebih baiknya adalah mencoba merelakan.


Terlalu berambisi untuk memiliki juga bukan suatu hal yang baik, karena bisa jadi ambisi yang salah membuat keadaan semakin kacau saja.


Vilo pergi dari kantin, ia meninggalkan tatapan orang-orang yang mungkin sedang melihat ke arah dirinya.


***


"Kita ke restoran aja, yuk! Makan siang di sana," ajakku pada Aulia yang tengah sibuk dengan handphone-nya.

__ADS_1


"Yuk! Di mana?" tanya Aulia dengan tersenyum.


"Dih, chat sama siapa lu?" tanyaku mencoba mengintip.


Dengan cepat, ia menutupi handphone-nya kembali takut jika aku mengetahui tengah asyik chat dengan siapa.


"Gak boleh, lah! Kali ini harus privasi, biar jadi sampe pelaminan kayak lu dan Pak Malik," ujar Aulia tersenyum.


"Ck! Mau balas dendam, nih, ceritanya?" tanyaku menaikkan satu alisku.


"Gak, gitu. Cuma lagi stay private, belajar dari hari-hari kemarin. Terlalu dibanggakan belum tentu tulus dan setia."


"Widih ... yang paling berlagak sok paham tentang percintaan," ejekku.


"Hahaha, yaudah, mau ke mana?"


"Ke restoran di mana?"


"Deket kampus aja 'kan ada tuh tempat langganan kita."


"Mau ke sana demi makan siang atau sekalian mantau Ayang, nih?" tanya Aulia menaik-turunkan alisnya.


"Dih, gaklah. Udah lama aja gak ke situ, lagian ngapain juga mantau Pak Malik? Kayak gak ada aja kerjaan lain!" ketusku dan mulai bangkit dari tempat duduk berniat mengganti baju.


Aku hanya menunggu rok dan tunik juga kerudung yang dibuat menutupi dada, tak lupa tas selempang serta dompet paling penting.


"Yuk!" ajakku kepada Aulia yang menatap masih fokus sambi cekikikan melihat handphone-nya.


"Dih, buset! Kayak anak ABG aja lu! Kalah yang anak gadis," sindir Aulia dan mematikan televisi.


Aku berjalan ke rak sepatu untuk mencari sepatu atau pansus yang pas dipakai hari ini, kami sudah siap salat tadinya.


Ini juga sudah jam 1 siang, seharusnya sudah telat jam makan siang. Namun, karena rasa lapar baru datang jam segini akhirnya kami baru pergi mencari makan.


"Lu tadi ke sini naik apa?" tanyaku menatap ke arah Aulia saat tengah menunggu mobil online yang kupesan.


"Naik ojeklah, kayak biasa! Motor 'kan dibawa sama Adek gue ke rumah Mama gue," jelas Aulia dengan mata yang menyipit mungkin karena silau matahari. Aku mengangguk paham dan tak mau bertanya lagi yang mengarah ke situ.


Takut saja, nantinya dia akan kembali sedih akibat ulahku tanpa aku sadari. Mobil hitam berhenti di depan kami yang berdiri di halaman apartemen.

__ADS_1


"Atas nama Abibah?" tanya supir dengan kaca mobil yang turun.


"Oh, iya, saya Pak."


"Baik, silahkan masuk Mbak-mbak," titah supir ramah dengan tersenyum.


Aku dan Aulia masuk ke bangku belakang, kami hanya diam di dalam mobil. Tak ingin membahas apa pun, membiarkan pikiran melayang entah ke mana saja.


40 menit waktu yang dibuang akibat macet di siang ini, akhirnya sampai juga di restoran yang tak terlalu jauh dari kampus tempatku dan Aulia dulu menempuh pendidikan.


***


[Datang ke restoran ××× yang di dekat kampus kamu, aku menunggumu di sini. Celsea] satu pesan masuk ke aplikasi hijau milik Malik.


Dirinya yang tengah memakan bekal dari Abibah langsung mengalihkan pandangan dan menatap pesan tersebut.


[Bukan urusanku apa pun yang ingin kau lakukan!]


[Haha, datanglah ke sini dulu Malik. Aku ingin bicara denganmu, plis ... aku mohon!]


[Aku tak ada urusan lagi denganmu!]


[Baiklah ... aku yang akan datang ke kampus kalau begitu,] jelas Celsea mengancam Malik.


Laki-laki tersebut menahan kesal dengan mengepalkan tangan, dibuang napas kasar dan memilih pergi dari ruangan.


Daripada Celsea yang harus datang ke kampus dan membuat keributan di sini, lebih baik dirinya yang datang ke sana.


Ia masih ada waktu kosong satu jam, setidaknya cukup untuk membahas hal-hal yang tak bermanfaat nantinya dengan Celsea.


"Eh, mau ke mana Pak Malik?" tanya Vilo yang tak sengaja melihat Malik berjalan dengan tergesa-gesa keluar ruangan.


"Aku ikutin aja, deh," pikir Vilo dan berjalan mengikuti Malik dengan mengendap-ngendap.


Tak perlu waktu lama, hanya perlu menyebrangi jalan raya saja. Malik sudah sampai di restoran yang disuruh Celsea untuk bertemu tadi.


Tanpa dirinya ketahui, Vilo juga mengikutinya sampai ke dalam restoran. Mata Vilo melebar menatap siapa yang di temui Malik.


"Dasar wanita penjilat! Bisa-bisanya dia datang balik dan ketemu sama Malik!" maki Vilo yang berdiri agak jauh dari meja Celsea dan Malik.

__ADS_1


Karena restoran yang terkenal ramai ini, membuat Malik atau Celsea tak terlalu memperhatikan sekitar.


Vilo mencari meja yang kosong dan tak terlalu jauh dari meja Malik agar memudahkan ia mendengar pembicaraan kedua orang tersebut.


__ADS_2