Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Nurut


__ADS_3

"Pa, Abibah mau bawa mobil ke apartemen, ya," pintaku di sela-sela mengunyah makanan buatanku sendiri.


"Lah, kenapa? Bukannya kau sekarang ada Malik yang bisa minta tolong antar dan jemput?" tanya Papa menatap ke arah Pak Malik.


"Mas Malik juga punya kesibukan Pa, kesian kalo dia harus antar dan jemput Abibah mulu. Lagian, jadwal kelas kita jug beda."


"Tapi ini terlalu cepat untuk kalian pakai mobil masing-masing, setelah sebulan nanti Papa akan kasih mobil kamu kembali. Sekarang, banyakkanlah berdua dengan suamimu termasuk di dalam mobil!" tegas Papa dengan wajah serius.


Kalau udah begini, udah gak bisa diganggu-gugat keputusannya. Aku hanya bisa mengalah dan bersabar.


"Padahal, aku sama sekali tak merasa kebaratan jika kau merepotkan dengan mengantar dan menjemput pulang kampus. Lagian, kita juga satu rumah 'kan?" timpal Pak Malik yang akhirnya membuka suara.


"Nah, iya, benar! Masa, suami merasa keberatan dengan mengantar dan jemput istrinya sendiri," imbuh Papa membenarkan ucapan Pak Malik.


Aku hanya bisa mencebik kesal, kalau sudah begini mana bisa lagi aku untuk membujuk Papa agar memberi kunci mobil.


"Kalian nginap di sini?" tanya Papa saat kami telah selesai makan dan aku mulai mengumpulkan piring kotor.


"Maaf, Pa. Mungkin lain kali, soalnya Malik ada kegiatan lain di kampus dan ini juga akan kembali lagi ke kampus," jelas Pak Malik dengan tersenyum.


"Lah, emang tugas kamu di kampus belum kelar? Kok, udah ke sini?" tanya Papa tampak bingung. Pak Malik menatap ke arahku sedangkan aku pura-pura tak melihat tatapannya itu dengan beranjak ke wastafel untuk segera mencuci piring.


"Tuh, anak kita. Dia datang ke sini gak ngabari suaminya lebih dulu, jadi suaminya khawatir dan langsung nyari ke sini deh!" sindir Mama yang mungkin sekarang menatapku dengan kesal.


"Batre hp Abibah habis Pa, jadi lupa buat ngasih tau!" potongku membela diri.


"Lain kalo jangan begitu, ketahuilah bahwa sekarang ada yang lebih khawatir dari kedua orang tuamu. Yaitu, suami sendiri!"


Aku hanya diam dan tak menjawab apa-apa, selesai salat bersama hanya mereka bertiga. Tepat pukul 1 siang, kami pamit pulang sedangkan Papa tak kembali bekerja.


Hanya ada keheningan menuju apartemen, aku tak ingin membuka suara lebih dulu, gengsi!


"Apa kau marah karena kusuruh agar laki-laki itu tak datang lagi ke kampus hingga membuatmu bolos begini?" tanya Pak Malik memecah keheningan di dalam mobil.


"Kenapa Bapak bisa berpikir begitu?"

__ADS_1


"Ya, karena selesai kita bicara di ruangan. Kau langsung pergi, bukan?"


Aku diam, tak mungkin menceritakan soal aku yang akan menjauhi Kak Abil karena dia yang punya perasaan denganku.


"Kenapa? Kau menyukainya?" tanya Pak Malik dengan suara pelan. Aku langsung menatap ke arahnya, diam tanpa berkata sepatah kata pun.


"Aku tau, dia ada perasaan denganmu. Aku tak akan melarang hal itu, terserah kalian mau punya hubungan apa pun itu. Aku tak akan ikut campur," jelas Pak Malik yang membuat hatiku terasa perih.


"Bagaimana mungkin seorang suami mengizinkan istrinya berhubungan dengan laki-laki di luar sana? Awas, Pak! Bapak bisa masuk ke dalam suami dayyuts dan tak akan mencium wangi surga!" tegasku langsung mengalihkan pandangan.


"Saya akan pulang sore, tak perlu masak untukku!" ucapnya sebelum aku keluar dari mobil.


Aku hanya mengangguk dan langsung membuka mobil tanpa berniat menatap ke arahnya sebentar.


Kartu apartemen telah diberikan Pak Malik padaku tadi sebelum turun, kubuka pintu apartemen dan menutupnya kembali.


"Assalamualaikum," salamku dengan malas. Rumah yang seharusnya tempat paling menyenangkan kini malah tampak menyuramkan bagiku.


"Dia habiskan apa enggak, ya, nasinya?" tanyaku kepo pada diri sendiri dan langsung ke belakang untuk melihat langsung.


Namun, tak ada sama sekali kecuali bungkus box miliknya kemarin malam. Aku tersenyum bahagia, eh, kok malah bahagia? Kan, cuma sekadar makanan doang yang dia habiskan?


Merebahkan tubuh dan membuka handphone yang sudah full batreinya, meskipun hanya satu tahun jangka waktu menikah.


Aku tetap sering melihat ceramah tentang rumah tangga, aku tetap belajar dan mem-praktekkannya dari hal-hal yang kecil.


Tanpa sadar, kantuk menyerang dan membuatku terlelap dengan handphone yang masih memutar video kajian pra nikah.


***


"Pak Malik, saya numpang sama Bapak dong!" teriak Vilo sesekali berlari untuk mengejar Malik yang sudah berjalan lebih dulu darinya.


"Maaf, Mis. Saya lagi ada urusan, kita gak bisa sama-sama. Mis naik taksi aja, permisi!" pamit Malik dan masuk ke dalam mobil miliknya.


"Dih, kenapa sih dia! Selalu aja nolak aku! Mana belakangan ini gak pernah nemenin ke club lagi, ada apa sih sebenarnya?" gerutu Vilo dengan amarah menatap mobil milik Malik yang sudah menjauh.

__ADS_1


Malik sampai di apartemen, "Assalamualaikum," salam Malik dan membuka pintu mengedarkan pandangan mencari sosok istri sekaligus mahasiswinya itu.


"Jadi, buat kita sekalian. Jangan pernah jadikan pernikahan itu sebagai percobaan semata! Gak boleh, tidak boleh ikatan yang suci dipermainkan! Jika belum siap, jangan coba! Jangan menikah! Kalo udah siap, baru menikah! Ini nanti, belum siap! Dicoba dan dibuat seolah nikah itu hanya mainan belaka! Sangat tidak lucu!" Suara wanita menggema.


Malik berjalan mencari suara itu, dirinya membuka pintu kamar Abibah yang tak dikunci. Terlihat wanita tersebut memunggungi pintu dan menatap layar benda pipih yang tengah hidup dan menampilkan seorang wanita tengah berceramah.


Dengan pelan, Malik berjalan untuk melihat ke arah Abibah. Dipandangnya wajah tenang wanita tersebut, "Lah, malah tidur? Gimana mau paham dengan apa yang diucapkan oleh Ustadzah itu?" gumam Malik dengan tersenyum seraya menggelengkan kepalanya menatap Abibah.


Malik terdiam sebentar dan menatap ke luar dari jendela, setelahnya memilih beranjak dari kamar ke ruang tengah.


Perlahan, mata Abibah mulai mengerjap dan merenggangkan otot-otot tubuhnya. Ia melihat ke depan di mana handphone yang masih menyala dan berceramah.


Dia membulatkan mata saat melihat jam yang ada di handphone, "Ya, ampun Abibah! Udah jam berapa ini!" pekik Abibah dan langsung bangkit berlari ke dapur.


"Mau ngapain?" tanya Malik yang berada di sofa.


"Eh, Bapak udah pulang?"


"Udah, kau mau ngapain?"


"Mau masak, kalo Bapak gak mau makan buatan saya. Saya mau masak buat saya dan Aulia, hari ini saya mau ke cafe deh," ucap Abibah sambil menatap Malik.


"Tak bisakah cafe tutup selama seminggu dulu? Besok kita akan ngantar Mama dan Papa ke bandara," jelas Malik mengingatkan Abibah.


"Oh, iya!" kata Abibah menepuk jidatnya, "baru ingat kalo Mama dan Papa akan pergi ke luar negri."


"Mangkanya jangan terlalu mikirin orang yang belum tentu mikirin kamu," sindir Malik kembali menatap ke laptopnya.


"Ck! Siapa juga yang mikirin orang, biarin aja orang yang mikirin saya!" ketusku dan berlalu ingin ke dapur.


"Jangan lupa, tutup cafe selama seminggu!" teriak Malik membuat Abibah terhenti ke dapur.


"Kenapa harus tutup, sih?" tanyaku dengan wajah tak senang.


"Kau ingin seminggu atau selamanya? Bukankah seorang istri harus nurut dengan apa yang suami katakan? Itu yang tadi diucapkan orang yang ada di handphone-mu," papar Malik menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


'Ha? Pak Malik denger aku lagi liat kajian tentang pernikahan? Berarti, dia tadi masuk ke kamar dong?' batinku dengan mata yang sudah melebar mendengar ucapannya barusan.


__ADS_2