
"Iya, buka aja. Nanti, lu buar banner atau ajak temen atau sepupu lu juga boleh buat kerja di cafe."
"Lu beneran gak masuk lagi emang?"
"Iya, beneran. Gue mau jadi istri yang sholehah."
"Huwek ...."
"Eh, lu dihamilin siapa? Kok mual gitu."
"Gue muntah denger kalimat lu."
"Dahlah, intinya ntar sore lu buka cafe. Gue beri kepercayaan cafe sama lu, kalo suatu saat lu keterima kerja cepat kabari gue biar gue cari orang lain juga lagi."
"Hmm ... lu sekarang sibuk, ya? Gue jadi gak bisa cerita-cerita lagi dong sama lu."
"Bisa, kok. Nanti akan ada waktunya kita ghibah lagi, saat ini lu harus tahan diri dulu untuk ghibahi orang."
"Yaudah, deh. Seminggu 'kan lu di Bandung?"
"Iya, cuma seminggu doang, kok."
"Oke, deh. Enjoy, ya."
"Oke, lu juga."
Tut ...!
Satu jam lebih aku berbicara melalui telepon dengan Aulia membahas soal cafe, dia sedikit keberatan sebenarnya jika aku menyuruh dia untuk mencari penggantiku.
Namun, apa lagi yang mau dibuat? Aku juga tak diberi izin oleh Pak Malik. Lebih baik menjaga perasaan dia, tak ingin juga terjadi hal yang sama seperti waktu itu.
Kami ke Bandung menggunakan mobil suruhan Mama dan Papa, liburan kali ini benar-benar mereka yang tanggung biayanya hingga vila nanti di sana.
"Rumah seperti ini, kau mau?" tanya Pak Malik sambil menunjuk ke arah laptop yang dari tadi ia pegang. Ternyata, ia tengah mencari rumah.
"Boleh, Pak. Bagus juga, halamannya ada walau sedikit. Nanti, bisa buat tanaman biar cantik juga rumahnya," ujarku menatap gambar rumah di laptop Pak Malik.
"Warnanya mau warna apa dan barang-barangnya mau dibeli di mana serta bagaimana?"
"Eh, emangnya rumah yang itu udah laku Pak?"
"Sudah, utang rumah itu juga sudah saya bayar pada Mama."
"Cepet amat!"
__ADS_1
"Itu kawasan elit dan memang tinggal satu rumah itu saja, jadi tak heran jika cepat lakunya."
Aku mengangguk paham dan mengalihkan pandangan ke arah depan, ternyata selera Celsea itu lumayan tinggi juga.
Perasaan kepo ingin tahu wajahnya pun muncul, selama di apartemen aku tak pernah melihat ada barang atau benda yang aneh.
Serta foto di dalam Pak Malik pun hanya wajah dia, tak ada yang lain.
"Hey!" panggil Pak Malik dengan melambaikan tangannya di depan wajahku.
"Eh, apa Pak?" tanyaku tersadar dari lamunan dan menatap Pak Malik.
"Mau warna apa? Dan perabotannya beli di mana?"
"Nanti aja Pak, kita cek dulu rumahnya dan tetangga di situ warna rumah mereka. Jangan sampai sama, ntar Bapak salah masuk rumah lagi. Bahaya, eh, malah kebetulan rumah yang Bapak masuki itu janda pulak!"
"Ya, bagus. Itung-itung dapat rezeki nomplok!"
"Wajah Bapak yang saya tabok!"
"Hahahaha," timpal supir yang tertawa karena mendengar perdebatan kami di belakang. Aku yang tadinya tak tertawa langsung ikutan tertawa karena ada temennya. Lumayan!
"Melawan mulu kamu, ya, sama suami! Mau saya kutuk jadi Bidadari?"
"Ya, berarti saya akan menghilang dong Pak. Karena, gak pantes Bidadari kayak saya berpasangan dengan dedemit wajah datar kek Bapak!"
Aku langsung tertawa terbahak-bahak dengan sesekali melihat wajah Pak Malik, memang benar kami lebih ke seperti Adik dan Abang bukan pasangan.
Karena, memang Pak Malik lebih tua daripada aku. Ya, jelas saja. Dia dosen sedangkan aku baru saja lulus kuliah.
Entah mengapa kisah hidupku tak seperti cerita CEO-CEO yang ada, 17 tahun sudah punya perusahaan terbesar di dunia.
Ini, umurnya sudah hampir kepala 3 pun hanya seorang dosen hahah. Tapi, aku tetap bersyukur bagaimana pun gaji dosen juga sudah sangat lumayan.
Berapa pun gaji suami harus kita syukuri meskipun itu sedikit, mau bagaimana lagi? Dia pun pasti sudah bekerja dengan sebisanya untuk mampu memenuhi kebutuhan kita.
Namun, balik lagi. Hanya Allah yang tahu rezeki setiap manusia, intinya setiap manusia itu ada rezekinya jika mereka ingin berusaha.
Kami sudah sampai di vila, koper dibawakan oleh penjaga vila sedangkan aku dan Pak Malik langsung masuk ke dalam.
"Sudah, sampai sini saja Pak," kata Pak Malik saat penjaga sudah sampai depan kamar.
"Baik Tuan, di sini sudah ada pembantu yang akan menyiapkan makanan Tuan dan Nyonya," jelas penjaga dengan membungkuk.
"Hahaha, buset! Bapak lebay banget, dah! Gak perlu panggil saya Nyonya kali Pak, saya gak setua itu. Panggil aja Abibah!"
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Tapi, itu tidak sopan."
"Atau Bapak mau saya pecat selama seminggu saat kami di sini?" tanyaku dengan sedikit mengancam.
"Eh, b-baik Ny- eh Abibah," gelagap penjaga dengan terbata-bata.
Aku langsung mengangguk dengan tersenyum dan mengacungkan jempol.
"Saya juga, panggil aja Malik Pak. Gak perlu Tuan segala."
"Baik Malik. Kalau begitu, saya permisi."
Kuanggukkan kepala dan menatap punggung yang menjauh dengan peci di kepala dan kaos melar yang dipakainya.
Ada rasa kesian, seharusnya di usia yang mulai senja mereka menikmati hidupnya. Bukan malah harus bekerja seperti ini.
Apalagi pembantu, aku berharap pembantunya bukan nenek-nenek tapi gak anak gadis juga. Kalo dia lebih pintar menggoda daripada aku, bisa kecantol nih Abang kandungku, eh!
"Mau sampai kapan kau berdiri di situ?"
"Eh, kebiasaan gak ngajak-ngajak bini dah Bapak!" gerutuku masuk ke dalam kamar dengan menghentakkan kaki.
"Pak, mending tadi kita beli baju dulu, ya 'kan?" tanyaku duduk di tepi ranjang dan suamiku tercinta merapikan isi koper ke dalam lemari.
Sungguh romantis, bukan?
"Untuk apa?"
"Liat baju Bapak itu tadi, kayaknya 2-3 orang bisa masuk ke dalam bajunya sangking melarnya."
"Ngapain kau melihat orang sampe sedetail itu?" tanya Pak Malik menatap ke arahku.
"Eh, ya, saya punya mata. Wajar kali, Pak kalo ngeliat sesuatu mah."
"Tak perlu sedetail itu memperhatikan orang lain!"
"Gak akan kepincut saya, kok, Pak. Masa ... sama Bapak-bapak kayak gitu mau."
Pak Malik menutup koper juga lemari, meletakkan koper di atas lemari dan merapikan baju kaosnya yang tadi sempat terangkat.
"Kalo kepincut juga gak masalah bagi saya!" ucapnya dengan menepuk-nepuk tangan seolah menghilangkan debu dan berlalu keluar dari kamar.
"Dih, kagak capek kali badannya, ya?" cibirku yang tak di dengar lagi oleh Pak Malik.
Kurebahkan tubuh dan menatap platfon warna putih di kamar ini, saat mata ingin terpejam, "Dih, gue belum liat pembantunya! Bisa jadi masih cakepan dia daripada gue!"
__ADS_1
Aku bangkit dan menuju ke dapur untuk mencari tahu, takut saja jika nanti Pak Malik yang malah kepincut.