
Abibah mendengarkan cerita tentang sepupu Aulia ini, hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Saat mereka sudah selesai salat dan membereskan cafe, mobil Malik berhenti di depan cafe.
"Mm ... itu mobil siapa?" tanya sepupu Aulia membuat kedua wanita yang tengah fokus bercerita tadi mengalihkan pandangan.
"Oh, itu suami Abibah. Dia, suami dari bos kita," ungkap Aulia dengan tersenyum membuat Abibah mengerucutkan bibirnya kesal.
Untuk hari ini, dia berkali-kali digoda oleh Aulia dalam berbagai hal. Abibah memakai tas dan mengambil tempat makan yang bekas spageti tadi pagi.
"Yaudah, gue duluan, ya, Guys! Selamat bekerja dan semangat!" seru Abibah memberi semangat pada Aulia dan sepupunya.
Aulia melambaikan tangan hingga Abibah tak lagi berada di cafe, dirinya menatap sepupu yang melihat ke arah Malik tanpa berkedip.
"Lu kenapa?" tanya Aulia menyenggol bahu sepupunya yang membuat sepupunya refleks mengalihkan pandangan.
"Ha? Gak papa, kok," gelagap sepupu Aulia.
"Jangan macam-macam apalagi berpikir ingin Pak Malik, sempat lu lakuin lagi hal begitu. Maka, yang jadi musuh lu bukan cuma Abibah tapi juga gue!" tegas Aulia mengancam.
Sepupu Aulia hanya menunduk dalam, ia meremas ujung bajunya merasa malu dengan apa yang dulu pernah ia lakukan.
'Laki-laki itu, seperti laki-laki yang sering ke barr sama Mis Vilo,' batin sepupu Aulia yang merasa tak asing dengan wajah Malik.
Dirinya memang pernah berada di jalan yang salah dan kehidupan yang kelam, bahkan sekarang ia juga tak diterima oleh keluarganya.
Hanya Aulialah yang sekarang dekat dengan sepupunya ini, Aulia mencarikan kost-an yang jauh dari kebebasan.
Ibu kost yang begitu ketat peraturan dibuat, membuat sepupu Aulia sekarang menjadi orang yang lebih baik.
Bahkan, wanita tersebut sekarang sudah mantap menggunakan kerudung meskipun kadang masih saja ada yang menghina dirinya jika orang tersebut mengenali ia.
Namun, bukankah seseorang bisa saja berubah kapan pun? Selama orang tersebut ingin mengambil hidayah yang Allah beri kenapa, tidak?
***
Di dalam mobil menuju apartemen hanya ada keheningan, Malik berkali-kali menatap ke arah Abibah.
__ADS_1
Namun, yang di tatap tetap fokus ke arah depan melihat jalanan yang sedang banyak di lalui oleh para pengendara.
"Kenapa, sih Pak? Kok Bapak liatin saja mulu?" tanya Abibah yang merasa risih.
"Gak papa, kamu aneh aja. Kenapa malah diam? Bukannya seharusnya malah cerita-cerita? Kan, habis ketemu sama sahabat," ujar Malik mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Bapak jadi pengen dibuatkan soto, besok? Belanja, yuk! Masih ada waktu juga beberapa jam lagi," kata Abibah mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kamu gak lagi mengalihkan pembicaraan 'kan?"
"Enggak, kok, Pak. Nanti aja bicara soal sahabat, kayak gak ada rumah aja."
"Emang kita gak ada rumah 'kan? Kapan kamu jadinya mau liat rumahnya?"
"Pas Bapak libur aja, capek juga Bapak. Kesian saya liatnya," tutur Abibah menatap wajah lesu Malik yang memang sepertinya keletihan karena tugas kerjaan yang bertumpuk.
"Haha, sebagai seorang dosen. Ini hal yang biasa, kamu gak perlu khawatir apalagi ngerasa takut saya akan sakit. Saya gak akan pernah sakit, kok, karena saya seorang laki-laki."
"Heleh, waktu itu Bapak juga sakit pun!" sindir Abibah memutar bola matanya malas.
Karena, di sini lebih murah meskipun jadinya tak lagi segar karena sudah sore atau bahkan sudah ada sayuran yang sudah habis.
"Sini, jangan jauh-jauh!" pinta Malik dan menggenggam tangan Abibah.
"Pak malu, jangan gandengan ih!" timpal Abibah yang merasa tak enak.
"Malu kenapa? Gak masalah juga."
"Gak boleh ngumbar kemesraan Pak," bisik Abibah dengan menekan setiap katanya.
"Emangnya kita umbar? Enggak 'kan? Udah, ah, ayo cepetan! Ntar, pasarnya tutup," potong Malik dan berjalan lebih dulu ke dalam pasar yang memiliki dua tingkat tersebut.
Abibah mulai dari cabe-cabean dan lainnya, beruntungnya ada Malik. Jadi, laki-laki tersebut bisa membawakan kresek yang berisikan belanjaannya tersebut.
"Kenapa banyak sekali ayam sampe satu kilo?" tanya Malik yang keheranan.
"Buat Aulia Pak," ujar Abibah sambil fokus dengan jalannya. Mereka telah selesai belanja dan kini tengah berjalan kembali ke parkiran.
__ADS_1
Meletakkan belanjaan ke bagasi mobil dan membayar uang parkiran, mereka melanjutkan perjalanan menuju apartemen.
"Bapak tau, gak?"
"Apa?"
"Ayah sama Ibu Aulia ternyata baru aja cerai dan dia gak cerita sama saya karena dia gak enak soalnya saya baru aja nikah, dia juga marah sih sama saya karena nikah diam-diam dari dia. Saya gak ngasih tau dia kalau saya nikah sama Bapak."
"Jadi, dia ikut sama siapa?"
"Dia gak ikut sama siapa-siapa, rumah itu dikasih buat tempat tinggal dia. Mungkin, dia akan tinggal di situ sama sepupunya nanti. Adiknya dibawa sama Ibunya."
"Jadi, dia sendirian?"
"Iya, Pak. Kesian banget, ya. Saya jadi ngerasa bersalah karena gak ada waktu buat dia," lirih Abibah.
"Kamu tau Abibah? Semua akan menjauh dan pergi pada saatnya sesuai dengan takdir yang berlaku. Termasuk, kamu dan Aulia. Saat diantara kalian sudah ada yang menikah, memang inilah resikonya bahwa yang menikah akan fokus pada keluarga kecilnya dibanding dengan sahabatnya itu.
Bukan berarti, kamu harus merutuki diri sendiri dan mencaci diri yang tak bisa ada di setiap kesusahan sahabat. Karena, ya, emang pada akhirnya kita akan fokus pada kehidupan masing-masing pun dengan dirinya nanti."
"Iya, sih, Pak. Huh ... cuma sedikit sakit hati aja, atau kesian gitu pas dia bilang lebih baik orang tuanya kayak orang tua Abibah. Pergi. Bukan malah bercerai," ujar Abibah menceritakan ucapan Aulia tadi.
"Apa pun yang sudah Allah gariskan, harus kita lewati dan hadapi dengan ikhlas dan kesabaran. Mungkin, memang sudah itu menjadi keputusan orang tua Aulia. Apa pun itu, kita sebagai seorang anak seharusnya hanya bisa menerima. Apalagi, Aulia sudah dewasa bukan anak-anak lagi. Dia harus mampu menyikapi hal seperti ini dengan dewasa bukan dengan kekanak-kenakan."
Abibah hanya terdiam mencerna ucapan Malik, ia mengangguk tanda setuju dengan apa yang Malik ucapkan.
Bagimana pun, kita sebagai seorang anak tentunya sudah tahu apa konsekuensi di dalam rumah tangga.
Selain bertengkar, saling pukul bisa jadi terakhir berpisah. Tentunya sebagai seorang anak kita harus selalu menyiapkan mental untuk hal itu.
Apalagi di umur yang terbilang dewasa pasti sudah memahami bahwa dua kepala yang saling bertentangan dan tak mau mengalah akan sulit untuk bersama selamanya.
Kresek belanjaan diletakkan Malik ke atas meja, dirinya langsung keluar dari dapur untuk langsung mandi dan mengunci pintu apartemen.
Abibah sibuk menyusun belanjaan di dalam kulkas yang hampir kosong, hanya tersisa dua butir telur saja dan roti tawar tanpa selai.
"Oh, iya, aku belum cerita tentang si Celsea itu. Ntar, aku cerita, deh," ujar Abibah yang hampir melupakan hal tersebut.
__ADS_1