
Saat aku dan Mama tengah memasak untuk makan siang, suara gedoran pintu terdengar begitu keras membuat aku dan Mama saling pandang.
"Siapa, sih? Kok gak sabaran banget!" ketusku dan meletakkan pisau yang kupegang hendak membuka pintu.
"Udah, biar Mama aja," potong Mama dan berjalan lebih dulu ke luar.
Aku hanya memandang punggung Mama yang semakin menjauh dan memutuskan untuk kembali mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda.
Pintu dibuka oleh Silki, "Ya, sebentar!" teriak Silki dan membuka pintu.
"Malik, kamu kenapa?" tanya Silki kala mendapati bahwa yang di hadapannya sekarang adalah menantunya sendiri.
"Abibah ada di sini Ma? Handphone-nya Malik hubungi gak bisa-bisa dia juga gak ada di apartemen!" tutur Malik dengan raut wajah cemas.
"Ada, dia ada di dalam. Ya, ampun kamu sampe secemas itu. Mama udah bilang sama dia buat ngasih tau kamu dulu kalo mau ke sini cuma katanya malu," jelas Silki tersenyum hangat ke menantunya, "yuk, masuk!"
Malik mengangguk dan ikut masuk ke dalam, "Dia ada di dapur, sedang masak. Kamu susul aja ke sana, Mama mau ke taman depan aja. Ngurusin bunga-bunga Mama."
Silki akhirnya memutuskan keluar agar memberi ruang untuk Malik dan Abibah bisa bicara berdua.
"Ma, siapa?" tanyaku membelakangi Mama yang melangkah mendekat ke arahku.
"Ma?" tanyaku yang masih mengira bahwa itu Mama. Kubalikkan badan dan refleks membulatkan mata seketika saat melihat siapa yang ada di ambang pintu dapur.
"Kenapa bolos?" tanya Pak Malik yang membuatku seketika ingin terbang atau bersembunyi dari dirinya.
"Mmm ... itu, Pak," gugupku yang bingung mencari alasan apa kali ini sambil menggaruk tengkuk.
"Alasan apa kali ini yang akan kau ucapkan?" tanya Pak Malik dengan suara tegas. Serius, dia sangat menyeramkan!
Aku menautkan tangan dan sesekali meremasnya sambil menatap ke lantai, "Kalau orang bicara itu tatap matanya! Bukan tatap lantai!" bentak Pak Malik yang membuatku kaget hingga bahuku terangkat sendiri.
Aku menatap ke arahnya dengan wajah tak percaya bahwa dia bisa melakukan hal seperti itu padaku.
"Apa peduli Bapak! Bukankah kata Bapak tidak boleh ikut campur urusan? Jangan ikut campur urusan saya! Masalah saya bolos, bukan di kelas Bapak saya bolong, kok! Lagian, ini kali pertama saya bolos! Jangan urusin hidup saya!" tegasku dengan suara yang tinggi. Segera mematikan kompor dan berlalu dari dapur begitu saja melewati tubuhnya.
__ADS_1
Ini kali pertama aku menaikkan suara pada orang yang kukenal, aku tak biasa dibentak dan seenaknya saja dia membentak aku.
Tak peduli, entah Mama mendengar atau tidak suaraku tadi yang pasti aku terluka dengan suara bentakannya itu.
Kubanting pintu kamar dengan keras, merebahkan tubuh dengan bantal yang dibuat menutupi wajah.
Aku menangis, entahlah. Mungkin, aku memang terlalu cengeng. Tapi, bukankah semua wanita akan sakit hatinya bila dibentak?
Tok ...!
Tok ...!
Tok ...!
"Abibah, saya izin masuk!" jelasnya dari luar.
Aku hanya diam dengan meredakan suara tangisan, kurasa di pinggir kasurku agak sedikit merosot ke bawah akibat bobot tubuhnya.
Helaan napas keluar dari bibirnya, "Maaf. Maafkan saya jika saya tadi membentak dirimu, saya khawatir. Kenapa handphone-mu mati dan tak memberi tau saya kalau kau akan pulang? Jika tadi terjadi apa-apa di perjalanan denganmu? Siapa yang akan disalahkan oleh Mama dan Papa? Tentu saja saya!"
Aku kira, dia khawatir karena memang takut kehilangan aku. Ternyata, karena takut disalahkan oleh orang tuaku dan orang tuanya saja.
Aku diam tak menjawab dan berkeinginan menimpal kata-katanya, kulirik ke arah dia yang tengah duduk.
Ternyata, dia juga tengah menatapku, "Kau menangis? Apa saya terlalu kasar padamu?" tanya Pak Malik setelah kami saling tatap beberapa detik barusan.
Kuhapus air mata dan memilih untuk duduk, "Handphone-nya mati, jadi saya gak bisa ngabari. Saya sakit mangkanya bolos kelas," ucapku dengan sesenggukan yang tak hilang.
Haih, nangisnya bentar juga sesenggukan udah datang saja. Sangat menyebalkan!
"Kau sakit apa? Bukannya tadi baik-baik aja?" tanya Pak Malik yang langsung kutatap wajahnya.
"Dari mana tau kalo saya baik-baik aja?"
"Buktinya, kau bisa senyum ke arah laki-laki itu tadi pagi dengan seolah begitu bahagia," sindirnya dan kembali ke wajah datar.
__ADS_1
Aku gelagap, menatap ke arah kasur. Dia pun akhirnya bangkit dan hendak meninggalkan aku, apa dia benar-benar cemburu?
"Eh, kalian kok dari kamar?" tanya Mama yang entah kebetulan dari mana masuk ke dalam rumah. Dia mengerjapkan mata, apa yang ada di pikirannya sekarang? Hadeuh ....
"Iya, Ma. Abibah habis kasih bukti soal handphone Abibah yang mati, Mas Malik soalnya gak percaya," jelasku dengan cepat agar Pak Malik tak memberi tahu jika aku habis nangis.
Dia menatap ke arahku, tatapan apa itu tadi? Apa karena kupanggil 'Mas?' dia langsung geer? Beuh ... cuma karena ada Mama aku panggil dirimu begitu, Pak!
Kujerengkan mataku dari hadapannya, "Oh ... masaknya udah selesai?" tanya Mama mengingatkan kegiatanku tadi yang akhirnya berhenti karena Pak Malik tadi.
"Eh, belum Ma. Bentar lagi, kok. Abibah ke dapur dulu, ya," potongku dengan cepat dan pamit dari hadapan mereka berdua begitu saja.
Sekali kutatap ke arah mereka berdua, mereka tampak tengah berbicara entah membahas apa aku pun tak mau tahu.
Kembali bergelud dengan bahan-bahan masakan, aku hendak membuat sayur lodeh dan telur goreng lombok hijau.
Satu per satu makanan sudah selesai dengan aku yang hanya sendirian di dapur, apakah mereka begitu betah berngobrol
Kutata di meja makan, kata Mama Papa akan pulang untuk makan siang dan kemungkinan tak akan balik lagi ke kantor hari ini.
Apalagi jika dia tahu bahwa Pak Malik ada, sudah pasti dia akan sangat kekeh tak akan balik ke kantor.
Kembali ke dapur untuk meletakkan alat memasak ke wastafel, selesai makan nanti baru akan kucuci bersama dengan piring dan juga gelas.
"Ma ... ayo, makan!" ajakku berjalan ke arah sofa dan membuat suara tawa Papa terhenti.
"Lah, udah pulang Pa?" tanyaku dan mencium punggung tangan laki-laki yang sudah mencintai aku lebih dulu.
"Iya, Mama ngabari kalo ada Malik di sini. Jadi, milih lebih cepat aja deh pulangnya," ungkap Papa tersenyum dan menatap Pak Malik yang tersenyum simpul.
"Maafin Malik, Pa. Gara-gara Malik Papa harus cepat pulang," kata Pak Malik yang sedikit tak enak hati.
"Eh, gak papa kok. Gak perlu minta maaf segala, kita makan siang yuk! Papa udah lapar," ajak Papa dan langsung diangguki oleh Mama dengan senyuman sambil menatap ke arahku juga Pak Malik gantian.
"Wih ... siapa yang masak, nih?" tanya Papa dengan menjatuhkan bobotnya di kursi kayu ini.
__ADS_1
"Abibah dong Pa," kata Mama dengan membanggakan aku.
"Gimana, Lik? Udah rasain makanan apa aja dari Abibah? Dia ini jago masak, lho. Pasti udah rasain 'kan?" tanya Papa menatap Pak Malik yang ada di sebelahku.