Jodoh Titipan Tante

Jodoh Titipan Tante
Janji


__ADS_3

Aku berlari sekuat tenaga, beberapa kali menabrak orang yang tak sengaja papasan denganku.


Air mata tak lagi tertahan, Pak Malik bahkan tak kuhiraukan lagi keberadaannya. Kakiku berlari ke tempat yang tak kuinginkan.


"Gak-gak, Mama ... Papa!" teriakku masuk ke ruangan yang pintunya terbuka. Kain putih menutupi wajah kedua orang tuaku.


"Maaf, keluarga Anda tidak sempat kami tangani. Mereka meninggal saat berada di koridor rumah sakit tadi," jelas laki-laki dengan kacamata petak dan jas putih itu.


Kutatap tajam ke arahnya, "Gak! Mama sama Papaku masih hidup!" kataku dan membuka kain dari wajah Mama.


Wajah pucat dengan bekas luka yang sudah dibersihkan mereka, "Mama ... maafkan Abibah, Ma!" isakku dan runtuh.


"Abibah-abibah!" panggil Pak Malik dan segera memeluk tubuhku.


"Pak, Mama Pak," lirihku dengan suara isakan menatap ke arah Pak Malik.


"Saya permisi, ambulans akan segera disiapkan."


"Baik, dokter. Terima kasih!"


"Gak! Pak ... Mama Pak, Papa ... Papa meninggal Pak."


Seperti bumi runtuh saat mengetahui mereka sudah tak ada lagi di dunia ini, aku terus menangis bahkan air mata sudah tak keluar lagi saat perjalanan menuju rumah orang tuaku.


Diam tak ada ucapan apa pun dari bibirku, jiwaku seolah ikut bersama mereka. Rumah sudah ada tetangga yang membantu menyiapkan segalanya.


Tak tahu mereka mendengar kabar duka ini dari siapa, aku di bopong Pak Malik masuk ke dalam rumah.


Rencananya, jenazah akan langsung dimakamkan hari ini juga karena mengingat darah yang akan terus mengalir.


Banyak orang yang memeluk dan berbela sungkawan padaku tapi satu pun tak ada kurespons.


Aku hanya menatap kosong ke arah depan, keranda yang tertutup dengan kain hijau di atasnya.


"Ibu-ibu, saya titip istri saya, ya. Saya mau membawa mertua saya dulu ke pemakaman," kata Pak Malik memberi amanah pada tetangga yang datang untuk melayat.


"Iya, Nak Malik. Abibah akan kami jaga, tenang aja," ucap Ibu-ibu yang berada di sampingku. Keranda akhirnya dibawa, aku kembali menangis melepas kepergian mereka ke peristirahat terakhir.


Setelah Pak Malik kembali dari pemakaman beserta Bapak-bapak yang lain, Ibu-ibu yang tadi mengajak aku berbicara akhirnya memilih pulang.

__ADS_1


"Abibah ... makan, ya," pinta Pak Malik dan kuberikan gelengan.


"Ini udah jam 4 sore, lho. Kamu juga belum shalat, shalat dulu, yuk!" ajak Pak Malik kembali mencoba membujukku.


"Apakah dengan shalat membuat Papa dan Mama akan kembali?" tanyaku dengan nada dingin menatap ke arahnya.


"Astaghfirullah, kamu gak boleh kayak gitu Abibah. Bukankah memang setiap yang bernyawa akan meninggal? Saat ini kita di atas tanah belum tentu besok masih sama, jangan berpikir bahwa kamu sendiri. Ada saya di sini! Saya ... suami kamu!" tekan Pak Malik meyakinkan aku bahwa aku tak sendiri di dunia ini.


Tangisan kembali pecah, entah sudah keberapa kali dan sebangkak apa mataku. Rasanya, semua hampa tak ada artinya lagi.


Aku bangkit meninggalkan Pak Malik dan masuk ke dalam kamar Mama dan Papa dulu, mengambil wudhu dan langsung shalat.


Saudara dari pihak Mama dan Papa juga hadir di sini, hanya saja mereka pasti tak seterpukul aku yang berstatus sebagai anaknya.


Mengadahkan tangan kembali luruh di hadapan Allah, aku tak paham setelah ini masih mampu menjadi Abibah yang dulu atau tidak.


"Abibah!" pekik suara yang tak asing di telingaku. Aulia, ya, wanita itu ada di sampingku sekarang dengan tangisan yang sudah membasahi pipinya.


"Lu yang kuat, ya," ucapnya melepaskan pelukan dan mengusap wajahnya. Aku mengangguk ke arahnya.


"Maaf gue datang telat, baru tau dari grup kampus soal ini." Aku hanya diam, tak menjawab sama sekali ocehan-ocehannya.


Bahkan, jika aku bisa jujur. Aku tak paham sekarang dengan apa yang dia ucapkan, seolah pikiranku seketika kosong dan hilang segala ingatannya.


"Lah, kok ada Pak Malik di sini?" tanya Aulia kaget menatap ke arah Pak Malik yang sedang membawa piring di tangannya.


"Mm ... iya, karena yang meninggal adalah mertua saya," jelas Pak Malik dan membuat aku melirik ke arahnya sebentar.


Aulia kaget hingga menutup mulutnya, antara ingin bertanya langsung atau tidak. Tak mungkin dengan keadaan sekarang ia bertanya hal itu.


Aku menggelengkan kepala, "Gak, yang meninggal bukan mertua Pak Malik. Gak! Bukan orang tua saya, bukan Mama dan Papa!" teriakku menjambak rambut yang tertutupi kerudung entah seperti apa.


Aulia menjauh dariku karena kaget dan baru kali ini melihat aku seperti ini, "Kamu keluar dulu!" perintah Pak Malik dan langsung diangguki Aulia.


Dia keluar dan menutup pintu, tubuhku kembali di dekap oleh Pak Malik. Perasaan hangat dan tenang kembali hadir.


"Tenanglah, Sayang. Aku ada di sini, aku ada untukmu dan gak akan pernah ninggalin kamu, Abibah," lirih Pak Malik yang membuat aku seketika diam dari memberontak.


Kutatap wajahnya kembali dan saat yang bersamaan dia juga menatap ke arahku, "Tenanglah, ada aku. Kamu tak akan sendirian," ucap Pak Malik mengecup keningku.

__ADS_1


Saat bibirnya itu sampai di keningku, dengan refleks mata ini tertutup, "Bapak janji?" tanyaku menatapnya.


"Janji, saya akan selalu ada di sisimu dan tak akan pernah ninggalin kamu."


Aku memeluk dirinya kembali, merasa setidaknya masih ada alasanku untuk tetap bertahan di dunia ini.


Masih ada yang menyanyangiku dan akan tetap tinggal, aku percaya dan memegang janji-janji itu dari mulut Pak Malik.


***


"Buset, sejak kapan si Abibah nikah sama Pak Malik dah?" tanya Aulia berbicara sendiri di ruangan.


"Kok, dia gak ngasih tau aku sih? Apa ... pernikahan dia emang sengaja dirahasiakan? Atau jangan-jangan, waktu yang libur seminggu waktu itu karena dia lagi nikah, ya?" Aulia terdiam seolah mencari jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam pikiran dan hatinya.


"Kak Abil," gumam Aulia menatap Abil yang baru saja masuk ke rumah Abibah dan pandangannya seolah mencari seseorang.


"Pasti nyari Abibah!" Aulia segera menghampiri Abil agar tak terlihat seperti orang yang kehilangan.


"Kak Abil!" sapa Aulia tersenyum dan membuat Abil beralih menatap ke arahnya.


"Eh, Aulia. Abibahnya mana?"


"Dia lagi di kamar Kak, sama saudaranya. Mau salat tadi kalo gak salah," gelagapku dan menggaruk tengkuk bingung.


"Kamu kenapa?" tanya Abil menautkan alisnya menatap Aulia.


"Gak papa, Kak. Cuma bingung aja."


"Bingung kenapa?"


"Kok Kakak bisa tau kalo di rumah Abibah ada kemalangan?" tanya Aulia menatap penampilan Abil yang serba hitam.


"Kata ruko yang ada di samping cafe."


Aulia hanya ber'oh' ria saja sembari mengangguk.


"Masih lama lagi, gak, ya, salatnya?"


"Lama kayaknya Kak, dia juga butuh istirahat. Dia kayak terpukul banget, mending sekarang Kakak pulang aja. Eh, atau saya nebeng, ya," celetuk Aulia dengan cengiran tanpa malu.

__ADS_1


"Mmm ... benar juga, dia pasti masih perlu waktu sendiri. Yaudah, kalau gitu. Mari, biar saya antar kamu," ajak Abil berjalan lebih dulu meninggalkan Aulia.


"Ha? Beneran mau? Asyik!" seru Aulia mengepalkan tangan dan segera berlari mengikuti Abil.


__ADS_2